Merdeka Produk Indonesia : Menjadikan Produk Lokal Sebagai Bagian yang Utuh




Di Indonesia, menurut data yang dilansir oleh Bank Indonesia, pada tahun 2016 belanja online yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia mencapai Rp75 Triliun di sepanjang tahun. Sedangkan untuk jumlah pengguna internet yang berbelanja online berada dikisaran 24,73 juta orang. Hal ini berarti bahwa rata-rata pengguna internet yang melakukan belanja online menghabiskan uang sebanyak 3 juta rupiah per tahun-nya. Sungguh angka yang fantastis.

Semakin berkembangnya internet, sosial media dan kemudahan dalam mengaksesnya, turut berperan penting dalam perkembangan transaksi online yang ada. Menurut data penelitian The Opportunity of Indonesia, yang digagas oleh Temasek dan Google, pertumbuhan e-commerce di Indonesia akan semakin meningkat tahun demi tahun. Pada tahun 2020, pengguna internet di Indonesia bisa mencapai 215 juta orang, dengan 18 juta diantaranya melakukan aktivitas belanja online. Angka tersebut diprediksikan akan terus meningkat hingga tahun 2025. Di tahun tersebut diprediksi ada sekitar 119 juta orang yang akan melakukan belanja online dengan taksiran nilai $81 Milliar. Wow. Benar-benar peningkatan yang signifikan ya.

Banyaknya orang yang melakukan belanja online mungkin memang disebabkan oleh tuntutan zaman itu sendiri. Perkembangan teknologi yang ada banyak membantu urusan-urusan manusia, khususnya dalam urusan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maraknya aplikasi belanja online di Indonesia dengan berbagi fitur dan promonya semakin membuat orang tertarik untuk mencobanya, ya meski hanya sekedar untuk melihat-lihat saja.

Hemat waktu, hemat tenaga, dapat disambi dengan aktivitas lain, dan memiliki banyak pilihan produk adalah sebagian kecil dari sederet keuntungan berbelanja online. Konsumen tak perlu berpanas-panasan lagi, tak perlu ngongkos lagi dan tak perlu bingung jika sedang banyak agenda alias sibuk, hanya dengan swipe-swipe saja ia sudah bisa membeli barang yang diinginkannya. Pihak konsumen pun semakin dimanjakan lagi dengan berbagai kemudahan dari metode pembayaran yang diberikan. Pembayaran Bisa lewat ATM, kartu kredit dan minimarket. Selain itu iming-iming cashback dan gratis ongkir juga senantiasa menghiasi paket penjualan, yang tentu saja membuat konsumen semakin ngiler.

Kemudahan-kemuahan yang dimiliki belanja online tentu sangat berguna dan bermanfaat bagi kondisi-kondisi tertentu. Mengapa hanya kondsi tertentu saja? Karena berbelanja online juga memilik resiko-resiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan belanja konvensional. Contohnya adalah, saat barang yang kamu pesan tidak sesuai dengan bayanganmu sebelumnya. Kasus ini banyak sekali dialami oleh konsumen yang berbelanja online. Saking seringnya bahkan sampai ada orang yang membuat meme-nya, meme gambar dua hal yang berbeda 180 derajat (satu bagus dan satu jelek) dengan caption “When yo buy something at online and when it arrived.”



Ya. Saya kira inilah salah satu kelemahan paling besar yang didapatkan saat berbelanja online. Kamu tidak bisa melihat dan merasakan langsung barang yang ingin dibeli. Meskipun keterangan produk biasanya tertera di deskripsi produknya, tapi hal ini tentu masih membuat para konsumen tidak percaya 100%. Hal ini juga lah yang membuat sebagian besar orang masih menyukai aktivitas belanja konvensional, yakni berbelanja langsung ke penjualnya, baik itu di pasar, supermarket ataupun mall.

Makanya, menyerahkan sepenuhnya aktivitas berbelanja dengan mekanisme online saya kira belum bisa menjadi pilihan yang bijak untuk masyarakat. Masih banyaknya penipuan-penipuan online dan online shop gadungan mencerminkan bahwa aktivitas berbelanja online tidaklah sesempurna yang dibayangkan. Selain itu, berbelanja online juga bisa menyebabkan kecanduan dalam berbelanja. Memang, kecanduan berbelanja tidak selalu berarti negatif, karena kembali lagi kepada kebutuhan dan pilihan orang-orang yang bersangkutan. Tetapi, jika kecanduan berbelanja online tersebut  membuat kamu malas, baik itu malas keluar rumah, malas berinteraksi dengan orang-orang dan malas bersosialisasi, itu artinya kamu telah mengalami penjajahan oleh aktivitas belanja onine.

Masih ingat game pokemon go yang dulu sempat meledak itu? Gara-gara game tersebut, banyak pemainnya menghabiskan waktu hanya dengan menunduk, menatap perangkat didepannya sambil memutar-mutar perangkat mobile tersebut. Sekilas orang-orang itu mirip seperti kuda pada delman, yang dikontrol sepenuhnya oleh Pak Kusir. Dalam kasus ini, Pak Kusirnya adalah Game Pokemon Go, sedangkan kudanya adalah para pemainnya. Pak kusir dan kudanya bisa dibaratkan seperti kisah penjajahan zaman dahulu. Pak kusir dengan segala kecerdasan dan tentaranya (cambuknya) mampu mengontrol sepenuhnya sang kuda sesuai dengan kehendaknya. Disuruh berlari ia berlari, disuruh berhenti ia berhenti. Padahal sang kuda hanya diberikan upah kecil yang tidak sesuai dengan pekerjaannya, yakni hanya dikasih makan sederhana saja. Miris bukan?

Jika zaman dahulu, manusia menjajah manusia, namun zaman sekarang teknologi lah yang menjajah manusia.

Berbicara mengenai belanja online dan penjajahan, maka kita akan sampai pada pembahasan produk-produk yang dijual online. Menurut data yang dikutip dari website qlapa.com, dari total produk yang dijual secara online di Indonesia, 93-94% nya merupakan produk impor, sedangkan sisanya adalah produk lokal. Lucunya, sebagian besar penjual dan pembeli barang tersebut adalah orang Indonesia. Kok bisa yaa orang indonesia lebih gencar “jualan” dan membeli produk luar?

Serbuan produk asing yang menginvasi Indonesia ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi bisa membangun perekonomian, namun di sisi lain, hal tersebut juga dapat mematikan produk-produk lokal. Kini Indonesia sedang mengalami penjajahan model baru. Penjajahan yang disukai oleh masyarakatnya sekaligus dibantu oleh masyarakatnya juga, bahkan mungkin masyarakat nya juga tidak tahu kalau ia sedang dijajah saat ini.

Beberapa hari yang lalu bangsa Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaannya yang ke 73 tahun. Gaung ”Merdeka !!!” marak diteriakkan diberbagai pelosok negeri, di televisi dan di sosial media. Saat sebagain besar orang berteriak merdeka, mereka tidak sadar, bahwa kita belumlah sepenuhnya merdeka. Definisi merdeka tidaklah hanya sebatas medeka dari penjajahan negara lain, merdeka secara umum berarti bebas dari belenggu, kekangan dan kekuasaan dari pihak tertentu. Makanya, selama produk lokal yang dijual online hanya berkisar 6-7% saja, maka selama itu pula (produk) Indonesia belum benar-benar merdeka.



Berdasarkan data-data yang saya kumpulkan dari internet, rata-rata alasan kenapa produk lokal kurang disukai oleh konsumen adalah karena kualitas produk yang “katanya” tidak sebanding dengan produk impor, inovasi produk yang “katanya” tidak mengikuti perkembangan zaman (fashion) dan minimnya promosi yang dilakukan.

Saya menggunakan kata “katanya” diatas karena menurut saya, ketiga alasan diatas tidaklah selalu benar dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Saya pikir, terbentuknya mindset masyarakat mengenai ketiga alasan diatas adalah karena dua hal, yang pertama, masyarakat sudah jatuh cinta duluan dengan branding produk impor, yang ditunjang dengan packaging-nya yang cantik serta promosi yang menarik. Apalagi jika produk tersebut masuk dalam kategori best seller, sedang viral, atau sedang ngehits di momennya. Ya sudah pasti produk impor tersebut akan merajai pangsa pasar di Indonesia.

Sebab Kedua adalah, karena masyarakat-nya sendiri yang kurang tertarik untuk lebih mencari tahu mengenai produk produk lokal/handmade asli Indonesia. Coba kamu tanyakan dalam hati, ketika berbelanja online, sudah berapa kali kamu mencari produk yang ingin kamu beli dengan menambahkan keyword “asli Indonesia” di belakang nama produk nya? Pasti masih kehitung jari kan? Atau jika menurut kamu pertanyaan ini kuranglah tepat, lantas bagaimana jika pertanyaannya diubah menjadi seperti ini, Sebutkan situs jual beli online yang khusus menjual produk asli handmade Indonesia? Jika kamu bisa menyebutkannya lebih dari satu, maka selamat, kamu termasuk orang yang sudah merdeka dari belenggu penjajahan produk impor.

Dan, jika kamu penasaran dengan situs jual beli online yang khusus menjual produk asli handmade Indonesia, saya punya rekomendasi yang wajib kamu cari tahu jauh lebih dalam. Situs tersebut bernama qlapa.com. Di qlapa.com kamu akan menemukan berbagai produk unik yang tidak dijual ditempat lain, mulai dari kerajinan tradisional hingga produk rancangan modern. Bisa dibilang qlapa.com adalah rumahnya produk handmade Indonesia, soalnya hampir semua produk buatan lokal yang dibutuhkan sehari-hari, mulai dari makanan, pakaian, gadget dan aksesoris lainnya, semuanya ada disini !



Yang paling saya suka dari aktivitas berbelanja di qlapa.com adalah keamanan dalam transaksinya. Semua transaksi disini langsung ditangani oleh pihak qlapa.com. Jika ada penjual yang tidak mengirimkan produk lebih dari waktu yang ditentukan, maka transaksi akan otomatis batal dan uang segera dikembalikan ke pembeli. Selain itu, buat kamu yang tertarik dengan produk berdaya seni tinggi yang berkualitas, apalagi produk tersebut bakal digunakan untuk koleksi pribadi atau kado untuk kerabat, maka swipe-swipe di qlapa.com pasti bakal memberikan kamu inspirasi yang tidak ada duanya.

Merdekanya produk Indonesia menurut saya bukanlah sebatas produk tersebut di ekspor keluar negeri, atau menjamurnya produk lokal di etalase situs jual beli online. Merdekanya produk Indonesia adalah saat dimana masyarakat dengan bangga dan ikhlas menggunakan produk lokal sebagai bagian yang utuh dan bagaikan satu tubuh di kehidupannya sehari-hari. Jika kamu ingin masyarakat benar-benar merdeka, maka merekomendasikannya berbelanja di qlapa.com adalah salah satu bentuk perjuangan keren masa kini dalam mencapai kemerdekaan.

#MerdekaProdukIndonesia
Share:

Skenario Simulasi Evakuasi & Penanggulangan Gempa Bumi di Rumah Sakit




Pada pukul 10.00 tiba-tiba terjadi gempa bumi di RS sentra medika Cibinong. Getarannya cukup terasa dan berlangsung beberapa detik.  Semua karyawan di Ruangan X pun panik. Perawat, CS, Security dan pengunjung pun berlindung di bawah meja atau merapat di dinding hingga getaran gempa selesai.

Di Ruangan X, ada 4 perawat, 1 CS, 1 security, 10 pasien dan 5 orang keluarga pasien.

Setelah gempa selesai Tim K3 mencari tahu bahwa gempa tersebut sebesar 6,7 SR. Tim K3 pun segera menghubungi operator dengan menekan  ext. 7000 untuk melaporkan adanya gempa bumi dan menggerakkan Regu lainnya untuk evakuasi.

Optel pun langsung membuat informasi lewat paging dan mengaktifkan Code Green.

Para pasien, keluarga pasien dan CS yang berada di Ruangan X pun melakukan evakuasi dengan dipandu oleh Perawat dan di bantu oleh tim evakuasi, melalui tangga darurat dan ramp menuju ke titik kumpul di parkiran mobil samping indomaret.

Teknik evakuasi pasiennya, untuk pasien yang berada di bed, di evakuasi oleh dua orang (1 perawat dan 1 non perawat), sedangkan untuk pasien yang di kursi roda, dievakuasi oleh 1 orang perawat. Untuk Evakuasi keluarga pasien, di pandu oleh satu orang (Perawat boleh, non perawat boleh) melalui tangga darurat hingga sampai di titik kumpul (Samping indomaret)

4 Perawat di ruangan berperan sebagai :
Pemandu Evakuasi keluarga pasien           : 1 orang
Evakuasi pasien                                          : 2 orang
Penyelamat dokumen                                 : 1 Orang

Ketua Tim Evakuasi bertugas mengkomandokan evakuasi dengan baik dan benar kepada ruangan X, lalu mengkomandokan kembali ke ruangan begitu evakuasi selesai

Kordinator Jalur Evakuasi bertugas memastikan jalur evakuasi aman untuk dilewati dan membantu mengarahkan tim untuk menunjukkan arah jalur evakuasi

Kordinator titik kumpul bertugas memastikan titik kumpul aman untuk ditempati dan mencatat semua orang yang evakuasi kesana khususnya ruangan X (Kordinasi dengan Perawat pengevakuasi dokumen)

Kordinator penghubung bertugas untuk mencari tau info seputar gempa, kemudian penyampai pesan ketua Tim evakuasi kepada kordinator lainnya.


Security bertugas membantu perawat mengevakuasi dokumen, pasien dan keluarga pasien lalu memastikan seluruh ruangan sudah terevakuasi.

Petugas Evakuasi bertugas untuk membantu perawat di ruangan X untuk mengevakuasi pasien dan keluarga pasien yang ada di dalamnya.

Petugas penyelamat dokumen bertugas untuk menyelamatkan dokumen penting di ruangan X

Sesampai di Titik kumpul, Kordinator Titik kumpul berkordinasi dengan Perawat penyelamat dokumen atau Kepala Ruangan untuk memastikan jumlah pasien dan keluarga pasien yang di evakuasi dari Ruangan X sesuai dengan jumlah pasien yang ada di ruangan. Catat identitas pasien dan keluarga pasien.

Perawat, pasien dan keluarga pasien berada di titik kumpul sampai Ketua Tim Evakuasi memastikan suasana sudah aman. (Kurang lebih 5 menit). Begitu keadaan sudah kondusif, pasien dan keluarga pasien diarahkan kembali ke ruangan X kembali dengan dipandu oleh Tim yang sama.

Sesampai di ruangan Kepala ruangan memastikan kembali jumlah pasien sudah sesuai dengan yang semestinya.

Share:

Disable Adblock