Thursday, 14 February 2019

Kamu, Jokowi ya?

#BeraniBerubah


Musim pemilu gini pasti deh banyak orang yang mengkampanyekan para capres yang diusungnya. Di kantor gue sendiri sampe ada yang berdebat hanya karena Jokowi dan Prabowo. Di tempat makan pula. Si pengusung Jokowi bilang, “ngapain pilih pilpres yang kagak punya bini. Ngurus keluarga aja kagak bisa gimana ngurus negara?” Buseeehhh, mendengar hal itu, tentu saja si pengusung Prabowo gak mau kalah. Dia bilang, “gak ada kaitannya soal itu dengan pilpres. Ngapain juga pilih presiden yang tukang bohong?” Mereka pun terus berdebat soal Jokowi dan Prabowo. Bahkan karyawan lain yang lagi makan saat itu juga sempat ada yang terpancing. Gue yang ada di tengah-tengah mereka cuma ketawa cekikikan aja melihat sekumpulan orang ini.

Hiruk pikuknya pemilu ternyata juga hinggap ke si bebeb. Waktu pulang dari mall kemarin, tiba-tiba si bebeb nanya ke gue, Kamu Jokowi ya?

Haa? Kata gue

“Iya kamu milih Jokowi kan pasti?” Jawab dia

“Hehe kenapa emang?” kata gue sambil ketawa ngeselin

“Ih bener kan pasti kamu Jokowi?” kata dia

“Rahasia dong. Inget LUBER dn Jurdil. Tapi, Siapapun pilihanku, pasti kamu bakal ngikutin deh nanti” Kata gue

“Hih ngeselin, pasti Jokowi ya? Kata dia dengan mimik penasaran

Gue ketawa aja.

….

Ngomongin soal Jokowi dan Prabowo memang gak ada habisnya. Maklum merekalah calon orang nomor satu di Indonesia. Mengkampanyekan atau membangga-banggakan mereka menurut gue lumrah-lumrah aja. Tapi selalu ingat etika nya. Jangan sampai hanya karena pilpres, pertemanan atau persaudaraan menjadi retak. Jangan sampai hanya karena senang dengan salah satu paslon, kamu jadi buta diri, buta hati dan buta beneran. Dan, jangan sampai hanya karena kamu pendukungnya, kamu jadi menjelek-jelekkan paslon lain atau pendukungnya. Ingat selalu etika dan adab ya.

Gue punya saran buat orang yang mendukung salah satu capres. Sebaiknya elu kalau mau mengkampanyekan capres elu, jangan lah ke pendukung capres lawan. Ya soalnya kagak bakal berubah pilihannya. Orang zaman sekarang tuh, ya kalau gak Jokowi ya Prabowo. Paling ya tengah-tengahnya adalah orang yang gak milih dua-duanya. Ini pun jumlahnya tinggal sedikit. Orang jenis ini tercipta bisa jadi karena emang dia cuek, bisa karena dia kagak ngerti apa itu pemilu dan bisa juga karena emang dia gak punya kebutuhan disana. Nah elu incer deh orang-orang ini. Pasti bakal menghasilkan deh. Soalnya kalau elu kampanyein ke orang yang udah punya pilihan ya pasti gak bakal ngefek. Wong dia udah jadi orang Jokowi dan orang Prabowo. Kecuali ya nanti di last minutes, pas pemilihan, elu nyoblos bareng dia, terus pas dia mau nyoblos, elu sela deh saat itu, dan langsung elu coblosin kertas suaranya dengan capres pilihan lo, dijamin deh dia bakal berubah haluan.

Hahaha

Entah kenapa sejak pilpres 2014 lalu, gue melihat kalau warga negara Indonesia ini udah terbelah menjadi dua bagian. Bagian Jokowi dan bagian Prabowo. Orang yang memuji Jokowi disebutnya pendukung Jokowi. Orang yang mengkritik Jokowi, disebutnya pendukung Prabowo. Lah, kalau gue memuji Jokowi dan mengkritik Jokowi dalam satu waktu berarti gue pendukung Jokowi dan Prabowo sekaligus dong ya? Hahaha. Tapi memang kondisinya kayak gini. Mau gak mau ya harus menerima. Buat kamu yang lagi baca tulisan ini pun pasti udah punya pilihan sendiri kan? Hayooo ngaku hayoooo.

Menurut gue, ada perbedaan yang terlihat cukup jelas antara pemilu sekarang dengan pemilu 2014 lalu. Di pemilu 2014 ada banyak black campaign yang dilakukan, nah di 2019 ini entah kenapa kok kayak lebih menekankan kepada ketakutan (fear campaign) ya? Ada yang sependapat sama gue? Tiap gue baca koran, entah kenapa banyak berita-berita yang menyebarkan ketakutan terkait capres-capres. Ada yang bilang bila si Anu terilih maka Indonesia bakal jadi kayak Suriah. Ada yang bilang lagi kalau si Anu terpilih maka Indonesia bakal jadi negara komunis. Ada juga berita-berita tentang anggaran negara bocor, diskriminalisasi ulama, utang negara, hingga negara bangkrut. Buseehhhh ini kok seram-seram amat ya ?

Ini kita lagi milih pemimpin atau lagi kontes serem-sereman sih?

Ya kalaupun hal-hal diatas emang bener, seenggaknya ya pakai cara elit dan positif gitu loh. Jangan kesannya hanya menakut-nakuti aja. Soalnya gak elegan banget buat sekelas pemilihan presiden. Kalau elu nakut-nakutin orang dengan maksud agar dia nurut, ya itu bocah banget. Inget gak waktu kecil? Kalo elu bandel, pasti emak bapak lu bakal nakuti-nakutin dengan frase seperti ini, “jangan nakal, kalau nakal nanti dibawa orang gila”  atau kayak gini, “Jangan keluar maghrib-maghrib, nanti bakal diculing kalong wewe” Pernah dibeginikan kan? Nah Maksud emak bapak lu nakutin gitu kan biar elu nurut, sekaligus sedikit membodoh-bodohi elu yang waktu kecil belum ngerti apa-apa.

Lah orang kampanye zaman sekarang bilang negara bakal bangkrut beberapa tahun lagi, atau Indonesia bakal dikuasai khilafah, lah itu kan kesannya nakut-nakutin dan membodoh-bodohi aja. Persis kayak kasus anak kecil diatas. Kenapa sih kampanye gak yang positif-positif aja? Seperti mensosialisasikan program-program yang akan diusung, mengenalkan prestasi-prestasi si capres atau menginformasikan kinerja-kinerja partai-partai pengusungnya. Masa kayak gitu doang kagak bisa? Kalau elu gak bisa menyebutkan 3 hal diatas, ya berarti memang capres elu belum menjual untuk diusung menjadi presiden.

Jujur. Gue sendiri belum menentukan pilihan. Sejak pilpres 2014 lalu entah kenapa gue sudah menjauhi dunia politik.  Black campaign di pilpres 2014 lalu memang sedikit bikin gue jenuh dan jengah sekaligus. Makanya sejak itu gue gak begitu konsen ke perpolitikan Indonesia. Cek aja blog gue, pasti gak ada deh tulisan tentang politik. Bagi kalian yang baca tulisan ini pun mungkin ada yang gak percaya perihal gue yang belum menentukan pilihan, apalagi setelah membaca tulisan ini. Tapi terserah kalian sih.

Mulai sekarang hingga hari pemilihan nanti gue bakal banyak nulis tentang pemilu di blog gue ini. Gue pengen pada pemilu kali ini, gue bisa berpartisipasi lebih dari sekedar menyoblos di TPS nanti. Ya gue bakal memberikan kalian berbagai informasi seputar pemilu. Seputar pemilu loh ya. Bukan seputar capres. Jadi bakal ada banyak hal yang akan gue kupas nantinya. Selain itu, tulisan-tulisan gue tentang pemilu ini harapannya bisa memberikan kamu sedikit pandangan terhadap caleg, partai atau capres yang bisa kamu pilih nantinya. Memberikan pandangan loh ya, bukan menentukan pandangan. Tentu kita semua pengen orang-orang terbaik lah yang bakal memimpin bangsa ini, maka mari bersaing dengan epic, woles dan beretika.

#BeraniBerubah


Read More

Tuesday, 5 February 2019

Tidak Ada Karyawan yang Lebih Besar dari Perusahaan



Seminggu belakangan ini ramai berita tentang mantan bos yang resign dari pekerjaannya. Ada banyak kabar beredar berkaitan dengan alasan ia resign, mulai dari masalah keluarga, terlibat kasus, atau sudah diterima di perusahaan lain. Gue sih gak terlalu peduli dengan alasan dia resign, hak-hak dia, hidup-hidup dia, tapi gue tertarik untuk membahas tentang akhirnya resignnya dia.

Mantan bos gue yang satu ini emang unik. Dia masih muda, sudah mengabdi cukup lama, dan memegang jabatan penting di perusahaan. Meskipun dia hanya memegang satu area di bagian operasional, tapi pekerjaannya juga mengurusi marketing, HRD, rekrutmen, legal, gaji, dan menjadi pemimpin “bayangan” di cabang lain. Ya bisa dibilang dialah otak perusahaan ini. Waktu kerja disana, gue sempat kepikiran kenapa perusahaan memberikan porsi yang lumayan banyak ke dalam satu orang itu. Padahal bila kita menganut pada prinsip manajemen organisasi, hal itu kurang lah bijak, karena bisa menyebabkan bom waktu yang dapat membumihanguskan perusahaan.

Muda, berpengaruh dan memegang banyak jabatan strategis membuat bos gue satu ini kadang suka berlebihan dalam bertindak. Porsi kerja yang diembannya memang cukup besar, namun kuasa-kuasa yang diberikan itu membuatnya suka bertindak diluar batas.  Ia tidak segan-segan menghakimi karyawan yang bersalah, mengucilkannya, dan membuang nya jauh-jauh. Padahal kalau dilihat dari uraian tugas, fungsi dan tanggung jawab di perusahaan, melakukan hal itu bukanlah wewenangnya, melainkan wewenang HRD. Tapi perusahaan diam-diam saja melihatnya. Diamnya perusahaan terhadap hal-hal inilah yang semakin membuatnya bertindak sesuka hati dengan kuasa besar di tangannya. Dia pun jadi merasa lebih besar dari perusahaan.


Adanya karyawan yang merasa lebih besar dari perusahaan bisa membuat suasana menjadi tidak kondusif. Contohnya ya kejadian yang pernah terjadi di perusahaan diatas. Si bos pernah mempersulit karyawannya resign hingga harus bayar berjuta-juta dulu. Jadi ceritanya gini, si karyawan izin untuk tidak masuk selama beberapa hari karena ia mau mengikuti pelatihan. Kebetulan karyawan ini baru saja dianugerahi karyawan terbaik tahunan sebulan sebelumnya. Tentu si bos mengizinkannya. Saat ia izin tersebut ternyata ada masalah pada klien yang mengakibatkan terpotongnya biaya pembayaran, sehingga perusahaan sedikit rugi. Mungkin si bos murka kali ya, ia pun menghukum si karyawan dengan memintanya mengundurkan diri sekaligus membayar kerugian perusahaan tersebut. Versi lain menyebutkan bahwa bonus tahunan yang didapat karyawan itu sebelumnya diminta dikembalikan juga dan ada kabar lain yang mengatakan bahwa si karyawan ternyata dipecat, bukan diminta mengundurkan diri. Untuk dua hal ini saya sendiri kurang begitu tau dengan kebenarannya.


Namun, bila dua hal diatas memanglah benar, maka hal itu sungguh sangat disayangkan. Saya sendiri kurang paham, apakah memang ada peraturan dalam perusahaan yang wajib mengganti rugi, dan mengembalikan bonus tahunan dalam kasus-kasus tertentu. Tapi bila kita melihatnya dari etika berorganisasi, maka sah-sah saja dalam beberapa artian. Kalau ganti rugi mungkin masih wajar karena terkait dengan kesalahan yang dilakukan, tapi untuk pengembalian bonus tahunan saya kira itu sudah melanggar hak pekerja. Bonus tahunan adalah bonus yang didapat dari kinerja tahun sebelumnya. Bukan di kinerja tahun berjalan. Makanya saat si bos ini menyuruh karyawan untuk mengembalikan bonus tahunannya, itu berarti sudah ada pelanggaran besar yang dilakukan oleh perusahaan ke tenaga kerja. Tapi ya, karena si bos adalah pejabat penting dan orang yang dipercaya, perusahaan pun diam saja melihat kasus ini dan terkesan setuju dengan tindakan yang dilakukan si bos. Tindak tanduk si bos dalam kasus ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ialah pemegang kuasa tertinggi diperusahaan ini, jadi buat karyawan lain janganlah sekali-kali membuat ia murka kalau tidak ingin bernasib sama seperti diatas.


Karyawan yang merasa dirinya lebih besar dari perusahaan sangatlah membahayakan. Baik untuk rekan kerja, lingkungan kerja dan produktivitas kerja. Karyawan model begini biasanya cenderung sombong dan sewenag-wenang. Apalagi bila ia berada di posisi penting. Maka penyelewengan jabatan bisa marak terjadi. Pernah juga saya melihat kasus yang terjadi pada teman saya. Ia ketahuan melamar pekerjaan di kompetitornya perusahaan. Kebetulan ia ketahuan langsung oleh bosnya. Besoknya ia langsung dikeluarkan saat itu juga. Padahal karyawan ini adalah karyawan terbaik, yang memiliki potensi bagus dan prospek di masa depan lho. Lucunya lagi, yang mengeluarkan si karyawan ini bukanlah HRD, tapi si bos nya yang mengeluarkannya secara ujug-ujug, tanpa melalu pertimbangan HRD ataupun manajemen perusahaan. Sebenernya Kasus diatas bukanlah kasus yang besar kok, bukan juga kasus merugikan. Bisa dibilang kasus diatas hanyalah kasus remeh temeh. Cuma orang yang melamar kerjaan doang kok. Ya wajar aja dong. Masa gitu doang langsung ngeluarin karyawan? Mana karyawan tetap pula. Kan semena-mena banget tuh. Dimana etika berorganisasinya? Dimana profesionalitasnya? Dimana kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaannya?

Oiya btw, si bos ini sama kok orangnya dengan bos diatas. haha

Dengan segala hal yang ia lakukan diatas, gue selalu penasaran dengan motivasi bekerjanya. Sebenernya apa sih yang dia incar disini? Gaji? Kayaknya gajinya gak besar-besar amat. Passion? Hemm sepertinya bukan sih, karena bidang pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang membutuhkan passion. Jabatan direktur? Gue sempat kepikiran hal ini. Posisi nya saat ini memang cukup berpeluang untuk menjadi direktur di kemudian hari, tapi perusahaan gue ini adalah perusahaan keluarga, jadi kayaknya bakal susah deh untuk mengangkat orang lain untuk berada di pucuk perusahaan. Motivasi ia bekerja hingga sedemikian rupanya masih membuat gue penasaran hingga hari ini.

Sewaktu bekerja bareng dia, dengan semua kondisi yang ada saat itu, gue bertanya-tanya dalam hati, akan sampai kapan ini orang akan kuat disini. Bekerja dengan system seadanya, dengan gaya memimpin yang seadanya dan tidak adanya evaluasi yang berkala terhadapnya, tentu hanya akan menggali lubang kuburan sendiri. Dengan semua kesewenang-wenangan yang ia lakukan, sepertinya ia lupa bahwa tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Ia mungkin lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar, kadang dibawah dan kadang diatas. Mungkin saat itu ia ada di atas, tapi jangan lupakan kalau suatu saat ia bisa saja ada di bawah. Bila kondisi memaksanya untuk berada di bawah apakah ia siap untuk itu? Makanya saat melihat semua tindak tanduknya, gue selalu memikirkan hari dimana ia resign.


Gue yakin kalau dia gak akan lama untuk tetap stay ditempat tersebut. Soalnya ya dengan cara kerjanya saat ini, dia Cuma lagi menggali kuburannya sendiri kok. Tinggal tunggu waktu aja. Sampai kapan sih orang akan kuat dan bertahan dengan segala carut marut diatas? Pasti gak akan lama. Bagaimana dia akan resign pun turut menjadi perhatian gue, apakah ia akan menyerah begitu saja, atau ia bakal resign karena kena kasus? atau akankah ia tergiur dengan bekerja di perusahaan lain.


Akhirnya sekarang dia udah resign. Cuma beda setahun setengah dari terakhir gue resign dari perusahaan tersebut. Terlepas dari alasan dia resign, tapi hati kecil gue entah kenapa ikut senang. Ya soalnya dengan dia resign berarti menandakan kalau waktu karyawan-karyawan yang resign sebelumnya, adalah bukan karena ketidakmampuannya untuk kerja disana, tapi memang si bos yang tidak bisa mengakomodir orang-orang dengan baik dan benar. Selain itu, memang ada yang gak beres sih disana. Makanya dia juga resign kan.

Beberapa waktu lalu salah satu manager disana menghubungi gue untuk balik bekerja disana lagi. Gak Cuma gue, tapi ternyata orang-orang dulu yang pernah jadi pesakitan si bos diajak balik lagi. Di pesan tersebut tertulis kalau si bos udah resign. Lucu ya. Dengan bunyi pesan tersebut, perusahaan seolah berkata bahwa salah satu benefit besar yang ditawarkannya kali ini, adalah kondisi perusahaan yang sudah tidak ada lagi si bos didalamnya. Wah ngece tenan ki. Tapi kalau boleh jujur, hal itu emang bener-bener benefit yang besar sih. Haha. Sepertinya perusahaan sudah tau ya dimana akar masalah perusahaan selama ini.


Pada akhirnya tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Meskipun ia punya jabatan strategis, meskipun ia potensial dan meskipun ia adalah otak dari perusahaan sendiri. Karena perusahaan adalah sebuah organisasi yang didalamnya terdapat kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan visi yang sama. Kumpulan orang-orang inilah yang bila bersatu dan saling padu maka akan membuat perusahaan akan semakin maju lagi. Samapai kapanpun, gak akan pernah ada deh karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Karena perusahaan tidak akan pernah mati hanya karena ditinggal oleh satu orang saja. Perusahaan hanya tinggal mencari penggantinya saja kok, yang kalau dicari, ternyata jumlahnya berlimpah di luar sana, yang bahkan kemampuannya bisa setingkat atau lebih keren dibandingkan pendahulunya. 

Read More

Friday, 1 February 2019

Inilah Ciri-ciri Kehamilan Muda Yang Harus Anda Ketahui




Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kehamilan merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Ya, terang saja demikian, sebab kehamilan ini adalah petanda bahwa mereka akan segera dikaruniai seorang anak oleh Sang Pencipta. Tapi sayangnya, masih ada sebagian dari mereka yang belum tahu tentang ciri-ciri hamil muda. Nah, bagi siapa saja yang belum tahu tentang ciri ciri hamil muda, mari sama-sama kita simak saja langsung paparannya di bawah ini :

1. Anda Akan Sering Buang Air Kecil
Di trimester kehamilan pertama, maka akan ada peningkatan frekuensi air seni. Itu arinya, anda harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Lalu, apa yang menjadi peneyababnya? Menurut para dokter kandungan, hal itu dikarenakan janin yang tumbuh dalam rahim sedang menekan kantung kemih. Tak hanya itu, hal tersebut juga dikarenakan adanya peningkatan pada sirkulasi darah.

2. Perubahan Pada Bagian Payudara
Selain sering buang air kecil, anda juga akan mengalami perubahan pada bagian payudara. Ya, payudara anda akan terlihat semakin membesar, dan bagian putingnya juga membesar serta warnanya menggelap. Tak hanya itu saja, tekstur payudara anda akan lebih lembut yang disertai dengan rasa gatal. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan produksi hormone esterogen dan progesterone.

3. Morning Sickness (Mual dan Muntah-muntah)
Pada kenyataannya, memang tidak semua wanita hamil muda akan mengalami kondisi mual-mual alias sickness. Namun, kebanyakan wanita yang sedang hamil muda ini akan mengalami kondisi morning sickness. Lalu, apa yang menjadi pemicunya? Ya, hal itu dikarenakan adanya peningkatan hormon HGC (Human Chorionic Gonadotrophin) yang secara mendadak. Selain terjadi mual-mual dipagi hari, kondisi morning sickness ini juga akan muncul di siang dan malam hari. Namun setelah memasuki trimester kehamilan kedua, maka anda akan terbebas dari kondisi morning sickness tersebut.  

4. Kondisi Tubuh Menjadi Mudah Lelah dan Sering Mengantuk
Banyak yang bertanya, mengapa wanita yang sedang hamil muda itu mudah mengantuk dan mudah juga kelelahan. Perlu anda ketahui, bahwa hal itu dikarenakan adanya perubahan hormonal dari kinerja yang lebih keras pada beberapa organ vital seperti jantung, ginjal, dan paru-paru.

5. Perubahan Pada Indera Penciuman
Peningkatan hormone esterogen dalam tubuh tidak hanya menyebabkan perubahan pada ukuran payudara saja, melainkan juga perubahan pada indera penciuman yang menjadi lebih sensitif. Saat anda mencium aroma-aroma yang tajam seperti parfum maupun bumbu masakan, biasanya anda akan merasakan mual-mual lho. 

6. Perubahan Tingkat Mood
Menurut para dokter kandungan, kondisi mood wanita yang tengah hamil muda itu kerap labil. Ya, hal ini sering terjadi di pagi hari, dimana anda terkadang mudah marah, mudah sedih, dan juga mudah ceria. Maka dari itu, sangat disarankan bagi anda untuk mulai melatih emosi agar tetap stabil selama masa kehamilan. Pasalnya, kondisi psikiologis anda juga sangat berpengaruh pada perkembangan janin dalam rahim.  

7. Adanya Rasa Sakit Pada Area Punggung
Ciri-ciri berikutnya dari ibu hamil muda yang harus kalian ketahui, yaitu adanya rasa sakit pada bagian punggung. Selama di trimester kehamilan pertama, kondisi ligament anda akan melemah dikarenakan berat badan yang bertambah, sehingga rasa sakit pada bagian punggung kerap terjadi.
Itulah beberapa ciri-ciri kehamilan muda, yang semoga saja bisa anda jadikan sebagai ilmu pengetahuan. Selain itu, anda juga jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan.


Read More