Misteri Rumah Ibu Sri



 “Hati hati ya mas, kalo tengah malem, dari kamar yang di pojok sana suka ada yang manggil-manggil !”

Itulah kalimat penutup yang gue dengar dari salah seorang warga desa ketika gue bersama kelompok tugas lapangan survey ke desa dimana kita nanti ditempatkan. Sebuah desa kecil bernama Desa Fusa yang berada di pelosok Pekalongan. Tentu saja, kalimat singkat tersebut langsung membuat kami semua bertanya-tanya sekaligus penasaran dengan apa yang ada di dalam homestay itu. Salah satu temen sekelompok gue, Nisa, menambahkan, “gue barusan liat liat ke dalem rumah, tau gak sih, rumahnya banyak hantunyaaaaa” kata Nisa dengan wajah polos.
Ya. Nisa memang spesial. Diantara 11 anggota kelompok kami, Dia lah satu-satunya orang yang memiliki indera keenam. Dia bisa melihat makhlus halus dan sejenisnya dengan mata telanjang.

“Nis, pokoknya selama sebulan ke depan, kamu gak boleh ceritain semua hal serem yang terjadi di rumah ini. Kamu baru boleh cerita setelah tugas kita selesai nanti. Oke?” kata gue.

Gue gak pengen sebulan hidup kami disini nanti dibayangi oleh rasa takut dan parno. Gue juga gak pengen anggota kelompok gue kepikiran hal yang macam-macam. Itulah alasan kenapa gue memilih untuk merahasiakan semua hal ini kepada anggota kelompok yang lain.

Akhirnya tugas lapangan pun dimulai..
Homestay yang kami tempati merupakan rumah yang sudah lama tidak ditempati. Rumah Ibu Sri namanya. Ibu Sri sendiri sekarang tinggal di Jakarta bersama anaknya. Rumah Ibu Sri bisa dibilang sebagai rumah terbesar, terluas dan termegah yang ada di Desa Fusa. Rumahnya adalah satu-satunya rumah bertingkat yang ada di desa. Di lantai dua rumah ibu sri, ada empat kamar tidur, satu kamar mandi dan satu beranda.  Diantara empat kamar tersebut hanya satu kamar yang bisa tempati, sedangkan tiga kamar lainnya sudah tidak layak untuk disebut kamar. Ada satu kamar yang lantainya sudah hancur, ada satu kamar yang tidak bisa dibuka sama sekali dan ada kamar yang cukup luas namun sudah berubah fungsi menjadi sarang wallet. Di kamar terakhir inilah semua kisah seram yang kami alami dimulai.


Di lantai dasar rumah Ibu Sri, ada berbagai ruangan. Ada ruang tamu, ruang tengah, dua kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur. Di depan dapur ada satu ruangan yang tidak jelas fungsinya. Ruangan ini berukuran 4x6 m dan terletak di depan dapur dan kamar mandi. Ruangan ini hanya terdapat tiga kursi berjajar yang letaknya persis diseberang pintu kamar mandi. Jadi begitu kita buka pintu kamar mandi dari dalam, maka tiga kursi inilah yang kita lihat pertama kali. Gue sendiri kurang mengerti kenapa ada kursi di ruangan yang tidak dipakai ini.
Di belakang rumah ibu sri ada perkarangan yang cukup luas. Ada tempat untuk menjemur pakaian, ada tempat untuk mencuci baju, ada kandang burung merpati, lapangan badminton dan ada satu tempat yang besar namun sudah tidak terpakai. Tempat itu dulunya pabrik kerupuk. Di samping pabrik, ada 3 kamar berjejer. Kamar kosong yang dulunya sebagai tempat tinggal buruh pabrik. Secara keseluruhan perkarangan ini terlihat agak menyeramkan.
…….
Hari kedua tugas kami ditandai dengan jatuh sakitnya salah satu anggota kami. Riska. Kejadian sakitnya riska Cukup membingungkan.Siang harinya kami masih tertawa bersama-sama. Tapi begitu sore hari riska mendadak diam di kamar, dengan alasan tidak enak badan. Selepas maghrib riska belum mau keluar kamar juga. Waktu itu hujan sangat lebat. Kami pun menengok riska di kamar. Riska terkena demam tinggi. Suhu tubuhnya panas sekali. Kami pun berencana membawa Riska ke Klinik terdekat, namun hujan lebat menghalangi semua rencana tersebut. Hujan tak kunjung berhenti, riska semakin meringis kesakitan. Kami pun sepakat membawa Riska ke bidan desa. Nekat menerjang hujan. Sesampai di rumah bidan desa, riska segera di bawa ke kamar praktek yang ada di rumahnya juga.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya riska selesai diperiksa dan diberi obat. Menurut bu Ami, bidan desa, Riska terkena infeksi pada telinga dalamnya. Itulah yang menyebabkan dia demam. Bu Ami menegaskan bahwa Riska akan baik-baik saja. Hanya penyakit biasa. Kami pun segera pulang. Di tengah rerintikan hujan, nisa berbisik kepada gue,

“Yip dari hari pertama kemarin, pas kita makan siang sampe sekarang, Riska diikutin sama Kakek Tua “Penghuni” rumah. Dia ngikut Riska kemana aja. Bahkan sekarang pun, kakek itu masih ada di belakang Riska !”

Begitu gue liat kalo dibelakang Riska gak ada siapa-siapa… Gue langsung merinding saat itu juga ….
…………..
Suatu hari, Gue, Ariel, Harry dan Leon masuk ke kamar sarang wallet. Rasa penasaranlah yang menuntun kita untuk memasuki kamar tersebut. Kamar ini terbilang luas karena ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Kamar ini benar-benar kotor dan bau busuk. Lebih pantas disebut kandang dibandingkan kamar. Di sudut sudut ruangan banyak terdapat sarang wallet. Ketika memasuki kamar mandi, bau busuk semakin tercium. Disana ada satu bathub yang kotor sekali. Banyak noda noda kotor menghiasi permukaan bathub tersebut. Kamar ini memiliki aura yang beda. Aura yang membuat tidak nyaman. Kami terkejut ketika menemukan beberapa burung wallet yang mati tergantung oleh benang yang melilit leher burung tersebut. Kenapa wallet tersebut bisa tergantung? Gue bertanya-tanya dalam hati. Kebanyakan burung yang mati sudah berbusuk, dan sebagian lainnya ada yang tinggal tulang-tulang saja. Gue, leon dan ariel sibuk melihat-lihat sarang wallet, sedangkan harry duduk duduk aja di depan kamar mandi berbathub itu. Anehnya kita gak menemukan wallet yang hidup disana. Bahkan telur atau anaknya tidak ada. padahal ada banyak sarang wallet disana. Keasikan kami mencari wallet pun terusik ketika harry tiba tiba memanggil kami dengan ekspresi wajah innocent ketakutan sambil menghadap bathub,
“Bro keluar yok… ada cewek duduk disana…”..
Gue, ariel dan leon saling bertatap satu sama lain. Dahi kami bertiga mengerut. Gak percaya dengan apa yang dikatakan harry barusan. Tapi wajahnya bener bener ketakutan.
Gue ngerasa ada yang nwasin kami berempat.
Kita pun mendekat kearah harry secara perlahan. Sesampainya disana kami semua menengok dengan penasaran kearah bathub. Dan benar benar terlihat dengan jelas, seorang wanita berbaju putih kusam sedang duduk di pinggiran bathub dengan rambut panjangnya yang menutupi wajah.
Bulu kuduk di belakang leher gue tersengat dengan hebatnya. Tanpa pkir panjang, Kita pun langsung lari terbirit-birit keluar kamar..
………
Semenjak penampakan yang diliat Harry di kamar wallet, banyak kejadian aneh yang menimpa anggota kelompok kita. Seringkali ketika salah satu dari kami sedang mandi, ada aja yang mengetuk pintu kamar mandi dari luar, padahal tidak ada siapa siapa disana. Terkadang bukan ketukan pintu yang terdengar, tapi suara tertawa yang aneh. Gaya tertawa yang bukan seperti manusia. Selain itu, Ketika diantara kami ada yang mencuci baju pun kami sering merasakan adanya “makhluk” lain bersama kami. Kami merasa seperti ada yang berdiri di belakang kami, padahal jelas jelas tidak ada orang disana. Di kamar cewek pun ketika tengah malam, sering terlihat bayangan wanita terbang di dinding.. Kejadian-kejadian tersebut terus berlangsung tiap harinya.
Akhirnya kami pun mendapatkan jawaban atas kejadian aneh yang menimpa kami. Ketika kami semua kumpul, Harry menceritakan mimpi nya semalam. Jadi di mimpi itu, dia bertemu dengan seorang kakek tua, seorang wanita yang wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya dan seorang anak kecil botak. Pada mimpinya, kakek tua itu menyuruh si Harry keluar dari rumah tersebut. Sang kakek terus menyuruh kami untuk keluar dari rumah tersebut. Si harry pun menjelaskan kalo kami tidak bisa keluar, karena kami sedang tugas lapangan disini. Namun, kakek tersebut terus mengucapkan kata “keluar, keluar dan keluar”, sampai si harry terbangun di pagi hari.
Mendengar cerita tersebut semua anggota kelompok gue langsung terdiam. Para wanita menunjukan ekspresi cemasnya. Sedangkan para cowok diam tanpa ekspresi. Gue, selaku ketua kelompok akhirnya mencoba untuk menenangkan keadaan. Gue yakinkan mereka kalo kita bakal baik baik aja. Gue tekankan kalau Kita harus tetep fokus dengan tugas lapangan yang lagi kita kerjakan ini. Gue pun bikin suatu rule, agar dimanapun dan kapanpun, kami semua gak boleh ada yang sendirian. Kami harus saling menjaga satu sama lain.
……….
            Gue, leon, dimas dan tiko lagi jogging sore itu. Lari lari kecil mengelilingi desa cukup membuat pikiran gue lebih jernih. Saat sedang duduk duduk di pinggiran sawah tiba tiba ada pesan wa dari intan.
“Ayip lagi dimana? Cepet pulang, please”
Mencium ada yang gak beres, kami langsung bergegas balik ke homestay.
10 menit kemudian gue sampe di homestay. Di homestay Cuma ada Nisa, Rina, Intan, dan Putri. Harry dan ariel lagi ke kota beli makan malam. Gue gak ngelihat riska saat itu.
Gue nanya intan ada kejadian apa. Putri yang ngejawab. Dia cerita soal Riska. Katanya, sejak jam setengah 5 sore, riska terus terusan di kamar dan gak mau keluar. Saat di kamar itulah si riska tertawa dan menangis secara bergantian. Dia menangis kejar ambil ngomong gak jelas, setelah diam lalu dia ketawa cekikikan.
Gue langsung ngelihat nisa saat itu juga. Gue memandang nisa sekaligus bertanya melalui isyarat mata
“dia diikutin lagi kah?”
Nisa mengangguk pelan.
Setelah kejadian riska sakit waktu itu sebenernya gue udah feeling kalo kejadian itu bakal terulang lagi.
Gue berbisik ke nisa
“masih diikutin makhluk yang kemarin?”
“engga yip, sekarang beda lagi. riska kayaknya kerasukan anak kecil botak deh. Yang biasa main di pabrik kerupuk itu” Jawab nisa
Gue langsung lemes.
Kami semua pun langsung ke kamar riska. Saat kami semua dateng, riska sedang tidur menghadap ke dinding, posisinya membelakangi kita, ia menangis tersunguk sunguk. Kali ini sambil teriak teriak sebuah nama sambil menggumamkan sesuatu. Cuma gue gak denger dengan jelas.
“ris siap siap yuk, kita solat maghrib di mesjid” Kata rina membuka percakapan
“Iyar ris ayok, udah mau maghrib nih” lanjut putri
Riska ga mengubris kami sama sekali. Dia tetep menggumam gak jelas sambil menangis.
“ris, kalo ada apa-apa cerita sama kita aja ya. Pasti kita bantu kok kalo kamu ada apa-apa” kata gue
Kita semua terus membujuk riska agar mau keluar dari kamar itu. Tapi tetep gak ada respon sama sekali. Dia terus aja menangis sambil membelakangi kita.
Kami semua khawatir.
Tiba-tiba nisa narik tangan gue. Dan berbisik
“yip kita harus keluar sekarang” kata dia sambil ngelihat kearah beranda.
Gue yakin ada yang gak beres. Daripada keadaan makin semrawut. Gue ikutin langsung omongan nisa.
Gue pun ngasih isyarat ke yang lain untuk sholat maghrib aja dan ninggalin riska disana unuk sementara.
Saat kita bergegas meninggalkan riska, tiba tiba tangisan riska berhenti.  Gue ngelihat yang lain gak pada sadar. Karena mereka ya langsung jalan aja. Gue pun penasaran. Sambil jalan menuruni tangga gue nengok kearah riska..
Gue ngelihat riska menyeringai mengerikan ke gue dengan mata melotot !
Jantung gue berdegup dengan cepat. Bulu kuduk belakang leher gue tersengat kemudian merinding. Mata gue gak bisa lepas dari pandangan menyeramkan itu. Gue bener bener kaget. Gue berkata dalam hati, “Siapa ini? Ini orang bukan riska yang gue kenal”
“ayo yip cepet” kata nisa sambil narik tangan gue
Gue pun mengalihkan pandangan gue. Sambil menuruni tangga, gue mendengar tawa cekikikan dari riska, tawa yang gak pernah gue denger dari dia sebelumnya.
………
            Kami semua selesai sholat maghrib berjamaaah. Harry dan ariel pun sudah datang dengan membawa makan malam. Kami semua makan bersama. Tiba tiba riska terlihat menuruni tangga. Sampai di bawah dia melihat kami semua lagi makan.
            “ih guys kalian kok jahat sih gak bangunin gue? Udah jam segini loh. Kalian juga ninggalin gue makan. Betelah” kata riska seperti riska biasanya
            Kami semua diam. Semua mata anak-anak tertuju pada riska
            “kalian kenapa sih?” kata riska lagi
            “Ayok sini makan ris, tadi kta gak enak bangunin lu, abisnya lu tidurnya nyenyak banget sih” kata nisa memecah keheningan
            “sorry sory ya ris ayok sini ikutan makan” kata ariel
Akhirnya riska kembali seperti semula. Lagi makan malam itu gue menatap riska lekat lekat tanpa sepengetahuannya, dalam hati gue berdoa,
“Ya Allah semoga kejadian tadi sore tidak terulang lagi”
……..
……..
Saat itu jam 9, malam jumat kliwon. Kami sekelompok baru saja selesai memberi les tambahan kepada anak anak desa dan sedang berdiskusi tentang kegiatan pengabdian masyarakat kami yang akan dilakukan esok hari. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika kami selesai berdiskusi. Anggota yang lain pun segera pergi tidur, menyisakan gue, leon dan rina. Kami bertiga sedang membicarakan keuangan kelompok. Ketika sedang menghitung uang, gue dan rina melihat Intan lagi menjemur baju di ruangan depan kamar mandi.

“Yip barusan liat kan kalo itu Intan?” kata Rina
“iya liat kok, ngejemur apa lagi itu anak malem malem?” jawab gue
“bukan gitu yip !, bukannya si Intan udah masuk kamar daritadi?” ujar Rina
Gue sama Leon diem. Mikir. Leon pun manggil Intan untuk memastikan.
“taaaaannnnnn, kamu di kamar kan?” kata Leon
“iyaaa le, gue di kamar. Kenapa?” Jawab Intan

Gue, Leon dan Rina langsung diem. Kita menengok ke tempat jemuran lagi, dan gak ada siapa-siapa disitu. Wajah Rina langsung ketakutan. Bulu kuduk gue pun merinding. Leon ngerasa gak nyaman. Penampakan tadi beneran jelas keliatan. Meskipun penampakannya berwujud Intan, tapi tetep aja menyeramkan. Gue yakin kalo itu adalah sebuah pesan buat kita semua. Pesan yang gak gue ngerti maksudnya apa..
Akhirnya gue mutusin untuk selesain diskusi keuangan saat itu juga. Kita semua langsung tidur. Harus tidur dan gak ngapa-ngapain lagi..
Tapi, ternyata “ke nightmare” an ini baru aja dimulai kawan…
……
Harry, dimas, tiko dan Ariel udah terlelap. Gue dan Leon pun segera berusaha untuk tidur. Sejujurnya, pikiran gue kalut banget. Gue masih gak percaya dengan apa yang gue liat tadi. Gue ragu apakah gue bakal bisa tidur apa enggak. Gue liat Leon memilih baca buku untuk membantunya segera tertidur. Gue pun memaksakan memejamkan mata agar segera lekas tertidur. Dan gue pun berhasil tertidur.
……..
PLAAAK !!!
Gue kebangun. Gue ngerasa kayak ada yang menampar kuping gue. Jelas banget terasa. Gue melihat Harry, tiko, dimas, Leon dan Ariel udah pada tidur. Jadi bukan mereka yang melakukannya. Saat ini pukul satu malam. Dan gak ada siapa siapa lagi yang masih bangun selain gue. Siapa yang nampar gue barusan? Pasti Cuma mimpi, kata gue dalam hati. Gue pun tertidur lagi.
PLAAK !!! PLAAAK !!!
Lagi-lagi ada yang nampar kuping gue. Kali ini dua kali. Gue terbangun. Gue lihat gak ada siapa siapa. Cowok-cowok pun masih pada tidur. Gue yakin yang tadi itu bukan mimpi. Ada yang beneran nampar gue. Tapi siapa?
 Bulu kuduk gue tiba-tiba merinding…
Gue mulai merasa gak nyaman. Gue merasa panas. Gue juga merasa dingin. Bulu kuduk gue, mulai dari tengkuk hingga tangan merinding semua. Gue langsung menutup semua tubuh dengan selimut, sambil berucap doa.
Panas dan dingin tetep menyelimuti hawa disekeliling. Gue mendengar seseorang batuk. Dari arah suaranya, terdengar kalau orang yang batuk ini, posisinya ada di depan kasur gue. Batuk ini berbunyi keras. Batuk kering. Dan kedengerannya mengerikan. Gue belum pernah mendengar batuk seperti ini sebelumnya. Mulut gue terus berkomat kamit mengucap doa. Gue juga terus berusaha memejamkan mata.
“EHEK ! EHEK !
Lagi lagi batuk mengerikan itu terdengar lagi. Kali ini suaranya semakin jelas. Gue benar benar yakin kalau orang yang batuk itu ada di depan kasur gue. Bulu kuduk gue semakin merinding. Gue mengintip dari balik selimut, temen-temen gue masih pada tidur dan tidak ada yang terbangun. Saat itu juga gue mendengar suara kasak kusuk dari dalam lemari baju. Lalu dilanjutkan dengan suara pintu lemari yang terbuka dan tertutup sendiri. Suasana makin horror. Gue terus berdoa dibalik selimut yang menutupi tubuhku. Kali ini doanya gue kencangkan. Gue sedikit teriak. Dan saat gue mau berdoa dengan keras, semua tubuh gue gak bisa bergerak…
Tangan dan kaki gue terkunci. Posisi badan gue tengkurap. gue gak bisa ngomong. Napas pun susah. Gue merasa seperti ada yang menutup mulut, mengikat tangan dan kaki gue. Gue juga merasa ada yang duduk di punggung gue. Seluruh tubuh gue benar-benar merinding hebat. Setengah tubuh merasa panas dan setengah lagi merasa dingin. Dalam kondisi itu gue masih terus berdoa. Gue baca semua surat surat yang gue hapal. Saat itu, gue bener bener merasa ketakutan….
Suara pintu lemari masih terdengar. Lalu gue juga mendengar suara kantong plastik diremas. Disusul kemudian suara sendok beradu dengan piring, seperti suara orang lagi makan. Ada juga suara tertawa yang biasa terdengar di kamar mandi, dan juga suara seperti teriakan yang memekikkan telinga. Suara-suara tersebut terdengar bising sekali. Gue bingung kenapa temen-temen gue tetap tak bangun dengan suara seberisik ini. Apa jangan-jangan hanya gue yang mendengarnya?
Semakin lama, suara-suara tersebut semakin terdengar jelas dan dekat. Gue yakin suara – suara itu sekarang ada tepat di depan telapak kaki gue. Gue merasa keberadaan “makhluk” disana..
Gue masih tak bisa bergerak. Gue berusaha sebisa mungkin untuk bergerak. Tapi tetep gak bisa. Gue mencoba memanggil nama Harry, dimas, tiko, Ariel dan Leon. Tapi gak ada bunyi yang keluar dari mulut gue.. Gue terus membaca doa dalam hati.. Gue bener-bener takut saat itu. Gue takut dengan suara-suara itu. Gue takutt dengan “makhluk” disana..
Gue gak tau sudah berapa lama gue terjebak dalam kondisi ini. Gue bahkan gak bisa membedakan apakah ini kenyataan atau hanya mimpi. Tapi, ada satu hal yang membuat gue yakin kalau itu nyata, yaitu adanya “sesuatu” yang menarik-narik baju gue. Gue masih terus berdoa. Semakin banyak doa yang gue lapalkan. Gue mulai merasa enakan. Gue sudah mulai bisa bernapas, gue sudah mulai bisa bergerak juga. Hawa panas dan dingin yang gue rasain sebelumnya berangsur-angsur hilang. Tapi gue tetap merasakan merinding di sekujur tubuhku dan suara-suara di depanku. Gue pun memberanikan diri membuka selimut dan melihat apa yang ada di depanku. Sambil membaca doa, kubuka selimut dan gue lihat sesosok orang..
Sesosok orang hitam tinggi besar yang tak terlihat wajahnya saking tingginya sosok itu. Gue semakin gak bisa membedakan ini mimpi apa bukan. Pas gue lihat sosok itu, gue langsung merasa panas di sekujur badan, yang mana membuat gue yakin kalau ini bukanlah mimpi, dan saat itu pula gue ditimpa dengan batu besar tepat di dada oleh sosok menyeramkan tersebut….
Gue gak inget apa-apa lagi setelah itu
……….
Hari itu seminggu setelah tugas lapangan kami selesai. Kami kumpul kembali untuk melepas rindu. Pada kesempatan tersebut, gue minta Nisa buat ceritain semua hal hal serem yang dia liat selama tugas kemarin ke anak-anak yang lain. Nisa cerita tentang indera keenam dia, dia juga cerita bahwa 3 kursi yang di depan kamar mandi adalah tempat favorit “penghuni” rumah itu, yaitu si kakek tua, wanita dan anak kecil botak. Gue pun menceritakan kejadian ketika gue didatangi sosok hitam menyeramkan yang menghantui gue tempo hari. Anehnya, ternyata Leon, dimas, tiko, Harry, Rina, Intan, Riska, dan Putri mengalami hal yang sama dengan yang gue alamin, tapi dengan sosok yang berbeda-beda. Hanya Nisa dan Ariel yang selamat dari penghantuan itu.
Ternyata, Kejadian aneh yang mengganggu kita selama tugas lapangan kemarin  diakibat ulah cowok-cowok yang masuk sembarangan ke kamar wallet tanpa izin. Hal itu dikarenakan kamar wallet adalah “rumahnya” sang penghuni rumah. Begitulah yang dikatakan Nisa.
Entah kenapa saat cerita-cerita seram itu diungkapkan kami semua jadi merinding sendiri.
Intan pun menyetop pembicaraan seram kita dan meminta untuk mengganti topik. Soalnya dia pernah mendengar bahwa jika ada yang cerita hantu, biasanya hantu itu akan datang menghampiri.
Kita pun berganti topik.
Begitu kumpul-kumpul selesai. Kami semua pulang ke kosan masing-masing.
Sesampainya di kosan, ada satu pesan masuk di grup whatsapp kelompok kami. Pesan itu dari nisa. Pesannya sih simpel. Tapi bikin kita semua ketakutan setengah mati malam itu juga.. Bunyi pesannya gini

“Teman-teman sorry tadi gue gak bilang, abisnya takutt kalian gimana-gimana ntar. Tau gak, pas kita kumpul tadi, si “kakek tua” itu ada disana juga loh.. Dan pas kita pulang, dia ngikutin salah satu dari kita sekarang…”


Share:

1 comment:

  1. Ini cerita nyata atau hnya imajinasi? Ih serem...

    ReplyDelete

Disable Adblock