Merawat Luka



Maraknya kampanye hitam yang terjadi menjelang pemilihan umum dinilai telah menggores luka yang sudah ada akibat pemilihan-pemilihan pemimpin sebelumnya. Gaya kampanye yang menyerupai ajang pembodahan massal kini sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Indonesia. Media yang seharusnya menjadi tonggak pencerdasan bangsa dan peredam kegelisahan rakyat justru menjadi panah-panah beracun yang siap membunuh karakter yang dibidiknya. Pun sama halnya dengan media sosial yang telah berevolusi dari forum pertemanan dunia maya hingga menjadi forum peperangan dunia maya. Berkaca pada hal kita pun sampai pada pertanyaan besar, apakah rakyat akan terus menerus menerima luka-luka yang kian hari kian serius?

Konsep dasar dari kampanye adalah mempromosikan. Sama halnya dengan pemasaran produk dalam konteks wirausaha. Bagaimana caranya agar pembeli dapat tertarik dengan produk kita dan membeli nya, lalu kembali datang untuk membelinya lagi di kemudian hari. Strategi tersebut biasanya dilakukan dengan teknik yang kreatif, inovatif dan bertanggung jawab. Seharusnya kampanye juga melakukan strategi seperti itu. Bagaimana mempromosikan kandidatnya dengan tujuan untuk menarik hati pemilih, tidak hanya untuk hari ini, namun juga secara terus menerus. Selain itu tujuan kampanye pun harus diluruskan kembali yaitu, memberikan hak pada rakyat untuk memilih salah satu kandidat, bukan justru memaksa rakyat untuk memilih.

Kampanye cerdas bukanlah hal yang sulit dilakukan. Kampanye cerdas adalah menyoal seni. Seni mempengaruhi orang, bagaimana rakyat dapat memberikan hak pilihnya dan memilih kandidat yang dikampanyekan. Kampanye cerdas pun adalah seni mencerdaskan orang lain, bagaimana rakyat dapat tercerdaskan oleh impian-impian, visi-misi dalam membangun bangsa. Dan kampanye cerdas adalah soal seni dalam mencintai, bagaimana rakyat dapat merasakan cinta dari pemimpinnya, bagaimana pemimpin dapat dicintai oleh rakyatnya, bagaimana rakyat tetap bersatu dalam satu keharmonisan dan bagaimana rakyat dapat menerima dengan tulus siapapun pemimpinnya kelak.

Sudah sepantasnya kita merawat luka-luka yang sudah diderita rakyat. Bukan malah menggoreskan luka yang sudah ada tersebut. Orang bijak pernah berkata bahwa, tidak ada negeri yang bisa dibangun dalam satu malam. Indonesia pun juga begitu. Membangun Indonesia tidak akan cukup jika dilakukan hanya dalam satu malam. Pasti selalu ada proses dalam menjalaninya. Dan proses tersebut dibutuhkan kerjasama dari semua pihak. Pemilihan pemimpin bukanlah sekedar ajang pemilihan belaka. Pemilihan pemimpin adalah penentuan nasib dan arah bangsa selama beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu mari kita bersama sukseskan pemilihan pemimpin (pilkada) dengan hal-hal positif.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) tinggal menghitung hari lagi. Dalam pemilihan legislative(pileg) 2014 lalu, suara golput adalah “pemenang” resmi pileg dengan perolehan angka sekitar 25%. Kita harusnya segera belajar dari kenyataan tersebut dan segera berbenah agar dapat meminimalisir serta mengurangi angka golput pada pilkada serentak nanti. Dan harapan itu pasti ada.



Share:

No comments:

Post a Comment

Disable Adblock