Kebangkitan dalam Berkorupsi?




Alangkah lucunya negeri ini saat momen kebangkitan justru ditandai dengan terbongkarnya mata rantai kasus korupsi yang menjerat tokoh tokoh pembangun bangsa. Fenomena ini cukup menggelikan melihat seperti sudah tidak adanya lagi makna maupun esensi dari suatu kebangkitan nasioanal. Bahkan, Kebangkitan tersebut justru mengalami degradasi dan dinamika tersendiri ketika dihadapkan dengan kasus korupsi yang seolah tiada hentinya terjadi di negeri yang penuh dongeng ini. Melihat hal itu, kita pun sampai pada pertanyaan sederhana yang sulit sekali untuk dijawab, yaitu Apakah pantas kebangkitan nasional disejajarkan dengan kebangkitan dalam berkorupsi?

Korupsi semakin hari semakin berkembang, semakin merajalela dan semakin bangkit. Korupsi juga mulai mengalami regenerasi dalam perilaku, dari mulai coba-coba menjadi candu, dari mulai minat menjadi bakat, bahkan dari sekedar ingin tau menjadi kebiasaan. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti korupsi juga mengalami regenerasi dalam hal usia, seperti menjangkiti  anak SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi, bahkan manula. Lantas apakah kita sebagai generasi penerus bangsa rela hal itu terjadi? Jawabannya tentu ada di dalam hati nurani kita semua.

Berantas korupsi bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Memang , kalau kita memulai pemberantasan tersebut melalui sistem administrasi dan keuangan, pasti akan banyak menemui kesulitan, karena sebuah sistem pasti terhubung dengan sistem lainnya. Selain itu akan butuh banyak waktu, tenaga, kesabaran dan ketelitian untuk membongkarnya. Namun ada beberapa cara efektif lainnya dalam menanggulangi korupsi, salah satunya dengan memperkuat aparat hukum. Salah satu sebab maraknya korupsi di negeri yang (katanya) makmur ini adalah karena lemahnya peran dan fungsi aparat hukum. Apalagi jika dihadapkan dengan tokoh tokoh besar negeri ini. Hukum seolah sudah tak lagi mempunyai arti.

Jika hukum benar-benar ditegakkan dan hukuman berat benar-benar diterapkan kepada koruptor, maka secara langsung akan memberikan dampak sistemik kepada koruptor maupun calon koruptor lainnya. Ini bisa memberikan efek jera terhadap orang yang terlanjur melakukan korupsi sekaligus memberikan rasa was-was terhadap orang yang sedang melakukan tindak korupsi dan tentu saja juga memberikan rasa takut untuk berkorupsi terhadap pihak-pihak yang belum pernah melakukan korupsi. Ini seperti pepatah, sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.

Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini. Kini saatnya kita mulai bersaing dengan Negara-negara kaya lainnya, bukan justru malah tenggelam dalam lautan yang dibuat oleh kita sendiri. Mari kita kembalikan lagi esensi dari suatu kebangkitan nasional. Karena pejuang-pejuang terdahulu pasti tidak ingin kebangkitan bangsa yang dulu mereka perjuangkan dengan susah payah ini justru malah kehilangan jati dirinya yang membuat perjuangan mereka dulu menjadi sia-sia belaka. Bangkit itu aku, bangkit itu negeri ku dan bangkit itu berantas korupsi.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day11




Share:

1 comment:

  1. Berantas korupsi dari diri sendiri dan saat ini juga kita mulai, bangun budaya anti korupsi

    ReplyDelete

Disable Adblock