Sebuah Omong Kosong




Beberapa hari yang lalu saya membaca suatu tulisan yang menyebut bahwa politik adalah omong kosong yang dijual oleh organisasi politik dengan memakai kemasan yang dibungkus dengan rapi dan menarik sehingga membuat orang tertarik.  Di tulisan tersebut saya tertarik dengan kata “omong kosong” yang diutarakan sang penulis. Menurut saya, bukan produk organisasi tersebut yang omong kosong, melainkan organisasi itu sendirilah yang merupakan omong kosong.

Organisasi adalah tempat sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama. Mereka bekerjasama untuk mencapai tujuan mereka. Dalam memudahkan kelangsungan organisasinya dibuatlah suatu struktur kepengurusan yang biasanya dipimpin oleh satu orang ketua, beserta proker-proker di tiap bagian divisi. Begitulah pengertian mendasar dari organisasi. Namun dalam kamus hidup saya, organisasi hanyalah sebuah omong kosong belaka yang sebenarnya tak lebih dari kumpulan-kumpulan orang baik, orang jahat, orang berkepentingan, orang-orang yang bermuka dua, hingga para bedebah para bedebah yang tak tahu malu, yang mempunyai tujuan sesuai dengan kebutuhan orang-orang tersebut. Jadi sangat kurang tepat menurut saya jika memakai istilah “tujuan bersama”, karena kenyataan yang terjadi pada organisasi seringkali merupakan tujuan individu yang mengatasnamakan tujuan bersama.

Contoh paling nyata dari organisasi adalah partai politik. Mereka selalu bersaing dengan sungguh-sungguh demi meraih suara terbanyak agar calon yang diusung bisa menang saat pemilu. Mereka selalu mengatasnamakan ini adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Padahal kenyataannya kebanyakan yang mereka omongkan adalah sebagian besar merupakan tujuan dan kepentingan dari parpol tersebut. Harapannya dengan adanya wakil-wakilnya di suatu kabinet, maka kepentingan partainya bisa tersalurkan dengan baik.

Seharusnya wakil partai yang telah terpilih menjadi wakil rakyat harus melepaskan dirinya dari cengkraman parpolnya. Karena dia sudah bukan wakil partai lagi, akan tetapi telah menjadi wakil rakyat. Partai memang mempercayai dia untuk menjadi wakil rakyat, akan tetapi tanpa adanya rakyat dia tidak akan pernah terpilih. Oleh karena seharusnya rakyat lah yang menjadi prioritas utama nya. Akan tetapi di dunia politik saat ini justru terbalik. Saat seseorang telah terpilih menjadi wakil rakyat, justru dia malah menjadi alat untuk membesarkan, alat untuk mempopulerkan parpol tersebut serta alat untuk memenangkan pemilihan pemilihan lainnya. Bahkan ada juga wakil rakyat yang rela melepaskan jabatan wakil rakyat nya demi keberlangsungan partainya.

Kalo sudah begini bukanlah semua yang dilakukan maupun dihasilkan tersebut hanyalah omong kosong belaka?

Organisasi organisasi kecil pun sebenarnya tak jauh dari omong kosong belaka. Beberapa organisasi bahkan menjadi “tunggangan” pihak-pihak untuk menyebarkan misi “pribadinya”. Pihak-pihak tersebut menutup aksinya dengan mengkamuflasekan misi “pribadinya” tersebut dengan tujuan organisasi yang mereka ikuti. Kenyataan yang terjadi justru terbalik, bukan lagi misi pribadi yang menyesuaikan misi bersama, akan tetapi malah menjadi, misi bersama yang harus menyesuaikan misi pribadi. Misi bersama pun hanya menjadi formalitas belaka, tidak tercapai pun tak masalah, asal misi pribadi bisa tercapai, semua pasti baik-baik saja.

Tentu saja untuk meminimalisir hal-hal tidak diinginkan terjadi, seperti pemberontakan, penolakan, serta untuk menyukseskan kamuflase tersebut, pihak-pihak terkait selalu mengincar posisi-posisi penting di organisasi serta menjadikan orang-orang yang berafiliasi dengannya untuk duduk di posisi strategis lainnya. Buat apa? Untuk memudahkan mereka dalam mengatur dan mengendalikan organisasi. Karena dengan menguasai posisi-posisi penting tersebut, ditambah banyaknya orang-orang yang berafiliasi disampingnya, maka mereka dapat membuat kebijakan atau regulasi yang menguntungkan keberlangsungan pihaknya.

Tidak jauh beda dengan organisasi politik kan?

Pada akhirnya tulisan ini pun sebenernya tak jauh berbeda dengan organisasi-organisasi yang dibicarakan diatas. Hanya sebuah omong kosong, apabila hanya dibaca saja tanpa dikomentari atau dikritisi. Hanyalah sebuah omong kosong belaka jika dilihat hanya melalui satu sudut pandang. Dan Hanyalah sebuah omong kosong belaka jika tidak memberikan sesuatu kepada pembacanya.

#Omedayonepost #ODOPbatch5
#Day33

Share:

2 comments:

  1. Yang tidak bertindak itulah omong kosong.

    ReplyDelete
  2. Akan kukomentari tulisan ini biar tidak menjadi omong kosong

    ReplyDelete

Disable Adblock