Sosial Media

Ibuku (Bukan) Pembohong





Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam

Itulah pesan ibuku ketika aku duduk di kelas enam SD. Kalimat ini hampir selalu ia ucapkan setiap harinya kepadaku.  Kalimat yang berarti suruhan untuk belajar ini tak lelah-lelahnya ibu ucapkan kepadaku. Meski aku sudah belajar didepan matanya, meski aku sedang malas-malasnya, bahkan meski aku sudah tidak kelas enam lagi. Bagi sebagian orang, atau mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini, kalimat tersebut pasti terlihat biasa-biasa saja. Tapi tidak denganku. Kalimat ini entah kenapa sangat membekas di hati dan ingatanku hingga saat ini. Karena, berawal dari kalimat inilah, aku jadi percaya bahwa kasih ibu tak terbantahkan waktu.

Ibuku bukanlah orang terpelajar. Bukan pula seorang saudagar. Setiap paginya, kami sekeluarga hampir selalu sarapan dengan menu yang sama, yakni satu telur dadar yang dipotong menjadi lima bagian, dengan kecap sebagai penyedapnya. Terkadang ibuku memasak menu yang berbeda, seperti indomie goreng atau rebus, tempe goreng atau udang goreng. Menunya itu tidak dilengkapi sayur dan buah. Tapi ya hanya nasi dan lauk tersebut saja. Plus kecap dan saus yang menemani. Biar gak kecut-kecut banget. Ya permasalahan ekonomilah yang membuat kami harus mau seperti itu. Tapi meski begitu, ibuku selalu mewajibkan kami untuk sarapan pagi. Prinsip ibuku, pokoknya setiap hari anak-anaknya harus sarapan. Ibuku selalu percaya bahwa dengan sarapan maka otak kami akan “encer”, sehingga akan dapat menerima pelajaran dengan baik. Ujungnya, maka kami pasti akan menjadi murid yang pintar.

Dulu aku selalu meragukan ibuku soal hal ini. Bagiku, sarapan pagi adalah cara ibuku agar kami tidak jajan yang banyak disekolah. Maklum, saat kelas enam SD uang jajanku hanya dua ribu perak. Bila dibelikan untuk makan berat pasti tidaklah cukup. Bila kubelikan jajanan favoritku seperti telur gulung, batogor ataupun permen gula, maka habislah uang itu langsung. Bisa-bisa aku tidak menabung di kelas. Seringkali aku protes kepada ibuku mengenai sarapan ini. Ku bilang, aku pasti akan tetap kuat meski tidak sarapan. Aku pun juga tetap akan bisa menerima pelajaran dengan baik meski tidak sarapan. Namun ibuku tidak terpengaruh. Tetap saja ia paksa aku untuk sarapan pagi setiap harinya.

Suatu hari dikala upacara bendera, aku melihat sang pemimpin upacara jatuh pingsan saat hendak memberikan penghormatan umum kepada pembina upacara. Bunyinya bum hingga bergetar. Saking kerasnya menghantam bumi. Setelah jatuh ia tidak sadarkan diri. Guru-guru pun membopongnya ke ruang kesehatan. Sesaat setelah kejadian tersebut, Kepala sekolah berkata bahwa anak tadi pingsan akibat tidak sarapan. Beliau pun menghimbau kami para murid, agar senantiasa sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Dan, semenjak saat itu aku berhenti protes pada ibuku mengenai sarapan.

Tapi aku masih meragukan ucapan ibuku soal sarapan. Bagiku sarapan hanya untuk menguatkan tubuh saja. Persoalan kalau sarapan bakal bikin otak “encer”, aku tidak percaya sama sekali. Ya, aku masih yakin kalau bagi ibuku, sarapan adalah cara dia untuk mengirit pengeluaran. Bila sudah sarapan, maka saat jam istirahat pertama maka aku tidak akan jajan apa-apa lagi, karena perutku masihlah kenyang. Mungkin pada jam istirahat kedua, baru aku jajan. Jajan jajanan ringan. Soalnya jam istirahat makan siang sudah dekat dengan jam pulang. Biasanya ibuku pasti sudah masak makanan untuk makan siangku. Dan aku wajib untuk memakannya. Nah biasanya ia selalu berpesan agar uang jajanku sebaiknya ditabung saja. Tak perlu dibelikan jajanan.



Tapi seringkali aku membangkang perintah ibuku. Memang uang jajannya tidak kubelikan makanan, tapi malah kubelikan mainan-mainan, seperti kelereng, keong, gambaran, layangan, tajoz bahkan menyewa gamebot. Sore hari, bila jajanku benar-benar habis dan aku tidak menabung di buku tabungan, aku pasti akan dimarahi ibu. Marahnya ibuku bermacam-macam. Kadang hanya berupa ucapan, kadang berupa cubitan, kadang berupa menakut-nakuti bahkan terkadang aku sampai dikunci di kamar mandi. Meskipun begitu, ibuku tidak pernah main fisik atau main pukul ketika marah. Marahnya paling seram ibu menurutku adalah ketika ia sampai mengunci aku di kamar mandi saat malam hari. Ah benar-benar menyeramkan. Semenjak aku dikunci di kamar mandi, aku akhirnya jera juga. Uang jajanku akhirnya seringkali kutabung dan kubelikan barang/makanan yang penting dan dibutuhkan saja.

Semenjak kelas enam SD, ibuku selalu menyuruhku belajar. Kalimat “Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam” seringkali diucapkannya kepadaku. Setiap hari mungkin. Aku heran.  Saat abang dan adikku kelas enam, mereka tidak pernah diingatkan sesering ini. Mengapa selalu aku yang dibeginikan? Sedang nonton tv disuruh belajar. Sedang bermain disuruh belajar. Bahkan saat sedang tidur pun disuruh belajar. Jujur aku sangat kesal. Ada rasa iri hati dan ketidak adilan di hati ku. Mengapa hanya aku yang terlalu diintervensi. Padahal bila dibandingkan dengan abang dan adikku, saat SD bisa dikatakan akulah yang paling pintar. Ya karena hanya akulah yang selalu mendapat peringkat satu sejak kelas dua hingga kelas lima SD. Aku pun berucap dalam hati, kalau aku akan tetap seperti aku biasanya. Pada akhirnya ucapan ibuku hanya masuk telinga kiri dan keluar di telinga kananku saja.

Saat pembagian rapot semester satu kelas enam, aku terkejut sekali begitu mendapatkan peringkat dua. Sungguh benar-benar tidak menyangka. Kata wali kelasku, nilaiku kalah jauh dengan Maria. Si peringkat pertama. Bahkan nilaiku hampir sama dengan sang peringkat ketiga. Mengapa aku diperingkat dua, itu adalah murni karena kebaikan hati guruku saja. Pulangnya aku dimarahi ibu habis-habisan. Di ujung kemarahannya itu, ibuku berpesan bahwa jika aku masih terus begini, bisa-bisa aku tidak lulus UN dan tidak bisa masuk SMP favorit. Ucapannya memang biasa, tapi kali ini Ibuku mengucapkannya sambil menangis…

Ah rasanya pilu sekali. Hatiku sungguh sangat berkecamuk dibuatnya. Ini pertama kalinya kulihat ibuku menangis. Ingin rasanya kuhapus ingatan ini soal itu. Rasanya benar-benar pedih, pilu, haru, sakit dan membuatku ingin menangis juga. Menurutku inilah marah ibuku yang paling hebat. Akupun hanya bisa mengangguk pelan untuk menjawab nasehat nya. Jujur sejak saat itu aku berjanji satu hal, kalau aku tidak akan pernah membuat ibuku menangis lagi.

Sepuluh tahun kemudian, saat aku duduk dibangku kuliah. Aku membaca berbagai penelitian tentang pentingnya sarapan. Salah satu manfaat sarapan adalah membuat tubuh berenergi dan membuat pikiran jauh lebih fokus sehingga menjadi produktif. Saat membacanya aku langsung tersenyum. Ah ternyata ibuku memang tidak mengada-ngada soal sarapan ini. Ungkapannya dahulu yang menyebutkan bahwa sarapan bikin otak “encer” memang benar adanya. Akupun langsung teringat saat diriku SD, SMP dan SMA, aku memang selalu sarapan pagi dan entah ada kaitannya atau tidak, tapi aku hampir selalu mendapat peringkat pertama atau kedua di kelas. Tapi semua berbalik saat kuliah. Aku justru malah tidak sepintar biasanya. Apa jangan-jangan karena aku tidak lagi rutin sarapan ya? Kuliahku yang diluar kota ini memang membuatku menjadi jarang sarapan pagi, karena seringkali aku “merapel” sarapan dan makan siangku sekaligus. Maklum anak kosan.

Ah ibuku memang selalu benar..

Semenjak kejadian ibu menangis, “Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam” selalu menjadi kalimat motivasi ku dalam menjalani hidup. Tidak peduli meski aku sudah tidak kelas enam lagi. Karena inti kalimat tersebut bukanlah di kelas enamnya, tapi di belajarnya. Akhirnya aku mengerti maksud ibuku. Ya intinya adalah selalu senantiasa belajar. Beliau berpesan bahwa selama kita hidup kita belajar. Meski diri ini sudah cerdas, sudah kaya, sudah berpendidikan tinggi atau sudah meraih juara sekalipun, kita harus tetap belajar. Karena ilmu tidak akan pernah ada habisnya. Belajar pun tidak hanya berupa belajar suatu ilmu pengetahuan, tapi juga belajar soal agama, belajar bermasyarakat dan belajar berbakti, khususnya kepada orang tua. Orang tua memang bukanlah orang yang tau segalanya, atau pintar dalam segala hal, tapi orang tua, khususnya ibu, beliau pasti adalah orang yang paling menyayangi kita dan paling berharap agar kita bisa menjadi orang yang akan membanggakannya kelak.



Terimakasih kepada Jasmine Elektrik atas lagu nya yang berjudul Ibu. Semenjak hari ibu lalu, Lagu ini selalu saya dengar hampir setiap malam karena liriknya yang dalam ini, semakin membuatku merindukan makhluk terbaik di bumi ini yang bernama, Ibu.




#JasmineElektrikCeritaIBU




9 Responses to "Ibuku (Bukan) Pembohong"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel