People Change, Promise Broken




Bagian Terakhir dari Tetralogi “Bro Makan Yuk”

Waktu gue masih mahasiswa baru, gue pernah ikut sebuah acara kampus. Malam Renungan AIDs Nasional (MRAN) namanya. Namanya juga renungan, jadi acaranya malam-malam. Nah acara intinya itu berupa renungan, yang dibawakan oleh seorang yang pernah kena AIDs. Lampu dimatikan, buat menambah emosional suasana. Cuma ada beberapa lilin yang menyala untuk penerangan. Para peserta acara pun diam mendengarkan renungan tersebut.

Gue salah satu orang yang apes karena ga bisa focus mendengar renungan itu. Hal ini disebabkan tepat di samping tempat duduk gue ada pasangan cowok cewek yang dari mulai acara sampe sekarang ngoceh mulu. Sebenernya sih ceweknya doang yang ngoceh terus. Cowoknya lebih ke menanggapi aja. Gue heran sekaligus gondok ama ini cewek. Kok bisa dia ngoceh terus.

Gue tau siapa cewek ini. Dia temen sekelas gue. Cuma kita Cuma sebatas tau namanya aja. Soalnya karena kita masih mahasiswa baru dan kebetulan kelas gue isinya 150 orang, jadi ada banyak temen sekelas yang belum gue kenal.

Heran gue mah. Masa iya dari pas dateng sampe akhir dia ngoceh terus. Gak ada berhenti berhentinya. Apa dia gak capek apa? Gue aja yang disampingnya mabok denger ocehannya. Saking keselnya gue sampe pengen jejelin lilin ke mulutnya. Untung gue masih sabar. Gue bener-bener ilfeel sama itu cewek. Gara-gara dia gue jadi gak bisa dengerin renungan dengan khidmat. Gara-gara dia gue jadi gak bisa mengikuti acaranya dengan baik dan bener. Gue berjanji sama diri gue sendiri saat itu juga, gue bakal jauh jauh dari dia, gue gak akan mau berteman dekat  sama dia, apalagi punya pacar kayak dia.

Titik.

Trust me !

Dan ya ....

Tiga tahun setelah kejadian itu, saat gue semester 8, gue malah jadian sama itu cewek.

Dasar kamvret

……..

Sebagian besar mahasiswa yang abis lulus, pasti pengen langsung dapet kerja. Pengen dapet kerja yang sesuai bidang kuliahnya lebih tepatnya lagi. Sebagian orang berpikir kalo bekerja sesuai bidang adalah sebuah keharusan. Logika sederhananya, empat tahun kita kuliah susah payah buat mendalami bidang tersebut, kalo kerja gak di bidang itu ya buat apa? Bakal mubazir dong?

Gue sendiri orang cukup idealis dan sedikit keras kepala. Abis gue sidang skripsi, gue udah mulai nyari-nyari tau soal dunia pekerjaan. Gue sendiri pun udah menetapkan beberapa syarat pribadi dalam melamar ke sebuah perusahaan. Contohnya, gue gak pengen kerja di perusahaan asing. Kenapa? Karena ya kita bakal bikin orang asing tersebut makin kaya di negeri kita aja. Semua peluh yang kita keluarkan dalam bekerja di sebuah perusahaan, memang pasti akan dapat balasannya kepada kita, yaitu sebuah gaji dan benefit lainnya di akhir atau awal bulan. Akan tetapi, disatu sisi perusahaan itu pasti bakal lebih maju, bakal  dapat profit lebih, bakal dapat uang lebih. Dan uang tersebut akan mengalir ke kantong negara lain, bukan bangsa kita sendiri. Kalo ditarik lebih jauh lagi, perusahaan itu bakal untung, kemudian akan lebih membesar, terus buka cabang di daerah lain, dan jika makin tumbuh terus, maka akan semakin banyak lagi cabang ke depannya, dan itu berarti kekayaan yang didapat akan semakin banyak pula. Sedangkan kita pekerja disana, ya bakal menikmati buat kita sendiri aja, atau keluarga jika yang sudah berkeluarga..

Syarat kedua, gue pengen kerja yang sesuai bidang. Bidang kesehatan masyarakat.

Setelah gue sidang, gue udah mulai kirim-kirim email ke hrd perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan kesehatan masyarakat. Dengan kata lain, perusahaan atau instansi yang menerima sarjana kesehatan masyarakat untuk berkontribusi di dalamnya.

Gue bener-bener pilah-pilih waktu itu. Sebelum ngirim lamaran, gue kepo dan stalking dalem-dalam mengenai profil perusahaan tersebut, posisi yang ditawarkan, dan benefit yang diberikan.

Tapi semua berubah saat gue ikut sebuah seminar tentang dunia kerja. Di seminar itu dijelaskan bahwa idealis boleh tapi dibandingkan idealis, dunia kerja lebih membutuhkan orang yang fleksibel.

Dan ya..

Setelah itu, tiga kali gue kerja di perusahaan yang berbeda, tiga kali pula gue  menjabat posisi yang berbeda satu sama lain dan dua dari tiga kerjaan gue, gak ada hubungan dengan kesehatan masyarakat.

Ya.

People change, Promise broken.

........

 Neng, sorry kayaknya kita gabisa nyemarang bareng deh” kata gue

Emang kenapa yip?” jawab Elawati

“Aku ada panggilan kerja hari itu. Jadi pengen ikut itu dulu. siapa tau rejeki. Kamu gapapa kan pulang sendiri?”

“Yaahhh ayiipp”

Maap yak, nanti tiketnya kuanter aja ke stasiun. Kita ketemu di stasiun”

“Jaharaaaaaaaaaaa”

“Iya maaf ya”

Hari hari setelah lebaran di tahun 2014, gue udah mulai sibuk lagi. Sibuk nyari kerja. Skripsi gue udah kelar. Tinggal nunggu wisuda aja di bulan Oktober. Nah waktu-waktu ini gue habiskan untuk nyari kerja. Tiap hari gue bisa apply sampe 50 lowongan kerja, baik itu via email atau web online. Makanya dalam seminggu gue bisa dapet beberapa panggilan, entah itu untuk psikotest atau interview. Kesibukan kesibukan ini bikin gue merubah-ubah prioritas-prioritas dalam hidup gue.

Salah satu yang kena dampaknya adalah dia.

Ada dua monster yang bisa menghancurkan sebuah hubungan. Monster bernama diri sendiri dengan wujud keegoisan, dan monster berbentuk orang lain dengan wujud kesempurnaan.

Gue pengen dapet kerja sebelum lulus. Gue pengen kerja yang sesuai basic pendidikan. Gue gak pengen kerja di perusahaan asing. Gue pengen ini. Gue pengen itu. Semua ini itu banyak sekali.

Keegoisan gue itu bikin gue lupa akan hal-hal lain. Gue malah sibuk dengan hal hal yang padahal simpel. Hal hal yang sederhana. Idealisme malah bikin gue mengorbankan hal-hal yang harus gue jaga. Salah satunya dia. Iya hubungan gue sama dia. Gue gak bersamanya ketika di waktu-waktu pentingnya. Gue gak hadir pas dia seminar hasil. Gue gak hadir pas dia sidang. Dimana dia sangat membutuhkan dukungan-dukungan lebih di saat itu. Puncaknya, gue bahkan membiarkan dia mudik sendiri. Pindahan. Meninggalkan tanah perantauannya. Untuk kembali ke kampung halamannya.

Aneh ya.

Kok gue bisa jahat begitu ya?

Dan pada akhirnya, gue kehilangan dua hal besar saat itu. Yaitu, target gue dapet kerja sebelum wisuda yang gak tercapai dan gue yang kehilangan dia setelahnya.

...........


Baca cerita sebelumnya disini


#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day5




Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock