Wujud Cinta Pemuda dalam Melawan Ghoziwul Fikr




Peradaban islam sedang mengalami kemunduran. Beragam masalah umat kini gencar menerjang. Mulai dari gerakan radikal mengatasnamakan islam (ISIS), paham sekulerisme yang sudah menyebar luas, paham lesbian gay transgender dan biseksual (LGTB), pemerosotan moral bangsa hingga serangan ghoziwul fikr. Sungguh miris menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa bangsa dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia ini sedang mengalami permasalahan-permasalahan yang tak kunjung selesai.
Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita berita kekerasan yang cukup memprihatinkan, adanya pesta gay di sebuah tempat fitness, aksi brutal anak SD yang memukuli teman sekelasnya, seorang pemuda yang tega membunuh kakeknya hanya karena kesal akibat sering dimarahi, sekelompok remaja yang menari dengan gerakan sholat, hingga kasus yang cukup mencengangkan seperti seruan ISIS kepada muslim Indonesia untuk bergabung bersamanya. Hal Ini menunjukan bahwa pemuda sedang diambang pemerosotan aqidah dan akhlak. Fakta-fakta yang terjadi membuktikan bahwa banyak pemuda muslim yang hanya sekedar muslim. Ia tidak tau esensi dan makna dari muslim itu sendiri.
Umat muslim saat ini pun sudah mulai terdoktrin paham sekulerisme. Pengatasnamaan profesionalitas seringkali memisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan personal. Agama seolah punya “koridor” nya sendiri dalam kegiatan sehari-hari. Tidak bisa dan tidak boleh disatukan dengan kegiatan lain. Padahal sesungguhnya agama (islam) bagaikan sebuah pakaian pada manusia, yang berfungsi melindungi dari hal hal yang bathil. Selain itu,  sebagian besar umat masih beranggapan bahwa berdakwah hanyalah tugas seorang ustadz atau ulama. Padahal berdakwah adalah wajib bagi setiap muslim. Sama hal nya dengan menuntut ilmu. Lalu, jika menuntut ilmu saja kita mau, mengapa untuk berdakwah kita masih mengingkari?
Pembodahan-pembodahan yang dilakukan oleh media pun semakin memperparah kondisi umat. Ghoziwul fikr (perang pemikiran) yang dilakukan oleh bangsa asing demi memecah belah islam dan menanamkan paham yang berseberangan dengan islam kini sedang di puncak-puncaknya. Banyaknya tayangan televisi yang mempertontonkan pergaulan bebas dan budaya hedonisme adalah salah satu contoh perang pemikiran sedang berlangsung. Belum lagi kebebasan internet yang makin menjangkau segala umur tanpa ada batasan dalam penggunaanya. Konten hoax, anarkisme, liberalisme, pornografi dan fitnah-memfitnah serta ujaran kebencian dapat diakses dengan mudah dan bebas. Parahnya informasi tersebut tidak memuat fakta, akan tetapi opini pribadi atau golongan tertentu yang belum tentu valid kebenarannya. Ghoziwul fikr sungguh berbahaya, karena dapat mengacak-ngacak syariat islam dan menciptakan islamphobia di mata orang lain maupun di mata umat islam sendiri.
Dalam romantika sejarah islam, kita banyak mengenal pemuda-pemuda luar biasa yang terkenal dengan dedikasi dan perjuangannya dalam menegakkan syariat islam di muka bumi ini. Keberhasilan hijrahnya Rasulullah ke madinah tentunya sangat dipengaruhi oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Dengan gagahnya ia menggantikan Rasulullah untuk berada di dalam tempat tidur, hingga membuat kaum Quraisy tertipu akan keberadaan Rasulullah. Kita juga mengenal seorang Khalid bin Walid, pemuda yang terkenal dengan strategi perangnya, hingga membuat islam menjadi pemenang dalam beberapa peperangan. Ada pula Mushaib bin Umair, seorang duta atau utusan Rasulullah, dalam usianya yang masih muda, ia sudah ditugaskan menyebarkan islam pada kaum Anshar.
Pemuda-pemuda tersebut adalah patriot dalam perjuangan islam. Teladan yang baik bagi pemuda-pemuda masa kini, yang sering dikenal dengan “generasi penunduk”.
Di era globalisasi, umat manusia diberkahi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang super canggih. Banyak penemuan-penemuan penting yang berhasil ditemukan untuk melayani dan memudahkan kelangsungan hidup umat manusia, seperti dalam bidang transportasi, kedokteran, militer, system informasi dan komunikasi.
Penemuan-penemuan tersebut seringkali digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Masih sedikit umat muslim yang memanfaatkan penemuan tersebut untuk kepentingan dakwah. Kita mungkin mengenal program One Day One Juz (ODOJ). Salah satu program yang memanfaatkan gadget untuk kepentingan dakwah.
Inilah tugas pemuda di era globalisasi. Bagaimana mengembangkan jalan dakwah dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi. Bukan malah menjadi generasi penunduk yang hanya bisa menunduk mempelototi layar gadgetnya di setiap waktu.
Selain itu, pemuda islam juga harus menguasai dunia media. Siapa yang menguasai media, dialah yang menguasai dunia. Ungkapan tersebut memang benar adanya. Di era kebebasan pers ini, semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya, bebas mendirikan organisasi. Media adalah salah satu cara efektif dan efisien dalam memberikan informasi secara cepat dan tepat. Syiar lewat media adalah sebuah tuntutan sekaligus kebutuhan di era ini. Tentu saja banyak tantangannya. Salah satu tantangan terbesarnya ialah media-media lainnya. Oleh karena itu syiar lewat media harus kreatif, inovatif dan tidak membosankan. Media nya pun tidak boleh hanya sebatas media cetak saja, tapi juga mulai menjangkau media elektronik dan media online.
Namun, pada akhirnya strategi-strategi dakwah diatas takkan ada artinya kalo tidak ada persatuan dan kesatuan dalam muslim itu sendiri. Ibarat sebuah rumah, persatuan dan kesatuan adalah pondasi utama dalam berdakwah. Kecerdasan dan kepintaran adalah atap yang akan selalu memayungi,

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day8
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock