Tentang Pentingnya Harapan




Suatu hari, semua penduduk desa memutuskan untuk berdoa meminta hujan karena kemarau panjang membuat desa itu kekeringan. Pada hari yang ditentukan, semua orang berkumpul, tetapi hanya ada satu anak yang datang dengan membawa payung..
Itulah iman..

Ketika kita melempar bayi kita yang baru berusia satu tahunke udara, dia pasti akan tertawa. Mengapa? Karena dia tau, ayahnya pasti akan menangkapnya..
Itulah kepercayaan..

Setiap malam, kita tidur tanpa memiliki jaminan apakah akan bisa bangun esok pagi, tapi entah kenapa kita tetap saja mengatur alarm untuk besok..
Itulah harapan…
(Anonim)

Ada anak SD yang ingin jadi dokter, pilot atau polisi. Ada anak SMP yang jatuh cinta untuk pertama kali kepada temennya dan ingin segera memilikinya. Ada anak SMA yang ingin masuk perguruan tinggi terbaik di negerinya. Ada seorang mahasiswa yang bermimpi akan mengubah bangsanya. Ada mahasiswa telat lulus yang ingin lulus sesegera mungkin. Ada karyawan yang selalu menantikan promosi jabatan. Ada seorang ayah yang ingin anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ada seorang ibu yang berharap agar anak satu-satunya segera pulang dari perantauannya. Ada seorang CEO perusahaan yang bermimpi perusahaannya menjadi bisnis rakasasa. Ada seorang koruptor yang berharap KPK tidak mengendus kejahatannya. Ada seorang narapidana yang ingin merasakan kebebasan.Ada dua sejoli yang sedang menjalani long distance relationship yang sama-sama berharap agar mereka segera bertemu.  Ada pula seorang wanita yang berharap agar lelaki yang dipujanya segera menyatakan cintanya..

Yaa orang-orang dengan berbagai harapan tersebut pasti ada di sekeliling kita.

Setiap orang pasti punya harapan. Pernah berharap. Dan ingin harapan itu terjadi. Terlaksana. Sesegera mungkin. Sebagus mungkin. Karena impian manusia tidak akan pernah berakhir. Selama manusia punya  tujuan, mimpi, impian atau cita-cita, selama itu pula dia akan terus berharap. Berharap dan berharap. Impian akan menciptakan harapan, dan harapan akan mewujudkan sebuah impian. Oleh karena itu tidak benar jika ada yang berkata bahwa “aku sudah gak punya harapan lagi”. Itu hanyalah kalimat keputus-asaan. Tidak lebih dan tidak kurang. Manusia selalu punya kesempatan. Bahkan dalam kesempitan. Manusia selalu punya pola. Pola yang tidak beraruran bentuknya pun disebut pola. Ya pola tidak beraturan. Dan, manusia selalu memiliki pilihan. Pilihan itulah yang akan membawamu kepada harapan.

Harapan adalah salah satu harta termegah yang dimiliki manusia. Dialah warna warni yang mewarnau kanvas kehidupan. Tanpanya hidup hanya akan menjadi dua warna. Hitam atau putih. Sangat membosankan. Orang yang sakit, pasti selalu ditemani oleh harapan. Harapan agar bisa sembuh. Orang yang belum mendapat pekerjaan, pasti selalu ditemani harapan. Harapan bahwa masih banyak lowongan kerja di luar sana. Orang yang berpacaran, pasti selalu ditemani harapan. Harapan agar hubungan mereka mulus dan lanjut ke jenjang selanjutnya. Ya itulah harapan. Di setiap detik nadi kita, di setiap hembus napas kita dan di setiap langkah kita, selalu ada harapan yang menemani kita. Setiap waktu. Dimanapun dan kapanpun kita berada.
Namun, seringkali ada saja orang yang menganggap remeh harapan. Mencurinya dari orang lain. Lalu, Mempermainkan seenaknya. Dia hanya menawarkan harapan harapan semu. Menjual harapan harapan murahan. Dan merusak harapan orang-orang. Dia hanyalah orang bodoh, sampah tepatnya, yang menghancurkan impian manusia. Rendah sekali. Dia lah orang yang selama ini disebut sebagai si pemberi harapan palsu..

Ada seorang calon pemimpin yang berjanji akan membasmi ini, membasmi itu, mensejahterakan ini, mensejahterkan itu, meningkatkan ini, meningatkan itu, tapi nyatanya dia malah berbuat korupsi, kolusi dan nepotisme sewaktu dia telah terpilih.

Ada seorang calo yang menawarkan transportasi ke suatu daerah dengan fasilitas yang nyaman, terpercaya dan cepat, sesuai dengan harga yang ia tawarkan. Nyatanya setelah sang pembeli membeli tiket tersebut, sang calo pun segera meninggalkan pembeli tersebut setelah menyuruhnya untuk duduk menuggu di suatu tempat. Alangkah kagetnya sang pembeli, karena bus yang dinaikinya hanyalah bus ekonomi ringsek. Padahal dia membayar seharaga bus eksekutif.

Ada seorang wanita yang sedang disukai oleh pria. Sebenarnya wanita tersebut tidak menyukainya. Akan tetapi dia terus memberikan bunga bunga harapan kepada pria itu. Menggodanya. Diam diam Mempermainkannya. Dan diam diam Memanfaatkannya.. Namun dia selalu bersikap manis di depan pria tersebut. Melihat bahwa sang wanita menyambut kode kode yang ia kirimkan. Membuat sang pria berpikir bahwa sang wanita juga menyukainya. Akan tetapi saat sang pria menyatakan cintanya, dia menolakknya..

Yaa itulah sedikit kisah sang pemberi harapan palsu. Ia bisa disamakan dengan orang buta.. orang tuli.. tidak punya mata dan tidak punya telinga.. mungkin juga tidak punya hati.. Orang-orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Keuntungan bagi dirinya sendiri. Dan kesenangan untuk dirinya sendiri. Ia tak menghargai orang lain, ia tak peduli dengan orang lain dan ia tidak bertanggungjawab dengan orang lain.
Orang yang tidak menaati peraturan memang disebut sampah.. tapi orang yang tidak menghargai orang lain lebih rendah daripada sampah..

Harapan bukanlah sesuatu yang ada untuk diolok-olok, dimain-mainkan atau ditertawakan. Harapan lah yang membawa seseorang menuju kesuksesan. Harapan lah teman satu-satunya dikala kita tengah dalam sebuah kefrustasian. Harapan lah yang senantiasa menerangi kita ketika dalam suatu kegelapan. Haranlah yang senantiasa menunjukkan jalan keluar ketika kita sudah sampai di jalan buntu. Harapanlah yang dapat membuat bangkit dari sebuah keterpurukan, kesenjangan dan keprihatinan.

Harapanlah yang membuat Thomas Alfa Edison bisa menemukan lampu. Meskipun sebelumnya dia telah gagal seribu kali, tapi dia terus mencoba dan mencoba. Harapanlah yang membuat JK Rowling menjadi wanita terkaya. Meskipun sebelumnya naskah harry potter ditolak oleh penerbit penerbit, tapi dia selalu berusaha dan berusaha.

Harapan ibarat oase dalam padang pasir. Bagaikan embun menyejukkan di pagi hari. bagaikan air dalam kehausan. Harapan itu seperti bintang. Kadang terlihat, kadang tidak terlihat.. tapi dia selalu ada disana..

Jadi jangan suka mempermainkan harapan..

Share:

Penyesalan yang Indah




Sebenernya agak males sih nulis soal cinta-cintaan. Soalnya gak gue banget. Nulis soal cinta tuh susah. Karena cinta emang susah untuk diungkapkan sama kata-kata. Nulis soal cinta juga ribet. Karena cinta emang suka ngeribetin diri sendiri atau orang lain. Nulis soal cinta juga merepotkan. Ya se merepotkan aku buat ngertiin kamu. Iya kamu ~

Menurut gue kisah cinta itu bagusnya ya dipendem sendiri aja. Buat dikenang-kenang sendiri kalo lagi gak ada kerjaan. Buat diinget-inget sendiri kalo lagi galau. Atau buat di share ke orang lain kalo ada yang membutuhkan. Nah berhubung siang ini gue lagi mentok buat bikin materi si Pejuang Skriptis Part terakhir, makanya gue mau mencoba untuk menuliskan hal hal yang ga biasa gue tulis.

……………..

Pernah gak ketemu orang yang nyambung banget? Ngobrolin apa aja ama dia nyambung. Apapun. Anything. Pokoknya nyambung deh kalo diobrolin ama dia. Bahkan untuk obrolan-obrolan yang gak penting sekalipun jadi penting kalo diobrolin ama dia. Terus, selain itu, dia juga orangnya asik banget. Diajak ke tempat ini oke, diajak ke tempat itu oke juga, dan diajak ke tempat ini dan itu gak masalah buat dia. Diajak ngelakuin hal ini mau, diajakin hal itu juga mau, atau diajak ngelakuin hal ini atau itu selow selow aja. Terkadang dia juga dewasa. Bijaksana. Kekanak-kanakan juga pernah. Tapi dia lucu juga. Suka ngelawak. Suka bercanda. Pokoknya bikin ketawa deh.  Orangnya juga gak macem-macem. Gak neko neko. Sesuai deh ama karakter kita. Cocok ama kita. Kalo lagi ama dia, bawaannya nyaman, betah, seru dan nyenengin. Kalo udah abis ketemu dia, biasanya kita udeh mikir lagi kapan bakal bisa ketemu dia lagi. Dan, kalo lagi pisah ama dia karena kondisi tertentu, biasanya kita jadi kangen sendiri, atau minimal suka keinget hal-hal yang pernah kita lakuin bareng dia.

Pernah punya orang yang seperti itu?

Kalo kamu pernah atau lagi punya orang kayak gitu, You da real MPV kawan !

………

Gue pernah punya orang kayak gitu. Kita sebut aja dia sakura….

Gue kenal sama dia di angkot. Beneran. Serius deh. Kebetulan gue sama dia lagi make suatu atribut yang sama. Aneh memang. Kita tinggal di kota yang beda, kuliah pun di kampus yang beda, tapi entah kenapa justru diperkenalkan dalam kondisi yang sama. Ya. sama sama lagi naik angkot.
“kamu ikut komunitas X juga ya?” kata dia tiba tiba, dengan mimic wajah yang aneh. Dari mimiknya keliatan kalo dia agak malu untuk negor, tapi dipaksain negor dengan wajah bersahabat. Makanya jadinya aneh gitu. Mgue langsung bangun dari lamunan gue. Lantas gue ngeliat dia. gue inget inget sebentar. Dan gue yakin kalo gue belum pernah kenal sama cewek ini.

“iya ikut. Kamu juga?” jawab gue seadanya..

Gue orang yang punya tingkat kewaspadaan yang besar. Makanya gue agak curiga sama dia. Gak ada angin gak ada ujan, kenal aja kagak, kok main langsung negor gue aja, dengan pertanyaan sok deket gitu.gue jadi mikir,  jangan jangan dia tukang hipnotis yang sering berkeliaran di angkot. Atau Jangan jangan dia mbak mbak yang suka malak malak gitu di angkot (kayaknya gak ada deh mbak mbak kayak gitu).. atau jangan jangan dia orang suruhan ibu kos, yang memberikan dia misi untuk menagih uang kos gue yang waktu itu belom gue bayar. Ositmen. Ngeri abis..

……

Anyway.. Ternyata dia Cuma mahasiswa biasa aja..

……

Alhasil sepanjang perjalanan di angkot itu, kita ngobrol banyak.  Sebenernya sih dia yang ngobrol banyak, sedangkan gue Cuma nanggepin dikit dikit aja. Soalnya gue masih curiga ama dia. katanya dia kenal ama beberapa temen gue di kampus. Sedangkan gue gak punya kenalan sama sekali di kampus dia. katanya dia pernah ke kampus gue. Sedangkan gue bilang, kalo gue gak pernah ke kampus dia. Dia banyak nyeritain banyak hal tentang komunitas X, sedangkan gue Cuma dikit nyeritain komunitas X versi gue nya.

Satu yang pasti, semakin lama ngobrol ama dia, semakin hilang semua kecurigaan-kecurigaan gue diatas. Tapi obrolan kita masih kayak dua orang anggota DPR yang lagi ngebahas suatu undang-undang. Serius banget. Ngobrolnya kaku. Sok profesioanal gitu. Sok resmi juga gaya ngobrolnya. Emm, meskipun begitu, satu yang gak bisa dibohongin saat itu, dia orangnya “menghangatkan” dan punya jiwa leadership..
Akhirnya dia turun duluan.. tapi sebelum dia turun, dia bilang ke gue, kalo dia udah pernah beberapa kali ngeliat gue sebelumnya..

……

Setelah dia ngomong gitu, justru gue yang penasaran ama doi. Gue pun langsung stalking stalking di dunia maya. Nyari semua informasi tentang dia. dan hasilnya, Ternyata dia bukan tukang hipnotis. Dia juga bukan mbak mbak yang suka malak. Dan dia juga bukan orang suruhannya ibu kos. Dia ya dia.. dia seperti yang dia katakan.. Gue jadi ngerasa bodoh. Kenapa gak minta nomernya sekalian. Kenapa gak kenalan lebih dalam lagi. Kenapa gak gini. Kenapa gak gitu. Hidup gue langsung dopenuhin soal kenapa kenapa saat itu juga.

Kenapa kenapa gue itu akhirnya berhenti beberapa hari kemduain setelah temen gue sms gini, “Yip ada temen gue yang nanyain lo nih, namanya sakura. Katanya dia pernah ketemu lo di angkot blalalalalallalalalala”

Akhirnya gue dapet nomer dia..

Dan semua berubah saat negara api menyerang…

*gak nyambung*

Setelah gue dapet nomernya, kita jadi SMSan tiap hari. Ada aja bahasan yang dibahas tiap hari. asiknya, ngobrolin apapun sama dia, nyambung banget. Karen ague orang media, gue jadi banyak topic untuk dibicarain, anehnya dia sanggup sanggup aja buat ngeladeninnya. Kita kadang bahas soal jurusan kita masing-masing, pengalaman pelatihan, organisasi, tentang social, politik, media, urbanisasi, desa, fenomena fenomena, cerita cerita hantu, kejadian apes, tempat wisata, pokoknya segala macem deh. Dia bahkan tau persoalan FKM yang belum ada profesinya.. Kalo lagi diskusi soal sesuatu, dan beda pendapat, biasanya kita telponan, yang isinya debat semua. Debat debat aja pokoknya. Kadang dia yang menang, kadang gue yang menang, tapi seringkali dia yang menang sih. Tulisan gue yang pernah dimuat di Koran pun ada beberapa yang merupakan buah pemikiran hasil diskusi gue sama dia.

Waktu itu masa liburan. Dia ngajakin gue buat ikut dia jalan-jalan sama temennya. Itulah pertemuan kedua gue sama dia setelah diangkot kemarin. Pertemuan kedua ama dia sebenernya masih sama kayak yang pertama. Sama sama masih (sok) kaku. Gaya bicara masih (sok) serius. Gue sendiri sebenernya agak malu. Soalnya gue jalan ama orang-orang yang gak gue kenal semua, kecuali dia. Gue pun lebih memilih untuk memfotokan mereka dibandingkan ikut foto bareng mereka. Gue lebih memilih diem aja pas jalan itu. Paling baru ngomong kalo ada yang nanya atau ngajak ngobrol. Itupun jawabnya diplomatis aja. Gue ngomong ama dia pun lebih banyakan pelan-pelan aja, malah kayak bisik-bisik. Entah kenapa. Tapi satu yang gue inget, dari awal gue dateng sampe gue pulang, dia selalu berada disamping gue.

………

Setelah itu masa masa kuliah. Gue ama dia beda kampus. Beda universitas. Beda kota. Kita sama-sama anak perantauan. Karena sibuk dengan kuliah masing-masing, komunikasi pun jadi berkurang banget. Diskusi jadi jarang, Tapi kita tetep konsisten ngabarin kabar satu sama lain. Kalo ada diantara gue atau dia yang mau pulang, biasanya kita saling menginfokan. Biar bisa ketemuan.

Pertemuan ketiga, terlaksana pas gue lagi pulang ke rumah. Gue sms kalo gue lagi di rumah sampe hari sekian. Dia ngomel-ngomel kenapa baru bilang pas gue udah dirumah. Tapi tiga hari kemudian dia mudik juga. Akhirnya kita ketemuan. Pertemuan ketiga terjadi antara gue ama dia aja. Kita jalan berdua. Gue bingung. Kenapa dia ikut-ikutan mudik juga. Terus kita tinggal di beda provinsi tapi dia minta ketemuannya di provinsi gue. Jakarta. Dia bilang, “kalo kamu yang kesini, pasti kamu bakal nyasar, jadi mending aku aja yang kesana” begitu katanya ketika gue tawarin biar gue aja yang kesana. Yah manut aja deh.

Ketemuan kali ini sungguh beda. Bener bener beda dari ketemuan yang sebelum-sebelumnya. Entah karena udah lama gak ketemu, entah karena udah lama gak sering komunikasi atau entah karena sama sama saling merindu, pertemuan kita mengalir begitu aja. Gue akhirnya bisa jadi diri gue sendiri. Suka becanda, ngelawak terus dan banyak ceritanya. Dan dia juga jadi diri dia sendiri. Banyak cerita, idealis, “hangat” dan mengagumkan.. Dan dia terlihat cantik hari itu..

Kita jalan seharian. Hampir dua belas jam. Ngobrolin banyak hal, diskusi banyak hal dan debatin banyak hal juga. Mulai dari subsidi BBM yang salah sasaran sampe peran thor yang aneh di the avengers. Pokoknya banyak hal deh. Asiknya, selama dua belas jam itu, baik gue maupun dia sama sama jarang ngeliat gadget. Pas pengen pulang, gue minta foto bareng ama dia. gue masih ngerasa bersalah dulu pas pertemuan kedua gue nolak buat ikut foto. Akhirnya dengan modal minta tolong orang dijalan, kita pun foto bareng.
Begitu gue sampe rumah, malemnya, gue gak bisa tidur..

Yaa gue naksir ama dia..

……..

Pertemuan pertemuan selanjutnya pun gak beda beda jauh. Kadang kita ketemu sebulan sekali, kadang dua bulan kemudian baru bisa ketemu, kadang tiga bulan kemudian juga kita baru bisa ketemu. Kadang pas gue lagi dirumah, dia gak bisa mudik, kadang pas dia di rumah gue nya yang gak bisa mudik. Pernah suatu waktu dia ada acara di kota kampus gue. Dia baru bilang pas dia udah disana. Dia minta dibawain oleh-oleh. Sayangnya, waktu itu gue lagi ada acara organisasi dari pagi sampe malem. Jadi gak bisa ketemu ama dia.

Sebenernya gue beruntung punya temen deket kayak dia. Sebagai wanita dia bisa dibilang komplit. Cantik, pinter, baik, keren, leader, aktivisi dan religious juga. Gue sendiri nganggep dia itu partner in crime, meski gue naksir sama dia, tapi gue lebih nyaman kayak gini aja. Temenen. Sahabatan. Partneran. Waktu itu gue suka bingung sama dia. Dengan begitu sempurnanya dia kenapa dia masih jomblo. Kenapa dia gak nyari cowok gitu. Atau masa sih anak kampusnya gak ada yang naksir ama dia? gak mungkin banget. Gue sering pengen nanyain hal itu, tapi gue selalu urung untuk menanyakannya. Karena dari awal kita ketemu sampe sekarang, kita gak pernah ngebahas soal cinta-cintaan.

……..

Lalu sampailah kita pada pertemuan yang kesekian. Kalo gak salah udeh setahunan kita deket kayak gini. Gue aja lupa ini pertemuan yang keberapa. Yang mana itu ternyata menjadi pertemuan terakhir kita. Pertemuan kali ada yang beda. Bukan kita yang kembali ke kaku-kakuan yang dulu, tapi cara dia bertingkah. Yaa ini lah pertemuan pertama kita setelah 3 bulan gak ketemu. Agak lama. Selama 3 bulan itu pun kita jarang kontak-kontakan.  Biasa sih. Gue sibuk. Dia juga sibuk. Yang paling beda dari pertemuan pertemuan sebelumnya, kali ini dia banyak ngomong soal cinta. Pas kita ketemu, dia minta pendapat gue tentang wanita. Gue sering bilang ke dia kalo wanita itu susah dimengerti. Dan dia minta penjelasan soal itu, sambil bilang kalo cowok juga kenapa banyakan gak peka. Dai cerita tentang temen dia yang gak peka. Sebut aja tiger. Katanya dia udeh deket lama ama si tiger. Dia ngerasa udeh cocok deh. Tapi bingung ama si tiger yang gak peka banget. Pas denger cerita dia, gue malah ngeledekin dia dan ngegodain dia. gue bilang, gue seneng akhirnya dia bisa naksir juga sama orang.

Pas jam makan siang, kita diskusi lagi, kali soal gender. Gender dalam sebuah kepemimpinan, gender dalam sebuah agama, dan gender dalam sebuah cinta. Dia minta pendapat gue bagaimana soal cewek yang “ngomong” cinta duluan ke cowok. Gue jawab, cewek kayak gitu gak punya prinsip. Gak menghargai keistimewaan yang dia punya. Bukan tipe gue. Gitulah intinya jawaban gue.

Pas lagi ngemil ngemil sore sore, dia nanyain lagi, minta pendapat soal kasus dia. katanya dia lagi dideketin sama cowok akhir-akhir ini. Sebut aja leo. Dia gak ngerasa apa-apa sama si leo. Soalnya dia masih demen ama si tiger. Gue bilang ama dia, daripada ngarepin orang gak jelas kayak tiger, yang jelas jelas dia gak jelas, yaa mending dia jalanin aja ama si leo. Yang jelas-jelas menawarkan dia kebaikan. Gue ngomelin dia. kenapa dia baru ceritain soal tiger sekarang. Gue bilang kalo dia ceritain dari dulu, gue bisa nasehatin dia tiap hari, biar dia gak naksir berat ama si tiger.  Gue juga negasin, mending dia ama leo aja. Soalnya katanya leo itu baik dan perhatian. Gue bilang gue pengen dia dapet yang terbaik..

Pas makan malem, kita diskusi lagi, kali ini dia minta pandangan gue soal cinta. Gue bilang ama dia, kalo cinta itu sama dengan nol. Semakin banyak kita menambahkannya, semakin banyak kita menderita.

…….

Akhirnya kita pulang. Gue anterin dia sampe stasiun. Gue nungguin dia sampe naik kereta dan keretanya jalan. Saat saat lagi nungguin kereta itu, kita lebih banyak diem. Dia lebih banyak diem. Gue sendiri sebenernya agak pusing karena seharian ngebahas soal cinta. Yang banyakan gue gak ngertinya. Yang banyakan gue mikirnya pake logika aja. Kereta pun dateng. Dia belum beranjak pergi. Dia masih di tempat. 
Gue pun nanya, “kok gak masuk?”

Dia jawab, “Yip.. kok kamu mikirnya sederhana banget sih? Padahal itu kompleks.”
Dia menghela napas, lalu melanjutkan, “kamu bener-bener gak ngerti?”
Dia ngeliat gue.. terus bilang “………. Kita ini sebenernya gimana sih yip?”

…………..

Gue bingung. Gue gak ngerti maksud ucapannya. Gue mencoba nyari korelasi antara sederhana, kompleks, gak ngerti dan gimana.. tapi gue gak nemu jawabannya. Gue malah lebih kepikiran bel kereta yang udah bunyi. Petanda kereta bentar lagi mau jalan. Gue jawab:

“Maksudnya apaan ra?”

…….

Mukanya langsung bĂȘte, begitu denger jawabannya gue. Gue bingung. Akhirnya dia masuk ke kereta. Tanpa ngucapin kalimat apapun. Keretanya pun berangkat. Meninggalkan gue yang penuh kebingungan.

…….

Dua bulan setelah hari itu, kita jarang kontak-kontakan. Biasa sih. Dulu dulu juga pernah gini. Tapi kali ini, dia jarang ada pulsa, bbm dia pun seringan off. Makanya jadi bikin jauh. Gue nanyain kapan pulang, dia bilang lagi focus ama kerjaannya. Sms gue lama dibalesnya. Pas gue butuh temen diskusi, dia nya gak ada. pas gue galau, dia nya juga gak ada. padahal dulu selalu ada. saat itulah gue ngerasa kehilangan dia. gue ngerasa punya rasa yang lebih sama dia. kadang gue bingung, kenapa orang baru ngerasa cinta atau sayang justru pas dia kehilangan sesuatu yang berharga buatnya. Saat itulah gue juga bingung kenapa gue ngerasa kayak gitu.

Gue pun nanya-nanya ke temennya. Tentang dia. semuanya. Temennya bilang dia baru jadian sama leo. Terus temennya bilang, “lo sih yip bodoh, ditikung kan lo, padahal orangnya naksir sama lo tau. Udah lama. Elunya aja bego gak paham paham”

……….

Ya ya ya. cinta memang sulit dimengerti. Kadang gue bingung. Kalo kita ketabarak motor, kita bisa minta pertanggungjawaban kepada si penabrak. Tanggung jawab buat biaya perbaikan, biaya pengobatan dan biaya lainnya. Kalo kita kecurian benda. Kita bisa minta pertanggunjawaban si pencuri untuk ngembaliin atau ganti apa yang hilang itu.  Tapi gue selalu bingung sama hal ini. Kalo kita jatuh cinta sama orang. Kenapa kita gak bisa minta pertanggungjawaban sama yang bersangkutan? Entah itu pertanggunjawaban buat rasa ini, ngobatin sakit hati kita, ngobatin rindu kita, ngobatin rasa penasaran kita atau tanggung jawab untuk sekedar menerima perasaan kita…

Kenapa kita gak bisa ya?

Ya ya ya. itulah cinta.
Penuh dengan teka-teki..
Jika kamu bisa menjawab teka-teki itu, kamu bisa mendapat kebahagiaan, akan tetapi, jika kamu tidak berhasil memecahkannya, kamu hanya akan mendapat sebuah penyesalan..

Penyesalan yang indah..


Share:

Disable Adblock