Nyaman




Aneh. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kita berdua. Sepasang manusia dengan nasib beda namun dipersatukan oleh satu hal yang sama. Gue kenal dia sebenernya udeh lama. Tapi kenal saat itu mungkin lebih tepat disebut dengan sebatas tau aja. Soalnya baik gue maupun dia Cuma kenal sebatas nama dan asal aja. Gak lebih dan gak kurang. Selain itu, gue gak pernah inget percakapan-percakapan kita selain percakapan perkenalan waktu itu. Bisa dibilang perkenalan tersebut adalah percakapan kita untuk yang pertama dan terakhir kalinya dalam satu kurun waktu. Setelah perkenalan, gue gak pernah lagi ngobrol sama dia. Meskipun beberapa kali pernah ketemu, tapi baik dia maupun gue, sama-sama cuek aja. Gue sibuk dengan urusan gue, dia sibuk dengan urusannya. Ya itulah hal yang bisa digambarkan tentang hubungan gue sama dia. Sebelum kita dipertemukan kembali di perkenalan yang kedua..

Perkenalan kedua kita ditandai dengan percakapan kita untuk yang kedua kalinya. Ya inilah percakapan kedua kali kita semenjak kita kenal pertama kali. Lucunya. Jarak antara percakapan pertama dan yang kedua terpisah oleh waktu yang sangat lama. Percakapan kedua ini pun terlihat biasa-biasa aja. Hanya basi basi yang terdengar basi mungkin bagi yang mendengarnya. Tapi gue ngeliat ada yang beda kali ini. Ya gue ngeliat ada yang berbeda dari pancaran matanya. Matanya seolah membicarakan hal lain yang saat itu gue gak ngerti artinya.

Lalu sampailah pada percakapan yang ketiga. Percakapan kali ini hanya terpisah beberapa hari dari percakapan yang kedua. Ajaibnya, kali ini terjadi secara kebetulan. Kita ketemu atas dasar kesengajaan. Lagi lagi kita hanya bercakap-cakal soal basi basi yang terdengar makin basi untuk dengar. Tapi. Dalam percakapan itu, dia meminta pin BB gue..

……..

Bingung. Yang terjadi setelahnya justru bikin gue bingung. Hanya dalam 3 hari semenjak gue ngasih pin BBM, kita ketemuan dua kali. Yang pertama 3 jam, dan yang kedua 2,5 jam. Jadi 5,5 jam kita habiskan untuk sekedar mengobrol dan berdiskusi. Namun, bermula dari 5,5 jam itulah semua kisah ini dimulai..

……..

Lucu. Itulah yang terjadi selanjutnya. Setelah obrolan 5,5 jam waktu itu, kita jadi sering berhubungan. Hampir  tiap hari kita berkomunikasi. BBMan atau SMSan. Banyak hal yang kita bahas. Mulai dari kerjaan, cinta, kegiatan, makanan, acara-acara dan hal-hal yang gak penting lainnya. Selain itu, hampir tiap hari juga kita ketemu. Entah itu untuk makan bareng, untuk jalan bareng, entah untuk main bareng, atau sekedar melakukan hal yang tidak penting. Ya ya ya. kita semakin akrab. Kita semakin nyaman.
Tapi, uniknya, keakraban kita Cuma berlangsung diluar aja. Begitu kita di dalam institusi pendidikan, kita menjadi orang yang berbeda. Kita jarang bertemu di dalam. Jarang berinteraksi juga di dalam. Jika pada satu kesempatan kita ketemu, kita terlihat biasa aja. Aku atau dia mungkin lebih memeilih untuk pura-pura tidak melihat. Atau kalopun terpaksa sudah ketauan, kita hanya sebatas senyum aja. Gak lebih dari itu. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terbilang aneh. Ya tapi kondisilah yang memaksa kita untuk melakukan hal itu. Pernah suatu hari, dia minta berangkat bareng, tapi gue menolaknya. Karena gue punya sesuatu yang harus gue jaga. Ya gue harus menjaga sang “mutiara”. Dia mengerti. Dia pun tak masalah dengan hal tersebut.. baginya pembatasan tersebut justru membuatnya semakin nyaman..

……..

Semakin lama barengan, semakin banyak pula yang gue tau dari dia dan yang dia tau dari gue. Persamaannya kita sama-sama punya “mutiara”. Perbedaannya, mutiara gue dan dia punya kisah yang berbeda. Sedangkan persamaan dari perbedaan tersebut adalah, mutiara gue dan dia sama-sama sedang dalam kondisi yang redup. Dan itu membuat gue lelah.. membuat dia lelah juga..

………

Mungkin lelah itulah yang menuntun kita hingga bisa sedekat ini….. senyaman ini….
Hingga pada suatu hari, lelah itu juga yang membuat kita jadi menjauh…

……...

Nyaman. Itulah yang gue rasain saat bersama dia. ya meskipun terkadang dia begitu menyebalkan. wajahnya yang manis cukup menjadi pemanis di kala kondisi hati yang sedang pahit, parasnya yang memerah begitu tertawa terlihat begitu lucu ketika dipandang, tingkahnya yang kadang kayak anak kecil bikin gue semakin tertarik untuk menggodanya terus, dan orangnya yang selalu ada, itulah senyaman-nyamannya dirinya.
Nyaman. Itulah yang dia rasain juga ke gue. Mungkin gue adalah kepingan puzzle yang hilang, yang selama ini dia cari. Baginya, gue adalah keramaian di dalam kesepiannya, canda di dalam keseriusannya, riak dalam ketenangannya, ada dalam ketiadaannya, dan kelak-kelok dalam jalan lurusnya. Gue adalah warna warni dalam kanvas hitam putih kehidupannya yang monoton.

……….

Kadang gue penasaran, hubungan gue ama dia ini terlihat seperti istilah apa. Apakah ini hubungan tanpa status? Sepertinya tidak, karena kita berdua tidak punya rasa yang lebih satu sama lain. Apakah ini friend with benefit? Tentu aja enggak. Karena kita sama sama gak punya kesepakatan, perjanjian atau meraup keuntungan satu sama lain. Apakah ini teman tapi mesra? Mungkin, tapi kalo diperhatiin kita gak terlihat mesra sama sekali deh. Jadi kayaknya bukan.  Atau apakah ini yang disebut friendzone? Entahlah. Tapi sepertinya bukan juga. Karena kita sampai saat ini belum terlibat cinta satu sama lain. Kita masih setia dengan “hidup” yang kita miliki sebelum kita berhubungan deket ini. Ya begini lah kita. Nyaman dengan apa yang kita miliki saat ini.

………..

Saat ini pun kita,hubungan kita udah gak seintens dulu lagi. Kita mulai menjauh satu sama lain. Meskipun masih saling menjaga ikatan yang selama ini kita buat. Terlalu sering bersama justru membuat kita merasa lelah. Dia lelah. Aku pun lelah. Ya mungkin menjauh adalah jawaban terbaik dari kelelahan kita.

………

Banyak yang bilang kalo, rasa sayang itu sering muncul justru ketika kita kehilangan. Itulah yang gue takutkan saat ini. Gue takut, saat kita berpisah nanti, rasa merepotkan itu akan muncul. Muncul dengan dahsyatnya. Ya, makanya, dengan menjauhnya kita saat ini, justru membuat gue nyaman. Nyaman karena kita bisa sama sama terhindar dari kemunculan rasa merepotkan itu. Nyaman karena gue ataupun dia gak perlu khawatir akan datengnya rasa merepotkan itu..

Ya itulah kamu. Dekat ataupun jauh, selalu bikin nyaman.

Aku memang selalu nyaman sama kamu…
Share:

Mendadak Alim





Semalem gue dateng ke pesta nikahan sodara gue. Pesta nya cukup meriah, karena tamu undangannya yang berkisar 500-800 orang dan bertempat di Taman Anggrek TMII. Kadang gue berpikir, bagaimana nanti kisah nikahan gue besok. Dengan siapa gue nikah, umur berapa gue nikah, dimana gue nikah dan pertanyaan lain lain seputar masa depan. Kadang gue bermimpi pengen punya mesin waktu doraemon dan ngelihat ke masa depan. Biar rasa penasaran gue bisa ilang. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, ternyata lebih baik kayak gini aja deh. Lebih baik kita gak tau dengan masa depan kita. Soalnya dengan begini, kita bisa menikmati indahnya sebuah proses dan nikmatnya sebuah perjuangan. Biarlah masa depan menjadi kotak Pandora. Kotak penuh kejutan yang baru kita tau isinya begitu kita membukanya.

Gue punya banyak temen yang udah pada nikah. Nikah muda lebih tepatnya. Soalnya umurnya ya masih 20an. Seumuran gue. Banyak diantara mereka tersebut yang merupakan temen deket gue. Temen deket waktu SD, SMP, SMA maupun kuliah. Total temen deket gue ada sekitar 20an yang udah nikah. Banyak kan? Gue masih inget, waktu gue bareng-bareng mereka dulu, kayaknya kita gak pernah deh ngomongin soal nikah. Apalagi nikah cepet. Secara gitu yang namanya remaja mah pasti mikirnya pacar-pacaran aja. Tapi nyatanya sekarang malah mereka udeh pada nikah semua..

Ada yang unik dari temen-temen gue yang udah pada nikah ini. Mereka semua punya satu kesamaan yang gue perhatiin ada semenjak mereka menikah. Yaa semenjak mereka nikah, entah kenapa mereka jadi (sok) bijak. Jadi sok-sok an dewasa gitu. Yaa mungkin ini wajar aja yaa, karena emang mungkin ini merupakan sebuah tuntutan, yang mau gak mau yaa harus kita lakukan kalo mau nikah atau udah nikah. Cuma ada satu hal lagi yang bikin gue penasaran. Membuat gue bertanya-tanya kenapa bisa gitu. Yaa mereka semua jadi mendadak alim gitu. Serius. Mendadak alim. Alias tobat.

Entah kenapa mereka jadi sering posting gambar-gambar yang berisi kalimat kalimat islami, mereka juga sering posting cerita-cerita islami, atau kalimat kalimat penyejuk hati. Kadang status media social nya juga alim alim banget. Udeh kayak cermahnya ustadz atau ustadzah.

Sejujurnya gue sering ketawa sendiri ngeliat mereka jadi alim gitu. Soalnya gue tau banget mereka kayak gimana. Saking deketnya, dosa-dosa mereka aja sampe gue tau. Hahaha :p Makanya kadang gue bertanya-tanya dalam hati, ini beneran jadi alim apa cuma covernya aja.

Pernah suatu kali gue ngetes mereka. Yaa buat ngilangin rasa penasaran gue aja sih sebenernya. Temen deket gue ini sebut aja namanya mawar. Jadi dia abis mosting status BBM. Gue lupa lengkapnya gimana. Tapi intinya tentang, pentingnya beribadah gitu. terus gue sok-sok an nanya deh ke dia. dan dia ngejawabnya udah kayak ustadzah aja. Asli ngakak abis gue. Ngebaca bbm dia sambil nginget-nginget kayak gimana dia dulu. Gue masih inget dulu si mawar ini dulu banyak yang naksir. Saking banyaknya dia sampe buka “cabang” gitu. Pacarnya banyak. Sampe pacar adeknya juga dipacarin ama dia. Makanya pas gue liat dia kayak gini, gue bener-bener penasaran banget. Sekaligus kagum. Akhirnya gue tes lagi dia, gue tanyain, gimana “malam pertama” nya. Yaa iseng-iseng aja. Absurbnya, dia malah ceritain kisah malam nya itu ama gue. Lengkap dan rinci. Beserta jam-jam nya. INI APAAAAAAA.. Aduuhhh mama sayangeeeeee.. Gue yang awalnya udeh kagum, langsung shock dibuatnya. Tapi yah, memang selalu ada hal gila yang terjadi jika kamu bersama temen dekatmu :D

Terus ada lagi temen gue yang udeh nikah itu. Sebut aja bunga. Dia dulu cewek gaul gitu deh. Calon calon sosialita masa depan gitu. Doyan nongkrong. Kongkow kongkow. Suka gosip dan PHP-in cowok. Sama kelakuannya. Postingannya berbau islami terus. Gue tes juga nih. “bung gue lagi naksir ama cewek nih, gimana ya blalalalalal” dan tau apa yang terjadi.. dia ceramahin gue panjang lebar kali tinggi sama dengan luas. Mantep banget. Gue bengong. Shock. Kagum. Tapi beberapa saat setelahnya.. dia malah bergosip ria, ceritain tentang si anu, si itu, tetangganya, dan pacarnya adek suaminya, pacarnya pacar mantan pacarnya dan lain lain.

Gue Cuma bilang.. “nyebut bung.. nyebut..”

Yeahh.. kita memang akan selalu menjadi diri kita sendiri jika sedang bersama temen deket kita”

Tapi.. ya emang gue akuin, nikah itu emang ngubah karakter seseorang. Itulah yang gue lihat pada temen-temen gue diatas. Perubahannya pun menuju ke arah yang lebih baik. Yaa meskipun ada juga temen gue yang sebelum nikah sama sesudah nikah tetep sama aja. Tapi pasti ada deh perubahannya. Meskipun kecil. Yang gak keliatan ama kita. Begitu pula sama kondisi “mendadak alim” yang terjadi ama temen-temen gue diatas. Yang bisa gue analisis sih, sebenernya kondisi “mendadak alim” itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, tapi emang sesuatu yang terjadi secara naluriah. Kondisi yang bisa dibilang merupakan buah dari suatu pernikahan. Orang yang abis nikah pasti sadar gak sadar bakal alim sendiri. Atau, mereka terdorong untuk berbuat alim atau terlihat alim. Kayaknya sih. Kayaknya ya. Secara gitu gue belum nikah. Jadi belom ngerasain.

Sebagai temen yang pernah bersama mereka, yang pernah berjuang bersama mereka, jujur aja gue ngerasa seneng. Ada rasa bangga, kagum, bahagia, begitu ngeliat mereka. Entahlah kenapa bisa begitu. Gue masih inget dulu rata-rata mereka manggil gue, “abang”, panggilan yang sampe sekarang masih mereka pakai buat manggil gue, gara-gara dulua mungkin gue terlihat “lebih dewasa” dibanding mereka.  Tapi kalo diperhatiin, dengan kondisi yang ada saat ini, kayaknya justru gue deh yang harusnya manggil mereka, “kakak/abang”. Bisa dibilang, mereka udah satu tahap diatas gue dalam satu level kehidupan. Saat gue masih mikir seneng-seneng, mereka udah mikir “masa depan”, saat gue disini masih susah susah ngerjain skripsi, mereka udah susah susah nyari duit buat hidup mereka, saat gue disini masih galauin cewek, mereka udah saling berjanji satu sama lain untuk tetep setia bagaimanapun kondisinya.. bahkan.. saat gue disini masih terlihat “blangsat” mereka udah lebih ngerti agama dibanding gue..

Dulu gue sering bilang ke mereka “gue gak akan “ninggalin” temen gue”. Satu kalimat yang terisnpirasi dari naruto. “orang yang tidak menaati peraturan memang disebut sampah, tapi orang yang meninggalkan temen nya sendiri lebih rendah daripada sampah”. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang justru gue yang tertinggal dari temen-temen gue ini. Tentunya tertinggal disini, dalam artian yang baik. Gue tertinggal dalam hal kebaikan. Mereka udah seribu langkah mungkin di depan gue. Tapi inilah yang bikin gue bangga. Ngeliat mereka dengan “masa depannya”. Yeaahh.. memang..  Tidak ada kebahagiaan yang lebih nikmat ketika melihat teman mu bahagia..

Share:

Ruang Rindu..





Hidup itu bagaikan berjalan dari suatu ruangan ke ruangan lain. Setiap ruangan pasti memiliki kisahnya masing-masing. Terkadang kita menemukan dua atau lebih ruangan dengan kondisi yang sama persis. Baik sama dekorasinya, sama isinya, sama fungsinya, sama penghuninya, dan banyak persamaan lainnya. Namun meskipun kita menemukan dua atau lebih ruangan yang sama, sama persis, ternyata kesamaan tersebut masih menyisakan sedikit perbedaan, yaitu beda lokasi. Tak mungkin kita menemukan dua buah ruangan dalam titik kordinat posisi yang sama persis bukan?

Malam ini aku mencoba melihat-lihat  ruangan ruangan yang ada di sekelilingku. Hasilnya? Aku pun menemukan kisah-kisah yang berbeda di tiap ruangan yang ku masuki. Yeah meskipun ada beberapa kisah yang sama juga kutemukan.

Saat di ruangan pertama, aku mendapatkan kisah si penghuni ruangan yang sedang kesepian. Ia tidak memiliki kekasih dan sedang berada jauh dari teman-temannya. Untuk melawan rasa kesepiannya tersebut, ia melakukan berbagai hal. Mulai dari mendengarkan musik, menonton acara televisi, membaca buku. Namun, berbagai aktivitas itu tidak mampu untuk mengobati rasa kesepiannya tersebut. Alhasil dia malah lebih banyak bermain dengan gadget yang ia pegang, sekaligus berharap harap, agar ia bisa mendapat keajaiban berupa kesibukan dari benda yang ia pegang tersebut.

Aku pun berjalan ke ruangan selanjutnya. Ruangan ini ternyata milik seorang wanita yang sedang mendambakan seorang laki-laki. Ya. mendamba agar menjadi kekasihnya. Ruangannya benar-benar penuh dengan pernak-pernik, cahaya warna warni, dentuman musik, berbagai jenis makanan dan minuman. Akan tetapi, ternyata ia belum menemukan dambaan hatinya tersebut. Tentu saja. Soalnya dia hanya mondar-mandir dia ruangannya saja. Dia terjebak atas kisah dongeng dongeng zaman dahulu, yang menceritakan bahwa akan ada seorang pangeran tampan yang mengunjungi rumah seorang putri untuk memberikan sebelah sepatu kacanya. Ya dia berpikir, bahwa ia seperti putri tersebut. Sayangnya, dia tak pernah menyadari bahwa sepatunya masih lengkap di rak sana.

Kembali aku melanjutkan perjalananku. Kali ini aku tiba di suatu ruangan yang bersih, rapi, dan tertata. Sungguh ruangan yang nyaman. Hanya dengan sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa pemilik ruangan ini adalah orang yang tekun, pandai dan sehat. Akupun berkeliling ruangan tersebut sembari melihat-lihat properti properti yang ada. Ruangan yang menyenangkan. Namun, aku terkaget, karena ternyata sang pemilik ruangan sedang terbujur sakit di tempat tidurnya. Aneh. Kenapa ia bisa terserang penyakit di ruangan yang indah ini? Aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “hey kenapa kamu bisa sakit?” tanyaku. “Aku terbiasa merawat ruangan ini bersama dengan kekasihku. Mulai dari membersihkan, merapikan dan menjalani aktivitas. Beberapa bulan yang lalu kekasihku terpaksa pergi ke suatu tempat yang jauh karena pekerjaannya. Akhirnya akupun hanya sendiri untuk merawat ruangan ini. Meskipun ruangan ini tetap bagus seperti sediakala, tapi resikonya aku kecapekan dan terserang penyakit.” Jawabnya. Aku pun mengangguk-ngangguk. Ternyata begitu. Aku pun jadi berandai-andai. Ruangan ini ibarat fisik tubuh manusia, sedangkan penghuninya ibarat hatinya. Seseorang yang menjalani LDR bagaikan penghuni dan ruangan tersebut. Meskipun dari luar ia terlihat normal dan bahagia-bahagia saja, tapi di dalam hatinya ia merasa sakit. Sakit karena terpisah oleh jarak yang begitu menyakitkan.

Ruangan selanjutnya yang kutemui adalah ruangan sepasang kekasih. Meskipun tinggal dalam ruangan yang sama, namun mereka jarang melakukan aktivitas bersama sama. Suatu kali sang pria sedang bersusah payah membetulkan kursi yang patah, tapi sang wanita malah sibuk berendam air panas. Suatu kali sang wanita sedang kepayahan dalam membersihkan ruangan, sang pria malah pergi bermain dengan teman sebayanya. Seringkali juga kulihat mereka bertengkar hanya karena hal-hal kecil, seperti lupa menutup jendela, lupa menutup keran air, lupa mematikan lampu, ataupun hanya sekedar lupa hari dalam suatu tanggalan. Aneh ku pikir. Kenapa mereka mudah sekali ribut hanya karena hal-hal kecil semacam itu, padahal kalo dibicarakan baik-baik itu tidaklah menjadi hal yang besar.  Terkadang dari perselisahan perselisihan kecil tersebut malah diantara mereka ada yang sampai mengusir untuk keluar dari ruangan tersebut. Ah ada ada saja. Daripada terus menerus melihat hal yang tidak penting begini, aku pun melanjutkan perjalananku..

Aku sampai di sebuah ruangan yang sungguh berantakan, kotor dan tak berpenerangan. Saking berantakan dan gelapnya, aku jadi sering tersandung atau menginjak barang-barang yang ada disana. Aku pun kesulitan dalam menemukan penghuninya. Aku belum bisa memastikan apakah penghuni ini laki-laki atau perempuan. Disini, aku hanya bisa mendengar suara-suara aneh, seperti umpatan-umpatan dan suara tangisan. Sepertinya sang pemilik ruangan sedang dilanda kesedihan dan patah hati yang mendalam. Entah karena hal apa. Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, namun sebelum keluar aku menyalakan sebuah lilin dan kutaruh diatas meja. Semoga ini bisa membantu menerangi sedikit kegelapanmu. Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan jalan-jalanku. Tibalah aku di dua ruangan yang bersebelahan. Dua ruangan ini hanya dipisahkan oleh tembok. Ruangan sebelah kiri milik seorang pria. Sedangkan yang sebelah kanan milik seorang wanita. Lucunya, baik ruangan kanan mapupun ruangan yang kiri memiliki properti yang sama. Susunan yang sama dan kondisi yang sama pula. Sesekali sang pria duduk tepat di depan tembok pemisah tersebut dan memainkan gitar sembari menyanyikan lagu-lagu romantis yang ditujukan untuk sang wanita. Sang wanita pun tersipu malu dan tersenyum manis setiap mendengarkan alunan musik dan lagu tersebut. Sesekali sang wanita  yang bernyanyi. Dan reaksi sang pria? Sama seperti sang wanita. Sesekali waktu mereka berbicara melalui telepon dan sesekali waktu pula mereka berbicara langsung dari ruangan mereka. Bagi mereka, setebal apapun tembok pemisah tersebut takkan bisa menghalangi bunyi suara mereka. Terlebih suara harti mereka. Aku pun takjub dengan kegigihan mereka berdua. Mereka benar-benar punya selera yang sama. Tinggal menunggu waktu saja sampai sang pria merobohkan tembok pemisah tersebut. Ah indahnya..

Lelah berjalan kesana kemari, aku pun memutuskan untuk pulang kembali ke ruanganku. Dalam perjalanan ku pulang, aku kepikiran dengan ruangan-ruangan yang tadi kusinggahi. Banyak pikiran-pikiran yang masuk kedalam otakku. Suatu waktu jika aku kembali mengunjungi ruangan-ruangan tersebut, aku pasti akan menemukan kondisi yang berbeda, yah meskipun bukan hal yang mustahil pula jika aku tetap menemukan kondisi yang sama. Tak terasa aku sudah sampai di depan ruanganku. Ku buka pintu. Aku masuk kedalamnya. Ternyata kondisinya, masih sama seperti saat kutinggalkan beberapa waktu yang lalu. Sepi, sunyi dan suci masih setia menyapaku. Ruangan ini pun masih dipenuhi wangi harum yang semerbak. Aku pun berbaring. Kulihat di sekelilingku. Kosong. Terasa sesak. Sedikit hampa. Tapi entah kenapa aku merasakan kehadirannya disini. Mengelilingiku. Namun beberapa kalipun kucoba untuk meraihnya, hanya angin yang setia memeluk tanganku.

Hey kamu yang disana..

Aku rindu kamu..

Share:

Crazy Little Thing Called Love




Malam ini lagi lagi gue denger cewek nangis di kosan gue. Bukan. Bukan kuntilanak. Ini serius cewek beneran. Jadi cewek ini kita sebut aja bunga. Dia pacarnya temen kos gue. Kita sebut aja pohon. Menurut analisa gue, si bunga ini nangis gara gara abis berantem ama si pohon. Jadi dia gak kuat menahan perasaannya akhirnya keluarlah air mata tersebut. Sebenernya ini bukan pertama kalinya gue liat si bunga nangis. Gue udeh pernah liat beberapa kali. Bisa dibilang sering.

Pernah suatu hari, pas mereka lagi berantem dan kebetulan gue lagi pengen berangkat keluar. Ajegile tekanan batin. Gue gak enak banget pengen keluar kamar, soalnya kalo keluar otomatis gue bakal ngeliat pertengkaran mereka, secara gitu kamarnya depan depanan ama gue. Akhirnya untuk menjaga keselamatan diri gue, gue memilih untuk diem dulu di kamar dan berangkat begitu mereka selesai berantem.

Beberapa menit berlalu. Si bunga mulai menangis. Dia pun kayaknya keluar. Soalnya gue denger suara pintu dibuka. Gue nunggu beberapa saat. Setelah yakin kalo si bungan emang udeh keluar, akhirnya dengan muka tanpa dosa seolah gak terjadi apa-apa gue keluar kamar dan berangkat keluar. Gue langsung ambil motor di garasi. Begitu gue masuk garasi, gue ngelihat sesosok perempuan. Rambutnya panjang. Bajunya putih. Diem doang dipojokan. Gue cek punggungnya, ternyata gak bolong. Dia juga gak ketawa hihihi tapi malah nangis huhuhu. Gue diem beberapa saat. Akhirnya gue sadar. Kalo itu BUNGA ! ternyata si bunga lagi nangis di pojokan garasi. OSITMEN !

Gue pun perlahan ngeluarin motor dan langsung pergi saat itu juga….

………

Menurut gue wanita itu susah dimengerti. Susah banget deh. Gue lebih gampang untuk memahami skripsi gue daripada memahami seorang wanita. Pas gue nyekripsi kemarin, saat gue bingung akan suatu problema, gue langsung nyari nyari teori atau referensi yang berkaitan dengan problema tersebut. Begitu gue pelajarin dan diskusi. Problema itu bisa terselesaikan. Beda ama wanita. Wanita itu kayak bunglon. Suka berubah ubah. Kayak bencana alam juga. Susah diprediksi. Satu teori belum tentu bisa menjelaskan soal wanita. Butuh ratusan teori yang digabungkan berdasarkan rumus dan formula tertentu. Ya. bener. Wanita itu complicated..

Contohnya kasus bunga diatas. Gue gak ngerti ama dia. menurut gue dia salah satu cewek yang belum punya prinsip. Dalam suatu hubungan, memang diperlukan bumbu bumbu penyedap. Gunanya ya buat memantapkan rasa. Bumbu bumbu itu seperti surprise, rasa posesif, jenuh, bertengkar, cemburu dan lain lain. Pertengkaran dalam suatu hubungan merupakan salah satu bumbu penyedap tersebut. Kalo hubungan yang anteng anteng aja mah gak ada greget nya. “rasa” nya pun ya gitu gitu aja. Gak ada perubahan. Stagnan disitu aja. bisa bikin bosen lama-lama. Rentan terhadap rasa lain yang lebih rekatif. Inilah pentingnya bumbu. Untuk memunculkan suatu dinamika. Tapi selalu inget. Dalam suatu masakan jangan terlalu banyak menambahkan bumbu. Soalnya bisa mematikan rasa. Bikin rasa jadi hambar. Gak enak. Ujungnya makanan tersebut kita buang. Makanya kita kasih yaa sebutuhnya aja. Sewajarnya aja.sesuai selera lah. Begitu juga dengan suatu hubungan. Hubungan yang terlalu banyak bumbu bisa mematikan rasa. Bikin hambar. Gak enak. Belum sampe ke jenjang selanjutnya udah putus aja.

Itulah yang belum sepenuhnya dimiliki bunga. Si bunga belum punya takaran yang pas untuk bumbu dalam hubungannya tersebut. Kalo pacaran tapi berantem berantem terus yaa buat apa? Nangis nangis terus ya buat apa? Kalo pun bisa bertahan dan bisa sampe jenjang pernikahan, yaa siapa yang menjamin kalo setelah nikah gak bakal berantem-berantem lagi? Gak bakal nangis nangis lagi? Gak ada kan?

Pacaran yang isinya berantem-berantem terus sih bukan pacaran namanya.. itu smackdown.. pacaran yang isinya sakit-sakitan terus rasanya sih bukan pacaran namanya.. itu manula… pacaran yang isinya nangis-nangisan aja sih bukan pacaran namanya.. itu termehek-mehek..

Kalo cinta gak gitu gitu amat juga kali…

Cewek juga harus punya prinsip. Jangan terlalu ngekor di perasaan emosionalnya. Meskipun katanya cewek mikirnya pake hati.. tapi inget, dulu ngerjain soal soal sekolah emang pake hati? Pake otak kan? -__- yaa kenapa soal soal hidup ini gak gunain otak juga buat menjalaninya?

“tapi gak sesederhana itu yip…..”

Pasti ada yang mikir kayak gitu.. Yah menurut gue orang-orang zaman sekarang terlalu termakan ama film film sinetron atau film film romantic luar negeri. Yang meskipun banyak banget problemnya tapi endingnya tuh selalu bahagia selamanya. Ya itu kan Cuma film. Film komersial juga. Kenapa endingnya selalu bahagia, yaa buat sarana komersial aja. biar filmnya laku. Soalnya kalo endingnya ngegantung atau gak sesuai yang diharapkan konsumen yaa filmnya gak bakal laku. Itulah strategi pasar. Bagaimana membuat daya tarik produknya.

Orang yang mikir “tapi gak sesederhana itu yip…..” itu keliatan kalo dia orang yang membatasi dirinya untuk berkembang. Orang kayak gini kayak ikan yang ada di akuarium. Yang dia tau, akuarium itulah tempat terbaiknya. Padahal masih ada sungai, masih ada danau dan masih ada lautan diluar sana. Dan ditempat tempat itu justru banyak menawarkan pesona-pesona yang tak tertandingi keindahannya..


Share:

Disable Adblock