Kualitas Diri




Beberapa waktu yang lalu gue pernah menghadiri suatu sesi interview lamaran kerja. Kondisinya cukup rumit. Jadi sehari sebelumnya, gue masuk kerja dan dapet shift siang. Shift siang sendiri dimulai dari jam 14.00 – 22.30. Nah waktu itu gue masih kerja di Tangerang dan ngekos disana, sedangkan lokasi interviewnya ada di Jakarta, cukup deket dengan rumah gue. By the way gue orang Jakarta dan tinggal disana. Alhasil begitu pulang kerja, gue langsung ngelaju ke rumah. Lama perjalanan sendiri kurang lebih satu jam. Gue sampe di rumah jam 12an.

Jadwal interview gue waktu itu jam 8. Gue dateng jam setengah 8. Nah pas interview gue gak bawa apa-apa. Cuma modal bawa diri aja. Sebelumnya gue udah pernah ngirim CV gue via email ke perusahaan tersebut. Nah gue ga sempet buat ngeprint CV dan application letternya karena memang waktu-waktu sebelumnya gue bener-bener sibuk kerja. By the way kerjaan gue saat itu bener-bener menyita waktu dan cukup menguras fisik.

Gue di interview pertama sama orang HRD nya. Saat itu gue ditanya bawa CV apa engga. Gue minta maaf karena ga bawa CV dan gue jabarin alasan-alasan gue diatas. Akhirnya Orang HRD itu dengan baik hatinya mem-print-kan CV gue. Dan sesi interview pun dimulai.

Setelah selesai interview, gue diminta untuk menunggu sebentar, karena interview selanjutnya itu dengan Managernya yang kebetulan saat itu sedang meeting. Gue nunggu di ruang tunggu yang disana ada seorang receptionist. Seorang wanita seumuran gue (kayaknya). Pada periode menunggu waktu tersebut sang receptionist ngajak gue ngobrol.

“Kamu gak bawa CV ya pak?” katanya

“gak bawa bu, gak disuruh bawa juga kemaren” jawab gue

“Kalo ijazah atau sertifikat-sertifikat gitu bawa ga pak?”

“Gak bawa juga bu, emang buat apa ya?” kata gue

“Ih kalo interview-interview gitu harus bawa sertifikat-sertifikat pak, sertifikat pelatihan-pelatihan, seminar atau prestasi gitu pak” kata dia

“Oh gitu ya bu” jawab gue

“iya biar bisa keterima pak”

Gue nganguk-ngangguk aja.

Dari raut wajahnya dan cara bicaranya keliatan kalo receptionist ini agak pesimis kalo gue bakal keterima kerja di perusahaan itu, ya gara-gara gue gak bawa apa-apa kesana.

Beberapa saat kemudian gue interview dengan Manager.

Setelah interview selesai, sang receptionst diminta orang HRD untuk menyiapkan berkas gue, karena akan diajukan untuk interview akhir dengan Direksi. Nah biasanya di perusahaan tersebut kalo sudah lolos ke interview Direksi, maka 90% akan diterima.

Gue pun pamit pulang karena interview akhir masih akan dijadwalkan waktunya. Sesaat gue mau pulang, gue ngeliat wajah bingung dan penuh tanda tanya sang receptionist ketika dia tau gue lolos interview akhir. Saat itu gue Cuma balas dengan senyuman aja.

……

Setiap gue ikut suatu pelatihan atau seminar, Gue selalu meniatkan agar gue bisa mendapat wawasan, ilmu, skill, pengalaman dan pengatahuan dari pelatihan dan seminar tersebut. Bukan meniatkan untuk mendapat sertifikat. Meskipun sertifikat merupakan bukti otentik kalo kita ikut pelatihan tersebut, tapi bukti nyatanya adalah bagaimana kita bisa dengan baik dan benar dalam mengimplementasikan pelatihan tersebut.

Sebagai contoh, kita ikut pelatihan public speaking. Kita dapat sertifikatnya. Nah tapi saat kita diinterview tapi kita malah gak bisa berkomunikasi dengan benar (Contohnya banyak ngomong, “eee”), yaaa kan jadi gak kredibel pelatihannya.

Contoh lainnya saat kita ikut training kepemimpinan, punya sertifikatnya, tapi ketika ditanya pemimpin yang ideal kayak gimana, kita malah gak bisa menjawabnya, ya kan malah meragukan hasilnya.

Jujur aja, pas gue interview, gue gak menunjukkan kalo gue udah ikut pelatihan apa aja, tapi, gue banyak ceritain pengalaman-pengalaman gue. Pengalaman ketika berorganisasi, ketika berwirausaha, ketika memanage orang di pekerjaan gue saat itu maupun pekerjaan gue sendiri. Gue pun juga menceritakan, apa-apa aja yang sudah gue capai sejauh ini, bagaimana step-step gue melakukannnya dan bagaimana gue mengkonsep semua itu. Dengan berbagai pengalaman tersebut, maka interviewer pasti akan lebih mudah mempercayai dan kita, sebagai pihak yang diinterview akan lebih enjoy, percaya diri dan meyakinkan.

Saat saat dimana gue berhasil mencapai sesuatu, memecahkan suatu masalah atau sukses membuat strategi, saat itulah terlihat dengan nyata hasil dari semua pelatihan/seminar yang pernah gue ikutin.

Karena itu, gaperlu kita menggembor-gemborkan apa-apa saja yang pernah kita ikuti, tapi cukup kita bicarakan dengan tindakan nyata, maka dari situlah kualitas dirimu akan terlihat dan ternilai.

Share:

Pemimpin Ideal Masa Kini




Ajang pemilihan pemimpin di Indonesia, baik pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada) atau bahkan pemilihan ketua RT sekalipun seringkali dipenuhi dengan intrik. Segala hal yang berkaitan dengan intrik-intrik perebutan tahta bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk diperlihatkan, diperbincangkan dan diberlakukan oleh oknum yang terlibat dalam pusaran pemilihan. Kita semua pasti menganal istilah black campaign, money politics atau serangan fajar menjelang waktu pemilihan tiba. Istilah tersebut kini sudah menjadi topik yang mainstream, bukan karena sering diperbincangkan di acara televisi atau menjadi headline di surat kabar tapi memang karena betul-betul terjadi di dunia nyata maupun dunia maya.

Kita hidup di zaman tekhnologi, dimana arus informasi bergerak sangat cepat dan sangat mudah diakses oleh siapapun dan dimanapun. Sosial media sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Begitupun ketika momen pemilihan tiba. Sosial media seringkali dijadikan alat kampanye para oknum dalam menyukseskan misi pemenangannya. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk penyebaran “berita sampah”. Mengapa saya sebut berita sampah, karena dalam konten berita tersebut tidak ada manfaat yang bisa diambil dan seringkali tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya. Terkadang berita sampah ini membuat berita akan penebar kebencian, berita penuh kebohongan bahkan berita yang tidak masuk akal. Berita sampah ini bertujuan untuk penggiringan opini publik terhadap salah satu peserta pemilihan

Sebagai masyarakat, kita sebaiknya cerdas dan bijak dalam menggunakan sosial media yang ada, termasuk dalam menanggapi isu isu sensitif, yang ada di dalamnya.

Pendidikan gratis, kesehatan gratis, sembako murah, itulah embel-embel yang selalu ditawarkan calon pemimpin di hampir setiap ajang pemilihan yang ada. Mereka seolah lupa kalau pemimpin-pemimpin sebelumnya juga menawarkan hal yang sama. Mereka pun seolah buta, mengingat lawan-lawannya juga menggunakan embel-embel tersebut untuk bersaing dengannya. Apakah pendidikan gratis akan mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah kesehatan gratis dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat? Dan, apakah sembako murah akan membuat taraf hidup masyarakat kurang mampu menjadi naik? Mungkin iya. Bisa juga tidak. Memang benar bahwasanya hal-hal itulah yang sering menjadi pokok permasalahan di masyarakat. Namun, apakah pemimpin ideal akan berpikir sesederhana itu? Tentu saja tidak !

Seorang pemimpin akan dikatakan ideal ketika ia santun dan bijak dalam bersikap, penuh inovasi dan kreativitas dalam bekerja, serta visoner dan cerdas dalam berpikir.
Oleh karena itu, seorang pemimpin ideal akan memasukkan konsep pembangunan manusia dalam program kerjanya. Karena, jika ia hanya menggratiskan sesuatu, memurahkan sesuatu, maka tak akan terjadi perkembangan yang berarti untuk kedepannya. Justru yang ada hanyalah siklus lingkaran setan. Siklus yang berulang-ulang terjadi. Tanpa ada solusi yang jelas untuk menghentikannya.

Lain halnya jika ia membangun manusia. Manusia menjadi fokus utama dalam rencana pembangunannya. Maka ia akan menghasilkan manusia manusia super yang kelak akan membantunya dalam menyelesaikan visi misi dan program kerja nya serta menjadi generasi penerus yang hebat di masa mendatang.

Tren kepemimpinan yang ada saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman-zaman orde baru. Jikalau dulu kita sering mendengar istilah, “asal bapak senang” atau paradigma akan pemimpin yang sering berada di belakang meja, kini model kepemimpinan tersebut sudah mulai ditinggalkan, ya meski ada juga yang masih menggunkannya. Kini para pemimpin sudah banyak yang turun ke jalan. Istilahnya blusukan. Mereka terjun untuk melihat langsung permasalahan yang ada, mendengar langsung keluhan yang ada dan memberikan solusi langsung terhadap persoalan yang ditemuinya. Di satu sisi ada juga juga pemimpin yang dikenal “kekinian” karena eksistensinya di sosial media. Mereka menggunakan sosial media untuk memaparkan keberhasilan programnya, menginformasikan program kerjanya dan menampung aspirasi warganya.

Fenomena ini sudah menjadi tren pemimpin masa kini dan banyak memberikan respon positif dari masyarakat. Inilah yang disebut dengan kepemimpinan transformasional.

Menurut saya, pemimpin ideal bukanlah objek, melainkan sebuah jalan. Jalan kehidupan seseorang. Seorang pemimpin akan dikatakan ideal bukan ketika ia memenangkan pemilihan, bukan pula ketika ia terpilih lagi di pemilihan sesudahnya, akan tetapi pemimpin ideal adalah pemimpin yang dalam masa kepemimpinannya ia menepati janji-janjinya, membayari utang-utangnya, memperbaiki kekurangannya dan membawa perubahan yang baik untuk diri dan lingkungannya. Ia ideal selama masa kepemimpinannya.

Oleh karena itu, ketika seorang calon pemimpin berhasrat ingin menjadi pemimpin ideal, maka jadikanlah itu sebagai jalan, bukan tujuan, sebagaimana kawah Candradimuka, tempat Empu Anggajali membentuk seorang Gatot Kaca.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day9


Share:

Wujud Cinta Pemuda dalam Melawan Ghoziwul Fikr




Peradaban islam sedang mengalami kemunduran. Beragam masalah umat kini gencar menerjang. Mulai dari gerakan radikal mengatasnamakan islam (ISIS), paham sekulerisme yang sudah menyebar luas, paham lesbian gay transgender dan biseksual (LGTB), pemerosotan moral bangsa hingga serangan ghoziwul fikr. Sungguh miris menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa bangsa dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia ini sedang mengalami permasalahan-permasalahan yang tak kunjung selesai.
Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita berita kekerasan yang cukup memprihatinkan, adanya pesta gay di sebuah tempat fitness, aksi brutal anak SD yang memukuli teman sekelasnya, seorang pemuda yang tega membunuh kakeknya hanya karena kesal akibat sering dimarahi, sekelompok remaja yang menari dengan gerakan sholat, hingga kasus yang cukup mencengangkan seperti seruan ISIS kepada muslim Indonesia untuk bergabung bersamanya. Hal Ini menunjukan bahwa pemuda sedang diambang pemerosotan aqidah dan akhlak. Fakta-fakta yang terjadi membuktikan bahwa banyak pemuda muslim yang hanya sekedar muslim. Ia tidak tau esensi dan makna dari muslim itu sendiri.
Umat muslim saat ini pun sudah mulai terdoktrin paham sekulerisme. Pengatasnamaan profesionalitas seringkali memisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan personal. Agama seolah punya “koridor” nya sendiri dalam kegiatan sehari-hari. Tidak bisa dan tidak boleh disatukan dengan kegiatan lain. Padahal sesungguhnya agama (islam) bagaikan sebuah pakaian pada manusia, yang berfungsi melindungi dari hal hal yang bathil. Selain itu,  sebagian besar umat masih beranggapan bahwa berdakwah hanyalah tugas seorang ustadz atau ulama. Padahal berdakwah adalah wajib bagi setiap muslim. Sama hal nya dengan menuntut ilmu. Lalu, jika menuntut ilmu saja kita mau, mengapa untuk berdakwah kita masih mengingkari?
Pembodahan-pembodahan yang dilakukan oleh media pun semakin memperparah kondisi umat. Ghoziwul fikr (perang pemikiran) yang dilakukan oleh bangsa asing demi memecah belah islam dan menanamkan paham yang berseberangan dengan islam kini sedang di puncak-puncaknya. Banyaknya tayangan televisi yang mempertontonkan pergaulan bebas dan budaya hedonisme adalah salah satu contoh perang pemikiran sedang berlangsung. Belum lagi kebebasan internet yang makin menjangkau segala umur tanpa ada batasan dalam penggunaanya. Konten hoax, anarkisme, liberalisme, pornografi dan fitnah-memfitnah serta ujaran kebencian dapat diakses dengan mudah dan bebas. Parahnya informasi tersebut tidak memuat fakta, akan tetapi opini pribadi atau golongan tertentu yang belum tentu valid kebenarannya. Ghoziwul fikr sungguh berbahaya, karena dapat mengacak-ngacak syariat islam dan menciptakan islamphobia di mata orang lain maupun di mata umat islam sendiri.
Dalam romantika sejarah islam, kita banyak mengenal pemuda-pemuda luar biasa yang terkenal dengan dedikasi dan perjuangannya dalam menegakkan syariat islam di muka bumi ini. Keberhasilan hijrahnya Rasulullah ke madinah tentunya sangat dipengaruhi oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Dengan gagahnya ia menggantikan Rasulullah untuk berada di dalam tempat tidur, hingga membuat kaum Quraisy tertipu akan keberadaan Rasulullah. Kita juga mengenal seorang Khalid bin Walid, pemuda yang terkenal dengan strategi perangnya, hingga membuat islam menjadi pemenang dalam beberapa peperangan. Ada pula Mushaib bin Umair, seorang duta atau utusan Rasulullah, dalam usianya yang masih muda, ia sudah ditugaskan menyebarkan islam pada kaum Anshar.
Pemuda-pemuda tersebut adalah patriot dalam perjuangan islam. Teladan yang baik bagi pemuda-pemuda masa kini, yang sering dikenal dengan “generasi penunduk”.
Di era globalisasi, umat manusia diberkahi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang super canggih. Banyak penemuan-penemuan penting yang berhasil ditemukan untuk melayani dan memudahkan kelangsungan hidup umat manusia, seperti dalam bidang transportasi, kedokteran, militer, system informasi dan komunikasi.
Penemuan-penemuan tersebut seringkali digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Masih sedikit umat muslim yang memanfaatkan penemuan tersebut untuk kepentingan dakwah. Kita mungkin mengenal program One Day One Juz (ODOJ). Salah satu program yang memanfaatkan gadget untuk kepentingan dakwah.
Inilah tugas pemuda di era globalisasi. Bagaimana mengembangkan jalan dakwah dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi. Bukan malah menjadi generasi penunduk yang hanya bisa menunduk mempelototi layar gadgetnya di setiap waktu.
Selain itu, pemuda islam juga harus menguasai dunia media. Siapa yang menguasai media, dialah yang menguasai dunia. Ungkapan tersebut memang benar adanya. Di era kebebasan pers ini, semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya, bebas mendirikan organisasi. Media adalah salah satu cara efektif dan efisien dalam memberikan informasi secara cepat dan tepat. Syiar lewat media adalah sebuah tuntutan sekaligus kebutuhan di era ini. Tentu saja banyak tantangannya. Salah satu tantangan terbesarnya ialah media-media lainnya. Oleh karena itu syiar lewat media harus kreatif, inovatif dan tidak membosankan. Media nya pun tidak boleh hanya sebatas media cetak saja, tapi juga mulai menjangkau media elektronik dan media online.
Namun, pada akhirnya strategi-strategi dakwah diatas takkan ada artinya kalo tidak ada persatuan dan kesatuan dalam muslim itu sendiri. Ibarat sebuah rumah, persatuan dan kesatuan adalah pondasi utama dalam berdakwah. Kecerdasan dan kepintaran adalah atap yang akan selalu memayungi,

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day8
Share:

Kamu Hari Inilah Yang Menentukan



Belajar lah rip, kamu udah kelas enam

Itulah sepenggal kalimat yang sering diucapkan emak gue waktu gue kelas enam SD, dimana saat itu lagi ribet-ribetnya mau UN. Kalo dipikir-pikir, kalimat itu belum lama lama banget gue dengernya. Tapi kalo dilihat dari rentang waktu yang sebenernya, kalimat nyokap gue itu udah 13 tahun lalu aja. Iya bener. Udah 13 tahun lho. Bukan suatu waktu yang sebentar bukan?

Beberapa waktu yang lalu, temen deket gue pas SMP, Angga, nikah. Kaget juga awalnya pas dia ngewhatsapp isinya undangan nikah. Padahal biasanya ajakan buat ketemuan aja. Percaya gak percaya. Kalo gue inget jaman jaman dulu, ini cowok ini termasuk cowok yang susah ditebak. Siapa yang nyangka kalo abis lulus SMP dia tiba tiba jadian sama temen deket gue, si Anna. Lah kapan naksirnya ini orang? Gue yang deket sama mereka berdua aja kagak tau sama sekali. Tiba-tiba udah jadian aja. Ngejar setoran om?

Angga sama Anna ini jadian cukup lama. Seinget gue sampe gue skripsian dulu deh. Gue masih inget, dulu pas gue jadi mahasiswa, gue sering ditraktir Angga kalo ketemuan. Maklum mahasiswa. Kere abis gan. Wkwkwk. Sedangkan dia udah langsung kerja abis SMA. Jadi udah punya duit sendiri.

Tapi siapa yang sangka cowok yang dulu sering nraktir gue ini sekarang udah berkeluarga aja. Udah masuk ke tahap kehidupan yang lebih tinggi daripada gue. Ya itulah kerennya dimensi waktu. Ada seseorang yang terkekang oleh suatu waktu masa lalu, di sisi lain pasti ada orang lain yang sudah melangkah mantap ke masa depan.

Seperti halnya gue dan Angga. Saat gue masih nyaman dengan kondisi gue sekarang (yang gak beda jauh dari dulu dulu), Angga justru udah berjuang dengan masa depannya. Padahal usia kita sama, pendidikan kita sama dan kita sama-sama udah bekerja.

Dinamika – dinamika waktu ini sering terjadi belakangan ini. Saat gue lagi berkutat dengan modul-modul pekerjaan yang menumpuk, target-target perusahaan dan jadwal kerja yang kadang merepotkan, disitu kadang gue merasa sedih. Eh. Bukan. Bukan itu maksudnya. Saat hal-hal itu sedang terjadi, gue sering keinget sama zaman-zaman kuliah. Semasa kuliah, hari hari pasti dilalui dengan random banget. Ada inilah, ada itulah, ketemu inilah, ketemu itulah, jalan kesanalah, jalan kesinilah. Random abis. Tapi kerandoman itu justru membuat hidup lebih bewarna.

Nah, sekarang,  begitu gue ngeliat hidup gue saat ini, setelah gue mendapat pekerjaan, hari-hari gue jadi terasa begitu monoton. Bangun tidur, berangkat kerja, kerja, pulang, tidur dan bangun lagi. Besoknya begitu lagi dan besoknya bakal begitu lagi. Begitu terus tiap harinya. Kemonotan hidup ini seringkali membuat gue gak percaya kalo gue udah lulus kuliah. Gue gak percaya kalo gue udah sarjana dan punya pekerjaan. Gue pun sering mempertanyakan, kenapa waktu 4 tahun gue kuliah itu cepat banget berlalu. Kerandoman yang terjadi  selama 4 tahun itu bener-bener telah usai. Dan sampai saat ini, terkadang, gue masih mencoba untuk menggapainya lagi. Berharap waktu-waktu itu bisa datang lagi.

But I think it is impossible :D

Life must go on bro !

Semua hal hal yang udah terjadi selama 25 tahun gue tentu aja akan memberi dampaknya. Entah itu nanti, besok atau di masa depan. Yang pasti, semua hal tersebut akan berproses terus untuk menjadikan gue yang sekarang. Aku adalah kumpulan dari masa laluku. Mungkin aja tahun ini atau 1 atau 2 tahun lagi gue bakal nyusul Angga untuk nikah juga. Atau mungkin juga tahun ini atau 1 atau 2 tahun lagi gue bakal lanjut kuliah S-2. Atau mungkin juga tahun ini, 1 atau 2 tahun lagi gue masih kayak kayak gini juga.


Satu hal yang pasti, mau jadi apa kamu besok, kamu hari inilah yang menentukan..

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day7
Share:

Bangsa yang (Belum) Merdeka




Meski sudah merdeka, banyak pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Indonesia masih terjajah oleh bangsa asing dan bangsanya sendiri. Banyak Bangsa asing yang berinvestasi di Indonesia dan berhasil meraup keuntungan yang besar serta  mengeruk kekayaan alam Indonesia dalam jumlah yang besar yang dibeli dengan harga relatif murah. Selain itu Indonesia juga tertindas oleh rakyatnya sendiri berkaca pada kasus kasus pidana yang marak terjadi. Korupsi misalnya, yang tak henti-hentinya menggerogoti bangsa ini. Namun, ada 4 permasalahan yang saat ini menjadi pekerjaan rumah (PR)  besar Indonesia untuk memerdekaan negerinya.

Yang pertama adalah output pendidikan. Kita tak bisa memungkiri bahwa pemimpin-pemimpin di bangsa ini merupakan kaum terdidik. Mereka adalah hasil dari pendidikan. Akan tetapi dewasa ini banyak kaum terdidik yang terjerembab kedalam dunia hitam karena terpedaya oleh uang dan jabatan. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan belum sepenuhnya optimal dalam menghasilkan putera-puteri terbaik bangsa, karena sejatinya esensi dari suatu pendidikan adalah menghasilkan seseorang yang tidak hanya terdidik dalam kecerdasan otak saja, tetapi dalam kecerdasan moralitas juga.

Permasalahan yang kedua ialah masih rendahnya nasionalisme dalam pribadi bangsa Indonesia. Nasionalisme sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena nasionalisme bisa diibaratkan seperti oase dalam padang pasir dan cahaya dalam kegelapan. Inilah yang akan membangkitkan dan mengembangkan kita. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sering terjadi membuktikan bahwa nasionalisme belum benar-benara dimiliki rakyat Indonesia.

Yang ketiga adalah Kebijakan yang belum representatif. Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh suatu kebijakan impor disaat mendekati waktu panen petani. Kebijakan ini diusulkan untuk mencegah melambungnya harga di pasaran. Akan tetapi kebijakan ini tidaklah logis, karena dilihat dari segi urgensi, mengimpor bukanlah solusi yang paling tepat. Apakah menjaga harga di pasaran hanya dapat dilakukan dengan cara mengimpor? Bagaimana dengan petani-petani yang sudah mulai menyiapkan hasil panennya. Bukannya justru malah membuat harga jual tani akan semakin rendah?  Selain itu masih banyak kebijakan-kebijakan lain yang belum representatif seperti, kurikulum pendidikan yang berubah ubah, pembagian hasil perusahaan asing dengan Indonesia yang seringkali justru merugikan Indonesia, kenaikan harga bahan pokok dan lain lain

Dan yang terakhir adalah lemahnya hukum di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Lemahnya hukum di Indonesia, semakin membuat banyak orang untuk melakukan tindak pidana. Mereka seakan tidak pernah jera dengan hukuman-hukuman yang telah diberikan. Korupsi, kolusi dan nepotisme pun kini menjadi “hobi” baru bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya. Mafia hukum, mafia politik maupun mafia ekonomi semakin banyak bermunculan, membuat semakin terlecehkannya hukum di Indonesia. Indonesia pun dijajah oleh bangsanya sendiri.

Sudah selayaknya Indonesia mulai  berbenah diri dari cengkraman penjajahan oleh negerinya sendiri maupun bangsa asing. Singapura yang “baru” berusia 50 tahun kemerdekaan saja sudah bisa memakmurkan bangsanya, bahkan kini sudah menjadi Negara yang diperhitungkan di kancah Internasional. Empat permasalahan diatas, bukanlah hal yang sulit diatasi, apabila Indonesia benar-benar ingin serius memerdekakan bangsanya. Karena yangdibutuhkan “hanyalah” sosok-sosok pemimpin yang cerdas, amanah, profesional dan berintegritasi dalam memimpin segala aspek dan posisi  yang ada di negeri ini.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day6

Share:

People Change, Promise Broken




Bagian Terakhir dari Tetralogi “Bro Makan Yuk”

Waktu gue masih mahasiswa baru, gue pernah ikut sebuah acara kampus. Malam Renungan AIDs Nasional (MRAN) namanya. Namanya juga renungan, jadi acaranya malam-malam. Nah acara intinya itu berupa renungan, yang dibawakan oleh seorang yang pernah kena AIDs. Lampu dimatikan, buat menambah emosional suasana. Cuma ada beberapa lilin yang menyala untuk penerangan. Para peserta acara pun diam mendengarkan renungan tersebut.

Gue salah satu orang yang apes karena ga bisa focus mendengar renungan itu. Hal ini disebabkan tepat di samping tempat duduk gue ada pasangan cowok cewek yang dari mulai acara sampe sekarang ngoceh mulu. Sebenernya sih ceweknya doang yang ngoceh terus. Cowoknya lebih ke menanggapi aja. Gue heran sekaligus gondok ama ini cewek. Kok bisa dia ngoceh terus.

Gue tau siapa cewek ini. Dia temen sekelas gue. Cuma kita Cuma sebatas tau namanya aja. Soalnya karena kita masih mahasiswa baru dan kebetulan kelas gue isinya 150 orang, jadi ada banyak temen sekelas yang belum gue kenal.

Heran gue mah. Masa iya dari pas dateng sampe akhir dia ngoceh terus. Gak ada berhenti berhentinya. Apa dia gak capek apa? Gue aja yang disampingnya mabok denger ocehannya. Saking keselnya gue sampe pengen jejelin lilin ke mulutnya. Untung gue masih sabar. Gue bener-bener ilfeel sama itu cewek. Gara-gara dia gue jadi gak bisa dengerin renungan dengan khidmat. Gara-gara dia gue jadi gak bisa mengikuti acaranya dengan baik dan bener. Gue berjanji sama diri gue sendiri saat itu juga, gue bakal jauh jauh dari dia, gue gak akan mau berteman dekat  sama dia, apalagi punya pacar kayak dia.

Titik.

Trust me !

Dan ya ....

Tiga tahun setelah kejadian itu, saat gue semester 8, gue malah jadian sama itu cewek.

Dasar kamvret

……..

Sebagian besar mahasiswa yang abis lulus, pasti pengen langsung dapet kerja. Pengen dapet kerja yang sesuai bidang kuliahnya lebih tepatnya lagi. Sebagian orang berpikir kalo bekerja sesuai bidang adalah sebuah keharusan. Logika sederhananya, empat tahun kita kuliah susah payah buat mendalami bidang tersebut, kalo kerja gak di bidang itu ya buat apa? Bakal mubazir dong?

Gue sendiri orang cukup idealis dan sedikit keras kepala. Abis gue sidang skripsi, gue udah mulai nyari-nyari tau soal dunia pekerjaan. Gue sendiri pun udah menetapkan beberapa syarat pribadi dalam melamar ke sebuah perusahaan. Contohnya, gue gak pengen kerja di perusahaan asing. Kenapa? Karena ya kita bakal bikin orang asing tersebut makin kaya di negeri kita aja. Semua peluh yang kita keluarkan dalam bekerja di sebuah perusahaan, memang pasti akan dapat balasannya kepada kita, yaitu sebuah gaji dan benefit lainnya di akhir atau awal bulan. Akan tetapi, disatu sisi perusahaan itu pasti bakal lebih maju, bakal  dapat profit lebih, bakal dapat uang lebih. Dan uang tersebut akan mengalir ke kantong negara lain, bukan bangsa kita sendiri. Kalo ditarik lebih jauh lagi, perusahaan itu bakal untung, kemudian akan lebih membesar, terus buka cabang di daerah lain, dan jika makin tumbuh terus, maka akan semakin banyak lagi cabang ke depannya, dan itu berarti kekayaan yang didapat akan semakin banyak pula. Sedangkan kita pekerja disana, ya bakal menikmati buat kita sendiri aja, atau keluarga jika yang sudah berkeluarga..

Syarat kedua, gue pengen kerja yang sesuai bidang. Bidang kesehatan masyarakat.

Setelah gue sidang, gue udah mulai kirim-kirim email ke hrd perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan kesehatan masyarakat. Dengan kata lain, perusahaan atau instansi yang menerima sarjana kesehatan masyarakat untuk berkontribusi di dalamnya.

Gue bener-bener pilah-pilih waktu itu. Sebelum ngirim lamaran, gue kepo dan stalking dalem-dalam mengenai profil perusahaan tersebut, posisi yang ditawarkan, dan benefit yang diberikan.

Tapi semua berubah saat gue ikut sebuah seminar tentang dunia kerja. Di seminar itu dijelaskan bahwa idealis boleh tapi dibandingkan idealis, dunia kerja lebih membutuhkan orang yang fleksibel.

Dan ya..

Setelah itu, tiga kali gue kerja di perusahaan yang berbeda, tiga kali pula gue  menjabat posisi yang berbeda satu sama lain dan dua dari tiga kerjaan gue, gak ada hubungan dengan kesehatan masyarakat.

Ya.

People change, Promise broken.

........

 Neng, sorry kayaknya kita gabisa nyemarang bareng deh” kata gue

Emang kenapa yip?” jawab Elawati

“Aku ada panggilan kerja hari itu. Jadi pengen ikut itu dulu. siapa tau rejeki. Kamu gapapa kan pulang sendiri?”

“Yaahhh ayiipp”

Maap yak, nanti tiketnya kuanter aja ke stasiun. Kita ketemu di stasiun”

“Jaharaaaaaaaaaaa”

“Iya maaf ya”

Hari hari setelah lebaran di tahun 2014, gue udah mulai sibuk lagi. Sibuk nyari kerja. Skripsi gue udah kelar. Tinggal nunggu wisuda aja di bulan Oktober. Nah waktu-waktu ini gue habiskan untuk nyari kerja. Tiap hari gue bisa apply sampe 50 lowongan kerja, baik itu via email atau web online. Makanya dalam seminggu gue bisa dapet beberapa panggilan, entah itu untuk psikotest atau interview. Kesibukan kesibukan ini bikin gue merubah-ubah prioritas-prioritas dalam hidup gue.

Salah satu yang kena dampaknya adalah dia.

Ada dua monster yang bisa menghancurkan sebuah hubungan. Monster bernama diri sendiri dengan wujud keegoisan, dan monster berbentuk orang lain dengan wujud kesempurnaan.

Gue pengen dapet kerja sebelum lulus. Gue pengen kerja yang sesuai basic pendidikan. Gue gak pengen kerja di perusahaan asing. Gue pengen ini. Gue pengen itu. Semua ini itu banyak sekali.

Keegoisan gue itu bikin gue lupa akan hal-hal lain. Gue malah sibuk dengan hal hal yang padahal simpel. Hal hal yang sederhana. Idealisme malah bikin gue mengorbankan hal-hal yang harus gue jaga. Salah satunya dia. Iya hubungan gue sama dia. Gue gak bersamanya ketika di waktu-waktu pentingnya. Gue gak hadir pas dia seminar hasil. Gue gak hadir pas dia sidang. Dimana dia sangat membutuhkan dukungan-dukungan lebih di saat itu. Puncaknya, gue bahkan membiarkan dia mudik sendiri. Pindahan. Meninggalkan tanah perantauannya. Untuk kembali ke kampung halamannya.

Aneh ya.

Kok gue bisa jahat begitu ya?

Dan pada akhirnya, gue kehilangan dua hal besar saat itu. Yaitu, target gue dapet kerja sebelum wisuda yang gak tercapai dan gue yang kehilangan dia setelahnya.

...........


Baca cerita sebelumnya disini


#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day5




Share:

Jadi Khatib Sholat Jumat

Dok. Pribadi (Ini Dika)

Awal-awal gue kuliah kerja nyata (KKN) dulu, ditandai dengan peristiwa yang menegangkan. Bikin gue frustasi, histeris dan hampir nari striptis. Jadi gini ceritanya. Waktu itu jumat pertama pas KKN. Sebagaimana layaknya mahasiswa laki sejati, gue dan temen-temen sekelompok gue yang cowok, berangkat sholat jumat jam 12 pas. Sebenernya waktu itu kita baru aja ngerjain salah satu proker utama kita pas KKN. Makanya kita agak telat jumatannya. By the way, proker utama KKN itu adalah ngegam PES. Yaa ngePES secara berjamaah sob. Biar pahala yang didapet pun 27 derajat. Oke fix. Abaikan.

Anehnya, udah jam 12, tapi dari mesjid desa, gak terdengar adzan sama sekali. Kita pun bingung. Dan mempercepat langkah untuk segera ke mesjid. Sampai di mesjid, suasana udah rame banget. Tapi dengan kondisi yang sepi.

Sunyi.

Tak ada suara hingar bingar di pasar.

(YAKALIK !)

Baru aja kita berempat masuk ke halaman mesjid, tiba-tiba ada bapak bapak pengurus mesjid datengin kita dan nanyain kita satu satu apakah ada diantara kita yang bisa jadi Khatib (Penceramah). Doi bilang kalo khatib nya berhalangan hadir.

Tentu aja kita semua serentak bilang “Gak Bisa Pak”. Jelas aja. Sholat jumat aja masih nelat-nelatin, masa iya jadi Khatib???

Mau jadi apa bangsa ini?

Tapi bapak-bapak itu tetep keukuh dengan permintaannya. Dia bilang “Anak KKN pasti bisa. Masa mahasiswa gak bisa jadi khatib” katanya dengan gampangnya

“YAKALIK PAK.. Kite kan mahasiswa regular, bukan mahasiswa kampus islami” kata gue dalem hati

Gue pun nyuruh si Dika buat jadi khotib. Di kelompok gue Cuma dia yang tiap hari bangun jam 4 subuh terus mandi dan langsung tidur lagi. Pasti dia bisa. Iyaa gue tau gak nyambung. Tapi demi nama baik kelompok gue, sudah seharusnya sebagai kordinator desa (Kordes) gue harus memberikan solusi atas kejadian ini. Solusi yang gue yakinin paling tepat adalah dengan mengorbankan temen gue yang satu ini. Si Dika. Ya. Dika pasti ngerti. Karena Semua ini demi kebaikan kelompok. Kebaikan desa Juga.

Anjir, keren banget dah gue.

“Ini pak si dika aja yang jadi khatib” kata gue dengan bijaksana.

Tapi ternyata si dika berhasil ngeles dengan licin kayat belut

“Wah saya tidak bisa pak, ini si ayip aja, lihat tuh pak dia berjenggot udah kayak ustadz” kata dika, nunjuk gue dengan wajah tanpa dosa

Bapak bapak itu langsung ngeliat gue dan bilang “yaudah kamu ya”

Bapaknya langsung ke meja mimbar buat ngumumin kalo gue jadi Khatibnya

OSITMENNN !!!!! DIKAAAA YOU ARE REALLY DICK !!!!

APA HUBUNGANNYA JENGGOT SAMA BISA JADI KHOTIB????

NGOMONGGG APAAAA GUUEEE NTAAARRRR?????

Gila gila gilaaaaaaaa.

Gue bener bener terjebak dalam suatu pusaran kehidupan yang menyeramkan. Gue pengen kabur saat itu juga. Tapi gue udah di dalam mesjid. Jadi gak bisa ngapa-ngapain lagi. Gue jadi kepikiran buat pura-pura kesurupan. Jadi pas gue ntar jalan ke mimbar, gue tiba tiba berhenti dan teriak teriak “JANGAN GANGGU SAYA JANGAN GANGGU SAYA” sambil mata melotot dan guling-gulingan. “PULANGKAN SAYAAA !!!!! PULANGKAN SAYAAA.. PULANGKAN SAJAAAAAA AKU PADA IBUKUUUU.. ATAU BAPAKKKUUUUUUUU !!!!”

Ajegilee.

Tapi niat itu gue urungkan soalnya jarang-jarang deh ada orang yang kesambet di mesjid. Gue khawatir, bukannya nanti gue dikasih teh anget dan diteken jempol kakinya, gue malah dibawa ke rumah sakit gara gara dikira sakit jiwa.

……..

Gue berdiri di meja mimbar. Gue lihat semua mata tertuju pada gue. Gue ngerasa kayak Puteri Indonesia. Gue liat kesana kemari. Semua petinggi perangkat desa ada disitu. Ada juga bocah-bocah kecil yang biasa belajar di homestay lagi nunjuk nunjuk gue sambil teriak “mas ayip mas ayip”. Ositmen. Gue bener bener kayak puteri Indonesia. Pengen gue ngelambai ke mereka tapi gak enak. Gue pun ngeliat ke pojokan lagi. Disana ada wajah yang lagi senyum senyum tanpa ngerasa berdosa sama sekali. Dika.

IYA ITU DIKAAA.. Rasanya pengen gue timpuk dia pake mik yang ada di depan gue.

Gue pun mengucapkan salam untuk membuka khutbah. Abis salam, adzan berkumandang.

Saat lagi adzan itulah gue bener-bener berpikir keras. Mau ngomong apa gue ntar. Gue inget inget semua pelajaran agama yang gue dapet selama 21 tahun hidup gue. Ajaibnya, gak ada yang gue inget sama sekali. Mungkin karena faktor grogi dan nerveous banget kali ya.

Gue gak boleh ngawur dalam ngasih ceramah. Bisa bisa malah menyesatkan satu kampung. Gue pengen ceramah soal pemberantasan DBD. Jadi sekalian gue ngelaksanain salah satu proker KKN gue. Ibarat pepatah, Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Tapi gak jadi soalnya ini jumatan, jadi harus ceramah soal agama.

Masa iya gue nanti pas ceramah, gue ngomong gini,

“hadirin sekalian ingat ya ada 3 cara memberantas dbd, yaitu dengan menggunakan metode 3Mplus..”

“Menutup, menguras dan mengubur barang-barang bekas..”

“Dan jangan buang sampah sembarangan ya..”

“ITU HARAM HADIRINNNNN”

“JELAS YAAA ITU HARAAMMMM..”

“HARAAAAAMMMMMMM”

huuffttt

Nyebut yip.. nyebut..

Gue pun berpikir keras lagi tentang agama. Gue jadi inget sama temen gue yang pacaran tapi beda agama. Jadi mereka berdua saling mencintai. Tapi orang tua si cowok gak merestui hubungan mereka. Akhirnya mereka kawin lari. Gue pengen ceramah soal itu, soalnya ada “agama”nya, tapi setelah gue pikir-pikir, itu lebih mirip kayak ngegosip. Gue khawatir ntar setelah jumatan ini selesai, satu desa bakal jadi penggosip semua. OSITMEN !

NO NO NO !

Adzan bentar lagi selesai. Gue masih belum punya tema. Gue ngintip dari balik mimbar. Orang-orang masih penasaran sama gue. Gue ngeliat muka temen gue. Gozal. Gozal juga ngeliat gue. Mata kita saling memandang. Tatapan kita saling bertemu. Akhirnya kita ………..

OKE STOOPP !

STOPPPP.

Hentikan imajinasi sesat itu.

Jijik sob.

Gozal ! iya Gozal ! akhirnya gue dapet ide dari nama Gozal. Gue inget ada dp BBM temen gue yang isinya gambar tentang 6 Nasehat Imam Al Ghazali. Oke Fix. Gue bakal ceramah tentang itu aja. Tapi masalahnya dari 6 nasihat itu gue Cuma inget 4 doang. Gue udah inget inget. Tapi tetep aja gue lupa yang dua nya lagi apa. Karena adzan udah selesai dan gue harus segera ceramah, gue pun mengganti tema gue itu dengan tema yang gue bisa aja. Akhirnya dengan ilmu ngeles yang udah gue latih dan gue pelajari sebelumnya, gue ceramah tentang “4 NASEHAT  IMAM AL-GHAZALI !!!!”

Goks !
………

Setelah jumatan itu gue langsung sholat tobat karena bener-bener ngerasa bersalah dan berdosa karena udah nyesatin satu kampung…

………

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day4

Share:

Kontemplasi Sektor Pertanian Indonesia



Indonesia merupakan negara yang dianugerahi dengan kekayaaan alam yang melimpah. Negara maritim, jambrud khatulistiwa, negara agraris, itulah beberapa sebutan yang merajuk kepada “megahnya” alam di Indonesia. Salah satu potensi alam yang menunjukkan kemilaunya yang paling terang adalah komoditas pertanian. Tak bisa dipungkiri lagi, sektor pertanian di Indonesia sering dinyatakan sebagai ibu dari perekonomian bangsa. Dikatakan demikian karena pertanian memiliki segudang potensi maha dahyat yang dapat mendorong laju pertumbuhan perekonomian bangsa secara pesat. Ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang apik, curah hujan yang baik dan matahari yang bersinar sepanjang waktu karena letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat banyak tanaman dapat tumbuh dengan subur. Jika “keunggulan”  itu dapat dimaksimalkan dengan baik, maka tidak ada lagi alasan untuk kalah bersaing maupun tertinggal dari negara lain.
Indonesia tidak seharusnya berbangga dengan status dirinya sebagai sebuah negara agraris terbesar di dunia. Jangan lupakan, bahwa Indonesia juga merupakan negara pengimpor pangan nomor dua di dunia. Ini merupakan sesuatu yang miris. Bagaimana mungkin negara agraris terbesar di dunia justru menjadi negara pengimpor pangan nomor dua di dunia? Belum lagi dengan persoalan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian yang masih kalah saing dengan negara lain. Indonesia masih menjadi pelanggan setia komoditas tani asing untuk sekedar menambal dan mencukupi kekurangan stok yang kerap terjadi. Acapkali pejabat-pejabat negara juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang lebih berorientasi kepada keuntungan dirinya maupun golongannya dibandingkan kebijakan yang pro-petani. Apakah hal-hal semacam ini pantas untuk didiamkan saja? Inilah ajang pembelajaran dan tantangan tersendiri bagi sektor pertanian Indonesia yang selalu diharapakan menjadi ibu dari perekonomian bangsa.
Kita tidak bisa menjudge begitu saja bahwa pertanian di Indonesia sedang berada dalam kondisi yang kritis. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa pertanian di Indonesia juga sedang dalam kondisi yang makmur. Posisi kita masih di tengah-tengah. Tentu saja posisi ini menimbulkan dilematis tersendiri. Di satu sisi kita harus mempertahankan kestabilitasan komoditas tani dari pemerosotan. Namun, di sisi lain pertanian di Indonesia juga harus meningkatkan eksistensinya demi persaingan dengan negara-negara lain. Artinya, sektor pertanian memiliki dua pekerjaan penting yang harus diemban secara bersama-sama. Berat memang. Tapi bukanlah hal yang mustahil. Jangan lupakan, sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah mencapai swasembada pangan di zaman orde baru.
Ada beberapa permasalahan serius sektor pertanian yang menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia. Yang pertama adalah masalah kesejahteraan petani. Banyak petani yang mengeluh akan rendahnya gaji yang ia dapat sebagai petani. Ditambah dengan derasnya terjangan arus globalisasi, yang membuat maraknya urbanisasi, semakin membuat pekerjaan tani ditinggalkan. Banyak yang lebih memilih untuk bekerja di kota (dengan penawaran gaji yang tinggi) daripada mengayuh peluh akibat teriknya panas ketika bertani. Kurangnya tenaga sumber daya manusia inilah yang kerap membuat hasil tani Indonesia stagnan begitu-begitu saja. Kalah dalam segi kuantitas dan kualitas sekaligus. Permasalahan yang kedua adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Di era modernisasi saat ini, penguasaan teknologi merupakan sebuah tuntutan sekaligus kebutuhan yang harus dipenuhi untuk suatu penunjangan. Akibatnya, mau tidak mau, hukum rimba akan kembali berlaku. Siapa yang menguasi teknologi, dialah yang akan berkuasa. Penguasaan IPTEK sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kesuksesan perekonomiannya. Sayangnya, pengimplementasian IPTEK di Indonesia terutama dalam sektor pertanian masih sangat rendah dan tertinggal dari negara adidaya lainnya. Di saat negara lain sudah bisa menemukan bibit unggul super yang efektif dan efisien, kita masih berupaya menciptakan sekedar bibit unggul.
Permasalahan yang ketiga adalah infrastruktur. Beberapa hari yang lalu, pernah ditemukan suatu kasus dimana harga buah lokal jauh lebih mahal dibanding buah impor. Kejadian mahalnya buah lokal ini disebabkan karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mendistribusikan buah tersebut dari perkebunan ke toko. Kesulitan dalam pendistribusian seringkali disebabkan oleh minimnya infrastruktur. Oleh karena itu, harga produk bisa naik jadi beberapa kali lipat. Inilah kondisi yang sering terjadi di Indonesia. Kita masih belum siap seratus persen dalam infrastruktur yang mana sangat penting untuk kelancaran perekonomian suatu bangsa.
Permasalahan diatas tentu saja dapat menghambat kesiapan sektor pertanian dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA). Berdasarkan data BPS 2014, sektor perdagangan Indonesia untuk ASEAN mengalami defisit sebesar 5,6 Milyar dolar AS sepanjang Januari-November 2013. Jika angka ini tidak bisa diatasi, maka Indonesia akan menjadi pasar produk bagi negara-negara ASEAN. Sebuah fakta juga menunjukkan bahwa hampir semua produk pertanian kita kalah bersaing di pasar global. Apakah ini bukti bahwa Indonesia belum siap dalam menghadapi AFTA?
Demi menghadapi persaingan AFTA, Indonesia harus berani memajukan sektor pertaniannya dengan menyelesaikan permasalahan diatas. Ada berbagai cara untuk mewujudkannya, namun menciptakan brand pertanian yang unggul adalah hal pertama yang wajib dilakukan. Brand pertanian yang unggul sendiri dapat diwujudkan dengan empat cara. Pertama, peningkatan daya saing kualitas dan kuantitas komoditas pertanian. Kedua, ekspansi pasar yang massive dan komprehensif. Ketiga, melindungi kesejahteraan petani dan yang terakhir, merumuskan kebijakan yang tepat untuk pertanian dan komoditasnya.
Keempat langkah tersebut merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia dalam kesiapannya menghadapi AFTA pada sektor pertanian. Dewasa ini, sektor pertanian sudah mulai merasakan dampak dari pasar bebas. Hal ini ditandai dengan menjamurnya produk-produk asing di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat yang lebih tertarik dengan produk asing dibandingkan dengan produk dalam negeri karena merajuk pada alasan kualitas impor lebih baik daripada kualitas lokal. Padahal pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Produk Indonesia kini sudah banyak yang mulai menyaingi kualitas asing, namun akibat  masih kurangnya promosi dan ekspansi, produk tersebut menjadi kalah populer dengan produk asing. Oleh karena itu, ekspansi pasar yang luas bisa menjadi solusi jitu untuk memenangkan persaingan penjualan dalam negeri. Selain itu, pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan petani. Kebijakan yang tepat akan berujung pada kesejahteraan petani. Petani akan merasa terlindungi sehingga berdampak pada produktivitas kerja dan kualitas maupun kuantitas komoditas pertanian mereka. Hal ini pun akan menjamin peningkatan ekonomi dalam sektor pertanian.
Pertanian sebagai potensi penting dalam pembangunan bangsa diharapkan mampu menunjukan kesiapannya sebagai ibu dari perekonomian bangsa dalam menyongsong AFTA. Tidak hanya sektor pertanian, tapi juga sektor-sektor lainnya yang harus berjalan bersama dengan harmonis demi mencapai impian bersama. Sudah semestinya kita terus mendukung dan berkontribusi aktif dalam mewujudkan perekonomian yang positif dan siap dalam menghadapi AFTA. Tidak ada lagi keraguan atau sifat pesimistik. Apakah hal ini akan menjadi fakta atau fatamorgana saja? Hanya kita yang mampu menjawabnya.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day3


Share:

Disable Adblock