Indonesia, Negeri Para Pelawak



Indonesia, Negeri Para Pelawak

Sejak dulu Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alam nya, keberagaman kebudayaannya, keramahan penduduknya, dll.  Mungkin nanti Indonesia akan dapat satu kepopuleran lagi, yaitu terkenal akan pelawak pelawak nya. Ah bukan mungkin lagi sepertinya, tapi sepertinya memang sudah mendapatkannya. Dan, Untuk beberapa waktu ke depan Indonesia tak perlu khawatir akan regenerasi pelawak pelawaknya, karena ternyata banyak orang orang yang berpotensi dan tinggal tunggu waktu aja sebelum “bakat” itu terungkap. Sudah ada beberapa pelawak pelawak baru yang terungkap jejaknya dan ini mungkin bisa membahayakan posisi sule cs sebagai pelawak terlucu dan terpopuler. Lucunya para pelawak ini tidak mengisi acara acara lawak yang sering ada di televise ataupun standup comedy yang sekarang lagi ngetren. Pelawak pelawak ini justru  lebih sering melawak di belakang panggung. Mau tau siapa pelawak pelawak baru ini? Silakan cek dibawah ini

1. Kasus korupsi bailout Bank Century
2. Suap cek pelawat pemilihan Deputi Senior BI
3. Kasus Nazaruddin sepeti wisma atlet dan hambalang
4. Kasus mafia pajak yang berkaitan dengan Gayus Tambunan dan jejaring mafia yang lain
5. Rekening gendut jenderal Polri
6. Suap program Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Kemenakertrans
7. Korupsi hibah kereta api di Kemenhub
8. Korupsi pengadan solar home system (SHS) di Kementerian ESDM
9. Korupsi sektor kehutanan khususnya di Pelalawan Riau
10. Kasus mafia anggaran berdasar laporan Wa Ode Nurhayati
11. Kasus korupsi sektor migas dan tambang yang melibatkan Freeport Newmont dan Innospec 12. Korupsi penyelenggran ibadah haji yang melibatkan Kemenag
13. Korupsi dana bansos di Banten

Memang ada yang sudah terungkap dan ada pula yang belum terungkap, tapi sepertinya tinggal tunggu tanggal mainnya saja sebelum mereka mereka itu menampakkan dirinya, seperti yang saat ini sedang heboh heboh nya yaitu pelawak wanita teranyar yaitu “malinda Dee”.

Di tulisan ini, saya tidak akan menyoroti hal itu lebih jauh atau jauh lebih dalam, karena saya yang masih mahasiswa semester 3 ini belum terlalu banyak tau tentang kasus kasus lawakan di luar batas itu. Jadi saya lebih akan menyoroti ke bagian analisisnya saja.
Apa yang membuat mereka seperti itu? Siapa yang membuat mereka melakukan itu? Kapan mereka melakukannya? Dimana mereka melakukannya? Kenapa mereka melakukan hal itu dan bagaimana caranya?

Itulah pertanyaan pertanyaan mendasar yang mungkin dipikrkan orang saat tau kasus mereka. Kalau ditelisik lebih jauh, penyebab lahirnya pelawak pelawak ini mungkin karena system yang salah. Sebelumnya ku paparkan beberapa definisi system dari beberapa ahli.

Menurut LUDWIG VON BARTALANFY 
Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.

Menurut ANATOL RAPOROT Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.

Menurut L. ACKOF
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

Kenapa system?

Karena system lah yang mengatur, mengaitkan, dan menghubungkan suatu kumpulan perangkat satu sama lain. Kalau ada satu perangkat yang lepas atau putus maka akan rusaklah system itu. Contohnya system pada computer. Seperti yang kita tau computer memiliki tiga system yaitu, hardware, software dan brainware. Kalau satu perangkat dari hardware ada yang rusak maka akan mempengaruhi kinerja brainware, karena software dalam hardware itu menjadi  tak berfungsi. Kalau software tersebut rusak maka hardware dan brainware tak akan bisa bekerja sebelum software itu benar kembali. Dan kalo brainware nya yang rusak, siapa yang akan mengoperasikan hardware dan software itu? Itulah salah satu alasan pentingnya system, tapi menghukum orang salah karena system yang salah bisa dibilang tidak adil. Kenapa? Karena system dikatakan salah saat siapapun yang masuk ke dalam lingkaran itu akan menjadi bertingkah atau berperilaku serupa. Orang yang semula baik, jujur, membenci korupsi, tapi saat menjabat posisi itu, ternyata juga melakukan hal yan sama dengan pendahulunya maka bisa disebut bahwa tindakan itu adalah akibat dari system. Maka solusi yang terbaik adalah dengan merubah sisitem itu agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.

Memang apapun sistem yang berjalan,  dan juga budaya apapun yang sedang berkembang, seorang pemimpin  harus menjaga amanah sebaik-baiknya. Amanah adalah kunci keselamatan dan akan menjadi tangga untuk mendapatkan tahta derjad taqwa. Hanya saja memang hidup di dunia ini yang paling berat adalah menjaga amanah. Banyak pemimpin, birokrat, tokoh politik, pengusaha, pendidik, dan apa saja lagi lainnya, merasa sanggup menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Akan tetapi tanggung jawab  itu  ternyata  tidak selalu berhasil dijalankan, karena kurang amanah.

Ngomong ngomong soal system, saya ingin sedikit bercerita tentang system pemilihan peminatan yang ada di kampusku. Proses pemilihan peminatan pada thun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu diambil dari nilai mata kuliah peminatan yang akan dipilih, tapi kalu sekarang dengan cara yang amat sangat lucu dan membuat tertawa, yaitu dengan cara “dulu duluan” mendaftar. Setiap peminatan sendiri masing masing berisi 35 kuota kecuali 2 peminatan yang memiliki kuota melebihi 35. Lucunya system “dulu duluan” menggantungkan nasibnya dengan koneksi internet. Sama halnya dengan zaman jahiliyah, tapi menjadi, siapa yang koneksi internetnya paling kuat dia akan berhasil memilih peminatan yang dia ingini dan siapa yang koneksi internetnya paling lambat, dia harus terima apapun pilihannya meskipun dia tidak menginginkan pilihan itu.

Praktis, system ini mengundang banyak protes dari mahasiswanya. Jelas saja, logikanya, buat apa belajar serius selama ini untuk peminatan itu kalau sistem untuk menggapainya ditentukan oleh suatu koneksi internet dan ''dulu duluan'', yg ada adalah justru membatasi mimpi2 mahasiswa, mengubur semua impian mereka, jika mereka tidak mendapat peminatan sesuai dgn keinginan dan bakat mereka. Sistem ini juga memungkinkan ah bukan, tapi memang pasti menciptakan suatu ketidakadilan, apalagi kalau ada mahasiswa berprestasi yang tidak mendapat peminatan yang ia pilih padahal nilai nilainya sungguh mengagumkan..

Dimana logika dan nurani kalian..

Memang, selalu ada yg salah dengan negeri ini.. Semoga Allah menghapus sistem sistem ''Penzaliman'' seperti ini kedepannya, dan mahasiswa yg ''salah masuk kamar'' diberi ketabahan dan kekuatan..

Ah tidak terasa, dari pelawak menjadi peminatan, ini membuktikan kalau tulisan saya ini sudah harus diakhiri..
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock