Kepemimpinan dalam Sebuah Konsepsi (Part 1)



Beberapa hari yang lalu, Jawa Barat merayakan pesta demokrasi untuk menentukan Pemimpin baru selama 5 tahun kedepan. Ada yang unik di pesta demokrasi edisi kali ini, yaitu dengan diwarnainya calon calon pemimpin dari kalangan selebriti. Siapa yang menyangka si oneng yang dulu terkenal dengan “keonengannya” maju mencalonkan menjadi pemimpin. Siapa juga yang akan menyangka si actor laga  ingin terus menjadi pemimpin, dan siapa pun tak akan menyangka, actor favorit saya, sang nagabonar pun ingin menjadi pemimpin. Sebenarnya apa sih pemimpin itu? Kenapa banyak orang yang berburu jabatan pemimpin? Dan kenapa harus menjadi pemimpin?

Melihat fenomena diatas (saat ini), model kepemimpinan di Indonesia seringkali hanya mengandalkan pencitraan, kesantunan dan popularitas. Jauh sebelum pemilihan dilakukan, oknum oknum yang berkepentingan hampir selalu mencitrakan “orang-orang” nya ke publik, mempertontonkan kesantunan organisasinya di muka umum dan mengandalkan orang-orang populer (artis) untuk meraup banyak suara. Apakah hal diatas salah? Tentu saja tidak. Hal-hal tersebut adalah bagian dari strategi politik. Fenomena model kepemimpinan ini pun jadi berkembang dan menjamur karena akibat dari dampak sistemik suatu strategi politik yang kerap dilakukan oleh actor actor perpolitikan. Fenomena tersebut bukanlah merupakan suatu degradasi kepemimpinan, tapi fenomena ini mungkin lebih baik dikatakan sebagai warna dari suatu kepemimpinan..

Setiap pemimpin pasti punya tujuannya masing-masing. Seseorang tidak akan mau jadi pemimpin jika dia tidak punya tujuan apa-apa. Kalaupun memang seseorang pemimpin tersebut tidak punya tujuan, biasanya oknum yang mencalonkan pemimpin tersebut lah yang mempunyai tujuan. Oknum tersebut bisa berupa keluarganya, sahabatnya, organisasinya, sukunya ataupun negaranya. Kenapa untuk mencapai tujuan tersebut kita harus jadi pemimpin? Bukannya dengan jadi “rakyat biasa” juga bisa mencapai tujuan tersebut? Tentu saja jawabannya bisa. Tapi kalo dilogika-kan akan begini hasilnya, “kalo rakyat biasa saja bisa memenuhi tujuannya, berarti seorang pemimpin akan jauh lebih bisa, jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat untuk memenuhinya, karena sederhananya Pemimpin adalah pemegang kekuasaan tertinggi di tempat yang dipimpinnya. Lalu saat konteks ini dikaitkan dengan pertanyaan, kenapa banyak orang berburu jabatan pemimpin, bisa kita simpulkan jawabannya adalah, agar tujuan orang atau oknum tersebut bisa tercapai dengan sukses. Intinya, kepemimpinan sangat berkaitan dengan suatu tujuan.

Kalau berbicara soal tujuan, sebagian besar pemimpin rata-rata mempunyai tujuan sebagai berikut. Pertama, revolusi atau perubahan, yang pasti (menurutnya) perubahan kearah yang lebih baik. Tujuan ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan sebelumnya. Tujuan inilah yang paling diminati calon calon pemimpin. Kedua, sustainability (keberlanjutan), Tujuan ini lebih mengedepankan kepada keberlanjutan, baik keberlanjutan dalam hal pemimpin, organisasi, system kepemimpinan ataupun program-program kepempimpinannya. Yang ketiga ada ekspedisi. Dalam tujuan ekspedisi, pemimpin lebih mengutamakan kepada bagaimana dia atau organisasinya menjadi “terpandang”.

Salah satu indicator dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat mimpi menjadi kenyataan. Dikatakan sebagai kemampuan adalah karena kepemimpinan merupakan pembelajaran berkelanjutan. Tahap pertama dalam kepemimpinan adalah bagaiman ia bisa memimpin dirinya sendiri (self leadership). Setelah lulus pada tahap ini, maka ia akan dihadapkan ke tahap kedua yaitu bagaimana ia bisa mengabdi kepada masyarakatnya (society leadership) dan setelah lulus pada tahap ini dia akan kembali melanjutkan ke tahap terkahir, tahap yang sangat sukar untuk dilalui, yaitu tahapan dimana ia mengabdi kepada Tuhan (Spritual Leadership). Setiap pemimpin pasti akan menjalani ketiga tahapan diatas dan seringkali pemimpin pemimpin tersebut gagal melewatinya. Hanya orang-orang yang terus belajarlah yang mampu melewati ketiga tahap tersebut. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa, Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau belajar. Jadi bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu pembelajaran.

To be continued..


Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock