SDGs dan Potret Kesehatan di Indonesia




Salam Sehat !!!

Kesehatan merupakan investasi masa depan. Orang yang sehat akan mempunyai jaminan di hidupnya untuk melakukan hal-hal positif baik hari ini maupun di masa depan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan bisa diumpamakan seperti kita menabung. Semakin banyak uang yang kita tabung, maka semakin banyak uang yang kita kumpulkan. Begitu pula dengan kesehatan, semakin seseorang menjaga kesehatan maka semakin banyak pula orang itu melakukan aktivitasnya, sehingga semakin banyak mamfaat yang ia dapat.

Namun, realita yang ada saat ini justru kesehatan masih menjadi prioritas kesekian kali, baik dari sudut pandang pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah masih sering “kecolongan” dengan “kelakuan” rumah sakit yang menolak pasien akibat BPJS, kurangnya tenaga kesehatan di daerah terpencil, hingga sarana dan prasarana kesehatan daerah terpencil yang kurang memadai. Masyarakat pun masih lebih “senang” berobat dibandingkan melakukan pencegahan penyakit dan masyarakat  masih lebih senang menunggu bola dibandingkan dengan menjemput bola di kala persoalan menyangkut kesehatan datang.

Padahal, Indonesia mempunyai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang didalamnya terdapat poin tentang kesehatan. Lantas, Apakah SDGs hanyalah angan-angan belaka? Apakah menggalakkan kehidupan sehat dan sejahtera hanyalah omong kosong belaka?  Tidak. Jawabannya jelas tidak. Karena SDGs dibuat bukan hanya untuk dipamerkan atau dicanangkan dengan begitu saja, akan tetapi dibuat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kesejahteraan rakyat. Karena kesehatan yang baik merupakan salah satu indikator kemakmuran suatu Negara.

Kita bisa melihat dari data departemen kesehatan tentang Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 yang dulu sempat dicanangkan. Ada target MDG di bidang kesehatan yang sempat berada dalam posisi indikator merah, yaitu menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi, menurunkan angka Total Fertility Rate (TFR), meningkatkan akses penduduk yang memiliki air minum berkualitas dan mengendalikan penyakit malaria. Hal ini menunjukan bahwa kualitas kesehatan di Indonesia masih butuh perhatian yang lebih. Ini berarti akan menjadi tantangan besar bangsa Indonesia dalam dua belas tahun mendatang untuk menemukan solusi penyelesaian masalah di bidang kesehatan khususnya dalam bidang kesehatan.

Dari kelima indikator merah tersebut, semua indikator berhubungan langsung dengan manusia dan masyarakat. Oleh karena itu Pengoptimalan peran Puskesmas bisa menjadi solusi terdepan untuk penyelesaian masalah kesehatan di Indonesia. Menurut Departemen Kesehatan (2004), tujuan penyelenggaran puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat. Puskesmas merupakan sarana kesehatan yang paling terjangkau oleh rakyat, baik dari segi biaya, fasilitas, maupun infrastruktur. Puskesmas juga memiliki fungsi kuratif, preventif dan kuratif dalam kegiatan operasionalnya serta berperan sebagai:

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
2. Pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan
3. Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama

#Onedayonepost #ODOPbatch5

Share:

3 comments:

  1. Fungsi kuratif dan preventif. Pingin tahu penjelasannya nih. Mantapp poll

    ReplyDelete
  2. Masih bersambung nih sepertinya

    ReplyDelete

Disable Adblock