Memutar Waktu





Pertemuan kita (kembali) bagaikan kilatan petir di malam hari yang hanya sedikit menawarkan cahaya, namun gulita menyusul kemudian. Bahkan terkadang, kilatan tersebut disertai dentuman keras yang memekakkan telinga, yang berbunyi sesudahnya.

Aku tau ada yang ada salah dengan diriku. Biasanya, Kusiapkan selalu barier barier pembatas kepada tiap tiap dayang yang mencoba memasuki rumahku. Agar ia tidak terjebak di dalam labirin perahuku. Namun, saat sedang kusiapkan barrier barrierku untuk mengantisipasimu, nyatanya aku sudah terlambat. kamu sudah berada di dalam rumahku. Bersembunyi di balik pintu. Tanpa sekalipun ku tau.

Adakah yang salah? Mengapa kamu begitu merekah? Kenapa aku begitu lengah? Ya.. mungkin aku lelah..


Kamu berhasil memporakpondakan rumahku. Mengubah ubah letak barang barangku. Mengganti lampu dalam kamarku. Membersihkan kotoran dari lantaiku. Merapikan buku-buku ku. Bahkan kamu pun memasang lampion di depan pintu rumahku. Meskipun aku lebih menyukai rumahku dulu namun ada sedikit kekaguman dalam diriku melihat bentuk rumahku dengan gaya desainmu.

Aku tau. Sudah saatnya aku harus mngeluarkanmu. Sudah seharusnya aku berhenti berpura pura ketidaktahuanku akan dirimu dirumahku. Namun, dimensi dimensi berbeda yang kamu ciptakan dirumahku justru membuatku untuk terus menunggu. Dan menunggu.

Menunggu kamu untuk terus mewarnai rumahku.

Dan ternyata Tuhan masih sayang padamu.

Tuhan mulai menunjukkan jalan-Nya bahwa rumahku bukanlah tempat terbaik untuk dirimu. Dia mengirimkan gempa dahsyat yang tidak kuat ditahan pondasi rumahku, sehingga merubuhkan barang barangku dan menimpa tubuhmu. Kamu pun terluka. Dan aku tau. Luka itu akan menghasilkan bekas luka. Bekas yang akan selalu mengingatkanmu pada kejadian di rumahku. Bekas yang mungkin saja akan kamu benci atau sesali seumur hidupmu.

Saat itulah aku tau, bahwa Tuhan sedang menegurku..

Andaikan saja aku dapat memutar waktu..

Pertemuan kita memang seperti cahaya kilat di malam hari. Menerangi malam meskipun hanya sebagian waktu. Dan iringan dentuman keras menandai hilangnya cahaya tersebut. Sekaligus (sepertinya) mengakhiri pertemuan kita. Entah hanya sesaat atau mungkin selamanya.  

Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock