Karena selama kita hidup kita berbagi..




Padamu negeri.. kami berjanji..
Padamu negeri.. kami berbakti..
Padamu negeri.. kami mengabdi..
Bagimu negeri.. jiwa raga.. kami..

Syair yang indah diatas sekiranya cuku pas untuk membuka tulisan saya kali ini..

Sudah 5 hari ini saya berada di pelosok desa, tepatnya Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan Kab. Brebes, dalam rangka melaksanakan tugas “negara” yaitu PBL-2.

Saya termasuk orang yang punya jiwa social yang tinggi. Saya paling tidak bisa melihat ketidakadilan terjadi. Saya paling tidak bisa melihat sesuatu yang buruk terjadi kepada orang lain dan saya paling tidak bisa melihat kesusahan terjadi pada orang lain. Saya paling tidak bisa. Saat saya melihat itu semua, biasanya saya akan tergerak dengan sendirinya untuk membantu atau membuat agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Bahkan saking sibuknya saya memperhatikan hal hal seperti itu, seringkali saya lupa akan diri saya sendiri.

Beberapa jam lalu saya mengajari para manula membaca dan menulis. Pengalaman yang menurut saya sangat super sekali. Sejujurnya saya sangat tersentuh dengan semangat manula manula tersebut dalam belajar membaca dan menulis. Mereka benar-benar niat untuk bisa membaca dan menulis bahasa kebangsaan Negara tercinta ini. Saya pun sempat menahan haru ketika mengajarkan mereka. Membuat saya berpikir dan merenung, “apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa saya?”

Kalimat kalimat yang ajarkan pun sengaja saya singgungkan dengan pilihan kata-kata yang menurut saya sangat syarat makna dan emosional. Kalimat pertama yang saya ajarkan kepada manula adalah kalimat..

“Aku cinta Indonesia”

Tau apa yang terjadi?
begitu sang nenek bisa menulis kata “Indonesia” beliau tersenyum dan kembali mengeja berulang-ulang kata Indonesia.
“in-do-ne-sha” kata beliau..
beliau pun kembali mengulang.. “a-ku-cin-ta-in-do-ne-sia”

Sengaja saya memilih kalimat tersebut agar bisa memotivasi kami berdua. Memotivasi saya untuk terus bisa bermanfaat bagi negeri ini dan memotivasi sang nenek untuk terus belajar dan belajar. Karena dengan “cinta” itulah kita bisa melakukan hal hal yang bahkan tidak mungkin untuk dilakukan..

Lalu kuajarkan beliau kata-kata syarat makna lainnya seperti, nama anaknya, nama ibunya, kalimat ayah ibu kakak adik, desa nya, kabupatennya dll.. dan kalimat terakhir yang saya ajarkan adalah..

“Majulah negeriku”

Ya saya juga menyisipkan kalimat motivasi di kalimat terahir, agar sang nenek maupun saya sendiri, untuk tidak jenuh jenuhnya dalam belajar kehidupan. Untuk tidak cepat lelah dalam menggapai impian kita.. mimpi kita dan tujuan hidup kita..

Kembali saya mendapat hidayah-NYA, bukan ditempat yang ramai, bukan ditempat yang  hingar binger, bukan ditempat yang kasak kusuk, bukan pula di keramaian kota, ataupun di hiruk pikuk kampusku.. akan tetapi hidayah yang kudapatkan ini justru di tempat terpencil yang kini  menjadi “rumahku” selama sebulan kedepan ini.. hidayah yang diberikan Allah SWT tersebut kepadaku ialah berupa..

Karena selama kita hidup kita belajar.. karena selama kita hidup kita berbagi..
Share:

Disable Adblock