Ruang Rindu..





Hidup itu bagaikan berjalan dari suatu ruangan ke ruangan lain. Setiap ruangan pasti memiliki kisahnya masing-masing. Terkadang kita menemukan dua atau lebih ruangan dengan kondisi yang sama persis. Baik sama dekorasinya, sama isinya, sama fungsinya, sama penghuninya, dan banyak persamaan lainnya. Namun meskipun kita menemukan dua atau lebih ruangan yang sama, sama persis, ternyata kesamaan tersebut masih menyisakan sedikit perbedaan, yaitu beda lokasi. Tak mungkin kita menemukan dua buah ruangan dalam titik kordinat posisi yang sama persis bukan?

Malam ini aku mencoba melihat-lihat  ruangan ruangan yang ada di sekelilingku. Hasilnya? Aku pun menemukan kisah-kisah yang berbeda di tiap ruangan yang ku masuki. Yeah meskipun ada beberapa kisah yang sama juga kutemukan.

Saat di ruangan pertama, aku mendapatkan kisah si penghuni ruangan yang sedang kesepian. Ia tidak memiliki kekasih dan sedang berada jauh dari teman-temannya. Untuk melawan rasa kesepiannya tersebut, ia melakukan berbagai hal. Mulai dari mendengarkan musik, menonton acara televisi, membaca buku. Namun, berbagai aktivitas itu tidak mampu untuk mengobati rasa kesepiannya tersebut. Alhasil dia malah lebih banyak bermain dengan gadget yang ia pegang, sekaligus berharap harap, agar ia bisa mendapat keajaiban berupa kesibukan dari benda yang ia pegang tersebut.

Aku pun berjalan ke ruangan selanjutnya. Ruangan ini ternyata milik seorang wanita yang sedang mendambakan seorang laki-laki. Ya. mendamba agar menjadi kekasihnya. Ruangannya benar-benar penuh dengan pernak-pernik, cahaya warna warni, dentuman musik, berbagai jenis makanan dan minuman. Akan tetapi, ternyata ia belum menemukan dambaan hatinya tersebut. Tentu saja. Soalnya dia hanya mondar-mandir dia ruangannya saja. Dia terjebak atas kisah dongeng dongeng zaman dahulu, yang menceritakan bahwa akan ada seorang pangeran tampan yang mengunjungi rumah seorang putri untuk memberikan sebelah sepatu kacanya. Ya dia berpikir, bahwa ia seperti putri tersebut. Sayangnya, dia tak pernah menyadari bahwa sepatunya masih lengkap di rak sana.

Kembali aku melanjutkan perjalananku. Kali ini aku tiba di suatu ruangan yang bersih, rapi, dan tertata. Sungguh ruangan yang nyaman. Hanya dengan sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa pemilik ruangan ini adalah orang yang tekun, pandai dan sehat. Akupun berkeliling ruangan tersebut sembari melihat-lihat properti properti yang ada. Ruangan yang menyenangkan. Namun, aku terkaget, karena ternyata sang pemilik ruangan sedang terbujur sakit di tempat tidurnya. Aneh. Kenapa ia bisa terserang penyakit di ruangan yang indah ini? Aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “hey kenapa kamu bisa sakit?” tanyaku. “Aku terbiasa merawat ruangan ini bersama dengan kekasihku. Mulai dari membersihkan, merapikan dan menjalani aktivitas. Beberapa bulan yang lalu kekasihku terpaksa pergi ke suatu tempat yang jauh karena pekerjaannya. Akhirnya akupun hanya sendiri untuk merawat ruangan ini. Meskipun ruangan ini tetap bagus seperti sediakala, tapi resikonya aku kecapekan dan terserang penyakit.” Jawabnya. Aku pun mengangguk-ngangguk. Ternyata begitu. Aku pun jadi berandai-andai. Ruangan ini ibarat fisik tubuh manusia, sedangkan penghuninya ibarat hatinya. Seseorang yang menjalani LDR bagaikan penghuni dan ruangan tersebut. Meskipun dari luar ia terlihat normal dan bahagia-bahagia saja, tapi di dalam hatinya ia merasa sakit. Sakit karena terpisah oleh jarak yang begitu menyakitkan.

Ruangan selanjutnya yang kutemui adalah ruangan sepasang kekasih. Meskipun tinggal dalam ruangan yang sama, namun mereka jarang melakukan aktivitas bersama sama. Suatu kali sang pria sedang bersusah payah membetulkan kursi yang patah, tapi sang wanita malah sibuk berendam air panas. Suatu kali sang wanita sedang kepayahan dalam membersihkan ruangan, sang pria malah pergi bermain dengan teman sebayanya. Seringkali juga kulihat mereka bertengkar hanya karena hal-hal kecil, seperti lupa menutup jendela, lupa menutup keran air, lupa mematikan lampu, ataupun hanya sekedar lupa hari dalam suatu tanggalan. Aneh ku pikir. Kenapa mereka mudah sekali ribut hanya karena hal-hal kecil semacam itu, padahal kalo dibicarakan baik-baik itu tidaklah menjadi hal yang besar.  Terkadang dari perselisahan perselisihan kecil tersebut malah diantara mereka ada yang sampai mengusir untuk keluar dari ruangan tersebut. Ah ada ada saja. Daripada terus menerus melihat hal yang tidak penting begini, aku pun melanjutkan perjalananku..

Aku sampai di sebuah ruangan yang sungguh berantakan, kotor dan tak berpenerangan. Saking berantakan dan gelapnya, aku jadi sering tersandung atau menginjak barang-barang yang ada disana. Aku pun kesulitan dalam menemukan penghuninya. Aku belum bisa memastikan apakah penghuni ini laki-laki atau perempuan. Disini, aku hanya bisa mendengar suara-suara aneh, seperti umpatan-umpatan dan suara tangisan. Sepertinya sang pemilik ruangan sedang dilanda kesedihan dan patah hati yang mendalam. Entah karena hal apa. Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, namun sebelum keluar aku menyalakan sebuah lilin dan kutaruh diatas meja. Semoga ini bisa membantu menerangi sedikit kegelapanmu. Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan jalan-jalanku. Tibalah aku di dua ruangan yang bersebelahan. Dua ruangan ini hanya dipisahkan oleh tembok. Ruangan sebelah kiri milik seorang pria. Sedangkan yang sebelah kanan milik seorang wanita. Lucunya, baik ruangan kanan mapupun ruangan yang kiri memiliki properti yang sama. Susunan yang sama dan kondisi yang sama pula. Sesekali sang pria duduk tepat di depan tembok pemisah tersebut dan memainkan gitar sembari menyanyikan lagu-lagu romantis yang ditujukan untuk sang wanita. Sang wanita pun tersipu malu dan tersenyum manis setiap mendengarkan alunan musik dan lagu tersebut. Sesekali sang wanita  yang bernyanyi. Dan reaksi sang pria? Sama seperti sang wanita. Sesekali waktu mereka berbicara melalui telepon dan sesekali waktu pula mereka berbicara langsung dari ruangan mereka. Bagi mereka, setebal apapun tembok pemisah tersebut takkan bisa menghalangi bunyi suara mereka. Terlebih suara harti mereka. Aku pun takjub dengan kegigihan mereka berdua. Mereka benar-benar punya selera yang sama. Tinggal menunggu waktu saja sampai sang pria merobohkan tembok pemisah tersebut. Ah indahnya..

Lelah berjalan kesana kemari, aku pun memutuskan untuk pulang kembali ke ruanganku. Dalam perjalanan ku pulang, aku kepikiran dengan ruangan-ruangan yang tadi kusinggahi. Banyak pikiran-pikiran yang masuk kedalam otakku. Suatu waktu jika aku kembali mengunjungi ruangan-ruangan tersebut, aku pasti akan menemukan kondisi yang berbeda, yah meskipun bukan hal yang mustahil pula jika aku tetap menemukan kondisi yang sama. Tak terasa aku sudah sampai di depan ruanganku. Ku buka pintu. Aku masuk kedalamnya. Ternyata kondisinya, masih sama seperti saat kutinggalkan beberapa waktu yang lalu. Sepi, sunyi dan suci masih setia menyapaku. Ruangan ini pun masih dipenuhi wangi harum yang semerbak. Aku pun berbaring. Kulihat di sekelilingku. Kosong. Terasa sesak. Sedikit hampa. Tapi entah kenapa aku merasakan kehadirannya disini. Mengelilingiku. Namun beberapa kalipun kucoba untuk meraihnya, hanya angin yang setia memeluk tanganku.

Hey kamu yang disana..

Aku rindu kamu..

Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock