Kisah si Ayam Potong Bagian Dua Belas




Ter vs Jan

Ter mengamuk. Ia benar-benar marah besar dan ingin menghabisi Jan langsung. Tapi pikirannya terbelah. Apakah bertarung adalah waktu yang tepat untuk saat ini. Ia harus menyelamatkan Tor. Jika tidak, maka nyawanya akan melayang.

Akhirnya ia memutuskan untuk menahan diri dan fokus pada penyelamatan Tor.

Tapi masalahnya adalah Jan. Ia benar-benar gila. Ia terus menyerang Ter. Mengajak Ter bertarung. Seolah Jan tau bahwa kondisinya saat ini benar-benar  terjepit. Ia tidak akan mudah mengalahkan Jan. Soalnya Jan berhasil mengalahkan Tor. Bisa jadi Jan malah lebih kuat darinya. Kalaupun Jan mulai melemah karena pertarungan sebelumnya, mungkin ia bisa mengalahkannya. Tapi nyatanya tidak. Staminanya benar-benar luar biasa. Hal ini dibuktikan dari tendangan dan cengkramannya yang tetap kuat. Oleh karena itu satu satunya jalan saat ini adalah, sesegera mungkin mengalahkan Jan.

Jan melihat kebimbangan dalam mata Ter. Ia sudah terdesak saat ini. Jan berpikir akan terus menyerang Ter. Selagi itu, Jan juga memberi kode kepada para ayam potong untuk melaksanakan rencana yang ia paparkan sebelumnya.

Para ayam potong membuat barikade  dan mengepung Jan Ter dan Tor didalamnya. Barikade ini terdiri dari 3 lapis barisan. Lalu ada sembilan ayam lainnya yang berbaris berpencar dibelakangnya untuk berjaga dari kemungkinan Ter dan Tor kabur dengan cara terbang. Barikade ini memang terdiri dari ayam ayam potong yang tidak kuat, akan tetapi 3 lapisan barikade tersebut tentu saja menjadikannya tameng yang kuat.

Selain itu salah satu tim barikade ini juga membawa Tor ke tempat lain.

Pandangan Ter teralihkan oleh barikade ini. Ia berpikir inilah alasan kenapa Ia dan Tor diajak bertarung di kavling C. Ternyata ayam ayam rendahan ini sudah memasang perangkat untuk dirinya. Kemungkinan ia untuk lolos dari sini pun semakin mengecil. Jika Tor masih bisa bertarung, mungkin akan ada harapan. Tapi melihat Tor yang sudah kalah tersebut ditambah Jan yang benar-benar diluar dugaannya, ia memprediksi bahwa ia mungkin saja akan berakhir hari ini. Ia pun memilih untuk mencoba kabur dari sini dan meminta bantuan.

Barikade sudah terpasang dengan baik. Tor juga sudah berhasil diamankan. Jan semakin bersemangat. Ia semakin membabi buta menyerang Ter. Ter fokus menghindar sekaligus mencari celah untuk kabur. Jujur saja ia kepikiran dengan nasib Tor. Jika Tor ditawan dan ia tewas hari ini, siapa yang akan tau bagaimana selanjutnya. Bisa jadi ayam potong ini berencana menyerang Istana Ras Impor malam nanti. Seperti yang Penyerang Bob lakukan. Tor juga berpikir jangan-jangan masih banyak ayam ayam seperti Jan disini. Dan satu lagi. Ia bisa terinfeksi penyakit ayam gila jika terlalu lama disini.

Ter melihat ada satu ayam yang keluar dari barisan barikade. Sepertinya itu ayam betina. Dilihat dari postur tubuhnya, sepertinya ayam betina itu cukup besar dan terawat. Ayam tersebut sepertinya salah satu petarung di kavling C. Tapi ayam betina tetaplah ayam betina. Ia bukanlah ayam petarung. Ter bermaksud untuk menyandra ayam tersebut lalu menggunakannya sebagai tameng untuk melarikan diri.

Jan sangat menyusahkan. Ia tidak memberi Ter untuk fokus pada hal hal lain selain pertarungan ini. Sedangkan pikiran Ter justru banyak terpecah ke berbagai hal. Oleh karena itu, ia beberapa kali terkena serangan Jan, yang mana membuat sebagian tubuhnya luka dan memar. Ter pun melihat sedikit celah dan langsung menawan ayam betina yang tadi ia lihat.

Pertarungan langsung berhenti.

Ter mengencam untuk membunuh ayam ini jika Jan bergerak seinci pun. Ter juga meminta agar para barikade membuka jalan untuk pelariannya.

Suasana menjadi hening seketika.

Ter kembali berteriak agar segera dibukakan jalan untuknya.

Barikade tetap tidak bergerak sama sekali.

Ter bingung. Ter semakin marah dan berancang ancang untuk membunuh ayam betina itu.

Lagi lagi barikade tetap tidak bergeming.

Jan malah tersenyum.

Ter bertanya apa yang ia tertawakan.

“Sayang sekali, kau benar benar salah memilih tawanan Ter” kata Jan

“Apa katamu?” Jawab Ter

Tiba tiba ayam betina tawanan itu melepaskan diri dari cengraman Ter, dan berbalik mematuk kuat kuat leher bawah Ter, lalu kemudian berputar dua kali dalam satu gerakan kilat.

Kruuuk..

Leher bawah Ter hancur. Darah segar langsung bercucuran keluar dari sana. Serangan barusan fatal sekali, karena mencabik nadi di leher sekaligus mematahkan tulang lehernya. Ter terjerembab dan tidak bergerak sama sekali.

Ayam betina itu lantas melihat Ter dan mengambil satu bulu di ekor Tor, kemudian bergegas pergi.

Jan menyeringai tajam lalu mengikuti ayam betina itu pergi.

Ayam ayam di barisan barikade lain pun tertawa terbahak-bahak dan sedetik kemudian bersama sama pergi meninggalkan Ter yang bersimbah darah disana sendirian.

to be continued
#Onedayonepost #ODOPbatch5 #tantangan
#Day 52 

Share:

1 comment:

Disable Adblock