Sosial Media

Libur Makin Berkesan Akibat Mati Listrik




Libur akhir tahun kali ini saya isi dengan napak tilas ke tempat yang pernah saya singgahi beberapa tahun silam. Semarang-Jogja adalah dua tempat yang menemani saya hampir 5 tahun lamanya. Bila di semarang saya fokus dalam mengejar nilai kuliah, nah di jogja lah tempat saya merefreshkan diri, terutama bila kuliah sedang penat-penatnya. Jogja memang istimewa. Karena hanya di jogja lah saya jadi merasa dekat dengan keluarga yang nun jauh di Jakarta sana.

Di Jogja, saya menginap di rumah om nya ayang beb. Namanya Om Agus. Lokasi rumahnya di sekitar Kulon Progo. Untuk dapat ke rumahnya, kami mesti melewati sawah dan perkebunan kelapa yang cukup luas. Di malam hari, jalan yang kami lewati ini sungguh sangat gelap gulita. Tidak ada penerangan sama sekali. Kalau malam hari tiba, jangan sekali-sekali berjalan kaki kesini.

Rumah Om Agus khas pedesaan banget. Pekarangan rumahnya luas. Lingkungan rumahnya pun masih dipenuhi oleh pepohonan-pepohonan. Jarak antar satu rumah dengan rumah lain masih cukup jauh. Kontras sekali dengan rumah-rumah di perkotaan.

Berdasarkan informasi dari Om Agus, sekitar 70% warga desanya adalah petani. Setiap hari mereka pergi berladang, berkebun, beternak dan menggarap sawah. Bila panen, mereka akan ke kota untuk menjual hasil panennya.  Menikmati suasana desa seperti ini benar-benar sangat menenangkan hati dan jiwa. Teringat dulu ketika kuliah, saya sering sekali menikmati suasana begini di rumah saudara saya, yang suasana desanya mirip dengan desanya Om Agus. Ah jadi nostalgia.

Meskipun pedesaan, warga di desa tidaklah gagap teknologi. Mereka sudah menggunakan smartphone juga lho. Di hari ketiga saya disana, pada malam hari terjadilah mati listrik. Satu desa gelap gulita. Beda dengan di kota, kalau di desa yang cukup jauh dari kota begini, bila sudah mati listrik, untuk bisa menyala kembali dibutuhkan waktu yang agak lama. Nah biasanya dalam kondisi seperti itu, warga desa pasti banyak yang berjaga hingga listrik menyala kembali. Tujuannya untuk keamanan. Diantara kegelapan listrik inilah, saya melihat cahaya-cahaya kecil di tiap rumah bagai bintang di angkasa. Cahaya kecil ini merupakan cahaya smartphone yang dipakai warga untuk menemani aktivitas berjaganya.

Baca Juga : Stimuno untuk Balita

Saya pun ikut berjaga bersama dengan anaknya Om Agus. Di kala mengobrol, anaknya Om Agus berkata bahwa pulsa dan kuotanya habis. Waktu sudah tengah malam. Sedangkan listrik masih belum menyala. Itu artinya aktivitas berjaga belum boleh dihentikan. Bila saya pamit tidur, ia pasti akan mati gaya karena tidak bisa otak atik smartphonenya dikala aktivitas berjaganya tersebut. Untungnya saya terdaftar sebagai Agen Payfazz. Jadi saya langsung menawarkannya untuk beli pulsa di saya. Ya seorang agen Payfazz pasti deh jual pulsa. Gak perlu ditanyain lagi. Karena Agen Payfazz adalah agen pulsa juga. Beli pulsa di Payfazz rekomended banget. Apalagi harga pulsanya murah. Benar-benar pulsa murah deh.


Anak Om Agus pun gajadi mati gaya karena pulsa dan kuotanya sudah terisi kembali. Senang rasanya bisa membantu orang lain. Apalagi membantu dalam keadaan force majeur begini. Inilah salah satu hal yang saya suka ketika menjadi Agen Payfazz. Selain berbisnis kamu juga bisa menolong orang lain lho. Buat kamu yang tertarik untuk menjadi Agen Payfazz  silakan klik link ini untuk mengunduh aplikasinya.

Simak juga infografis berikut: 



Cara Daftar Jadi Agen Payfazz

4 Langkah Transaksi Pulsa di Payfazz



3 Responses to "Libur Makin Berkesan Akibat Mati Listrik"

  1. Kalau kuota habis memang bikin mati gaya. Apalagi jika mati listrik, rasane nggak ada hiburan lagi. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Biar ga mati gaya saya butuh payfazz dan Mas nya (sebagai agen) di hidup saya..

    ReplyDelete
  3. Zaman sekarang beda banget ya? Dulu listrik padam pun gak masalah, sekarang kuota habis langsung jadi masalah. Untung ada payfazz ya 😉

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel