Aktifis (Dakwah) Kampus




Waktu di semester 4, saat kami sedang duduk bareng di depan ruang kuliah karena sedang menunggu dosen, aku mendapatkan pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan.  Pertanyaannya sebenarnya simple, tapi jawabannya sangat rumit.. begini pertanyaannya..

“Kenapa ketua BEM, Senat, RC dan PH selalu anak wisma?”

Dari pertanyaan tersebut kami jadi terlibat diskusi yang seru dan menghebohkan, karena beberapa teman-teman yang lain ikut nimbrung didalamnya.

Kami yang berlabel organisatoris dengan teman-teman yg mayoritas mahasiswa biasa mendiskusikan hal tersebut dengan hebatnya..


Kami menjelaskan bahwa tidak ada hukum yang menuliskan bahwa ketua-ketua tersebut harus dari wisma, namun kalo memang orang dari wisma itu memang berkompeten, kenapa tidak? Kami pun juga menjelaskan bahwa wisma memiliki system kaderisasinya tersendiri yang membuat kader-kadernya punya kompetensi..

Namun argument kami tersebut disanggah, satu dari teman kami berpendapat, bahwa selama ini dia belum melihat adanya kontribusi nyata pemimpin tersebut kepada rakyat FKM. apakah itu yang namanya kompetensi? Bahkan menjadi supporter di kala POR pun tak mau.. Padahal banyak orang-orang yang punya kompetensi lebih namun sering di anaktirikan..

Setelah itu kami lebih sering mendengarkan opini dan saran mereka.. hingga dosen datang..

……

Aktifis di FKM memang agak berbeda dari aktivis kebanyakan. Aktivis FKM cukup banyak yg berperan ganda sebagai Aktivis rohis. Selain melakukan aktivitas keorganisasiannya mereka juga menjalankan syiar dakwah kepada teman-teman civitas akademika di FKM. Mungkin ini jawaban dari sedikitnya acara di FKM yang bernuansa hura-hura ataupun kebebasan. Meski hanya untuk sebagai hiburan belaka.

Rata-rata aktifis peran ganda ini berasal dari tempat yang bernama wisma. Dan rata-rata aktivis aktivis ini menduduki posisi posisi penting di organisasi-organisasi penting di FKM..

Untuk orang yang berafiliasi mungkin hal ini tidak masalah, namun untuk yang tidak, tentu saja ini sering menimbulkan tanda Tanya, perdebatan atau bahkan kejenjangan..

Jelas saja, orang-orang biasa terbiasa dengan kultur yang biasa biasa saja, kultur yang seperti adanya, hidup ya hidup,, agama ya agama.... sedangkan aktivis tersebut senang dengan kultur yang kerohisan.. dan punya prinsip “tidak akan memisahkan kehidupan dengan agama”

Untuk orang yang terbiasa dengan hura-hura atau kebebasan pasti akan merasa risih..

Untuk orang yang terbiasa dengan suasana kampus di televise pasti merasa risih..

Untuk orang-orang yang punya prinsip keadilan, pasti tidak menyenangi hal tersebut, karena mereka berpikir setiap orang punya kesempatan yang sama, tidak hanya orang yang “mereka” anggap baik saja..

Dengan kondisi yang seperti itu Orang-orang biasa hanya akan nyaman dengan orang-orang biasa, sedangkan aktivis-aktivis itu hanya nyaman dengan aktivis-aktivis lainnya.. ke”eksklusifan” pun terjadi..


To be continued..
Share:

1 comment:

Disable Adblock