Nyaman




Aneh. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kita berdua. Sepasang manusia dengan nasib beda namun dipersatukan oleh satu hal yang sama. Gue kenal dia sebenernya udeh lama. Tapi kenal saat itu mungkin lebih tepat disebut dengan sebatas tau aja. Soalnya baik gue maupun dia Cuma kenal sebatas nama dan asal aja. Gak lebih dan gak kurang. Selain itu, gue gak pernah inget percakapan-percakapan kita selain percakapan perkenalan waktu itu. Bisa dibilang perkenalan tersebut adalah percakapan kita untuk yang pertama dan terakhir kalinya dalam satu kurun waktu. Setelah perkenalan, gue gak pernah lagi ngobrol sama dia. Meskipun beberapa kali pernah ketemu, tapi baik dia maupun gue, sama-sama cuek aja. Gue sibuk dengan urusan gue, dia sibuk dengan urusannya. Ya itulah hal yang bisa digambarkan tentang hubungan gue sama dia. Sebelum kita dipertemukan kembali di perkenalan yang kedua..

Perkenalan kedua kita ditandai dengan percakapan kita untuk yang kedua kalinya. Ya inilah percakapan kedua kali kita semenjak kita kenal pertama kali. Lucunya. Jarak antara percakapan pertama dan yang kedua terpisah oleh waktu yang sangat lama. Percakapan kedua ini pun terlihat biasa-biasa aja. Hanya basi basi yang terdengar basi mungkin bagi yang mendengarnya. Tapi gue ngeliat ada yang beda kali ini. Ya gue ngeliat ada yang berbeda dari pancaran matanya. Matanya seolah membicarakan hal lain yang saat itu gue gak ngerti artinya.

Lalu sampailah pada percakapan yang ketiga. Percakapan kali ini hanya terpisah beberapa hari dari percakapan yang kedua. Ajaibnya, kali ini terjadi secara kebetulan. Kita ketemu atas dasar kesengajaan. Lagi lagi kita hanya bercakap-cakal soal basi basi yang terdengar makin basi untuk dengar. Tapi. Dalam percakapan itu, dia meminta pin BB gue..

……..

Bingung. Yang terjadi setelahnya justru bikin gue bingung. Hanya dalam 3 hari semenjak gue ngasih pin BBM, kita ketemuan dua kali. Yang pertama 3 jam, dan yang kedua 2,5 jam. Jadi 5,5 jam kita habiskan untuk sekedar mengobrol dan berdiskusi. Namun, bermula dari 5,5 jam itulah semua kisah ini dimulai..

……..

Lucu. Itulah yang terjadi selanjutnya. Setelah obrolan 5,5 jam waktu itu, kita jadi sering berhubungan. Hampir  tiap hari kita berkomunikasi. BBMan atau SMSan. Banyak hal yang kita bahas. Mulai dari kerjaan, cinta, kegiatan, makanan, acara-acara dan hal-hal yang gak penting lainnya. Selain itu, hampir tiap hari juga kita ketemu. Entah itu untuk makan bareng, untuk jalan bareng, entah untuk main bareng, atau sekedar melakukan hal yang tidak penting. Ya ya ya. kita semakin akrab. Kita semakin nyaman.
Tapi, uniknya, keakraban kita Cuma berlangsung diluar aja. Begitu kita di dalam institusi pendidikan, kita menjadi orang yang berbeda. Kita jarang bertemu di dalam. Jarang berinteraksi juga di dalam. Jika pada satu kesempatan kita ketemu, kita terlihat biasa aja. Aku atau dia mungkin lebih memeilih untuk pura-pura tidak melihat. Atau kalopun terpaksa sudah ketauan, kita hanya sebatas senyum aja. Gak lebih dari itu. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terbilang aneh. Ya tapi kondisilah yang memaksa kita untuk melakukan hal itu. Pernah suatu hari, dia minta berangkat bareng, tapi gue menolaknya. Karena gue punya sesuatu yang harus gue jaga. Ya gue harus menjaga sang “mutiara”. Dia mengerti. Dia pun tak masalah dengan hal tersebut.. baginya pembatasan tersebut justru membuatnya semakin nyaman..

……..

Semakin lama barengan, semakin banyak pula yang gue tau dari dia dan yang dia tau dari gue. Persamaannya kita sama-sama punya “mutiara”. Perbedaannya, mutiara gue dan dia punya kisah yang berbeda. Sedangkan persamaan dari perbedaan tersebut adalah, mutiara gue dan dia sama-sama sedang dalam kondisi yang redup. Dan itu membuat gue lelah.. membuat dia lelah juga..

………

Mungkin lelah itulah yang menuntun kita hingga bisa sedekat ini….. senyaman ini….
Hingga pada suatu hari, lelah itu juga yang membuat kita jadi menjauh…

……...

Nyaman. Itulah yang gue rasain saat bersama dia. ya meskipun terkadang dia begitu menyebalkan. wajahnya yang manis cukup menjadi pemanis di kala kondisi hati yang sedang pahit, parasnya yang memerah begitu tertawa terlihat begitu lucu ketika dipandang, tingkahnya yang kadang kayak anak kecil bikin gue semakin tertarik untuk menggodanya terus, dan orangnya yang selalu ada, itulah senyaman-nyamannya dirinya.
Nyaman. Itulah yang dia rasain juga ke gue. Mungkin gue adalah kepingan puzzle yang hilang, yang selama ini dia cari. Baginya, gue adalah keramaian di dalam kesepiannya, canda di dalam keseriusannya, riak dalam ketenangannya, ada dalam ketiadaannya, dan kelak-kelok dalam jalan lurusnya. Gue adalah warna warni dalam kanvas hitam putih kehidupannya yang monoton.

……….

Kadang gue penasaran, hubungan gue ama dia ini terlihat seperti istilah apa. Apakah ini hubungan tanpa status? Sepertinya tidak, karena kita berdua tidak punya rasa yang lebih satu sama lain. Apakah ini friend with benefit? Tentu aja enggak. Karena kita sama sama gak punya kesepakatan, perjanjian atau meraup keuntungan satu sama lain. Apakah ini teman tapi mesra? Mungkin, tapi kalo diperhatiin kita gak terlihat mesra sama sekali deh. Jadi kayaknya bukan.  Atau apakah ini yang disebut friendzone? Entahlah. Tapi sepertinya bukan juga. Karena kita sampai saat ini belum terlibat cinta satu sama lain. Kita masih setia dengan “hidup” yang kita miliki sebelum kita berhubungan deket ini. Ya begini lah kita. Nyaman dengan apa yang kita miliki saat ini.

………..

Saat ini pun kita,hubungan kita udah gak seintens dulu lagi. Kita mulai menjauh satu sama lain. Meskipun masih saling menjaga ikatan yang selama ini kita buat. Terlalu sering bersama justru membuat kita merasa lelah. Dia lelah. Aku pun lelah. Ya mungkin menjauh adalah jawaban terbaik dari kelelahan kita.

………

Banyak yang bilang kalo, rasa sayang itu sering muncul justru ketika kita kehilangan. Itulah yang gue takutkan saat ini. Gue takut, saat kita berpisah nanti, rasa merepotkan itu akan muncul. Muncul dengan dahsyatnya. Ya, makanya, dengan menjauhnya kita saat ini, justru membuat gue nyaman. Nyaman karena kita bisa sama sama terhindar dari kemunculan rasa merepotkan itu. Nyaman karena gue ataupun dia gak perlu khawatir akan datengnya rasa merepotkan itu..

Ya itulah kamu. Dekat ataupun jauh, selalu bikin nyaman.

Aku memang selalu nyaman sama kamu…
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock