Pilihan Sang Ratu (Bagian Pertama)



“Yip aku, mau cerita!” kata dia dengan mata berkaca-kaca

Dilihat dari matanya itu pun gue tau kalo dia pasti lagi ada masalah

“Ayok, nanti malam sambil makan aja yuk di olive” kata gue

“Oke jam 7 ya yip” jawabnya

Sebenernya gue udah bisa menebak apa yang akan dia ceritakan nanti. Hampir sebulan sekali kita ketemuan, berdua aja, untuk ngebahas masalah dia ini. Terkadang di sela-sela waktu sebelum rapat dimulai atau sekedar sms-an pun kita juga menyempatkan untuk membahas persoalan ini. Sebenernya kurang tepat juga sih jika menyebutnya masalah, karena hal ini hanya sebuah hal sederhana, tapi justru mengandung kekompleksan yang sangat tinggi di dalamnya, ya ini adalah tentang sebuah pilihan..

Gue udah sampai di tempat makan olive. Gue menunggu dia di parkiran motor. Di saat menunggu itu gue menduga-duga bagaimana kelanjutan kisah nya. Pertemuan terakhir dengannya, dia bercerita bahwa dia sudah jalan bareng dengan orang itu, meskipun dengan sedikit terpaksa, dan merasa tidak enak, karena itu permintaan orang tuanya..

Lamunan gue terhenti begitu gue sadar kalau dia lagi memarkir motornya di belakang motor gue.

“Udah lama yip?” katanya

“Belum kok li”

“Wah rame banget yah, eh itu ada dua bangku kosong agak di belakang, ayok kesana yip, ntar ada yang dudukin lagi”

“yaudah kamu kesana aja dulu li, biar aku yang pesen makan”

“aku pahe 4 ya yip”

“Oke”

 Gue sebenernya kurang suka, kalo makan berdua gini di tempat yang rame, soalnya ada kemungkinan besar ketemu anak-anak kampus lainnya. Kalo ada anak kampus yang liat, wah bisa jadi gossip besar nih nanti. Ini pun pertama kalinya juga, gue makan berdua sama dia, sebelum-sebelumnya, kalo pengen cerita, biasanya kita cerita di kampus. Tempat inilah tempat terbaik untuk berdiskusi. Karena, semua akan terlihat normal-normal aja kalau ada mahasiswa-mahasiswa ngobrol berdua. Dari lihat terlihat seperti sedang nugas atau rapat-rapat acara dan organisasi. Apalagi gue dan dia juga termasuk orang yang cukup dikenal di kampus karena sama-sama aktivis dan sering terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Kita pun punya jabatan penting di organisasi kita. Dan yang semakin membuat kita terlihat normal jika berdua di kampus, ya kerena kita berada di organisasi yang sama.
Tapi semua persepsi itu akan beda 180 derajat kalo di luar kampus. Jika ada orang makan berdua di luar pasti persepsinya akan beda. Seperti terlihat sedang ngedate. Mungkin.

Gue pun berharap gak ada anak kampus yang dateng ke tempat makan itu sampai kita pulang nanti.
Rumah makan olive ini merupakan tempat makan yang menyerupai KFC. Menu makannya pun ya kayak KFC. System pesanan pun sama kayak KFC. Mengantri, lalu jika sampai pada bagian kita, kita memesan, lalu membayar dan menunggu pesanan datang. Setelah datang, kita bawa sendiri ke bangku-bangku yang disana. Gue kembali melamun di saat menunggu antrian. Antrian malam itu cukup ramai karena memang sangat bertepatang dengan jam makan malam para mahasiswa.

Ingatan gue kembali ke pertemuan kita sebelumnya. Saat pertama kali dia menceritakan masalah nya.

“Yip aku dijodohin sama orang tuaku”

Begitulah ucapnya. Satu kalimat yang membuat gue kaget setengah mati begitu mendengarnya.
Gue menahan kekagetan gue dan mencoba biasa aja. “dijodohin sama siapa li?”

“Sama temen kerja ibuku yip” jawabnya dengan lemas..

“Loh kok bisa?” gue masih sok cool.

“Ceritanya panjang yip, nanti ya ku ceritain lengkapnya” katanya dengan raut wajah bingung

Lamunan gue buyar begitu kasir olive menaruh makanan pesanan kita. Gue ambil makanan itu, dan pergi ke bangku yang sudah di booking lili.

Lili sedang memainkan handphonenya begitu gue sampai di bangku meja makan. Raut Wajahnya penuh dengan berbagai ekspresi. Campuran beberapa ekspresi yang ditahan. Ya jelas sekali terlihat
Lili beranjak dari tempat duduknya. Meminta izin kepadaku untuk mengambil sebotol air mineral dan tissue. Gue mengiyakan. Dia pun berjalan menuju line kasir. Untuk membeli air mineral. Aku melihat punggung nya yang semakin menjauh. Lagi lagi aku kembali melamun dan teringat tentang berbagi hal tentang dia.

Dia adalah temen sekelas gue. Salah satu wanita tercantik di kampus. Menurut gue. Sewaktu mahasiswa baru, gue masih sangat ingat dengan jelas bagaimana gue pengen bisa berkenalan dengannya. Mengobrol dengannya. Pernah suatu ketika saat masih awal-awal jadi mahasiswa baru, gue bertemu dengannya di suatu tempat makan. Kita berpapasan. Gue tersenyum padanya, tapi dia hanya berlalu, tanpa sadar akan sapaan gue itu. Ya. Itu sudah menjawab semuanya. Gue kenal dia. tapi dia gak kenal gue. Simple kan?

Bahkan, kalo di inget-inget Butuh satu semester buat gue untuk bisa kenal dengannya.

“heh bengong aja” sapa lili sambil menaruh botol air mineral di meja. Membangunkan gue dari lamunan.

“hehehe maaf, lagi banyak pikiran.. maaf” jawab gue.

“apaan yip? Soal PH lagi? Study bandingnya ada masalah ya?”

“Enggak kok ly, Cuma masih bingung aja ntar bakal ninggalin anak anak (Para staff dan Kadept) dua bulan lebih. Mereka bakal bisa gak ya ditinggal ketua-ketuanya?”

“Bisalah pasti yip, kadept-kadeptnya (Kepala Departemen) kan bagus-bagus semua kan”

“iya sih li.. tapi.. eh.. cukup.. sekarang kan giliran kamu yang cerita. Giliran ku kemarin udahan kan? Heheh.. Jadi kamu mau cerita apa? Gimana kelanjutannya? Jawab gue dengan antusias

Wajahnya mendadak berubah. Berbagai ekspresinya yang dari tadi ia coba sembunyikan semakin terlihat. Dia terlihat ragu, malu dan bingung..

“gapapa li ceritain aja…” kata gue dengan selembut mungkin…

Wajahnya memerah, menatap gue lamat-lamat, dia pun menghirup napas dalam-dalam..

Sang ratu pun mulai bercerita…

To be continued..


Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock