Disini Ada Setan (Bagian Satu)



Waktu gue Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 2 di Brebes, gue dapet pengalaman yang menyeramkan. Bener-bener serem deh. Keseraman tersebut selalu muncul ketika malam hari tiba. Sebulan gue disana, malam bener-bener menjadi mimpi buruk bagi kita semua. Kisah ini pernah gue ceritain ke temen-temen sekelompok gue waktu itu. Tapi gak semua, ada beberapa yang gue sembunyikan, demi alasan kenyamanan dan menjaga kondisi kelompok agar tetep kondusif selama kita tugas disana.

Sebut aja kami kelompok 7. Ada 10 anggota di kelompok kami termasuk gue. Rian, Ose, Dio, Keni, Anggra, Elva, Intan, Rika dan Rijek. Merekalah temen sekelompok gue selama sebulan lamanya di Brebes, tepatnya di Desa Suna (Nama Samaran)

Adzan maghrib berkumandang ketika kita sampai di Desa Suna. Kepala Desa menyambut kami dengan ramahnya. Selama disana, kami tinggal di rumah kepala desa. Seperti desa-desa di daerah pada umumnya, desa ini sangat sepi ketika malam hari tiba. Tidak ada warga yang beraktivitas di luar. Anak-anak pun tak kelihatan batang hidungnya. Hanya suara burung gagak dan kutilang yang bersahut-sahutan, menandai datangnya malam, sekaligus memberikan kesan dingin pada kami semua.

Rumah kepala desa terdiri dari dua bagian. Bagian Satu adalah rumah inti, rumah kepala desa, bagian dua adalah rumah singgah untuk siapapun tamu yang datang kesana. Kami bersepuluh tinggal di rumah singgah tersebut. Meskipun satu atap, rumah inti dan rumah singgah sebenarnya terpisah. Rumah singgah seperti kontrakan aja. Hanya terdiri dari 3 kamar dan 2 kamar mandi. Yang kesemuanya itu berderet sejajar garis lurus. Antara rumah inti dan rumah singgah terpisahkan oleh dinding rumah inti. Ada satu pintu di dinding tersebut yang menghubungkan jalan menuju rumah singgah. Pintu tersebut juga menghubungkan ke dapur dan tempat jemuran baju.

Waktu kami datang, pihak kepala desa sudah menyiapkan dua kamar di rumah singgah untuk kita bersepuluh lengkap dengan kasur dan bantalnya. Kamar 1 muat 6 orang, kamar 2 muat 4 orang. Ada satu kamar lagi, kamar 3, tapi sudah lama tidak digunakan. Kamar 3 dulunya adalah si mbah. Semenjak beliau berpulang kamar itu sudah tidak berpenghuni lagi.

Ketika datang, kami hanya bersembilan. Rian izin datang keesokkan hari karena ada urusan mendadak. Gue cowok sendiri disana. Delapan lainnya cewek. Makanya ketika pembagian kamar kita agak kesulitan juga dalam membaginya. Delapan cewek tidak mungkin ditempatkan semua di kamar 1. Karena emang gak muat. Akhirnya gue ngalah aja. Gue minta sama bu lurah agar kamar 3 disiapkan. Biar gue yang tidur disana. Ose, Dio, keni di kamar dua dan sisanya di kamar 1.

Bu kades mengernyitkan dahi ketika gue bilang pengen pakai kamar 3. Dia seakan menolak usulan gue ini. Tapi ngelihat kondisi kami yang emang gak memungkinkan akhirnya dia meminta yayuk, asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamar 3.

Selagi gue sama yayuk ngerapihin kamar 3, tiba tiba bu kades ngomong ke gue sambil berbisik,

“Mas arief dulu ini kamarnya mbah, jadi barang-barang disini jangan dipindah-pindah atau diberantakin ya, takut mbahnya marah nanti”

Seketika itu juga bulu kuduk gue merinding !

Punggung gue panas. Ada suara krasak krusuk di telinga gue. Entah suara apa itu. Gue ngelihat ke sekeliling, gak ada apa-apa selain yayuk dan bu kades yang lagi ngerapihin kasur. Tapi gue ngerasa ada mata yang lagi melihat gue. Memperhatikan gue. Di kamar ini. Mata dari yang tak kasat mata. Saat itu pula gue ngelihat yayuk diam diam ngelihat gue, kemudian nunduk, kemudian ngelirik lagi pas ia lagi ngerapihin kasur.  Ekspresinya dingin. Ada sedikit ketakutan yang gue lihat disana.

Dari pandangannya juga gue tau kalo dia bukan ngelihat gue. Tapi ngelihat sesuatu di belakang gue, dimana padahal gak ada siapa-siapa disana..


Bersambung..

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day2
Share:

7 comments:

  1. Iyy..ikut berdiri bulu kuduk. Besok sambungannya ya

    ReplyDelete
  2. Susah memahami ... bukan ahli jin sih... hehehehe

    ReplyDelete
  3. Susah memahami ... bukan ahli jin sih... hehehehe

    ReplyDelete
  4. Seram. Nampaknya pengalaman di desa dengan nama samaran ini menyeramkan!

    ReplyDelete
  5. Aduuhhh kenapa aku jadi buka link yang ini ya... Asli ceritanya bikin bulu kuduk merinding disko aja... Tapi kenapa ga mau berhenti baca ampe akhir ya... Hihihi

    ReplyDelete
  6. Aduuhhh kenapa aku jadi buka link yang ini ya... Asli ceritanya bikin bulu kuduk merinding disko aja... Tapi kenapa ga mau berhenti baca ampe akhir ya... Hihihi

    ReplyDelete
  7. nunggu lanjutannyaaaa...hihihi..penakut padahal

    ReplyDelete

Disable Adblock