Keluarga Cendana (Bagian Pertama)



“Assalamualaikum mas. Saya putri dari kelas A 2012. Gini mas saya mau wawancara mas ayip. Mas bisa kapan ya?”

Begitulah bunyi sms yang gue dapet pada suatu pagi dibulan maret. SMS yang bikin penasaran. Siapa itu putri? Mau wawancara apa dia? kenapa sama gue?.. itulah sekelumit pertanyaan yang ada di pikiran gue. Akhirnya kita bikin janji untuk agenda wawancara itu.

Setelah dapet sms itu, gue langsung nanya sana sini tentang siapa si putri ini. Saat itu gue aja belum begitu akrab sama anak-anak PH yang angkatan 2012, karena masih awal awal kepengurusan. Makanya gue bingung kenapa ada anak 2012 yang mau wawancara gue. Padahal posisi mereka saat itu masih mahasiswa baru (maba). Gue nanya sana sini. Akhirnya di dapet informasi kalo dia anak gamais. Dept Annisa. Nama lengkapnya Putri Ade Chandra. Panggilannya putet. Ositmen. Gue tau dia. iya gue pernah denger cerita tentang dia dari anak anak cowok gamais. Waktu gue makan sama si Anggi tempo hari pun si Anggi pernah ceritain tentang dia. gue tau dia yang mana. Dan yang pasti gue ama dia belom kenal sama sekali. Bertegur sapa aja belum. Gue pernah liat dia paling Cuma dua kali aja. Gue langsung bertanya Tanya saat itu. Kenapa dia menghubungi gue? Kenapa dia ngajak gue wawancara? Jangan-jangan acara wawancara itu Cuma akal-kalan dia aja. Sebenernya dia pengen bisa kenalan ama gue. Oh ya. Jangan-jangan ini modusan dia aja. Jangan jangan dia…….

Pengagum Rahasia gue !!!

Oh my god..

……..

Gue udah di tempat ketemuan. Di kampus. Sekitar jam 11an kira-kira. Gue nunggu sms dia. tiba tiba dia lewat depan gue. Gue ngeliat dia. dia ngeliat gue. Tapi dia malah pura-pura gak liat gue terus jalan cepet cepet. Sejujurnya gue gak paham. Ini bocah kenapa sih? Udeh janjian buat ketemuan eh dianya malah malu-malu gitu. Emang deh ya pesona orang ganteng itu bikin gak nahan. #apasih. Di tengah kebingungan gue itu, gue jadi mikir yang enggak-enggak. Positifnya, Jangan jangan dia beneran pengagum rahasia gue ! sedangkan negatifnya, jangan jangan dia bekerja sama dengan mafia perdagangan gelap yang biasa nyulik anak di bawah umur buat di ambil organ tubuhnya terus diperjualbelikan di pasar gelap. Dan gue, adalah calon korban barunya. Ositmen. Gue harus kabur sekarang juga.

Pas gue pengen kabur, tiba-tiba dia datengin gue lagi. Kali ini dia bilang, “mas ayip tunggu sebentar ya, ini temenku belum dateng”. Gue Cuma ngangguk aja. Gue perhatiin dia. badannya yang tinggi, wajahnya yang agak sangar dan cara bicaranya yang kayak cewek (yaiyalah dia kan cewek), makin bikin gue yakin dengan pemikiran negative diatas.tapi gue terjebak dengan situasi dimana gue gak bisa kabur. Akhirnya gue berserah diri aja. Sambil komat kamit ayat kursi.

Akhirnya temen dia dateng juga. Gue diajak dia ke salah satu bunderan kampus. Disana udah ada dua temennya yang menunggu. dua-duanya cowok. Gue kenal mereka berdua. Yang satu namanya Hamas dan yang satu lagi namanya Hendro. Saat itu juga gue berpikir, jangan jangan dua bocah ini juga sama sama calon korbannya putet. Tapi di sisi lain gue juga mikir, jangan jangan mereka komplotannya putet juga. Soalnya badan mereka besar-besar. Jadi nanti Hamas yang nyekap gue sampe gue pingsan. Terus hendro yang ngebopong gue ke kapal laut. Ositmen. Di saat itu, teringat idup gue selama 20 tahun ini. Gue masih belom lulus. Gue belom kerja. Gue belom nikah. Oh mama.. papa.. maafkan kesalahan anakmu ini… Maaf belom bisa membahagiakan kalian sampai saat ini…

Akhirnya gue dijual ke Mongolia…

TAMAT…

……….

GAK.. GAK BENER..

HENTIKAN !!!! HENTIKAN IMAJINASI LIAR INI !!!

GAK. Ceritanya gak kayak gitu. Kenapa jadi cerita ngalor ngidul gini sih. Kerasukan apa sih elu yip. Oke. Mari kita lanjutkan dengan cerita yang sebenernya..

Akhirnya kita berempat duduk di bunderan kampus. Mereka bertiga mulai ngenalin diri masing-masing. Satu yang gue tangkep dari perkenalan mereka yaitu, kita berempat sama sama dari Jakarta. Lalu, mereka pun mulai ngomongin maksud dari pertemuan kita ini. Lucunya.. mereka seolah udah ngatur semua obrolan ini. Jadi mereka udah men-set, si hamas nerangin ini, si hendro nerangin itu dan si putet nerangin ini dan itu. Begitu juga dengan pertanyaan pertanyaan yang mereka ajukan ke gue. Si hamas nanya soal ini, si hendro nanya soal itu dan si putet nanya soal ini dan itu. Karakter mereka bertiga pun unik unik. Si hamas yang kayak gitu, si hendro yang kayak gini dan si putet yang kayak gini dan gitu. Dari situ gue ngeliat kalo mereka bertiga cocok banget kalo jadi satu tim. Mungkin bisa jadi tim yang komplit.

Intinya pertemuan tersebut membicarakan tentang sebuah usaha. Yes all about wirausaha. Mereka punya modal uang, dan sebuah business plan. Mereka meminta saran untuk arahan dan teknisnya. Sejujurnya ide usaha mereka pernah terpikir sama gue waktu gue masih jadi staff. Cuma ide tersebut Cuma berputar di kepala gue aja. Karena gue emang belum punya orientasi yang lebih ke arah sana. Makanya begitu gue mendengar rencana usaha mereka, gue jadi seneng sendiri. Ya inilah inherited will. Hasrat yang diwariskan. Mereka lebih berani daripada gue dulu. mereka lebih siap daripada gue dulu. dan mereka lebih terorganisir daripada gue dulu.. Makanya gue pengen mereka berhasil dengan usahanya ini.. Usaha yang kedepannya berbentuk sebuah komunitas bernama Komunitas Pengusaha Muda Insidental (KPMI)

Malamnya gue sms yuniva, gue yakin doi masih inget sama sms gue ini sampe sekarang. Gini sms nya, “uun hari ini aku ketemu 3 bocah keren. Mereka emang punya karakter yang beda tapi mereka bener bener bocah hebat.. aku yakin mereka bakal hebat nantinya”. Waktu itu gue masih ngerahasiain siapa 3 bocah ini sama si yuyun kalo gak salah sampe abis lebaran..

Lalu bagaimana kelanjutan rencana usaha mereka?

Apa sih bentuk usaha mereka?

Dan bagaimana mereka sekarang?

Tunggu aja yak cerita lanjutannya !!!


To be continued…
Share:

Tentang Pentingnya Harapan




Suatu hari, semua penduduk desa memutuskan untuk berdoa meminta hujan karena kemarau panjang membuat desa itu kekeringan. Pada hari yang ditentukan, semua orang berkumpul, tetapi hanya ada satu anak yang datang dengan membawa payung..
Itulah iman..

Ketika kita melempar bayi kita yang baru berusia satu tahunke udara, dia pasti akan tertawa. Mengapa? Karena dia tau, ayahnya pasti akan menangkapnya..
Itulah kepercayaan..

Setiap malam, kita tidur tanpa memiliki jaminan apakah akan bisa bangun esok pagi, tapi entah kenapa kita tetap saja mengatur alarm untuk besok..
Itulah harapan…
(Anonim)

Ada anak SD yang ingin jadi dokter, pilot atau polisi. Ada anak SMP yang jatuh cinta untuk pertama kali kepada temennya dan ingin segera memilikinya. Ada anak SMA yang ingin masuk perguruan tinggi terbaik di negerinya. Ada seorang mahasiswa yang bermimpi akan mengubah bangsanya. Ada mahasiswa telat lulus yang ingin lulus sesegera mungkin. Ada karyawan yang selalu menantikan promosi jabatan. Ada seorang ayah yang ingin anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ada seorang ibu yang berharap agar anak satu-satunya segera pulang dari perantauannya. Ada seorang CEO perusahaan yang bermimpi perusahaannya menjadi bisnis rakasasa. Ada seorang koruptor yang berharap KPK tidak mengendus kejahatannya. Ada seorang narapidana yang ingin merasakan kebebasan.Ada dua sejoli yang sedang menjalani long distance relationship yang sama-sama berharap agar mereka segera bertemu.  Ada pula seorang wanita yang berharap agar lelaki yang dipujanya segera menyatakan cintanya..

Yaa orang-orang dengan berbagai harapan tersebut pasti ada di sekeliling kita.

Setiap orang pasti punya harapan. Pernah berharap. Dan ingin harapan itu terjadi. Terlaksana. Sesegera mungkin. Sebagus mungkin. Karena impian manusia tidak akan pernah berakhir. Selama manusia punya  tujuan, mimpi, impian atau cita-cita, selama itu pula dia akan terus berharap. Berharap dan berharap. Impian akan menciptakan harapan, dan harapan akan mewujudkan sebuah impian. Oleh karena itu tidak benar jika ada yang berkata bahwa “aku sudah gak punya harapan lagi”. Itu hanyalah kalimat keputus-asaan. Tidak lebih dan tidak kurang. Manusia selalu punya kesempatan. Bahkan dalam kesempitan. Manusia selalu punya pola. Pola yang tidak beraruran bentuknya pun disebut pola. Ya pola tidak beraturan. Dan, manusia selalu memiliki pilihan. Pilihan itulah yang akan membawamu kepada harapan.

Harapan adalah salah satu harta termegah yang dimiliki manusia. Dialah warna warni yang mewarnau kanvas kehidupan. Tanpanya hidup hanya akan menjadi dua warna. Hitam atau putih. Sangat membosankan. Orang yang sakit, pasti selalu ditemani oleh harapan. Harapan agar bisa sembuh. Orang yang belum mendapat pekerjaan, pasti selalu ditemani harapan. Harapan bahwa masih banyak lowongan kerja di luar sana. Orang yang berpacaran, pasti selalu ditemani harapan. Harapan agar hubungan mereka mulus dan lanjut ke jenjang selanjutnya. Ya itulah harapan. Di setiap detik nadi kita, di setiap hembus napas kita dan di setiap langkah kita, selalu ada harapan yang menemani kita. Setiap waktu. Dimanapun dan kapanpun kita berada.
Namun, seringkali ada saja orang yang menganggap remeh harapan. Mencurinya dari orang lain. Lalu, Mempermainkan seenaknya. Dia hanya menawarkan harapan harapan semu. Menjual harapan harapan murahan. Dan merusak harapan orang-orang. Dia hanyalah orang bodoh, sampah tepatnya, yang menghancurkan impian manusia. Rendah sekali. Dia lah orang yang selama ini disebut sebagai si pemberi harapan palsu..

Ada seorang calon pemimpin yang berjanji akan membasmi ini, membasmi itu, mensejahterakan ini, mensejahterkan itu, meningkatkan ini, meningatkan itu, tapi nyatanya dia malah berbuat korupsi, kolusi dan nepotisme sewaktu dia telah terpilih.

Ada seorang calo yang menawarkan transportasi ke suatu daerah dengan fasilitas yang nyaman, terpercaya dan cepat, sesuai dengan harga yang ia tawarkan. Nyatanya setelah sang pembeli membeli tiket tersebut, sang calo pun segera meninggalkan pembeli tersebut setelah menyuruhnya untuk duduk menuggu di suatu tempat. Alangkah kagetnya sang pembeli, karena bus yang dinaikinya hanyalah bus ekonomi ringsek. Padahal dia membayar seharaga bus eksekutif.

Ada seorang wanita yang sedang disukai oleh pria. Sebenarnya wanita tersebut tidak menyukainya. Akan tetapi dia terus memberikan bunga bunga harapan kepada pria itu. Menggodanya. Diam diam Mempermainkannya. Dan diam diam Memanfaatkannya.. Namun dia selalu bersikap manis di depan pria tersebut. Melihat bahwa sang wanita menyambut kode kode yang ia kirimkan. Membuat sang pria berpikir bahwa sang wanita juga menyukainya. Akan tetapi saat sang pria menyatakan cintanya, dia menolakknya..

Yaa itulah sedikit kisah sang pemberi harapan palsu. Ia bisa disamakan dengan orang buta.. orang tuli.. tidak punya mata dan tidak punya telinga.. mungkin juga tidak punya hati.. Orang-orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Keuntungan bagi dirinya sendiri. Dan kesenangan untuk dirinya sendiri. Ia tak menghargai orang lain, ia tak peduli dengan orang lain dan ia tidak bertanggungjawab dengan orang lain.
Orang yang tidak menaati peraturan memang disebut sampah.. tapi orang yang tidak menghargai orang lain lebih rendah daripada sampah..

Harapan bukanlah sesuatu yang ada untuk diolok-olok, dimain-mainkan atau ditertawakan. Harapan lah yang membawa seseorang menuju kesuksesan. Harapan lah teman satu-satunya dikala kita tengah dalam sebuah kefrustasian. Harapan lah yang senantiasa menerangi kita ketika dalam suatu kegelapan. Haranlah yang senantiasa menunjukkan jalan keluar ketika kita sudah sampai di jalan buntu. Harapanlah yang dapat membuat bangkit dari sebuah keterpurukan, kesenjangan dan keprihatinan.

Harapanlah yang membuat Thomas Alfa Edison bisa menemukan lampu. Meskipun sebelumnya dia telah gagal seribu kali, tapi dia terus mencoba dan mencoba. Harapanlah yang membuat JK Rowling menjadi wanita terkaya. Meskipun sebelumnya naskah harry potter ditolak oleh penerbit penerbit, tapi dia selalu berusaha dan berusaha.

Harapan ibarat oase dalam padang pasir. Bagaikan embun menyejukkan di pagi hari. bagaikan air dalam kehausan. Harapan itu seperti bintang. Kadang terlihat, kadang tidak terlihat.. tapi dia selalu ada disana..

Jadi jangan suka mempermainkan harapan..

Share:

Penyesalan yang Indah




Sebenernya agak males sih nulis soal cinta-cintaan. Soalnya gak gue banget. Nulis soal cinta tuh susah. Karena cinta emang susah untuk diungkapkan sama kata-kata. Nulis soal cinta juga ribet. Karena cinta emang suka ngeribetin diri sendiri atau orang lain. Nulis soal cinta juga merepotkan. Ya se merepotkan aku buat ngertiin kamu. Iya kamu ~

Menurut gue kisah cinta itu bagusnya ya dipendem sendiri aja. Buat dikenang-kenang sendiri kalo lagi gak ada kerjaan. Buat diinget-inget sendiri kalo lagi galau. Atau buat di share ke orang lain kalo ada yang membutuhkan. Nah berhubung siang ini gue lagi mentok buat bikin materi si Pejuang Skriptis Part terakhir, makanya gue mau mencoba untuk menuliskan hal hal yang ga biasa gue tulis.

……………..

Pernah gak ketemu orang yang nyambung banget? Ngobrolin apa aja ama dia nyambung. Apapun. Anything. Pokoknya nyambung deh kalo diobrolin ama dia. Bahkan untuk obrolan-obrolan yang gak penting sekalipun jadi penting kalo diobrolin ama dia. Terus, selain itu, dia juga orangnya asik banget. Diajak ke tempat ini oke, diajak ke tempat itu oke juga, dan diajak ke tempat ini dan itu gak masalah buat dia. Diajak ngelakuin hal ini mau, diajakin hal itu juga mau, atau diajak ngelakuin hal ini atau itu selow selow aja. Terkadang dia juga dewasa. Bijaksana. Kekanak-kanakan juga pernah. Tapi dia lucu juga. Suka ngelawak. Suka bercanda. Pokoknya bikin ketawa deh.  Orangnya juga gak macem-macem. Gak neko neko. Sesuai deh ama karakter kita. Cocok ama kita. Kalo lagi ama dia, bawaannya nyaman, betah, seru dan nyenengin. Kalo udah abis ketemu dia, biasanya kita udeh mikir lagi kapan bakal bisa ketemu dia lagi. Dan, kalo lagi pisah ama dia karena kondisi tertentu, biasanya kita jadi kangen sendiri, atau minimal suka keinget hal-hal yang pernah kita lakuin bareng dia.

Pernah punya orang yang seperti itu?

Kalo kamu pernah atau lagi punya orang kayak gitu, You da real MPV kawan !

………

Gue pernah punya orang kayak gitu. Kita sebut aja dia sakura….

Gue kenal sama dia di angkot. Beneran. Serius deh. Kebetulan gue sama dia lagi make suatu atribut yang sama. Aneh memang. Kita tinggal di kota yang beda, kuliah pun di kampus yang beda, tapi entah kenapa justru diperkenalkan dalam kondisi yang sama. Ya. sama sama lagi naik angkot.
“kamu ikut komunitas X juga ya?” kata dia tiba tiba, dengan mimic wajah yang aneh. Dari mimiknya keliatan kalo dia agak malu untuk negor, tapi dipaksain negor dengan wajah bersahabat. Makanya jadinya aneh gitu. Mgue langsung bangun dari lamunan gue. Lantas gue ngeliat dia. gue inget inget sebentar. Dan gue yakin kalo gue belum pernah kenal sama cewek ini.

“iya ikut. Kamu juga?” jawab gue seadanya..

Gue orang yang punya tingkat kewaspadaan yang besar. Makanya gue agak curiga sama dia. Gak ada angin gak ada ujan, kenal aja kagak, kok main langsung negor gue aja, dengan pertanyaan sok deket gitu.gue jadi mikir,  jangan jangan dia tukang hipnotis yang sering berkeliaran di angkot. Atau Jangan jangan dia mbak mbak yang suka malak malak gitu di angkot (kayaknya gak ada deh mbak mbak kayak gitu).. atau jangan jangan dia orang suruhan ibu kos, yang memberikan dia misi untuk menagih uang kos gue yang waktu itu belom gue bayar. Ositmen. Ngeri abis..

……

Anyway.. Ternyata dia Cuma mahasiswa biasa aja..

……

Alhasil sepanjang perjalanan di angkot itu, kita ngobrol banyak.  Sebenernya sih dia yang ngobrol banyak, sedangkan gue Cuma nanggepin dikit dikit aja. Soalnya gue masih curiga ama dia. katanya dia kenal ama beberapa temen gue di kampus. Sedangkan gue gak punya kenalan sama sekali di kampus dia. katanya dia pernah ke kampus gue. Sedangkan gue bilang, kalo gue gak pernah ke kampus dia. Dia banyak nyeritain banyak hal tentang komunitas X, sedangkan gue Cuma dikit nyeritain komunitas X versi gue nya.

Satu yang pasti, semakin lama ngobrol ama dia, semakin hilang semua kecurigaan-kecurigaan gue diatas. Tapi obrolan kita masih kayak dua orang anggota DPR yang lagi ngebahas suatu undang-undang. Serius banget. Ngobrolnya kaku. Sok profesioanal gitu. Sok resmi juga gaya ngobrolnya. Emm, meskipun begitu, satu yang gak bisa dibohongin saat itu, dia orangnya “menghangatkan” dan punya jiwa leadership..
Akhirnya dia turun duluan.. tapi sebelum dia turun, dia bilang ke gue, kalo dia udah pernah beberapa kali ngeliat gue sebelumnya..

……

Setelah dia ngomong gitu, justru gue yang penasaran ama doi. Gue pun langsung stalking stalking di dunia maya. Nyari semua informasi tentang dia. dan hasilnya, Ternyata dia bukan tukang hipnotis. Dia juga bukan mbak mbak yang suka malak. Dan dia juga bukan orang suruhannya ibu kos. Dia ya dia.. dia seperti yang dia katakan.. Gue jadi ngerasa bodoh. Kenapa gak minta nomernya sekalian. Kenapa gak kenalan lebih dalam lagi. Kenapa gak gini. Kenapa gak gitu. Hidup gue langsung dopenuhin soal kenapa kenapa saat itu juga.

Kenapa kenapa gue itu akhirnya berhenti beberapa hari kemduain setelah temen gue sms gini, “Yip ada temen gue yang nanyain lo nih, namanya sakura. Katanya dia pernah ketemu lo di angkot blalalalalallalalalala”

Akhirnya gue dapet nomer dia..

Dan semua berubah saat negara api menyerang…

*gak nyambung*

Setelah gue dapet nomernya, kita jadi SMSan tiap hari. Ada aja bahasan yang dibahas tiap hari. asiknya, ngobrolin apapun sama dia, nyambung banget. Karen ague orang media, gue jadi banyak topic untuk dibicarain, anehnya dia sanggup sanggup aja buat ngeladeninnya. Kita kadang bahas soal jurusan kita masing-masing, pengalaman pelatihan, organisasi, tentang social, politik, media, urbanisasi, desa, fenomena fenomena, cerita cerita hantu, kejadian apes, tempat wisata, pokoknya segala macem deh. Dia bahkan tau persoalan FKM yang belum ada profesinya.. Kalo lagi diskusi soal sesuatu, dan beda pendapat, biasanya kita telponan, yang isinya debat semua. Debat debat aja pokoknya. Kadang dia yang menang, kadang gue yang menang, tapi seringkali dia yang menang sih. Tulisan gue yang pernah dimuat di Koran pun ada beberapa yang merupakan buah pemikiran hasil diskusi gue sama dia.

Waktu itu masa liburan. Dia ngajakin gue buat ikut dia jalan-jalan sama temennya. Itulah pertemuan kedua gue sama dia setelah diangkot kemarin. Pertemuan kedua ama dia sebenernya masih sama kayak yang pertama. Sama sama masih (sok) kaku. Gaya bicara masih (sok) serius. Gue sendiri sebenernya agak malu. Soalnya gue jalan ama orang-orang yang gak gue kenal semua, kecuali dia. Gue pun lebih memilih untuk memfotokan mereka dibandingkan ikut foto bareng mereka. Gue lebih memilih diem aja pas jalan itu. Paling baru ngomong kalo ada yang nanya atau ngajak ngobrol. Itupun jawabnya diplomatis aja. Gue ngomong ama dia pun lebih banyakan pelan-pelan aja, malah kayak bisik-bisik. Entah kenapa. Tapi satu yang gue inget, dari awal gue dateng sampe gue pulang, dia selalu berada disamping gue.

………

Setelah itu masa masa kuliah. Gue ama dia beda kampus. Beda universitas. Beda kota. Kita sama-sama anak perantauan. Karena sibuk dengan kuliah masing-masing, komunikasi pun jadi berkurang banget. Diskusi jadi jarang, Tapi kita tetep konsisten ngabarin kabar satu sama lain. Kalo ada diantara gue atau dia yang mau pulang, biasanya kita saling menginfokan. Biar bisa ketemuan.

Pertemuan ketiga, terlaksana pas gue lagi pulang ke rumah. Gue sms kalo gue lagi di rumah sampe hari sekian. Dia ngomel-ngomel kenapa baru bilang pas gue udah dirumah. Tapi tiga hari kemudian dia mudik juga. Akhirnya kita ketemuan. Pertemuan ketiga terjadi antara gue ama dia aja. Kita jalan berdua. Gue bingung. Kenapa dia ikut-ikutan mudik juga. Terus kita tinggal di beda provinsi tapi dia minta ketemuannya di provinsi gue. Jakarta. Dia bilang, “kalo kamu yang kesini, pasti kamu bakal nyasar, jadi mending aku aja yang kesana” begitu katanya ketika gue tawarin biar gue aja yang kesana. Yah manut aja deh.

Ketemuan kali ini sungguh beda. Bener bener beda dari ketemuan yang sebelum-sebelumnya. Entah karena udah lama gak ketemu, entah karena udah lama gak sering komunikasi atau entah karena sama sama saling merindu, pertemuan kita mengalir begitu aja. Gue akhirnya bisa jadi diri gue sendiri. Suka becanda, ngelawak terus dan banyak ceritanya. Dan dia juga jadi diri dia sendiri. Banyak cerita, idealis, “hangat” dan mengagumkan.. Dan dia terlihat cantik hari itu..

Kita jalan seharian. Hampir dua belas jam. Ngobrolin banyak hal, diskusi banyak hal dan debatin banyak hal juga. Mulai dari subsidi BBM yang salah sasaran sampe peran thor yang aneh di the avengers. Pokoknya banyak hal deh. Asiknya, selama dua belas jam itu, baik gue maupun dia sama sama jarang ngeliat gadget. Pas pengen pulang, gue minta foto bareng ama dia. gue masih ngerasa bersalah dulu pas pertemuan kedua gue nolak buat ikut foto. Akhirnya dengan modal minta tolong orang dijalan, kita pun foto bareng.
Begitu gue sampe rumah, malemnya, gue gak bisa tidur..

Yaa gue naksir ama dia..

……..

Pertemuan pertemuan selanjutnya pun gak beda beda jauh. Kadang kita ketemu sebulan sekali, kadang dua bulan kemudian baru bisa ketemu, kadang tiga bulan kemudian juga kita baru bisa ketemu. Kadang pas gue lagi dirumah, dia gak bisa mudik, kadang pas dia di rumah gue nya yang gak bisa mudik. Pernah suatu waktu dia ada acara di kota kampus gue. Dia baru bilang pas dia udah disana. Dia minta dibawain oleh-oleh. Sayangnya, waktu itu gue lagi ada acara organisasi dari pagi sampe malem. Jadi gak bisa ketemu ama dia.

Sebenernya gue beruntung punya temen deket kayak dia. Sebagai wanita dia bisa dibilang komplit. Cantik, pinter, baik, keren, leader, aktivisi dan religious juga. Gue sendiri nganggep dia itu partner in crime, meski gue naksir sama dia, tapi gue lebih nyaman kayak gini aja. Temenen. Sahabatan. Partneran. Waktu itu gue suka bingung sama dia. Dengan begitu sempurnanya dia kenapa dia masih jomblo. Kenapa dia gak nyari cowok gitu. Atau masa sih anak kampusnya gak ada yang naksir ama dia? gak mungkin banget. Gue sering pengen nanyain hal itu, tapi gue selalu urung untuk menanyakannya. Karena dari awal kita ketemu sampe sekarang, kita gak pernah ngebahas soal cinta-cintaan.

……..

Lalu sampailah kita pada pertemuan yang kesekian. Kalo gak salah udeh setahunan kita deket kayak gini. Gue aja lupa ini pertemuan yang keberapa. Yang mana itu ternyata menjadi pertemuan terakhir kita. Pertemuan kali ada yang beda. Bukan kita yang kembali ke kaku-kakuan yang dulu, tapi cara dia bertingkah. Yaa ini lah pertemuan pertama kita setelah 3 bulan gak ketemu. Agak lama. Selama 3 bulan itu pun kita jarang kontak-kontakan.  Biasa sih. Gue sibuk. Dia juga sibuk. Yang paling beda dari pertemuan pertemuan sebelumnya, kali ini dia banyak ngomong soal cinta. Pas kita ketemu, dia minta pendapat gue tentang wanita. Gue sering bilang ke dia kalo wanita itu susah dimengerti. Dan dia minta penjelasan soal itu, sambil bilang kalo cowok juga kenapa banyakan gak peka. Dai cerita tentang temen dia yang gak peka. Sebut aja tiger. Katanya dia udeh deket lama ama si tiger. Dia ngerasa udeh cocok deh. Tapi bingung ama si tiger yang gak peka banget. Pas denger cerita dia, gue malah ngeledekin dia dan ngegodain dia. gue bilang, gue seneng akhirnya dia bisa naksir juga sama orang.

Pas jam makan siang, kita diskusi lagi, kali soal gender. Gender dalam sebuah kepemimpinan, gender dalam sebuah agama, dan gender dalam sebuah cinta. Dia minta pendapat gue bagaimana soal cewek yang “ngomong” cinta duluan ke cowok. Gue jawab, cewek kayak gitu gak punya prinsip. Gak menghargai keistimewaan yang dia punya. Bukan tipe gue. Gitulah intinya jawaban gue.

Pas lagi ngemil ngemil sore sore, dia nanyain lagi, minta pendapat soal kasus dia. katanya dia lagi dideketin sama cowok akhir-akhir ini. Sebut aja leo. Dia gak ngerasa apa-apa sama si leo. Soalnya dia masih demen ama si tiger. Gue bilang ama dia, daripada ngarepin orang gak jelas kayak tiger, yang jelas jelas dia gak jelas, yaa mending dia jalanin aja ama si leo. Yang jelas-jelas menawarkan dia kebaikan. Gue ngomelin dia. kenapa dia baru ceritain soal tiger sekarang. Gue bilang kalo dia ceritain dari dulu, gue bisa nasehatin dia tiap hari, biar dia gak naksir berat ama si tiger.  Gue juga negasin, mending dia ama leo aja. Soalnya katanya leo itu baik dan perhatian. Gue bilang gue pengen dia dapet yang terbaik..

Pas makan malem, kita diskusi lagi, kali ini dia minta pandangan gue soal cinta. Gue bilang ama dia, kalo cinta itu sama dengan nol. Semakin banyak kita menambahkannya, semakin banyak kita menderita.

…….

Akhirnya kita pulang. Gue anterin dia sampe stasiun. Gue nungguin dia sampe naik kereta dan keretanya jalan. Saat saat lagi nungguin kereta itu, kita lebih banyak diem. Dia lebih banyak diem. Gue sendiri sebenernya agak pusing karena seharian ngebahas soal cinta. Yang banyakan gue gak ngertinya. Yang banyakan gue mikirnya pake logika aja. Kereta pun dateng. Dia belum beranjak pergi. Dia masih di tempat. 
Gue pun nanya, “kok gak masuk?”

Dia jawab, “Yip.. kok kamu mikirnya sederhana banget sih? Padahal itu kompleks.”
Dia menghela napas, lalu melanjutkan, “kamu bener-bener gak ngerti?”
Dia ngeliat gue.. terus bilang “………. Kita ini sebenernya gimana sih yip?”

…………..

Gue bingung. Gue gak ngerti maksud ucapannya. Gue mencoba nyari korelasi antara sederhana, kompleks, gak ngerti dan gimana.. tapi gue gak nemu jawabannya. Gue malah lebih kepikiran bel kereta yang udah bunyi. Petanda kereta bentar lagi mau jalan. Gue jawab:

“Maksudnya apaan ra?”

…….

Mukanya langsung bĂȘte, begitu denger jawabannya gue. Gue bingung. Akhirnya dia masuk ke kereta. Tanpa ngucapin kalimat apapun. Keretanya pun berangkat. Meninggalkan gue yang penuh kebingungan.

…….

Dua bulan setelah hari itu, kita jarang kontak-kontakan. Biasa sih. Dulu dulu juga pernah gini. Tapi kali ini, dia jarang ada pulsa, bbm dia pun seringan off. Makanya jadi bikin jauh. Gue nanyain kapan pulang, dia bilang lagi focus ama kerjaannya. Sms gue lama dibalesnya. Pas gue butuh temen diskusi, dia nya gak ada. pas gue galau, dia nya juga gak ada. padahal dulu selalu ada. saat itulah gue ngerasa kehilangan dia. gue ngerasa punya rasa yang lebih sama dia. kadang gue bingung, kenapa orang baru ngerasa cinta atau sayang justru pas dia kehilangan sesuatu yang berharga buatnya. Saat itulah gue juga bingung kenapa gue ngerasa kayak gitu.

Gue pun nanya-nanya ke temennya. Tentang dia. semuanya. Temennya bilang dia baru jadian sama leo. Terus temennya bilang, “lo sih yip bodoh, ditikung kan lo, padahal orangnya naksir sama lo tau. Udah lama. Elunya aja bego gak paham paham”

……….

Ya ya ya. cinta memang sulit dimengerti. Kadang gue bingung. Kalo kita ketabarak motor, kita bisa minta pertanggungjawaban kepada si penabrak. Tanggung jawab buat biaya perbaikan, biaya pengobatan dan biaya lainnya. Kalo kita kecurian benda. Kita bisa minta pertanggunjawaban si pencuri untuk ngembaliin atau ganti apa yang hilang itu.  Tapi gue selalu bingung sama hal ini. Kalo kita jatuh cinta sama orang. Kenapa kita gak bisa minta pertanggungjawaban sama yang bersangkutan? Entah itu pertanggunjawaban buat rasa ini, ngobatin sakit hati kita, ngobatin rindu kita, ngobatin rasa penasaran kita atau tanggung jawab untuk sekedar menerima perasaan kita…

Kenapa kita gak bisa ya?

Ya ya ya. itulah cinta.
Penuh dengan teka-teki..
Jika kamu bisa menjawab teka-teki itu, kamu bisa mendapat kebahagiaan, akan tetapi, jika kamu tidak berhasil memecahkannya, kamu hanya akan mendapat sebuah penyesalan..

Penyesalan yang indah..


Share:

Nyaman




Aneh. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kita berdua. Sepasang manusia dengan nasib beda namun dipersatukan oleh satu hal yang sama. Gue kenal dia sebenernya udeh lama. Tapi kenal saat itu mungkin lebih tepat disebut dengan sebatas tau aja. Soalnya baik gue maupun dia Cuma kenal sebatas nama dan asal aja. Gak lebih dan gak kurang. Selain itu, gue gak pernah inget percakapan-percakapan kita selain percakapan perkenalan waktu itu. Bisa dibilang perkenalan tersebut adalah percakapan kita untuk yang pertama dan terakhir kalinya dalam satu kurun waktu. Setelah perkenalan, gue gak pernah lagi ngobrol sama dia. Meskipun beberapa kali pernah ketemu, tapi baik dia maupun gue, sama-sama cuek aja. Gue sibuk dengan urusan gue, dia sibuk dengan urusannya. Ya itulah hal yang bisa digambarkan tentang hubungan gue sama dia. Sebelum kita dipertemukan kembali di perkenalan yang kedua..

Perkenalan kedua kita ditandai dengan percakapan kita untuk yang kedua kalinya. Ya inilah percakapan kedua kali kita semenjak kita kenal pertama kali. Lucunya. Jarak antara percakapan pertama dan yang kedua terpisah oleh waktu yang sangat lama. Percakapan kedua ini pun terlihat biasa-biasa aja. Hanya basi basi yang terdengar basi mungkin bagi yang mendengarnya. Tapi gue ngeliat ada yang beda kali ini. Ya gue ngeliat ada yang berbeda dari pancaran matanya. Matanya seolah membicarakan hal lain yang saat itu gue gak ngerti artinya.

Lalu sampailah pada percakapan yang ketiga. Percakapan kali ini hanya terpisah beberapa hari dari percakapan yang kedua. Ajaibnya, kali ini terjadi secara kebetulan. Kita ketemu atas dasar kesengajaan. Lagi lagi kita hanya bercakap-cakal soal basi basi yang terdengar makin basi untuk dengar. Tapi. Dalam percakapan itu, dia meminta pin BB gue..

……..

Bingung. Yang terjadi setelahnya justru bikin gue bingung. Hanya dalam 3 hari semenjak gue ngasih pin BBM, kita ketemuan dua kali. Yang pertama 3 jam, dan yang kedua 2,5 jam. Jadi 5,5 jam kita habiskan untuk sekedar mengobrol dan berdiskusi. Namun, bermula dari 5,5 jam itulah semua kisah ini dimulai..

……..

Lucu. Itulah yang terjadi selanjutnya. Setelah obrolan 5,5 jam waktu itu, kita jadi sering berhubungan. Hampir  tiap hari kita berkomunikasi. BBMan atau SMSan. Banyak hal yang kita bahas. Mulai dari kerjaan, cinta, kegiatan, makanan, acara-acara dan hal-hal yang gak penting lainnya. Selain itu, hampir tiap hari juga kita ketemu. Entah itu untuk makan bareng, untuk jalan bareng, entah untuk main bareng, atau sekedar melakukan hal yang tidak penting. Ya ya ya. kita semakin akrab. Kita semakin nyaman.
Tapi, uniknya, keakraban kita Cuma berlangsung diluar aja. Begitu kita di dalam institusi pendidikan, kita menjadi orang yang berbeda. Kita jarang bertemu di dalam. Jarang berinteraksi juga di dalam. Jika pada satu kesempatan kita ketemu, kita terlihat biasa aja. Aku atau dia mungkin lebih memeilih untuk pura-pura tidak melihat. Atau kalopun terpaksa sudah ketauan, kita hanya sebatas senyum aja. Gak lebih dari itu. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terbilang aneh. Ya tapi kondisilah yang memaksa kita untuk melakukan hal itu. Pernah suatu hari, dia minta berangkat bareng, tapi gue menolaknya. Karena gue punya sesuatu yang harus gue jaga. Ya gue harus menjaga sang “mutiara”. Dia mengerti. Dia pun tak masalah dengan hal tersebut.. baginya pembatasan tersebut justru membuatnya semakin nyaman..

……..

Semakin lama barengan, semakin banyak pula yang gue tau dari dia dan yang dia tau dari gue. Persamaannya kita sama-sama punya “mutiara”. Perbedaannya, mutiara gue dan dia punya kisah yang berbeda. Sedangkan persamaan dari perbedaan tersebut adalah, mutiara gue dan dia sama-sama sedang dalam kondisi yang redup. Dan itu membuat gue lelah.. membuat dia lelah juga..

………

Mungkin lelah itulah yang menuntun kita hingga bisa sedekat ini….. senyaman ini….
Hingga pada suatu hari, lelah itu juga yang membuat kita jadi menjauh…

……...

Nyaman. Itulah yang gue rasain saat bersama dia. ya meskipun terkadang dia begitu menyebalkan. wajahnya yang manis cukup menjadi pemanis di kala kondisi hati yang sedang pahit, parasnya yang memerah begitu tertawa terlihat begitu lucu ketika dipandang, tingkahnya yang kadang kayak anak kecil bikin gue semakin tertarik untuk menggodanya terus, dan orangnya yang selalu ada, itulah senyaman-nyamannya dirinya.
Nyaman. Itulah yang dia rasain juga ke gue. Mungkin gue adalah kepingan puzzle yang hilang, yang selama ini dia cari. Baginya, gue adalah keramaian di dalam kesepiannya, canda di dalam keseriusannya, riak dalam ketenangannya, ada dalam ketiadaannya, dan kelak-kelok dalam jalan lurusnya. Gue adalah warna warni dalam kanvas hitam putih kehidupannya yang monoton.

……….

Kadang gue penasaran, hubungan gue ama dia ini terlihat seperti istilah apa. Apakah ini hubungan tanpa status? Sepertinya tidak, karena kita berdua tidak punya rasa yang lebih satu sama lain. Apakah ini friend with benefit? Tentu aja enggak. Karena kita sama sama gak punya kesepakatan, perjanjian atau meraup keuntungan satu sama lain. Apakah ini teman tapi mesra? Mungkin, tapi kalo diperhatiin kita gak terlihat mesra sama sekali deh. Jadi kayaknya bukan.  Atau apakah ini yang disebut friendzone? Entahlah. Tapi sepertinya bukan juga. Karena kita sampai saat ini belum terlibat cinta satu sama lain. Kita masih setia dengan “hidup” yang kita miliki sebelum kita berhubungan deket ini. Ya begini lah kita. Nyaman dengan apa yang kita miliki saat ini.

………..

Saat ini pun kita,hubungan kita udah gak seintens dulu lagi. Kita mulai menjauh satu sama lain. Meskipun masih saling menjaga ikatan yang selama ini kita buat. Terlalu sering bersama justru membuat kita merasa lelah. Dia lelah. Aku pun lelah. Ya mungkin menjauh adalah jawaban terbaik dari kelelahan kita.

………

Banyak yang bilang kalo, rasa sayang itu sering muncul justru ketika kita kehilangan. Itulah yang gue takutkan saat ini. Gue takut, saat kita berpisah nanti, rasa merepotkan itu akan muncul. Muncul dengan dahsyatnya. Ya, makanya, dengan menjauhnya kita saat ini, justru membuat gue nyaman. Nyaman karena kita bisa sama sama terhindar dari kemunculan rasa merepotkan itu. Nyaman karena gue ataupun dia gak perlu khawatir akan datengnya rasa merepotkan itu..

Ya itulah kamu. Dekat ataupun jauh, selalu bikin nyaman.

Aku memang selalu nyaman sama kamu…
Share:

Mendadak Alim





Semalem gue dateng ke pesta nikahan sodara gue. Pesta nya cukup meriah, karena tamu undangannya yang berkisar 500-800 orang dan bertempat di Taman Anggrek TMII. Kadang gue berpikir, bagaimana nanti kisah nikahan gue besok. Dengan siapa gue nikah, umur berapa gue nikah, dimana gue nikah dan pertanyaan lain lain seputar masa depan. Kadang gue bermimpi pengen punya mesin waktu doraemon dan ngelihat ke masa depan. Biar rasa penasaran gue bisa ilang. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, ternyata lebih baik kayak gini aja deh. Lebih baik kita gak tau dengan masa depan kita. Soalnya dengan begini, kita bisa menikmati indahnya sebuah proses dan nikmatnya sebuah perjuangan. Biarlah masa depan menjadi kotak Pandora. Kotak penuh kejutan yang baru kita tau isinya begitu kita membukanya.

Gue punya banyak temen yang udah pada nikah. Nikah muda lebih tepatnya. Soalnya umurnya ya masih 20an. Seumuran gue. Banyak diantara mereka tersebut yang merupakan temen deket gue. Temen deket waktu SD, SMP, SMA maupun kuliah. Total temen deket gue ada sekitar 20an yang udah nikah. Banyak kan? Gue masih inget, waktu gue bareng-bareng mereka dulu, kayaknya kita gak pernah deh ngomongin soal nikah. Apalagi nikah cepet. Secara gitu yang namanya remaja mah pasti mikirnya pacar-pacaran aja. Tapi nyatanya sekarang malah mereka udeh pada nikah semua..

Ada yang unik dari temen-temen gue yang udah pada nikah ini. Mereka semua punya satu kesamaan yang gue perhatiin ada semenjak mereka menikah. Yaa semenjak mereka nikah, entah kenapa mereka jadi (sok) bijak. Jadi sok-sok an dewasa gitu. Yaa mungkin ini wajar aja yaa, karena emang mungkin ini merupakan sebuah tuntutan, yang mau gak mau yaa harus kita lakukan kalo mau nikah atau udah nikah. Cuma ada satu hal lagi yang bikin gue penasaran. Membuat gue bertanya-tanya kenapa bisa gitu. Yaa mereka semua jadi mendadak alim gitu. Serius. Mendadak alim. Alias tobat.

Entah kenapa mereka jadi sering posting gambar-gambar yang berisi kalimat kalimat islami, mereka juga sering posting cerita-cerita islami, atau kalimat kalimat penyejuk hati. Kadang status media social nya juga alim alim banget. Udeh kayak cermahnya ustadz atau ustadzah.

Sejujurnya gue sering ketawa sendiri ngeliat mereka jadi alim gitu. Soalnya gue tau banget mereka kayak gimana. Saking deketnya, dosa-dosa mereka aja sampe gue tau. Hahaha :p Makanya kadang gue bertanya-tanya dalam hati, ini beneran jadi alim apa cuma covernya aja.

Pernah suatu kali gue ngetes mereka. Yaa buat ngilangin rasa penasaran gue aja sih sebenernya. Temen deket gue ini sebut aja namanya mawar. Jadi dia abis mosting status BBM. Gue lupa lengkapnya gimana. Tapi intinya tentang, pentingnya beribadah gitu. terus gue sok-sok an nanya deh ke dia. dan dia ngejawabnya udah kayak ustadzah aja. Asli ngakak abis gue. Ngebaca bbm dia sambil nginget-nginget kayak gimana dia dulu. Gue masih inget dulu si mawar ini dulu banyak yang naksir. Saking banyaknya dia sampe buka “cabang” gitu. Pacarnya banyak. Sampe pacar adeknya juga dipacarin ama dia. Makanya pas gue liat dia kayak gini, gue bener-bener penasaran banget. Sekaligus kagum. Akhirnya gue tes lagi dia, gue tanyain, gimana “malam pertama” nya. Yaa iseng-iseng aja. Absurbnya, dia malah ceritain kisah malam nya itu ama gue. Lengkap dan rinci. Beserta jam-jam nya. INI APAAAAAAA.. Aduuhhh mama sayangeeeeee.. Gue yang awalnya udeh kagum, langsung shock dibuatnya. Tapi yah, memang selalu ada hal gila yang terjadi jika kamu bersama temen dekatmu :D

Terus ada lagi temen gue yang udeh nikah itu. Sebut aja bunga. Dia dulu cewek gaul gitu deh. Calon calon sosialita masa depan gitu. Doyan nongkrong. Kongkow kongkow. Suka gosip dan PHP-in cowok. Sama kelakuannya. Postingannya berbau islami terus. Gue tes juga nih. “bung gue lagi naksir ama cewek nih, gimana ya blalalalalal” dan tau apa yang terjadi.. dia ceramahin gue panjang lebar kali tinggi sama dengan luas. Mantep banget. Gue bengong. Shock. Kagum. Tapi beberapa saat setelahnya.. dia malah bergosip ria, ceritain tentang si anu, si itu, tetangganya, dan pacarnya adek suaminya, pacarnya pacar mantan pacarnya dan lain lain.

Gue Cuma bilang.. “nyebut bung.. nyebut..”

Yeahh.. kita memang akan selalu menjadi diri kita sendiri jika sedang bersama temen deket kita”

Tapi.. ya emang gue akuin, nikah itu emang ngubah karakter seseorang. Itulah yang gue lihat pada temen-temen gue diatas. Perubahannya pun menuju ke arah yang lebih baik. Yaa meskipun ada juga temen gue yang sebelum nikah sama sesudah nikah tetep sama aja. Tapi pasti ada deh perubahannya. Meskipun kecil. Yang gak keliatan ama kita. Begitu pula sama kondisi “mendadak alim” yang terjadi ama temen-temen gue diatas. Yang bisa gue analisis sih, sebenernya kondisi “mendadak alim” itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, tapi emang sesuatu yang terjadi secara naluriah. Kondisi yang bisa dibilang merupakan buah dari suatu pernikahan. Orang yang abis nikah pasti sadar gak sadar bakal alim sendiri. Atau, mereka terdorong untuk berbuat alim atau terlihat alim. Kayaknya sih. Kayaknya ya. Secara gitu gue belum nikah. Jadi belom ngerasain.

Sebagai temen yang pernah bersama mereka, yang pernah berjuang bersama mereka, jujur aja gue ngerasa seneng. Ada rasa bangga, kagum, bahagia, begitu ngeliat mereka. Entahlah kenapa bisa begitu. Gue masih inget dulu rata-rata mereka manggil gue, “abang”, panggilan yang sampe sekarang masih mereka pakai buat manggil gue, gara-gara dulua mungkin gue terlihat “lebih dewasa” dibanding mereka.  Tapi kalo diperhatiin, dengan kondisi yang ada saat ini, kayaknya justru gue deh yang harusnya manggil mereka, “kakak/abang”. Bisa dibilang, mereka udah satu tahap diatas gue dalam satu level kehidupan. Saat gue masih mikir seneng-seneng, mereka udah mikir “masa depan”, saat gue disini masih susah susah ngerjain skripsi, mereka udah susah susah nyari duit buat hidup mereka, saat gue disini masih galauin cewek, mereka udah saling berjanji satu sama lain untuk tetep setia bagaimanapun kondisinya.. bahkan.. saat gue disini masih terlihat “blangsat” mereka udah lebih ngerti agama dibanding gue..

Dulu gue sering bilang ke mereka “gue gak akan “ninggalin” temen gue”. Satu kalimat yang terisnpirasi dari naruto. “orang yang tidak menaati peraturan memang disebut sampah, tapi orang yang meninggalkan temen nya sendiri lebih rendah daripada sampah”. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang justru gue yang tertinggal dari temen-temen gue ini. Tentunya tertinggal disini, dalam artian yang baik. Gue tertinggal dalam hal kebaikan. Mereka udah seribu langkah mungkin di depan gue. Tapi inilah yang bikin gue bangga. Ngeliat mereka dengan “masa depannya”. Yeaahh.. memang..  Tidak ada kebahagiaan yang lebih nikmat ketika melihat teman mu bahagia..

Share:

Ruang Rindu..





Hidup itu bagaikan berjalan dari suatu ruangan ke ruangan lain. Setiap ruangan pasti memiliki kisahnya masing-masing. Terkadang kita menemukan dua atau lebih ruangan dengan kondisi yang sama persis. Baik sama dekorasinya, sama isinya, sama fungsinya, sama penghuninya, dan banyak persamaan lainnya. Namun meskipun kita menemukan dua atau lebih ruangan yang sama, sama persis, ternyata kesamaan tersebut masih menyisakan sedikit perbedaan, yaitu beda lokasi. Tak mungkin kita menemukan dua buah ruangan dalam titik kordinat posisi yang sama persis bukan?

Malam ini aku mencoba melihat-lihat  ruangan ruangan yang ada di sekelilingku. Hasilnya? Aku pun menemukan kisah-kisah yang berbeda di tiap ruangan yang ku masuki. Yeah meskipun ada beberapa kisah yang sama juga kutemukan.

Saat di ruangan pertama, aku mendapatkan kisah si penghuni ruangan yang sedang kesepian. Ia tidak memiliki kekasih dan sedang berada jauh dari teman-temannya. Untuk melawan rasa kesepiannya tersebut, ia melakukan berbagai hal. Mulai dari mendengarkan musik, menonton acara televisi, membaca buku. Namun, berbagai aktivitas itu tidak mampu untuk mengobati rasa kesepiannya tersebut. Alhasil dia malah lebih banyak bermain dengan gadget yang ia pegang, sekaligus berharap harap, agar ia bisa mendapat keajaiban berupa kesibukan dari benda yang ia pegang tersebut.

Aku pun berjalan ke ruangan selanjutnya. Ruangan ini ternyata milik seorang wanita yang sedang mendambakan seorang laki-laki. Ya. mendamba agar menjadi kekasihnya. Ruangannya benar-benar penuh dengan pernak-pernik, cahaya warna warni, dentuman musik, berbagai jenis makanan dan minuman. Akan tetapi, ternyata ia belum menemukan dambaan hatinya tersebut. Tentu saja. Soalnya dia hanya mondar-mandir dia ruangannya saja. Dia terjebak atas kisah dongeng dongeng zaman dahulu, yang menceritakan bahwa akan ada seorang pangeran tampan yang mengunjungi rumah seorang putri untuk memberikan sebelah sepatu kacanya. Ya dia berpikir, bahwa ia seperti putri tersebut. Sayangnya, dia tak pernah menyadari bahwa sepatunya masih lengkap di rak sana.

Kembali aku melanjutkan perjalananku. Kali ini aku tiba di suatu ruangan yang bersih, rapi, dan tertata. Sungguh ruangan yang nyaman. Hanya dengan sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa pemilik ruangan ini adalah orang yang tekun, pandai dan sehat. Akupun berkeliling ruangan tersebut sembari melihat-lihat properti properti yang ada. Ruangan yang menyenangkan. Namun, aku terkaget, karena ternyata sang pemilik ruangan sedang terbujur sakit di tempat tidurnya. Aneh. Kenapa ia bisa terserang penyakit di ruangan yang indah ini? Aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “hey kenapa kamu bisa sakit?” tanyaku. “Aku terbiasa merawat ruangan ini bersama dengan kekasihku. Mulai dari membersihkan, merapikan dan menjalani aktivitas. Beberapa bulan yang lalu kekasihku terpaksa pergi ke suatu tempat yang jauh karena pekerjaannya. Akhirnya akupun hanya sendiri untuk merawat ruangan ini. Meskipun ruangan ini tetap bagus seperti sediakala, tapi resikonya aku kecapekan dan terserang penyakit.” Jawabnya. Aku pun mengangguk-ngangguk. Ternyata begitu. Aku pun jadi berandai-andai. Ruangan ini ibarat fisik tubuh manusia, sedangkan penghuninya ibarat hatinya. Seseorang yang menjalani LDR bagaikan penghuni dan ruangan tersebut. Meskipun dari luar ia terlihat normal dan bahagia-bahagia saja, tapi di dalam hatinya ia merasa sakit. Sakit karena terpisah oleh jarak yang begitu menyakitkan.

Ruangan selanjutnya yang kutemui adalah ruangan sepasang kekasih. Meskipun tinggal dalam ruangan yang sama, namun mereka jarang melakukan aktivitas bersama sama. Suatu kali sang pria sedang bersusah payah membetulkan kursi yang patah, tapi sang wanita malah sibuk berendam air panas. Suatu kali sang wanita sedang kepayahan dalam membersihkan ruangan, sang pria malah pergi bermain dengan teman sebayanya. Seringkali juga kulihat mereka bertengkar hanya karena hal-hal kecil, seperti lupa menutup jendela, lupa menutup keran air, lupa mematikan lampu, ataupun hanya sekedar lupa hari dalam suatu tanggalan. Aneh ku pikir. Kenapa mereka mudah sekali ribut hanya karena hal-hal kecil semacam itu, padahal kalo dibicarakan baik-baik itu tidaklah menjadi hal yang besar.  Terkadang dari perselisahan perselisihan kecil tersebut malah diantara mereka ada yang sampai mengusir untuk keluar dari ruangan tersebut. Ah ada ada saja. Daripada terus menerus melihat hal yang tidak penting begini, aku pun melanjutkan perjalananku..

Aku sampai di sebuah ruangan yang sungguh berantakan, kotor dan tak berpenerangan. Saking berantakan dan gelapnya, aku jadi sering tersandung atau menginjak barang-barang yang ada disana. Aku pun kesulitan dalam menemukan penghuninya. Aku belum bisa memastikan apakah penghuni ini laki-laki atau perempuan. Disini, aku hanya bisa mendengar suara-suara aneh, seperti umpatan-umpatan dan suara tangisan. Sepertinya sang pemilik ruangan sedang dilanda kesedihan dan patah hati yang mendalam. Entah karena hal apa. Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, namun sebelum keluar aku menyalakan sebuah lilin dan kutaruh diatas meja. Semoga ini bisa membantu menerangi sedikit kegelapanmu. Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan jalan-jalanku. Tibalah aku di dua ruangan yang bersebelahan. Dua ruangan ini hanya dipisahkan oleh tembok. Ruangan sebelah kiri milik seorang pria. Sedangkan yang sebelah kanan milik seorang wanita. Lucunya, baik ruangan kanan mapupun ruangan yang kiri memiliki properti yang sama. Susunan yang sama dan kondisi yang sama pula. Sesekali sang pria duduk tepat di depan tembok pemisah tersebut dan memainkan gitar sembari menyanyikan lagu-lagu romantis yang ditujukan untuk sang wanita. Sang wanita pun tersipu malu dan tersenyum manis setiap mendengarkan alunan musik dan lagu tersebut. Sesekali sang wanita  yang bernyanyi. Dan reaksi sang pria? Sama seperti sang wanita. Sesekali waktu mereka berbicara melalui telepon dan sesekali waktu pula mereka berbicara langsung dari ruangan mereka. Bagi mereka, setebal apapun tembok pemisah tersebut takkan bisa menghalangi bunyi suara mereka. Terlebih suara harti mereka. Aku pun takjub dengan kegigihan mereka berdua. Mereka benar-benar punya selera yang sama. Tinggal menunggu waktu saja sampai sang pria merobohkan tembok pemisah tersebut. Ah indahnya..

Lelah berjalan kesana kemari, aku pun memutuskan untuk pulang kembali ke ruanganku. Dalam perjalanan ku pulang, aku kepikiran dengan ruangan-ruangan yang tadi kusinggahi. Banyak pikiran-pikiran yang masuk kedalam otakku. Suatu waktu jika aku kembali mengunjungi ruangan-ruangan tersebut, aku pasti akan menemukan kondisi yang berbeda, yah meskipun bukan hal yang mustahil pula jika aku tetap menemukan kondisi yang sama. Tak terasa aku sudah sampai di depan ruanganku. Ku buka pintu. Aku masuk kedalamnya. Ternyata kondisinya, masih sama seperti saat kutinggalkan beberapa waktu yang lalu. Sepi, sunyi dan suci masih setia menyapaku. Ruangan ini pun masih dipenuhi wangi harum yang semerbak. Aku pun berbaring. Kulihat di sekelilingku. Kosong. Terasa sesak. Sedikit hampa. Tapi entah kenapa aku merasakan kehadirannya disini. Mengelilingiku. Namun beberapa kalipun kucoba untuk meraihnya, hanya angin yang setia memeluk tanganku.

Hey kamu yang disana..

Aku rindu kamu..

Share:

Crazy Little Thing Called Love




Malam ini lagi lagi gue denger cewek nangis di kosan gue. Bukan. Bukan kuntilanak. Ini serius cewek beneran. Jadi cewek ini kita sebut aja bunga. Dia pacarnya temen kos gue. Kita sebut aja pohon. Menurut analisa gue, si bunga ini nangis gara gara abis berantem ama si pohon. Jadi dia gak kuat menahan perasaannya akhirnya keluarlah air mata tersebut. Sebenernya ini bukan pertama kalinya gue liat si bunga nangis. Gue udeh pernah liat beberapa kali. Bisa dibilang sering.

Pernah suatu hari, pas mereka lagi berantem dan kebetulan gue lagi pengen berangkat keluar. Ajegile tekanan batin. Gue gak enak banget pengen keluar kamar, soalnya kalo keluar otomatis gue bakal ngeliat pertengkaran mereka, secara gitu kamarnya depan depanan ama gue. Akhirnya untuk menjaga keselamatan diri gue, gue memilih untuk diem dulu di kamar dan berangkat begitu mereka selesai berantem.

Beberapa menit berlalu. Si bunga mulai menangis. Dia pun kayaknya keluar. Soalnya gue denger suara pintu dibuka. Gue nunggu beberapa saat. Setelah yakin kalo si bungan emang udeh keluar, akhirnya dengan muka tanpa dosa seolah gak terjadi apa-apa gue keluar kamar dan berangkat keluar. Gue langsung ambil motor di garasi. Begitu gue masuk garasi, gue ngelihat sesosok perempuan. Rambutnya panjang. Bajunya putih. Diem doang dipojokan. Gue cek punggungnya, ternyata gak bolong. Dia juga gak ketawa hihihi tapi malah nangis huhuhu. Gue diem beberapa saat. Akhirnya gue sadar. Kalo itu BUNGA ! ternyata si bunga lagi nangis di pojokan garasi. OSITMEN !

Gue pun perlahan ngeluarin motor dan langsung pergi saat itu juga….

………

Menurut gue wanita itu susah dimengerti. Susah banget deh. Gue lebih gampang untuk memahami skripsi gue daripada memahami seorang wanita. Pas gue nyekripsi kemarin, saat gue bingung akan suatu problema, gue langsung nyari nyari teori atau referensi yang berkaitan dengan problema tersebut. Begitu gue pelajarin dan diskusi. Problema itu bisa terselesaikan. Beda ama wanita. Wanita itu kayak bunglon. Suka berubah ubah. Kayak bencana alam juga. Susah diprediksi. Satu teori belum tentu bisa menjelaskan soal wanita. Butuh ratusan teori yang digabungkan berdasarkan rumus dan formula tertentu. Ya. bener. Wanita itu complicated..

Contohnya kasus bunga diatas. Gue gak ngerti ama dia. menurut gue dia salah satu cewek yang belum punya prinsip. Dalam suatu hubungan, memang diperlukan bumbu bumbu penyedap. Gunanya ya buat memantapkan rasa. Bumbu bumbu itu seperti surprise, rasa posesif, jenuh, bertengkar, cemburu dan lain lain. Pertengkaran dalam suatu hubungan merupakan salah satu bumbu penyedap tersebut. Kalo hubungan yang anteng anteng aja mah gak ada greget nya. “rasa” nya pun ya gitu gitu aja. Gak ada perubahan. Stagnan disitu aja. bisa bikin bosen lama-lama. Rentan terhadap rasa lain yang lebih rekatif. Inilah pentingnya bumbu. Untuk memunculkan suatu dinamika. Tapi selalu inget. Dalam suatu masakan jangan terlalu banyak menambahkan bumbu. Soalnya bisa mematikan rasa. Bikin rasa jadi hambar. Gak enak. Ujungnya makanan tersebut kita buang. Makanya kita kasih yaa sebutuhnya aja. Sewajarnya aja.sesuai selera lah. Begitu juga dengan suatu hubungan. Hubungan yang terlalu banyak bumbu bisa mematikan rasa. Bikin hambar. Gak enak. Belum sampe ke jenjang selanjutnya udah putus aja.

Itulah yang belum sepenuhnya dimiliki bunga. Si bunga belum punya takaran yang pas untuk bumbu dalam hubungannya tersebut. Kalo pacaran tapi berantem berantem terus yaa buat apa? Nangis nangis terus ya buat apa? Kalo pun bisa bertahan dan bisa sampe jenjang pernikahan, yaa siapa yang menjamin kalo setelah nikah gak bakal berantem-berantem lagi? Gak bakal nangis nangis lagi? Gak ada kan?

Pacaran yang isinya berantem-berantem terus sih bukan pacaran namanya.. itu smackdown.. pacaran yang isinya sakit-sakitan terus rasanya sih bukan pacaran namanya.. itu manula… pacaran yang isinya nangis-nangisan aja sih bukan pacaran namanya.. itu termehek-mehek..

Kalo cinta gak gitu gitu amat juga kali…

Cewek juga harus punya prinsip. Jangan terlalu ngekor di perasaan emosionalnya. Meskipun katanya cewek mikirnya pake hati.. tapi inget, dulu ngerjain soal soal sekolah emang pake hati? Pake otak kan? -__- yaa kenapa soal soal hidup ini gak gunain otak juga buat menjalaninya?

“tapi gak sesederhana itu yip…..”

Pasti ada yang mikir kayak gitu.. Yah menurut gue orang-orang zaman sekarang terlalu termakan ama film film sinetron atau film film romantic luar negeri. Yang meskipun banyak banget problemnya tapi endingnya tuh selalu bahagia selamanya. Ya itu kan Cuma film. Film komersial juga. Kenapa endingnya selalu bahagia, yaa buat sarana komersial aja. biar filmnya laku. Soalnya kalo endingnya ngegantung atau gak sesuai yang diharapkan konsumen yaa filmnya gak bakal laku. Itulah strategi pasar. Bagaimana membuat daya tarik produknya.

Orang yang mikir “tapi gak sesederhana itu yip…..” itu keliatan kalo dia orang yang membatasi dirinya untuk berkembang. Orang kayak gini kayak ikan yang ada di akuarium. Yang dia tau, akuarium itulah tempat terbaiknya. Padahal masih ada sungai, masih ada danau dan masih ada lautan diluar sana. Dan ditempat tempat itu justru banyak menawarkan pesona-pesona yang tak tertandingi keindahannya..


Share:

Memutar Waktu





Pertemuan kita (kembali) bagaikan kilatan petir di malam hari yang hanya sedikit menawarkan cahaya, namun gulita menyusul kemudian. Bahkan terkadang, kilatan tersebut disertai dentuman keras yang memekakkan telinga, yang berbunyi sesudahnya.

Aku tau ada yang ada salah dengan diriku. Biasanya, Kusiapkan selalu barier barier pembatas kepada tiap tiap dayang yang mencoba memasuki rumahku. Agar ia tidak terjebak di dalam labirin perahuku. Namun, saat sedang kusiapkan barrier barrierku untuk mengantisipasimu, nyatanya aku sudah terlambat. kamu sudah berada di dalam rumahku. Bersembunyi di balik pintu. Tanpa sekalipun ku tau.

Adakah yang salah? Mengapa kamu begitu merekah? Kenapa aku begitu lengah? Ya.. mungkin aku lelah..

Share:

Passion yang Tertunda



Gue termasuk orang yang suka seni atau art. Dari begitu banyaknya seni di dunia ini hamper semuanya gue suka. Salah satu seni yang menjadi passion gue adalah seni peran. Ya semacam drama atau film film gitu. Gue suka main drama dan gue suka bikin film. Kalo ditanya kenapa gue suka, ya alasannya simple. Karen gue beberapa hobbi gue tertuang ketika kita mau bikin sebuah drama atau film. Beberapa hobbi gue itu ialah tulis menulis, acting acting, fotografi, videografi dan memimpin. Ya entah kenapa gue punya hobby memimpin, yang dalam artian sederhananya memanegemen sesuatu agar tujuan bisa tercapai dengan sukses.
Gue pernah beberapa kali bikin drama atau film yang sederhana-sederhana gitu. Ya yang buat tampil di depan kelas atau sekedar buat mempromosikan sesuatu. Pada kesempatan-kesempatan tersebut gue hamper udah semua nyobain posisi posisi dalam suatu proses pembuatan drama atau film. Gue udah pernah jadi pemeran utama, pemeran pendukung, penulis scenario, cameramen, video film maker dan sutradara. Bahkan gue pernah jadi pemeran utama, cameramen dan sutradara sekaligus. Ajegilee keren ken gue? Hahaha
Berbagai karakter pun udah pernah gue lakuin, mulai dari siswa biasa, anak jalanan, comedian, mahasiswa gaul, bapak-bapak, cowok romantis dan orang jahat. Bahkan gue pernah meranin cowok yang hamilin anak orang -___-
Ada 4 drama atau film yang paling gue suka yang dalam pembuatannya ada gue di dalamnya.

Share:

Upaya Pembentukan Karakter Bangsa




Waktu di awal semester lima, gue pernah ikut kepanitiaan acara Pendidikan karakter, yang mana ini acara merupakan serangkaian dari acara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Sebenernya gue agak males buat jadi panitia, karena acara PMB ini memotong waktu libur panjang semesteran dan itu libur lebaran pula. Makanya pas awal gue ditawarin ama ketua organisasi gue (PH), gue menolak begitu aja. Tapi dari lubuk hati gue yang terdalam, sebenernya gue pengen ikut bergabung dalam acara ini, soalnya pendidikan karakter ini merupakan program baru pemerintah, di dunia pendidikan Indonesia. Gue pun udah sering baca soal Pendidikan karakter ini di Koran, media online dan artikel artikel lain. Makanya gue udah sedikit banyak tau soal visi, arahan atau hasil yang pengen didapat dari pendidikan karakter. Dan menurut gue pendidikan karakter ini memang dibutuhkan untuk dunia pendidikan.

Share:

Sebuah Nama Sebuah Cerita?






Tepat hari ini, Senin 19 Mei 2014, Lembaga Pers Mahasiswa Publica Health resmi meluncurkan nama baru untuk salah satu produk unggulannya yaitu Majalah. Peluncuran nama baru tersebut di create dalam suatu acara seremonial bertajuk “Launching New Brand of Majalah” yang menghadirkan beberapa perwakilan lembaga pers mahasiswa di kampus undip maupun luar undip. Pergantian brand yang dilakukan tentu saja melalui sistematika dan proses yang panjang serta mengikuti pertimbangan-pertimbangan matang lainnya. Harapannya dengan brand yang baru ini, dapat menjadi sebuah lompatan besar dalam mengarungi bahtera keorganisasian yang makin lama makin dinamis ini. Akan tetapi, sebagai orang yang saat ini pernah merasakan brand yang lama dan brand yang baru ini, saya menjadi bertanya-tanya dalam kerangka olah berpikir, apakah peluncuran nama baru ini, menandakan memuncaknya suatu era atau justru petanda akan berakhirnya sebuah era?

Share:

7 Manga Kesukaan Gue



Dari gue kecil sampe sekarang, gue udah suka ama berbagai macem komi atau manga. Ya ini salah satu pengembangan dari hobi gue yang suka baca. Dari hobi gue itu, gue jadi suka baca berbagai macem bacaan. Nah salah satunya adalah komik. Banyak banget komik atau manga yang udah gue baca dan tonton. Dari puluhan manga tersebut ada 7 manga yang masih gue suka sampe sekarang. Bahkan masih gue ikutin kisah ceritanya sampe sekarang. 7 manga itu adalah

1. Dragon Ball


Anak 90-an pasti hamper semua yang suka ama ini manga. Dragon ball adalah tontonan wajib bagi anak anak awal zaman millennium. Kalo udah hari minggu, pasti nih kartun yang paling ditungguin. Ngomongin soal dragonball, pasti ngomingin yang namanya pertarungan, pertarungan dan pertarungan. Dari goku kecil sampe jadi kecil lagi, pasti goku bertarung terus. Dari goku di dunia sampe goku di akhirat pasti bertarung terus terusan. Dari goku masih idup sampe udah mati sekalipun masih aja terus bertarung. Tapi pertarungan pertarungan itu gag pernah bosen untuk ditonton berapa kali pun. Soalnya emang keren. Apalagi kalo udah berubah jadi super saiya. Wah keren ! Manga ini mengajarkan orang yang kuat pasti bisa melindungi orang orang yang disayanginya..

Share:

Sepucuk Panorama Masa Kecil (Bagian 1)




Beberapa hari yang lalu gue nonton satu film sarat makna dan inspirasi kehidupan. Judul film ini adalah Benjamin Button, dengan pemeran utamanya Brad Pitt. Menurut gue film ini cukup mengesankan dari segi alur cerita hingga penampilan pemeran-pemerannya. Film yang berdurasi dua jam ini berkisah tentang seorang bayi laki laki (Bradd Pitt) yang terlahir dengan kecacatan. Gue gag begitu yakin sih apa bener-bener ada cacat kayak gitu di dunia ini. Jadi dia terlahir dengan kondisi fisik yang kayak kakek-kakek atau orang yang udah berusia lanjut. Ayahnya sendiri ketika melihat pertama kali buah hatinya tersebut langsung berucap “like a monster” dan seketika itu juga sang ayah membuang anaknya tersebut di depan pintu sebuah rumah panti jompo. Mulai saat itu, sang anakpun diasuh oleh perawat panti jompo tersebut dan diberi nama Benjamin. Akan tetapi, semakin berjalannya waktu, terjadi keanehan pada si anak. Semakin lama si anak justru menjadi semakin muda. Ya. Bahkan saat usianya sekitar 26 tahun, dia terlihat seperti pria berusia 40 tahunan, dan ketika usianya sudah 40 tahunan sang anak justru terlihat seperti pria 25 tahunan. Lalu pasti kalian jadi berpikir bagaimana rupa Benjamin ketika dia berusia 60 tahunan? Ya kalo mau tau jawabannya silakan nonton saja filmnya hehehe

Film Benjamin button ini membuat gue tergugah dan jadi inget masa kecil gue dulu. Kalo ngeliat film ini, Sejujurnya gue punya masa kecil yang jauh lebih baik dibandingkan masa kecil Benjamin button. Gue terlahir dengan kondisi yang  normal dan sehat wal’afiat di sebuah Puskesmas Kecamatan yang entah gimana caranya Puskesmas itu jadi tempat penelitian skripsi gue sekarang. Dan lucunya gue pun meneliti balita dalam penelitian gue. Seorang bayi yang lahir 21 tahun yang lalu di puskesmas Jatinegara meneliti tentang balita di puskesmas jatinegara saat ini. Sepertinya gue emang punya keterikatan tempat ini deh. Haha

Berbicara soal balita, gue jadi inget, waktu gue balita dulu, gue cukup banyak pindah-pindah rumah. Kayaknya sih begitu gue lahir sampe umur 2 tahunan, gue tinggal di tanjung lengkong yang bagian dalem. Jadi tanjung lengkong ini sebuah perumahan di polonia tempat kantor kelurahan bidaracina, kecamatan jatinegara,  Jakarta timur berada. Cuma kalo kantor kelurahannya ada di depan tanjung, nah rumah gue pertama ini ada di bagian belakang dalem tanjung. Entah kebetulan atau tidak, tapi sebagian besar idup gue sampe sekarang, ada di tanjung lengkong ini..

Nah abis itu, pas umur gue 2-3 tahun, kayaknya lagi nih, keluarga gue pindah ke pedati, daerah kampong melayu kelurahan cipinang cimpedak, kecamatan jatinegara Jakarta timur. Gue masih inget banget, gue pertama kali kenal kerupuk pas di tempat ini nih. Jadi waktu itu gue suka banget beli kerupuk di abang-abang tukang bubur. Ya for Your Information, sekarang, gue adalah seorang fans kerupuk hahahah. Dan di tempat ini juga pertama kalinya gue ngeliat sesuatu yang mengerikan banget bagi anak-anak seusia gue saat itu. Tau apa? Yaa itu adalah ondel ondel. Wkwkwkwk. Gue dulu takut banget ama yang namanya ondel-ondel. Asli gue juga gag tau kenapa. Mungkin karena perawakannya yang tinggi besar dengan wajah tanpa ekspresi dan diwarna-warnain gitu kali ya makanya bikin gue takut. Dan.. Gue masih inget banget, dulu gue dikerjain ama nyokap gue, pas ada ondel-ondel dateng lewat rumah gue, gue digendong nyokap dan dijejelin ke ondel-ondel. Yaa sebagai anak yang tak berdosa saat itu gue Cuma bisa nangis kejer sambil berontak berontak di gendongan nyokap gue. Kondisi lingkungan tempat tingga gue pas di pedati ini dikelilingi oleh orang-orang betawi asli. Yaa sebagai informasi, jadi biasanya itu, orang betawi itu tinggalnya pasti barengan. Bisa jadi 1 RT atau bahkan 1 RW itu masih pada sodaraan semua. Yaa itulah tempat tinggal gue. Dikelilingi oleh orang-orang betawi asli. Di pedati ini juga gue pertama kali kenal yang namanya “teman”. Yaa gue inget waktu disini gue punya temen main yang juga tetangga gue sendiri. Sebelahan rumahnya. Satu cowok dan satu cewek. Kalo ama yang cowok gue suka main mainan gitu, kalo ama yang cewek gue suka main kerumahnya gitu. Sejujurnya gue lupa siapa nama mereka dan bagaimana rupa mereka. Tapi, entah kebetulan atau engga, temen kecil gue yang cowok itu ternyata jadi temen sekelas gue waktu SMP di SMPN 14 Jakarta dan temen gue yang cewek satunya itu jadi temen SMA gue di SMAN 100 Jakarta !!!

Wahahaha lucu yaaahh.. Gini ceritanya, Jadi kebetulan, pas ngambil rapot kelas 2 SMP, nyokap gue ketemu nyokapnya si cowok. Dan Apa yang terjadi jika dua orang ibu ibu bertemu setelah 10 tahun lamanya berpisah? Ya begitulah ceritanya hahaha.. Gag beda jauh ceritanya kayak bagaimana gue tau kalo si cewek temen kecil gue itu adalah temen SMA gue sendiri. YA jadi waktu pas Perpisahan SMA.. kayak wisudalah kalo kuliah.. dan Nyokap gue duduk sebelahan ama  Nyokapnya temen gue itu. Dan apa yang terjadi ketika dua ibu ibu tetanggaan yang sudah 15 tahunan gag ketemu?? Ya begitulah ceritanya hahahah

Pas umur gue 4-5 tahun, keluarga gue pindah lagi.. kali ini ke depok.. Ya jadi kita punya rumah di Depok.. Disini gue mengalami banyak hal yang bener-bener mengisi hari hari untuk menghabiskan masa balita gue. Banyak banget hal-hal yang gue inget di usia gue yang masih sangat amat muda ini. Kayaknya emang bener penelitian seseorang yang bilang bahwa seorang anak akan bener-bener  menyerap ilmu dan pengetahuan saat berusia 4-5 tahun. Bisa dibilang apa yang gue lakukan saat usia 4-5 tahun itu, banyak yang jadi cerminan apa yang suka gue lakuin saat saat gue remaja atau beranjak dewasa saat ini.

Pada usia segitu, gue pertama kali tau yang namanya “teman sejati”. Yaa.. Teman sejati bukanlah sekedar temen, tapi bisa kita anggep sebagai saudara atau keluarga. Gue punya temen main, namanya Asep dan Firman. Mungkin karena mereka berdualah, kenapa gue sekarang bener bener menghargai banget kata “teman” dan gue pun sangat menyayangi temen temen deket gue. Pas di depok ini kondisinya bener-bener beda sama yang di pedati. Kalo di pedati perkumpulannya orang betawi, tapi kalo di depok justru perkumpulan orang orang sunda. Meskipun gue Cuma tinggal 2 tahun di depok, tapi depok dengan sukses membuat gue jadi cadel “F” dan gaya bicara gue terkadang jadi kesunda-sundaan sampe sekarang ini.

Gue, asep, firman punya hobi yang sama waktu itu. Yaitu.. nangkep belalang. Mulai belalng tanah sampe belalang daun. Mulai belalang kecil sampe belalang gede sekalipun. Tempat kita nyari belalang ada di suatu kebon singkong yang letaknya gag jauh sih dari rumah kita. Kebon singkong ini cukup luas daerahnya dan berbatesan dengan hutan. Ya hutan. Nyokap gue selalu ngelarang gue buat main ke kebon itu untuk nyari belalang. Cuma yaa namanya anak-anak pasti bandel kan yaa. Jadi gue meskipun udah dibilangin gitu, tetep aja nyari belalang terus hamper tiap hari. Pada suatu hari gue ketahuan ama nyokap lagi nyari belalang di kebon itu. Akhirnya nyokap nyamperin gue ke kebon itu. Dan gue langsung kucing-kucingan gitu ama nyokap. Tapi, sepandai-pandainya anak kecil melompat, pasti akan jatuh juga. Ya gue ketangkep ama nyokap gue. Gue diomelin abis abisan di kebon itu dan gue dibawa nyokap ke pinggiran kebon itu. Ternyata di pinggir kebon tersebut ada jurang yang sangat dalam. Dan tau apa yang dilakukan nyokap gue? Nyokap gue ngegendong gue dan seolah olah pengen ngelempar dan ngejatohin gue ke jurang itu !!! Sontak aja gue langsung nangis kejer dan bener bener ngerasain takut setengah mati.. Meskipun dengan cara yang agak ekstrim tapi apa yang nyokap gue lakukan itu bener bener pelajaran berharga buat gue. Nyokap ngelarang gue kesana, bukan karena dia gag ngebolehin, tapi karena ada banyak bahaya di kebon tersebut. Dan apa yang terjadi kalo gue jatoh ke jurang tersebut? Jawabannya adalah gue bakalan “meninggal”.. sesuatu yang nyokap ajarkan gue dengan cara menggendong seolah olah pengen ngelempar gue ku jurang itu.. Yaa.. saat itulah gue belajar bagaimana untuk memaknai dan menghargai yang namanya sebuah kehidupan dan kesempatan serta keberuntungan..

Di usia ini jug ague pertama kali kenal dengan kata “musuh”. Setiap ada pembangunan pasti ada penghancuran. Setiapa ada kebaikan pasti ada kejahatan. Setiap ada putih pasti selalu ada hitam. Ya. Gue asep dan firman punya musuh yang sama. Dia adalah cowok yang bandel banget dan punya cara ngomong yang kotor. “mampus, sukurin, gurih” adalah kata-kata yang suka dia ucapkan. Gue lupa namanya, jadi sebut aja dia coro. Jadi si coro ini, bener bener badung banget anaknya. Suka jail, ngatain orang, ngajak berantem. Entah dia bakal jadi apa kalo udah gedenya hahahah. Pada suatu ketika, gue asep firman dan anak-anak lainnya lagi main, kalo gag salah main gundu. Nah ada anak kecil juga yang idiot (sindrom down), kita sebut aja dia didi. Jadi si coro ini naik sepeda dan dia nyuruh si didi ini buat megang jok belakang sepedanya si coro. Si coro bilang jangan sampe lepas. Si didi ya nurut nurut aja. Dan tau apa yang dilakukan si coro? Dia ngebut bawa sepedanya !!! dan bikin si didi keseret sampe kakinya berdarah-darah. Si didi nangis. Tapi Cuma sebentar. Akhirnya ada salah satu anak disitu, cewek, yang bilangin si coro buat jangan kayak gitu atau kalo engga si cewek bakal bilangin ke ortunya si didi. Dan tau apa yang dilakukan si coro? Si coro langsung mukul itu cewek !! wahaha anjirr.. mau jadi apee lo coroooo wkwkwk. Abis itu kan langsung chaos yee keadaan. Si coro yang gag terhentikan langsung dateng ke tempat kita main gundu dan ngambil serauk gundu gundui kita lalu ngelemparin kita pake gundu itu.

Coroooo.. gue ngindar ngindar, dan gue diselengkat ama dia.. gue jatoh.. temen temen gue yang lain mulai pada naik pitam. Asep ama firman mulai ngebales. Si coro langsung kabur. Dan gue inget banget pas dia mau lari dia kepeleset gara gara kulit pisang. Wahahaha. Dan seketika itu juga kita mukulin coro rame-rame. Itu pertama kalinya gue mukulin orang wkwkwk. Si Coro nangis dan pulang. Kita pun juga pulang ke rumah masing-masing.

Anehnya abis kejadian pengeroyokan itu, gue gag inget lagi apa yang terjadi setelahnya.. yang gue inget justru si coro jadi baik dan jadi temen gue. Ingatan gue terakhir ama si coro tu, gueasep firman dan coro ngobrol di depan rumah gue pas hujan hujan. Cerita cerita gitu deh.. asli absurb abis..

Gue sekolah TK di di Depok. Sebuah TK islam yang bernama TK Siradjul Atspal. Kerennya, TK ini masih ada dan eksis sampe sekarang J. Karena TK ini TK islam, jadi rata-rata ngajarin soal islam islam gitu dibandingkan umumnya. Gue masih inget, sebelum kita masuk kelas, pasti setor hapalan dulu. Baik itu hapalan surat atau doa doa harian. Gara gara TK ini nih gue jadi bisa baca iqro. Begitu gue lulus TK, gue juga lulus iqro 6 J

Begitu gue lulus TK, keluarga gue pindah ke Jakarta lagi.. pindah ke tanjung lengkong lagi..

Dengan pindah rumah lagi ini berarti juga menandakan bahwa fase hidup gue juga mengalami yang namanya perpindahan.. perpindahan dari balita menjadi anak-anak..

Ya inilah sepucuk panorama masa kecil gue.. Meskipun hanya sepucuk tapi gue seneng karena masih punya panorama tentangnya.. panorama keindahan yang tak ada duanya.. bahkan melibih panorama kecantikan wanita tercantik sekalipun..

To be continued..
Share:

Disable Adblock