Chapter 13 - Rest in Piece in My Past II




“Ku tak selalu berdiri, Terkadang hidup memilukan, Jalan yang kulalui, Untuk sekedar bercerita.”
Awal lirik lagu tersebut kurasa pantas untuk memulai sebuah cerita ini. Ini berkisah tentang aku lagi. Yaa kuharap kalian tidak bosan membacanya. Aku memang tak selalu berdiri, tak selalu diatas ataupun di bawah, tak selalu hitam maupun putih dan juga tak selalu pintar untuk menguasai diri! . Aku pun bukanlah aku. Karena Aku pasti berubah di setiap waktu. Dan Aku berubah untuk menjadi lebih aku (sabda aled nostrad). Engga jarang hidupku terasa memilukan yang disebabkan oleh aku sendiri. Entah kenapa jarang sekali aku bisa belajar dari hal2 yang memilukan tersebut. Benar2 memalukan. Dan seperti biasa jalan yang ku lalui hanya menceritakan hal2 tersebut yang bahkan aku sendiri tak bisa belajar dari itu kepada kalian. Mungkin di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku berharap kalian tak seperti aku.


“Pegang tanganku ini, Dan rasakan yang ku derita.”
Sahabatku dulu ada yang bilang gini, “lebih baik memiliki orang yang menyayangi kita daripada memiliki orang yang kita sayangi.” Dari kata2 tersebut aku jadi punya beberapa pemikiran seperti, “lebih baik diam daripada berbicara yang engga2”, “ lebih baik jujur meskipun menyakitkan daripada bohong meskipun membahagiakan”. Dan “lebih baik libur daripada sekolah” (apa sih yang terakhir? Haha). Tapi ada yang tak pernah bisa kutemukan jawabannya, yaitu “lebih baik melupakan atau dilupakan orang yang kita sayangi?”. Bicara tentang orang yang kita sayangi tentu aja menghadap ke sahabat. Di hidup ku, sahabat adalah segalanya bagiku. Karena kepada merekalah aku berbagi kebahagiaan maupun penderitaan. Mereka lah yang selalu menggenggam tanganku di saat senang maupun susah. Hanya aja dari dulu sahabat yang aku sayangi selalu pergi meninggalkan aku…

“Apa yang ku berikan, Tak pernah jadi kehidupan”
Mati satu tumbuh seratus, mati seratus tumbuh seribu, mati seribu tumbuh sepuluh ribu, mati sepuluh ribu tumbuh seratus ribu, lama2 bisa kaya deh gue klo gitu trus wkwkwk. Regenerasi di sadari ataupun tidak pasti selalu berlangsung. Tiap ada yang pergi pasti akan datang penggantinya. Aku sadar itu. Tapi tak bisa kuambil maknanya. Yaitu, meskipun sudah punya sahabat baru janganlah kamu lupakan sahabat lama mu, karena mereka pasti punya peranan dalam membentuk diri kamu. Sering aku begitu, melupakan yang lama jika mendapatkan yang baru dan aku hanya bisa menyesal saat menyadarinya. Aku hampir selalu memberikan suatu “memory ataupun chemistry” kepada sahabatku hanya pada masanya aja. Tidak untuk saat itu dan masa depan. Klo udah lewat masanya aku lebih sering melupakannya. Karena itulah semuanya terkesan sia2 aja. Tak pernah jadi kehidupan! Ironis bukan? Tapi aku tak mau jadi seperti itu lagi.. yaa aku janji…

“Semua yang ku inginkan, Menjauh dari kehidupan”
Melanjutkan dari yang diatas, ku sadari dari dulu bahwa klo udah lewat dari masanya, pasti terasa banget perbedaannya. Apapun yang kuharap maupun ku ingin akan sahabatku, jangankan terealisasikan, mendekatpun tidak, justru menjauh yang terjadi. Sesal menyebalkan yang kurasakan begitu ku alami. Huh merepotkan. Tapi biasanya karena dikuasai oleh ke egoisan dan sifat kekanak-kanakan ku, aku melupakannya seraya berkata dalam pikiran “gue gapapa gag ad lw”, padahal jelas sekali hati berkata sebaliknya. Mungkin ini sedikit bagian dari kepengecutan diriku.

“Tempatku melihat di balik awan, Aku melihat di balik hujan, Tempatku terdiam tempat bertahan, Aku terdiam dibalik hujan.”
Tentu aja semua itu kusembunyikan dalam2 dan berlindung dari sifatku yang agak cuek, dengan begitu jadi tak terlihat sama sekali meskipun pada dasarnya aku melihat itu semua dari sisi ku yang lain, klo diandaikan mungkin seperti punggung pedang. Aku hanya diam melihat itu semua terjadi dan berlalu. Bersembunyi di dalam bayang2 kegelapanku. Meski hati ini terus memberontak untuk mencegah atau paling tidak menghambat sedikit tapi tak mampu ku kalahkan keegoisan itu.. aku bodoh…

Memang kegelapan itu bisa mengalahkanku kemarin saat masa sd dan smp tapi takkan kubiarkan terjadi lagi sekarang di masa sma maupun nanti. Sebab ini jalan ninjaku!

Chapter ini dipersembahkan khusus untuk, Ermy Puspita Sari

P.S : di setiap awal paragraph terdapat kalimat yang dikasih tanda kutip, itu adalah potongan lirik lagu peterpan yang judulnya “dibalik awan”. Awan dari “arief satiawan” hehehe

Lagu kisah klasik Sheila on 7 mengakhiri kisah ini…

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Rest in piece in my past..
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock