Akankah Kejayaan itu Bisa Kembali?




Mahasiswa takut sama dosen
Dosen takut sama dekan
Dekan takut sama rektor
Rektor takut sama menteri
Menteri takut sama presiden
Presiden takut sama mahasiswa

Cuplikan puisi diatas cukup menggambarkan bagaimana hebatnya kredibilitas suatu mahasiswa.  Jumlahnya bisa dikatakan sedikit, namun dinamika maupun sejarah sejarah bangsa ini tak lepas dari peran mahasiswa di dalamnya. Meski zaman terus berganti, generasi terus bermetamorfosis, roda pemerintahan terus berputar dan kepemimpinan berubah rubah sesuai pemimpinnya namun karakter mahasiswa tetap tidak berubah hingga sekarang, yakni semangat juang dan idealismenya. Semangat juang untuk melakukan perubahan perubahan atas kesemrawutan maupun ketidakadilan yang terjadi dan idealis serta kritis dalam hal pemikiran pemikirannya.

Mahasiswa juga mempunyai gelar sebagai agent of change, agent of social control maupun iron block. Mahasiswa merupakan bagian rakyat. Rakyat itu sendiri. Dan pihak yang menjadi tumpuan rakyat. Yang akan menjadi harapan rakyat pula untuk mengharumkan bangsa dan negeri kita tercinta ini. oleh karena itu gerakan dan perjuangan mahasiswa seringkali dikatakan sebagai pilar demokrasi yang kelima.

Namun seiring berputarnya waktu, peran mahasiswa kini mulai kalah dengan partai politik. Dengan pola kaderisasinya yang menyeluruh dan koalisinya dengan penguasa negeri ini , partai politik kini sudah hampir bisa menggeser peran mahasiswa dalam pergerakan menyangkut persoalan persoalan di negeri ini. ditambah kader kader dari parpol itu sendiri adalah mahasiswa atau alumni mahasiswa itu sendiri, maka semangat dan idealisme mahasiswa bisa luntur semakin hari, karena kader parpol itu akan terus “manggut” terhadap atasannya.

Hal ini lah yang membuat mahasiswa bagaikan kehilangan taji di dalam percaturan pemerintahan, ditambah dengan aksi aksi mahasiwa yang kini sering  diwarnai dengan anarkis dan “ke kiri-kirian”.  Bisa dilihat dari aksi menolak kenaikan BBM pada april lalu yang memakan korban dan berakhir dengan ricuh. Revolusi yang dilakukan mahasiswa tersebut seperti kaum yang tidak mempunyai intelektualitas dan nilai nilai akademis. Justru gerakan kemarin lebih seperti gerakan golongan “kiri” yang biasanya “rusuh”. Justru mahasiswa yang tergabung dalam parpol yang sebagaimana kita ketahui sebagai golongan “kanan” tak terdengar taringnya. Kemanakah mereka? Apa yang terjadi?

Harusnya problem kenaikan BBM tersebut bisa menjadi jurus jitu untuk mengembalikan kejayaan mahasiswa, namun kenyataannya, provokasi maupun perang perang pemikiran yang ada justru membuat mahasiswa menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induk. Tak tau harus kemana. bergerak tanpa pemikiran panjang. Dan beginilah hasilnya. Bahkan saya pernah mendengar tukang angkot berkata “ah mahasiswa kerjaannya Cuma bikin rusuh, gag ada artinya”. Cukup miris dan sakit hati saya mendengarnya. Saya yang berposisi sebagai mahasiswa ini.

Harapannya, mahasiswa kembali menemukan arah dan jalannya kembali. Kembali menjadi agen agen perubahan, agen pengontrol sosial dan kembali menemukan kejayaannya kembali. Aku percaya harapan itu bisa tercapai. Karena harapan itu masih ada !

Hidup mahasiswa !

Hidup rakyat indonesia !

Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock