Pemimpin Ideal Masa Kini




Ajang pemilihan pemimpin di Indonesia, baik pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada) atau bahkan pemilihan ketua RT sekalipun seringkali dipenuhi dengan intrik. Segala hal yang berkaitan dengan intrik-intrik perebutan tahta bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk diperlihatkan, diperbincangkan dan diberlakukan oleh oknum yang terlibat dalam pusaran pemilihan. Kita semua pasti menganal istilah black campaign, money politics atau serangan fajar menjelang waktu pemilihan tiba. Istilah tersebut kini sudah menjadi topik yang mainstream, bukan karena sering diperbincangkan di acara televisi atau menjadi headline di surat kabar tapi memang karena betul-betul terjadi di dunia nyata maupun dunia maya.

Kita hidup di zaman tekhnologi, dimana arus informasi bergerak sangat cepat dan sangat mudah diakses oleh siapapun dan dimanapun. Sosial media sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Begitupun ketika momen pemilihan tiba. Sosial media seringkali dijadikan alat kampanye para oknum dalam menyukseskan misi pemenangannya. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk penyebaran “berita sampah”. Mengapa saya sebut berita sampah, karena dalam konten berita tersebut tidak ada manfaat yang bisa diambil dan seringkali tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya. Terkadang berita sampah ini membuat berita akan penebar kebencian, berita penuh kebohongan bahkan berita yang tidak masuk akal. Berita sampah ini bertujuan untuk penggiringan opini publik terhadap salah satu peserta pemilihan

Sebagai masyarakat, kita sebaiknya cerdas dan bijak dalam menggunakan sosial media yang ada, termasuk dalam menanggapi isu isu sensitif, yang ada di dalamnya.

Pendidikan gratis, kesehatan gratis, sembako murah, itulah embel-embel yang selalu ditawarkan calon pemimpin di hampir setiap ajang pemilihan yang ada. Mereka seolah lupa kalau pemimpin-pemimpin sebelumnya juga menawarkan hal yang sama. Mereka pun seolah buta, mengingat lawan-lawannya juga menggunakan embel-embel tersebut untuk bersaing dengannya. Apakah pendidikan gratis akan mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah kesehatan gratis dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat? Dan, apakah sembako murah akan membuat taraf hidup masyarakat kurang mampu menjadi naik? Mungkin iya. Bisa juga tidak. Memang benar bahwasanya hal-hal itulah yang sering menjadi pokok permasalahan di masyarakat. Namun, apakah pemimpin ideal akan berpikir sesederhana itu? Tentu saja tidak !

Seorang pemimpin akan dikatakan ideal ketika ia santun dan bijak dalam bersikap, penuh inovasi dan kreativitas dalam bekerja, serta visoner dan cerdas dalam berpikir.
Oleh karena itu, seorang pemimpin ideal akan memasukkan konsep pembangunan manusia dalam program kerjanya. Karena, jika ia hanya menggratiskan sesuatu, memurahkan sesuatu, maka tak akan terjadi perkembangan yang berarti untuk kedepannya. Justru yang ada hanyalah siklus lingkaran setan. Siklus yang berulang-ulang terjadi. Tanpa ada solusi yang jelas untuk menghentikannya.

Lain halnya jika ia membangun manusia. Manusia menjadi fokus utama dalam rencana pembangunannya. Maka ia akan menghasilkan manusia manusia super yang kelak akan membantunya dalam menyelesaikan visi misi dan program kerja nya serta menjadi generasi penerus yang hebat di masa mendatang.

Tren kepemimpinan yang ada saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman-zaman orde baru. Jikalau dulu kita sering mendengar istilah, “asal bapak senang” atau paradigma akan pemimpin yang sering berada di belakang meja, kini model kepemimpinan tersebut sudah mulai ditinggalkan, ya meski ada juga yang masih menggunkannya. Kini para pemimpin sudah banyak yang turun ke jalan. Istilahnya blusukan. Mereka terjun untuk melihat langsung permasalahan yang ada, mendengar langsung keluhan yang ada dan memberikan solusi langsung terhadap persoalan yang ditemuinya. Di satu sisi ada juga juga pemimpin yang dikenal “kekinian” karena eksistensinya di sosial media. Mereka menggunakan sosial media untuk memaparkan keberhasilan programnya, menginformasikan program kerjanya dan menampung aspirasi warganya.

Fenomena ini sudah menjadi tren pemimpin masa kini dan banyak memberikan respon positif dari masyarakat. Inilah yang disebut dengan kepemimpinan transformasional.

Menurut saya, pemimpin ideal bukanlah objek, melainkan sebuah jalan. Jalan kehidupan seseorang. Seorang pemimpin akan dikatakan ideal bukan ketika ia memenangkan pemilihan, bukan pula ketika ia terpilih lagi di pemilihan sesudahnya, akan tetapi pemimpin ideal adalah pemimpin yang dalam masa kepemimpinannya ia menepati janji-janjinya, membayari utang-utangnya, memperbaiki kekurangannya dan membawa perubahan yang baik untuk diri dan lingkungannya. Ia ideal selama masa kepemimpinannya.

Oleh karena itu, ketika seorang calon pemimpin berhasrat ingin menjadi pemimpin ideal, maka jadikanlah itu sebagai jalan, bukan tujuan, sebagaimana kawah Candradimuka, tempat Empu Anggajali membentuk seorang Gatot Kaca.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day9


Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock