Letters From Jepara



Masih ku ingat selalu, setahun yang lalu, saat aku berkunjung kesana bersama keluarga hijau ku, kami menemukan “penemuan-penemuan” baru disana. Penemuan yang tak telihat bentuknya dan wujudnya, tapi sangat manis rasanya, sangat harum wanginya, sangat indah pemandangannya, dan sangat jelas kelihatannya.

Pulau Panjang kembali menjadi saksi bisu dalam hidupku dan keluarga ku, kali ini keluarga biru-ku, dimana si biru menemukan kekeluargaannya disana, menemukan kasih sayangnya disana, menemukan kerekatan dalam dekapan ukhuwahnya disana dan menemukan sesuatu yang hilang, sesuatu yang terkunci rapat, sesuatu yang sewaktu waktu bisa menjadi bom waktu, sesuatu yang terkubur dalam bisunya suatu lisan, yaa aku menemukannya disana bersama si biru.. Keluargaku.

Keluarga bagaikan cermin. Apa yang terpotret di diri kita itulah yang akan terpotretkan dalam cermin. Saat seseorang sedih bercermin, pasti cermin akan memantulkan raut kesedihannya, namun saat seseorang bahagia pasti kebahagiaan itu juga tercermin dalam cermin tersebut.

Keluarga ibarat satu tubuh yang saling terkait dan melengkapi, ketika kepala terasa pusing, tangan membantu memijit mijitnya dan sebaliknya, kepala memimpin tangan untuk melakukan sesuatu. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya, jika kepala tidak berfungsi normal, seluruh tubuh akan tidak normal. Sama halnya jika kita menyakiti diri kita sendiri, itu berarti kita menyakiti keluarga kita yang lain.. Oleh karena itu jadikanlah tubuh kita, tubuh yang sehat jasmani dan rohani.

Mengutip kata kata seseorang..

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga.


Tetaplah semangat biruku.. Teruslah berkarya. Teruskan perjuangan kita. Suarakan kebenaran. Tegakkan keadilan. Semangat menginspirasi, menginovasi, dan mengarsiteki dalam kebaikan.

#Onedayonepost #ODOPbatch5

#Day18
Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock