Ayam Kampus




Belakangan ini banyak terjadi kasus penutupan tempat hiburan malam berkedok prostitusi di beberapa tempat. Penutupan tempat tersebut tentu membawa angin segar bagi masyarakat karena banyak manfaat yang di dapat baik dari segi agama, kesehatan maupun sosial kemasyarakatan. Selain itu, penggrebekan pun dilakukan  untuk jenis prostitusi online. Pelaku-pelaku jenis ini juga sudah banyak ditangkap oleh aparat kepolisian.

Jika melihat kasus diatas, pelaku prostitusi terdiri dari berbagai jenis usia. Ada yang usia muda dan ada yang usia dewasa atau tua. Selain itu pelaku prostitusi juga terdiri dari berbagai profesi. Malah terkadang prostitusi meruapakan pekerjaan sampingan mereka. Yang miris adalah ketika melihat bahwa pelaku prostitusi itu adalah seorang mahasiswa.

Sungguh ironis melihat mahasiswa yang di agung-agungkan sebagai motor penggerak bangsa, agen-agen perubahan dan agen pengontrol sosial, justru terjun ke dunia prostitusi. Ayam kampus seolah sudah menjadi tradisi dibandingkan sekedar profesi. Kampus kini justru menjadi landmark-nya para ayam-ayam kampus dalam menjalani kehidupan gelapnya. Motif menjadi ayam kampus pun sederhana, yaitu, agar bisa membeli barang-barang yang diinginkan. Miris memang, melihat kampus yang dikatakan sebagai gudang pengetahuan dan kawasan orang berilmu justru menjadi penyumbang “kupu-kupu” di gerlap-gerlipnya dunia malam.

Padahal, rakyat Indonesia banyak menaruh harapan kepada para pemuda, khususnya mahasiswa untuk mengubah bangsa yang sedang carut-marut ini. Alhasil, kenyataan ini semakin memperpanjang catatan gelap mahasiswa di mata masyarakat.

Seharusnya pihak kampus mengawasi ketat fenomena ini.Salah satunya dengan melakukan kerjasama dengan polres setempat. Karena kampus punya kewajiban untuk melindungi mahasiswanya. Ayam kampus harus segera diberantas, jangan sampai, kampus yang seharusnya menjadi ladang ilmu justru menjadi ladang prostitusi.

#Onedayonepost #ODOPbatch5


Share:

2 comments:

Disable Adblock