Nepot.Is.Me




Pemimpin memang bukanlah posisi yang bisa diisi oleh sembarangan orang. Dari pemimpin inilah, akan terlihat bagaimana wajah sebuah negeri. Dari pemimpin inilah perubahan-perubahan akan terjadi kelak. Dan dari pemimpin inilah akan lahir calon-calon pemimpin baru, dengan karakter dan visi yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu memilih pemimpin haruslah yang terbaik dari yang terbaik jika ingin memperbaiki keadaan.

Adanya nepotisme tentu saja mencoreng wajah pemimpin dan demokrasi. Konsep demokrasi yang selama ini di agung agungkan sebagai sistem pemerintahan terbaik karena berorientasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat nyatanya mulai kehilangan titahnya. Banyak pemimpin yang meninggalkan nilai-nilai demokrasi. Harapan demokrasi bisa diterapkan di level terkecil masyarakat pun hanya menjadi angan-angan semata. Jangankan diterapkan di level terkecil di masyarakat, di dunia kampus yang berisi orang-orang berpendidikan saja, nyatanya demokrasi dijadikan alat permainan politik untuk melakukan tindakan nepotisme.

Maraknya nepotisme yang terjadi di berbagai elemen masyarakat, instansi maupun pemerintahan ternyata disebabkan oleh penyalahgunaan demokrasi. Konsep demokrasi yang mengacu kepada suara terbanyak justru menimbulkan beberapa paradigma dan kehausan akan kekuasaan. Kebebesan dalam berpendapat, berkumpul dan membuat organisasi justru melahirkan stigma tersendiri. Banyak orang yang membuat organisasi, kemudian maju mencalonkan diri menjadi pemimpin, jika dia sukses terpilih, maka dia dengan “senang hati” akan mengangkat orang-orangnya ke posisi posisi penting dan strategis.  Kalau sudah begini, apakah demokrasi masih menjadi yang terbaik?

Nepotisme sudah menjadi budaya bangsa Indonesia, dari pemimpin pemimpin cilik hingga pemimpin pemimpin besar. baik dalam skala besar maupun kecil. Baik dilakukan oleh rakyat kecil maupun rakyat besar. Baik pegawai tingkat bawah hingga pegawai tingkat atas. Baik organisasi kecil hingga organisasi besar. Semua sudah terjangkit virus bernama nepot.is.me. Sering kita mendengar, seseorang yang mendapat pekerjaan, karena ada “orang dalam” di tempat dia melamar pekerjaan, kita juga sering melihat di berita, bagaimana pemimpin pemimpin bangsa, para wakil rakyat, yang memberikan posisi posisi tertentu kepada kerabat atau kalangan dekatnya, kita juga tak bisa memungkiri di suatu instansi pendidikan adanya “peng-anak-emas-an” kepada murid murid yang tergolong kaya atau anak dari pejabat penting. Bahkan di bangku perkuliahan pun kita sering melihat seorang mahasiswa yang membooking tempat duduk di sekitarnya agar temen-temen dekatnya bisa duduk didekatnya. Beberapa contoh tersebut menegaskan bahwa nepotisme tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, karena memang sudah mengakar kuat kepada pribadi masing-masing.

Kita bisa melihat contoh yang ada di negeri ini. Dulu pernah ada kasus nepotisme di SKK Migas. Mantan kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini mengangkat kaum loyalisnya di SKK Migas yang rata-rata adalah alumni ITB. Padahal sebelumnya mereka tidak terpakai, akan tetapi setelah Rubi mengisi posisi SKK Migas, ia langsung memanggil alumni  ITB tersebut untuk mengisi posisi penting dan strategis di SKK migas. Tentu saha hal ini menimbulkan ketidakadilan terhadap orang-orang yang non alumni ITB.

Sudah selayaknya seorang pemimpin tidak memakai konsep nepotisme dalam mengarungi bahtera kepemimpinannya. Pemimpin haruslah independen, netralitas dan berintegritas. Independen dalam artian bekerja sesuai hati nurani, netralitas dalam artian tidak memihak atau terpengaruh siapa pun dan  integritas dalam kepemimpinannya. Karena hanya pemimpin yang kuat lah yang mempunyai kekuatan untuk mengubah sesuatu.

Menjadi Indonesia yang kuat tentu saja harus menguatkan diri terlebih dahulu. Kuatkan pemimpinnya, kuatkan sistemnya lalu kuatkan rakyatnya. Kuatkan itu semua dengan nilai-nilai yang baik dan benar. Proses penguatan sendiri pasti membutuhkan waktu yang cukup lama dan hasil dari penguatan itu sendiri pun akan bermacam-macam. Bisa gagal atau sukses.  Oleh karena itu kita harus terus mencoba, belajar, berjuang dan berdoa untuk bisa memperbaiki keadaan ini, karena perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #tantangan


Share:

3 comments:

Disable Adblock