Sebuah Nama Sebuah Cerita?






Tepat hari ini, Senin 19 Mei 2014, Lembaga Pers Mahasiswa Publica Health resmi meluncurkan nama baru untuk salah satu produk unggulannya yaitu Majalah. Peluncuran nama baru tersebut di create dalam suatu acara seremonial bertajuk “Launching New Brand of Majalah” yang menghadirkan beberapa perwakilan lembaga pers mahasiswa di kampus undip maupun luar undip. Pergantian brand yang dilakukan tentu saja melalui sistematika dan proses yang panjang serta mengikuti pertimbangan-pertimbangan matang lainnya. Harapannya dengan brand yang baru ini, dapat menjadi sebuah lompatan besar dalam mengarungi bahtera keorganisasian yang makin lama makin dinamis ini. Akan tetapi, sebagai orang yang saat ini pernah merasakan brand yang lama dan brand yang baru ini, saya menjadi bertanya-tanya dalam kerangka olah berpikir, apakah peluncuran nama baru ini, menandakan memuncaknya suatu era atau justru petanda akan berakhirnya sebuah era?


Nama adalah sebuah identitas. Tak bisa dipungkiri, nama mempunyai peranan penting dalam suatu kelangsungan hidup seseorang atau sesuatu. “Siapa namamu?” itulah kalimat yang paling pertama ditanyakan ketika kita berkenalan dan keingintahuan dengan seseorang atau sesuatu. Dari sebuah nama, lahirlah sebuah brand atau ingatan atau memory. Apa yang kalian pikirkan dengan nama Real Madrid? Ya pasti adalah sebuah klub sepakbola dari spanyol. Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar nama cristiano ronaldo? Ya pasti akan terpikir seorang pesepakbola laki laki berwajah tampan, terkenal dan jago bermain bola. Apa yang kalin pikirkan ketika mendengar nama google? Ya pasti adalah sebuah nama untuk alat pencari di internet. Itulah urgensi sebuah nama. Nama mendefinisikan suatu identitas.

Brand majalah PH yang baru sebenernya tidak terlalu signifikan perubahannya. Majalah dulu mempunyai nama berupa logo organisasi yang bertuliskan “Publica Health” sedangkan majalah yang baru memiliki nama berupa tulisan langsung “Publica Health”.

Biasanya, perubahan sebuah nama, akan diikuti oleh perubahan-perubahan lainnya, baik itu yang kasat mata maupun tidak kasat mata. Sebagai contoh, grup band Noah. Sebelum bernama Noah, band ini memeiliki nama Peterpan. Pergantian nama band tersebut, diikuti juga dengan pergantian personil band. Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan majalah PH. Pergantian nama ini diyakini oleh beberapa orang juga telah diikuti dengan beberapa perubahan, ada yang menyebutkan desainnya, ada yang menyebutkan kualitas cetaknya, ada yang menyebutkan perawakannya dan lain lain. Perubahan-perubahan tersebut sangat wajar terjadi dan ada dasarnya. Dasarnya adalah ingin mengenalkan “wajah” baru yang diharapkan dapat membuat orang yang mengetahuinya mempunyai “fresh memory” di ingatannya sehingga dapat menimbulkan brand yang baru.

Ada beberapa hal yang unik soal perubahan nama. Yang pertama, “nama tetap sama tapi cita rasanya berbeda”. Dalam kasus ini, perubahan lebih kepada kualitas nya. Sebagai contoh adalah, stadion sepakbola wembley di Inggris. Stadion ini pernah direnovasi beberapa tahun yang lalu. Setelah direnovasi, wembley tetaplah menjadi wembley akan tetapi memiliki gaya arsitektur modern serta dilengkapi pula dengan teknologi modern. Inilah yang dinamakan cita rasa berbeda. Yang kedua adalah, “nama berbeda, cita rasa tetap sama”. Kalau yang kedua ini, mungkin contoh terbaiknya adalah grup band coboy junior. Setelah berganti nama menjadi CJR, cita rasa CJR dengan Coboy junior tetaplah sama saja. Tak ada yang berubah dari segi cita rasanya meskipun tanpa bastian. Dan yang terakhir adalah, “nama berbeda, cita rasa berbeda”. Kalau menyoal yang ketiga ini, bisa dikatakan sebagai sebuah permulaan. Ya permulaan. Mungkin kalau diibaratkan seperti bayi yang baru lahir. Memulainya dari nol. Dari awal lagi. Ya karena apa yang ditawarkan merupakan produk yang baru. Lalu dari ketiga hal diatas, manakah yang paling cocok untuk kasus perubahan brand majalah PH ini? Ya setiap orang pasti punya opini nya masing-masing.

Perubahan brand majalah PH ini sebetulnya sudah pernah saya utarakan ketika masih menjabat kepala divisi artistic dan fotografi dua tahun silam. Perubahan brand majalah merupakan salah satu inovasi saya selain pembentukan fotografi dan desain berbayar. Akan tetapi, tidak bisa dilakukan karena, jika ingin mengganti nama, berarti harus mengganti AD/ART pula. Sedangkan AD/ART baru bisa diubah ketika kepengurusan baru. Itu berarti pergantian nama hanya bisa dilakukan ketika perumusan AD/ART, yaitu saat kepengurusan baru. Setahun berselang, ketika saya menjadi wakil pimpinan umum pun, saya kembali ingin mencanangkan perubahan brand ini, akan tetapi kembali gagal, karena saya berhalangan hadi dalam perumusan AD/ART dan lupa saya transferkan ke adik-adik saya disana. Oleh karena itu, ketika adik-adik ini meminta restu untuk perubahan brand, maka tanpa pikir panjang saya langsung menyetujuinya.

Lalu manakah yang lebih tepat? Perubahan brand majalah PH ini apakah merupakan memuncaknya sebuah era atau justru petanda berakhirnya sebuah era?

Saya sendiri lebih menyetujui bahwa ini adalah memuncaknya sebuah era. Sederhananya, lompatan besar dalam sebuah era. Mungkin kalo dikisahkan menjadi seperti berikut. seperti seseorang yang memancing ikan teri dan seseorang yang memancing ikan paus. Orang yang memancing ikan teris, pasti hanya menggunakan saringan biasa, dan ketika ikan-ikan teri tersebut sudah etrtangkap, maka tak perlu dengan tenaga yang besar untuk mengangkatnya. Lain halnya dengan seseorang yang ingin memancing ikan paus. Orang ini pasti membutuhkan tenaga yang besar dan peralatan yang banyak dan kuat. Dibutuhkan kerjasama yang apik dari beberapa orang dan peralatan canggih nan hebat untuk bisa menangkap paus. Ini seperti halnya perubahan brand majalah PH. PH mencoba untuk menangkap ikan paus ! Menangkap tangkapan yang besar dan luar biasa. Mari kita ibaratkan ikan paus sebagai impian atau kesuksesan. Maka perubahan brand majalah PH dimaksudkan untuk menggapai mimpi-mimpi besarnya. Mimpi menjadi sebuah lembaga pers mahasiswa yang professional.

Ada yang mengatakan bahwa perubahan brand majalah PH ini adalah petanda berakhirnya sebuah era, sebuah era yang telah dibangun oleh para pendahulu-pendahulunya, karena sebuah nama hanyalah mempunyai sebuah cerita.. Akan tetapi, jangan lupakan kawan, bahwa sesungguhnya, sebuah cerita pasti terbentuk dari berbagi nama..

Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock