Upaya Pembentukan Karakter Bangsa




Waktu di awal semester lima, gue pernah ikut kepanitiaan acara Pendidikan karakter, yang mana ini acara merupakan serangkaian dari acara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Sebenernya gue agak males buat jadi panitia, karena acara PMB ini memotong waktu libur panjang semesteran dan itu libur lebaran pula. Makanya pas awal gue ditawarin ama ketua organisasi gue (PH), gue menolak begitu aja. Tapi dari lubuk hati gue yang terdalam, sebenernya gue pengen ikut bergabung dalam acara ini, soalnya pendidikan karakter ini merupakan program baru pemerintah, di dunia pendidikan Indonesia. Gue pun udah sering baca soal Pendidikan karakter ini di Koran, media online dan artikel artikel lain. Makanya gue udah sedikit banyak tau soal visi, arahan atau hasil yang pengen didapat dari pendidikan karakter. Dan menurut gue pendidikan karakter ini memang dibutuhkan untuk dunia pendidikan.


Gue pun galau. Ya sebagai mahasiswa perantauan yang jauh dari rumahnya, liburan semester itu adalah hal yang paling dinanti-nantikan. Tapi, di satu sisi, gue juga tertarik untuk berperan aktif dalam menyukseskan program pemerintah ini. Namun, seakan langit mendengar kegalauan gue, pendaftaran panitia pelatihan ini ternyata dibuka kembali, soalnya masih kekurangan orang. Akhirnya dengan mengucapkan bismillah, saya terima nikahanya pevita pearch binti om pearch dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tuuuuunaaaaaaiiiiiiiiii… yeeeaahhhh… SAH SAH SAH !!! *ngarep banget*

Kok jadi gagal focus yee.. oke lanjutkan. Jadi akhirnya gue memantapkan diri gue buat ikut dalam panitia pendidikan karakter. Gue berpikir, kalo liburan kan tiap semester juga dapet, tapi acara ini kan Cuma bisa sekali seumur hidup mahasiswa. Ajegileeeee, Keren banget yak gaya berpikir gue. Ckckck.

Oiya for your information, jadi para panitia ini lebih tepatnya dikatakan sebagai fasilitator. Soalnya dalam pendidikan karakter ya kita semua diterjunkan untuk jadi fasilitatornya anak-anak.

Sebelum kita (para panitia) terjun, kita di training dulu sama panitia pendidikan karakter UNDIP yang dari psikologi itu. Training pun gag sebentar, kita di training dua hari, dari pagi sampe sore. Jadi dalam training ini, kita para panitia di posisikan sebagai peserta yang akan mendapatkan pelatihan nanti. Apa yang kita dapatkan saat itu, itulah yang bakal kita lakukan lagi ke mahasiswa-mahasiswa baru.

Akhirnya hari itu tiba..

Pelatihan pendidikan karakter ini terbagi jadi beberapa kelas, dengan tiap kelas terdapat sekitar 9 fasilitator (kalo gag salah ya.. lupa soalnya). Gue sendiri masuk di kelas B-201-1. Kita sebut aja kelas matahari. Di kelas matahari ini ada gue, fendi, nizar, fajar, dewi, dan gue lupa siapa lagi. Oke sip. Di kelas ini terbagi jadi 4 kelompok. Gue sendiri jadi fasilitator di kelompok hijau, bareng dewi. Gue di hijau A, si dewi di hijau B. jadi kelompok hijau ini ada sekitar 16 orang dan dibagi lagi jadi 2 kelompok. Di kelompok gue, (kayaknya) cewek semua. Dan ada satu tuh yang menurut gue cantik. Namanya…. Oke sip gag penting. Dan gue juga bingung.. kenapa? Entah kenapa maba maba di kelas matahari ini cewek ceweknya lumayan lumayan semua.. gue jadi inget, gue ama fendi dulu sering ngomongin cewek-cewek di ruangan ini. Oke sip makin gag penting..

Dalam pendidikan karakter, mahasiswa baru diajarkan tentang semangat nasionalisme. Bagaimana kita mencintai negeri kita tercinta ini.. pelatihan pelatihan yang diajarkan pun rata rata soal Indonesia, Indonesia dan Indonesia. Gue agak lupa sih materi nya apa aja, Cuma gue bakal share beberapa yang gue inget.
1. Dream Wall?
Dilihat dari namanya aja udah ketauan. Ya ini soal impian. Sesuatu yang paling gue suka.. materi ini para maba diminta buat nempelin kertas yang berisi impiannya di dinding dan setinggi-tingginya. Hal ini dimaksudkan agar, jika kita punya mimpi, ya maka jangan setengah-setengah. Baik mimpinya maupun usahanya. Dan kenapa di taro setinggi-tingginya? Biar kita bisa tau mana orang serius dengan mimpinya atau orang yang biasanya. Secara psikologi, orang yang biasa biasa aja pasti bakal nempelin tu kertas yang dengan gaya yang biasa aja. Dia bakal naro ya sesuai jangkauan dia aja. Gag mau repot simpelnya. Tapi orang yang punya segudang impian dan dia serius dengan impiannya tersebut, maka dia bakal menjunjung tingggi impiannya tersebut dengan nempelin kertas impiannya setinggi tingginya.

2. Puzzle Indonesia
Ini permainan puzzle yang gag biasa. Karena dalam permainan ini kita beattle tiap kelompok. Jadi tiap kelompok dikasih potongan-potongan puzzle yang acak banget. Puzzle peta Indonesia. Nah karena ini acak, jadi memungkinkan tiap kelompok punya potongan puzzle yang sama sebanyak 2-4 buah. Makanya tiap kelompok yang bernasib seperti itu, bisa dilakukan system barter. Yaitu pertukaran potongan puzzle. Maksud dari permainan ini sebenernya gue lupa.. oke gue lupa lagi. Tapi kayaknya ya, bertujuan untuk membangun Indonesia secara bersama-sama. Anggap puzzle lengkap tersebut adalah Indonesia. Dan potongan puzzle adalah rakyat/suku/partai/organisasi. Nah jika puzzle tersebut enggak lengkap, maka pasti ada satu atau beberapa bagian yang bolong. Itulah Indonesia, jika ada satu bagian yang gag sevisi atau setujuan, maka yaa bakal gag sempurna. Dan bikin gag enak dipandang. Ya mungkin intinya bagaimana kita membangun Indonesia secara bersama-sama dengan maksud dan tujuan yang sama, yaitu kebaikan dan keadilan..

3. Materi tentang Indonesia
Dalam pelatihan ini, meskipun sebagian besar adalah praktek, tapi ada penyisipan beberapa materi tentang mahasiswa dan Indonesia. Ya materi ini bisa dibilang sebagai puzzle pelengkap karena kita sudah tau prakteknya.. makanya penambahan informasi akan semakin memperkuat pribadi ini.

4. gue lupa
Gue bingung kenapa gue nulis tulisan ini tapi gue sendiri banyakan lupa. Ya mungkin kalo udah inget gue bakal lanjutin tulisna ini lagi. Ya mungkin..


Sebagai intinya atau ending dari tulisan gue ini, yaa sebenernya pelatihan ini bagus, mulai dari packagingnya, isinya hingga rasanya. Soalnya mahasiswa itu gag boleh kalo Cuma mengandalkan kemampuan intelegensinya aja (IQ), tapi juga harus pinter dalam kemampuan emosional dan spritualnya (EQ dan ESQ). akan tetapi, masih kurang dalam pengembangan dan keberlanjutannya.

Menurut gue materi kemarin lebih cocok untuk anak SMA deh. Soalnya ya bener-bener terlalu simple buat mahasiswa. Bahasannya pun masih secara general. Belum yang spesifik ke persoalan bangsa. Dan pendidikan karakter ini ada baiknya diajarkan secak kecil. Ya biar terbiasa. Soalnya kalo diajarin baru pas mahasiswa ya kan karakter si mahasiswa itu udah terbentuk duluan. Dan sulit untuk mengubahnya. Kecuali ada niat besar dari si pelaku untuk mengubahnya.

Selain itu, Pendidikan karakter ini merupakan sebuah pelatihan. Ya pelatihan. Kita semua tau, pemain sirkus pasti melewati pelatihan yang lama dank eras agar bisa melakukan salah satu atraksi sirkus. Nah itu. Maksudnya. Pelatihan pendidikan karakter ini Cuma diajarin ya pas PMB aja. Semenjak itu udah gag ada lagi. Menurut gue ini gag bener. Ya karena apa sih yang bisa diharapkan dari pelatihan yang Cuma dilakukan sekali ? ya pesulap aja gag bakal bisa langsung bisa sulap dalam sekali berlatih. Pasti butuh beberapa kali latihan kan. Harusnya pelatihan pelatihan semacam ini harus dilakukan secara konsisten dan ada keberlanjutannya. Bagus-bagus ada kurikulumnya. Biar jelas indicator dan pencapaiannya.

Ya mungkin, menurut gue, kalo emang pendidikan karakter ini sukses. Ya harus punya blueprint yang jelas juga. Harus saling sinergi satu sama lain. Harus totalitas dan harus berani. Ya soalnya emang harus kudu begitu. Kalo pendidikan karakter diwajibakan dari kita kelas 1 SD. Tiap semester dapet sekali pelatihan. Nah kalo diitung itung sampe mahasiswa tingkat akhir maka dia bakal dapet 32 kali pelatihan. 32 kali men. Nah kalo 32 kali kayak gitu prosentase keberhasilan nya bakal besar banget tuh. Keren kan? Dan mungkin tiap 5/10 tahun sekali karakter yang dijarkan bisa berubah. Bisal 5 tahun pertama focus ke kedisiplinan. 5 tahun kedua focus ke team work. 5 Tahun ketiga focus ke nasionalisme dan lain lain. Nah coba bayangin, 50 tahun kemudian. Ada 10 karakter kebangsaaan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. Dan kalo semua itu bisa sinergis, ya mungkin aja Indonesia bakal jadi raksasa dunia.

Itulah kenapa gue bilang harus totalitas dan berani. Mimpi yang besar itu pasti butuh waktu dan proses untuk merealisasikannya. Mengerenkan Indonesia itu juga pasti butuh waktu. Contohnya tuh belgia. 10 tahun yang timnas sepakbola belgia mana dianggep. Dan lihat sekarang. Timnas Mereka ada di peringkat 5 besar terbaik di dunia. Dan itu gag diraih sebentar. Kira kira 10 tahun mereka bisa mencapai prestasi tersebut. Tentu aja dengan visi jangka panjang yang jelas, bagusnya sinergisitas antar pihak-pihak terkait, totalitas dalam bermimpi dan berusaha dan berani melakukannya.. itu sih kuncinya..

Gue selalu percaya.. bahwa di dunia ini gag ada yang gag mungkin.. oleh karena itu gue selalu percaya, bangsa ini pasti bisa menjadi raksasa dunia kelak dikemudian hari..
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock