Disini Ada Setan (Bagian Dua)



Aku terbangun tiba-tiba. Ku rogoh sekeliling kasur untuk mencari kacamataku. Begitu kutemukan, segera kupakai kaca ajaib itu. Kenapa ku sebut ajaib, karena kaca ini mampu memperjelas penglihatanku dan memburamkan penglihatan orang lain ketika memakainya. Belum sempurna terpasang di wajah, Ku cek jam di handhone ku. Sial masih jam 01.33 ternyata. Lagi lagi penyakit lama ku kumat. Penyakit tidak bisa tidur nyenyak jika bermalam disuatu tempat untuk pertama kalinya. Ku coba mengingat-ingat apa yang membuatku terbangun barusan. Sepertinya karena mimpi. Ya mimpi. Aku bermimpi sedang berada di suatu tempat. Aku tidak ingat dimana persisnya. Tapi aku yakin belum pernah di tempat itu. Lokasinya berada di tempat tinggi. Di dalam mimpi itu aku seperti sedang dihinggapi bahaya. Lalu, Aku berlari untuk menghindarinya. Ketika berlari, aku terpeleset, kaget dan…. Bruk.

Terbangunlah aku.

Setelah diskusi dengan bu kades sore tadi, akhirnya aku menempati kamar mbah haryo. Kamar ini cukup besar. Berbentuk persegi dengan panjang tiap sisinya sekitar empat meter. Ada dua ranjang di kamar ini. Satu ranjang yang cukup besar untuk dua orang, dengan ukiran kayu khas di mukanya. Khas seperti ranjang jaman dahulu. Lalu ada satu ranjang untuk satu orang tepat di depan ranjang pertama. Sama halnya dengan ranjang pertama, ranjang kedua juga memiliki ukiran kayu dimukanya. Ukiran-ukiran di ranjang tersebut mengingatkanku akan pintu ruang kepala sekolah ku. Meskipun tidak sama persis, namun mereka memiliki guratan yang sama.

Kamar ini agak berbau apek dan lembab. Ada debu dibeberapa permukaan benda yang masih tersisa. Sepertinya, debu di area ini luput dari penglihatan yayuk dan bu kades ketika membersihkan kamar ini sore tadi. Terlihat jelas, bahwa kamar ini sudah lama tidak digunakan. Cahaya bohlam 5 watt bewarna kuning yang menerangi ruangan ini semakin membuatku merasa tidak nyaman.

Aku pandangi sekelilingku. Ada lemari besar berukiran kayu dengan dua pintu. Disampingnya berderet lemari kecil dua pintu juga, lalu ada meja rias jaman dahulu dengan cermin besar didalamnya yang berdempet dengan meja lainnya. Meja yang khusus dibuat untuk tempat guci dan pot bunga berbentuk guci. Baik meja rias maupun meja guci memiliki tiga loker didalamnya.

Aku penasaran dengan isi lemari dan meja-meja tersebut. Besok pagi harus kuperiksa. Siapa tau ada harta karun di dalamnya.

Di dinding kamar juga terpasang beberapa bingkai foto. Ada bingkai foto mbah haryo dan istrinya ketika muda. Foto tersebut sudah termakan usia. Ada bebeapa kerutan di sisi kertas foto dan warna yang pudar di sisi lainnya. Selain itu anehnya, tepat di wajah mbah haryo dan istri dalam foto, justru terlihat buram. Aku tidak mengerti, apakah ini akibat termakan usia atau memang ada sengaja yang memburamkannya. Melihat foto tanpa wajah tersebut membuat bulu kudukku meremang tiba-tiba.

Tapi mataku terfokus pada satu bingkai foto besar yang posisinya dipajang tepat di dihadapan muka ku ketika aku berbaring secara telentang. Foto besar itu adalah foto presiden pertama kita. Ir. Soekarno. Aku penasaran kenapa foto beliau dipajang disini dan dengan ukuran besar pula.

Malam semakin larut. Aku masih terjaga dalam tidurku. Aku menggerutu dalam hati, kenapa bisa-bisanya terbangun dalam kondisi seperti ini. Mana sendirian pula. Harusnya kuikuti saran dari rika sore tadi. Aku tidur di kamar satu saja bersama mereka, para wanita. Toh tidak tidur satu ranjang ini dan kami tidak akan melakukan hal tidak senonoh juga. Justru dengan tidur bersama akan lebih mudah dalam menjaga satu sama lain di daerah yang terpencil dan asing ini.

Tok tok tok..

Lamunanku terhenti ketika aku sadar ada yang mengetuk pintu kamarku. Sebenarnya aku kurang yakin yang barusan itu adalah bunyi ketukan pintu. Ku tengok ke pintu dan menunggu ketukan selanjutnya. Tapi semenit dua menit, tidak ada lagi ketukan. Ah mungkin hanya lamunanku saja pikirku.

Aku meraih handphone ku. Ku buka facebook. Mungkin dengan bersosmed bisa membunuh waktu dan melelahkan mataku, sehingga bisa membantuku untuk tertidur lagi. Aku tertegun sejenak melihat beranda facebook ku. Ku baca berita duka cita. Kakak angkatanku ada yang meninggal dunia karena sakit. Aku kenal dia. Namanya mbak Nila. Aku pernah satu organisasi dengannya ketika mahasiswa baru. Dia termasuk orang yang baik, ramah dan cerdas. Ku tatap lekat lekat fotonya. Ada penyesalah dalam hatiku kenapa belum sempat menjenguknya dulu.

Tok tok tok..

Ah bunyi ketukan pintu lagi. Kali ini bunyinya cukup keras. Aku benar-benar yakin pintuku ada yang mengetuk. Segera ku beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Tapi langkahku tertahan dengan pikiranku sendiri.

Siapa yang mengetuk pintu tengah malam begini?

Aku kembali ke ranjang dan duduk disisi. Kuperhatikan celah pintu bawah. Jika ada orang yang mengetuk, pasti akan terlihat bayangannya disana. Masalahnya aku tidak melihat apa-apa disana. Tiba-tiba bulu kudukku merinding.

Aku berteriak pelan. “Rika, itu kamu ya?”

Tidak ada jawaban.

“Bu lurah apa yayuk? Ada perlu apa ya malam malam?” tanyaku sekali lagi

Lagi lagi tidak ada jawaban

Aku mengecek handphoneku. Apakah ada pesan atau telepon masuk dari mereka. Hasilnya nihil. Daripada aku terjebak dalam pikiranku sendiri, aku mencoba menelepon Rika. Belum sempat kutekan tombol calling, tiba-tiba pintuku berbunyi kembali.

Tok tok tok…

Aku terkejut hebat. Jantungku berdegup kencang. Bulu kudukku kembali merinding. Lagi lagi kuperiksa celah dibawah pintu. Aku tak menemukan bayangan apa-apa disana. Aku berpikir macam-macam lagi. Jangan-jangan teman-temanku mengerjaiku. Mereka bercanda dengan mengetuk pintu malam-malam dengan maksud menakut-nakutiku. Tapi aku juga tidak percaya, ngapain juga mereka ngerjain orang tengah malam?

Akhirnya kumantapkan hatiku untuk membuka pintu. Aku berjalan perlahan-lahan. Punggungku terasa panas. Jantungku pun masih berdegup kencang. Ku buka pintu pelan pelan, dan ku intip keluar..

Aku tidak melihat apa-apa disana.

Ku buka sedikit lagi, lalu ku lujurkan kepalaku keluar dan menengok sekeliling, aku benar-benar tidak melihat siapa-siapa. Ku tajamkan pandangan ku arah kamar satu dan dua, aku tidak melihat adanya gerak-gerik orang disana. Lalu kupandangi tempat jemuran di depan kamarku, meskipun gelap, tapi aku yakin tidak ada siapa-siapa juga disana. Di tempat jemuran hanya ada layang-layang besar yang terletak disudut bawah jemuran. Layang-layang koang sebutannya.

Anehnya, aku masih merinding saat itu juga..

Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa, segera kututup pintu kamarku. Ku kunci sekalian. Aku segera menuju ranjangku. Dan berdoa agar segera diberi kantuk. Aku ingin cepat-cepat tertidur. Aku ingin cepat-cepat pagi hari tiba. Aku ingin segera keluar dari kondisi menyeramkan ini.

Ku balut tubuhku dengan selimut. Kututup seluruh tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku pejamkan mataku dengan paksa agar segera lekas tertidur. Belum juga jantunngku berdegup normal kembali, lagi-lagi aku mendengar suara ketukan pintu..

Tok tok tok…

Tok tok tok…

Ngiik ngiikk ngiiiik…

Badanku merinding hebat. Punggungku kembali panas. Jantungku berdegup kencang lagi. Tepat setelah ketukan pintu, aku mendengar suara anak ayam di depan pintu kamarku. Suara itu terus berbunyi  bersahut-sahutan. Aku tidak tau apakah pak kades memang memelihara ayam disini, aku juga tidak tau apakah benar ada anak ayam di depan kamarku..

Tapi aku selalu tau, kalo ada bunyi anak ayam tengah malam, itu menandakan bahwa ada kuntilanak disekitar bunyian itu..

Itu tandanya..





Ada kuntilanak didepan kamarku…


to be continued..

Catatan : Jangan bingung ya kalo ada perbedaan gaya penulisan antara cerita bagian satu dan dua. Memang disengaja kok. Kalau bagian satu ditulis dengan gaya penulisan diary, nah bagian dua ditulis dengan gaya penulisan cerpen. Lagi pengen nyari suasana baru aja hehehe

Baca Cerita sebelumnya : Disini Ada Setan (Bagian Satu) 

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #Tantangan2
#Day14


Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock