Tuesday, 5 February 2019

Tidak Ada Karyawan yang Lebih Besar dari Perusahaan



Seminggu belakangan ini ramai berita tentang mantan bos yang resign dari pekerjaannya. Ada banyak kabar beredar berkaitan dengan alasan ia resign, mulai dari masalah keluarga, terlibat kasus, atau sudah diterima di perusahaan lain. Gue sih gak terlalu peduli dengan alasan dia resign, hak-hak dia, hidup-hidup dia, tapi gue tertarik untuk membahas tentang akhirnya resignnya dia.

Mantan bos gue yang satu ini emang unik. Dia masih muda, sudah mengabdi cukup lama, dan memegang jabatan penting di perusahaan. Meskipun dia hanya memegang satu area di bagian operasional, tapi pekerjaannya juga mengurusi marketing, HRD, rekrutmen, legal, gaji, dan menjadi pemimpin “bayangan” di cabang lain. Ya bisa dibilang dialah otak perusahaan ini. Waktu kerja disana, gue sempat kepikiran kenapa perusahaan memberikan porsi yang lumayan banyak ke dalam satu orang itu. Padahal bila kita menganut pada prinsip manajemen organisasi, hal itu kurang lah bijak, karena bisa menyebabkan bom waktu yang dapat membumihanguskan perusahaan.

Muda, berpengaruh dan memegang banyak jabatan strategis membuat bos gue satu ini kadang suka berlebihan dalam bertindak. Porsi kerja yang diembannya memang cukup besar, namun kuasa-kuasa yang diberikan itu membuatnya suka bertindak diluar batas.  Ia tidak segan-segan menghakimi karyawan yang bersalah, mengucilkannya, dan membuang nya jauh-jauh. Padahal kalau dilihat dari uraian tugas, fungsi dan tanggung jawab di perusahaan, melakukan hal itu bukanlah wewenangnya, melainkan wewenang HRD. Tapi perusahaan diam-diam saja melihatnya. Diamnya perusahaan terhadap hal-hal inilah yang semakin membuatnya bertindak sesuka hati dengan kuasa besar di tangannya. Dia pun jadi merasa lebih besar dari perusahaan.


Adanya karyawan yang merasa lebih besar dari perusahaan bisa membuat suasana menjadi tidak kondusif. Contohnya ya kejadian yang pernah terjadi di perusahaan diatas. Si bos pernah mempersulit karyawannya resign hingga harus bayar berjuta-juta dulu. Jadi ceritanya gini, si karyawan izin untuk tidak masuk selama beberapa hari karena ia mau mengikuti pelatihan. Kebetulan karyawan ini baru saja dianugerahi karyawan terbaik tahunan sebulan sebelumnya. Tentu si bos mengizinkannya. Saat ia izin tersebut ternyata ada masalah pada klien yang mengakibatkan terpotongnya biaya pembayaran, sehingga perusahaan sedikit rugi. Mungkin si bos murka kali ya, ia pun menghukum si karyawan dengan memintanya mengundurkan diri sekaligus membayar kerugian perusahaan tersebut. Versi lain menyebutkan bahwa bonus tahunan yang didapat karyawan itu sebelumnya diminta dikembalikan juga dan ada kabar lain yang mengatakan bahwa si karyawan ternyata dipecat, bukan diminta mengundurkan diri. Untuk dua hal ini saya sendiri kurang begitu tau dengan kebenarannya.


Namun, bila dua hal diatas memanglah benar, maka hal itu sungguh sangat disayangkan. Saya sendiri kurang paham, apakah memang ada peraturan dalam perusahaan yang wajib mengganti rugi, dan mengembalikan bonus tahunan dalam kasus-kasus tertentu. Tapi bila kita melihatnya dari etika berorganisasi, maka sah-sah saja dalam beberapa artian. Kalau ganti rugi mungkin masih wajar karena terkait dengan kesalahan yang dilakukan, tapi untuk pengembalian bonus tahunan saya kira itu sudah melanggar hak pekerja. Bonus tahunan adalah bonus yang didapat dari kinerja tahun sebelumnya. Bukan di kinerja tahun berjalan. Makanya saat si bos ini menyuruh karyawan untuk mengembalikan bonus tahunannya, itu berarti sudah ada pelanggaran besar yang dilakukan oleh perusahaan ke tenaga kerja. Tapi ya, karena si bos adalah pejabat penting dan orang yang dipercaya, perusahaan pun diam saja melihat kasus ini dan terkesan setuju dengan tindakan yang dilakukan si bos. Tindak tanduk si bos dalam kasus ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ialah pemegang kuasa tertinggi diperusahaan ini, jadi buat karyawan lain janganlah sekali-kali membuat ia murka kalau tidak ingin bernasib sama seperti diatas.


Karyawan yang merasa dirinya lebih besar dari perusahaan sangatlah membahayakan. Baik untuk rekan kerja, lingkungan kerja dan produktivitas kerja. Karyawan model begini biasanya cenderung sombong dan sewenag-wenang. Apalagi bila ia berada di posisi penting. Maka penyelewengan jabatan bisa marak terjadi. Pernah juga saya melihat kasus yang terjadi pada teman saya. Ia ketahuan melamar pekerjaan di kompetitornya perusahaan. Kebetulan ia ketahuan langsung oleh bosnya. Besoknya ia langsung dikeluarkan saat itu juga. Padahal karyawan ini adalah karyawan terbaik, yang memiliki potensi bagus dan prospek di masa depan lho. Lucunya lagi, yang mengeluarkan si karyawan ini bukanlah HRD, tapi si bos nya yang mengeluarkannya secara ujug-ujug, tanpa melalu pertimbangan HRD ataupun manajemen perusahaan. Sebenernya Kasus diatas bukanlah kasus yang besar kok, bukan juga kasus merugikan. Bisa dibilang kasus diatas hanyalah kasus remeh temeh. Cuma orang yang melamar kerjaan doang kok. Ya wajar aja dong. Masa gitu doang langsung ngeluarin karyawan? Mana karyawan tetap pula. Kan semena-mena banget tuh. Dimana etika berorganisasinya? Dimana profesionalitasnya? Dimana kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaannya?

Oiya btw, si bos ini sama kok orangnya dengan bos diatas. haha

Dengan segala hal yang ia lakukan diatas, gue selalu penasaran dengan motivasi bekerjanya. Sebenernya apa sih yang dia incar disini? Gaji? Kayaknya gajinya gak besar-besar amat. Passion? Hemm sepertinya bukan sih, karena bidang pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang membutuhkan passion. Jabatan direktur? Gue sempat kepikiran hal ini. Posisi nya saat ini memang cukup berpeluang untuk menjadi direktur di kemudian hari, tapi perusahaan gue ini adalah perusahaan keluarga, jadi kayaknya bakal susah deh untuk mengangkat orang lain untuk berada di pucuk perusahaan. Motivasi ia bekerja hingga sedemikian rupanya masih membuat gue penasaran hingga hari ini.

Sewaktu bekerja bareng dia, dengan semua kondisi yang ada saat itu, gue bertanya-tanya dalam hati, akan sampai kapan ini orang akan kuat disini. Bekerja dengan system seadanya, dengan gaya memimpin yang seadanya dan tidak adanya evaluasi yang berkala terhadapnya, tentu hanya akan menggali lubang kuburan sendiri. Dengan semua kesewenang-wenangan yang ia lakukan, sepertinya ia lupa bahwa tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Ia mungkin lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar, kadang dibawah dan kadang diatas. Mungkin saat itu ia ada di atas, tapi jangan lupakan kalau suatu saat ia bisa saja ada di bawah. Bila kondisi memaksanya untuk berada di bawah apakah ia siap untuk itu? Makanya saat melihat semua tindak tanduknya, gue selalu memikirkan hari dimana ia resign.


Gue yakin kalau dia gak akan lama untuk tetap stay ditempat tersebut. Soalnya ya dengan cara kerjanya saat ini, dia Cuma lagi menggali kuburannya sendiri kok. Tinggal tunggu waktu aja. Sampai kapan sih orang akan kuat dan bertahan dengan segala carut marut diatas? Pasti gak akan lama. Bagaimana dia akan resign pun turut menjadi perhatian gue, apakah ia akan menyerah begitu saja, atau ia bakal resign karena kena kasus? atau akankah ia tergiur dengan bekerja di perusahaan lain.


Akhirnya sekarang dia udah resign. Cuma beda setahun setengah dari terakhir gue resign dari perusahaan tersebut. Terlepas dari alasan dia resign, tapi hati kecil gue entah kenapa ikut senang. Ya soalnya dengan dia resign berarti menandakan kalau waktu karyawan-karyawan yang resign sebelumnya, adalah bukan karena ketidakmampuannya untuk kerja disana, tapi memang si bos yang tidak bisa mengakomodir orang-orang dengan baik dan benar. Selain itu, memang ada yang gak beres sih disana. Makanya dia juga resign kan.

Beberapa waktu lalu salah satu manager disana menghubungi gue untuk balik bekerja disana lagi. Gak Cuma gue, tapi ternyata orang-orang dulu yang pernah jadi pesakitan si bos diajak balik lagi. Di pesan tersebut tertulis kalau si bos udah resign. Lucu ya. Dengan bunyi pesan tersebut, perusahaan seolah berkata bahwa salah satu benefit besar yang ditawarkannya kali ini, adalah kondisi perusahaan yang sudah tidak ada lagi si bos didalamnya. Wah ngece tenan ki. Tapi kalau boleh jujur, hal itu emang bener-bener benefit yang besar sih. Haha. Sepertinya perusahaan sudah tau ya dimana akar masalah perusahaan selama ini.


Pada akhirnya tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Meskipun ia punya jabatan strategis, meskipun ia potensial dan meskipun ia adalah otak dari perusahaan sendiri. Karena perusahaan adalah sebuah organisasi yang didalamnya terdapat kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan visi yang sama. Kumpulan orang-orang inilah yang bila bersatu dan saling padu maka akan membuat perusahaan akan semakin maju lagi. Samapai kapanpun, gak akan pernah ada deh karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Karena perusahaan tidak akan pernah mati hanya karena ditinggal oleh satu orang saja. Perusahaan hanya tinggal mencari penggantinya saja kok, yang kalau dicari, ternyata jumlahnya berlimpah di luar sana, yang bahkan kemampuannya bisa setingkat atau lebih keren dibandingkan pendahulunya. 

3 komentar

Hihi lalu Si Bos dapet apa yah kira2 dari perusahaan tsb setelah "kerja keras" yg dia lakukan selama ini

Bagus ini ceritanya, mas. Terus sampeyan jadi kembali kah?


EmoticonEmoticon