Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Kesaksian Bocah di Depan Rumahnya




Waktu mengenyam pendidikan SD, aku punya tetangga yang penuh dengan misteri di dalamnya. Kebetulan, rumahnya tepat berada di depan rumahku. Disana tinggal seorang nenek-nenek yang sudah renta, mulai pikun dan agak sulit untuk berjalan. Sang nenek biasa dipanggil uak. Konon katanya, Uak sudah tinggal di lingkungan ini sejak kecil dulu. Makanya diantara warga sekitar, mungkin hanya segelintir orang saja yang tau nama asli uak. Di rumah tersebut, Uak tinggal bersama anak laki-lakinya yang sudah berkeluarga dan dua orang cucunya. Rumah uak tidak terlalu besar, namun memiliki dua pintu. Pintu utama dan pintu belakang. Pintu belakang uak berbatasan langsung dengan jalan. Namun antara jalan dengan pintu belakang terdapat sedikit teras berukuran 1 x 1 m.

Kesehariannya, uak menghabiskan waktu dengan duduk di teras tersebut mulai dari pagi hingga petang. Hanya ketika hujan turun, waktu sholat dan malam hari saja uak tidak berada di teras favoritnya itu. Aku sering memperhatikan uak selepas pulang sekolah. Letak teras uak yang berada tepat di depan rumahku itu tentu membuat aku mau tidak mau untuk memperhatikannya. Dari sebagian hal yang sering kuperhatikan, ada beberapa hal yang susah untuk ku mengerti.

Uak suka mencari sendiri kutu di rambutnya yang panjang dan bewarna putih itu. Entah kenapa ia sangat terampil dalam menemukan kutu-kutu di rambutnya. Hanya dengan modal mengusap-usap rambut, ia berhasil mendapatkan kutu atau telur kutu yang membuat gatal kepalanya. Anehnya, setiap kutu yang ia dapatkan selalu ia makan bulat-bulat.

Selain itu, uak juga suka ngobrol. Mau ada yang mengajak ia mengobrol atau tidak, uak pasti akan tetap ngobrol. Jika ada orang yang memulai pembicaraan dengan uak maka uak pasti akan menanggapi terus, perihal pembicaraan sudah selesai atau belum, uak tidak peduli, ia akan membahasnya terus menerus. Seringkali orang meninggalkan pembicaraan begitu saja, karena capek menanggapi uak yang berbicara tanpa henti itu. Makanya jarang ada orang yang mau berinteraksi dengan uak, termasuk anak dan cucunya sendiri.

Yang makin membuat aku bingung adalah, uak seringkali mengobrol sendiri. Bila kuperhatikan saat itu, uak layaknya seperti mengobrol dengan seseorang, padahal tidak ada seorang pun disana. Topik pembicaraannya pun tidak pernah jelas. Kadang membahas si deden, kadang membahas kampungnya, kadang pun marah-marah sendiri. Seringkali aku terheran-heran saat melihat uak sedang marah-marah sendiri, karena ia terlihat sedang memarahi orang tapi tidak ada seorang pun disana.

 “Uak lagi ngobrol sama siapa sih?” kataku dalam hati

Banyak anak kecil seumuranku yang gemar mengusili uak. Biasanya sih sekedar meledek uak. Terkadang ada juga yang iseng melempar sesuatu ke uak. Jika sudah begitu uak pasti bakal marah-marah dan mengusir anak-anak itu dengan gaya seolah ingin melempar sandalnya. Tapi, semarah-marahnya uak, uak tidak pernah sampai benar-benar melempar sendalnya.

Bila uak sudah seperti itu, ada anak-anak yang langsung melarikan diri, ada juga anak-anak yang lanjut mengusuli uak. Alasannya nya simpel, biar uak semakin tambah marah. Kalau uak semakin marah, anak-anak pasti langsung mentertawakannya, karena kemarahan uak ditandai dengan ia ngedumel sendiri sambil ngoceh dengan nada amarah yang keras. Ocehan inilah yang bikin anak-anak makin tertawa.

Pernah suatu hari, aku terbangun dari tidur gara-gara ocehannya uak ini. Biasanya, kalo uak sudah ngoceh-ngoceh begini, aku bakal langsung keluar rumah untuk melihat hal apa dan siapa kali ini yang bikin uak kesal. Cuma kali ini aku tidak bisa dan tidak mau. Aku malah ingin sekali melanjutkan tidurku. Tapi tetep aja ocehan uak yang keras itu benar-benar sangat mengganggu. Uak marah-marah terus. Ocehannya kali ini benar-benar seperti orang yang sedang marah besar. Aku sungguh kesal dengan orang yang mengganggu uak kali ini. Benar-benar kesal. Soalnya membuatku terjaga dan tak bisa terlelap lagi. Bahkan aku sampai keluar kamar, untuk mengecek apakah ada anggota keluarga ku yang terbangun juga. Tapi sayangnya tidak ada. Kulihat mereka masih terlelap dengan anggunnya, seperti tidak terganggu dengan ocehan uak yang memekikkan telinga ini. Aneh. Sepertinya hanya aku saja yang mendengar ocehan uak ini. 

Tapi, Memang ada yang aneh sih dengan ocehan uak kali ini.

Biasanya ocehan uak terdengar dari depan rumah ku. Tapi kali ini malah terdengar dari belakang rumah ku, yang mana belakang rumah ku adalah kebon kosong dan pinggir sungai.

Anehnya lagi, saat ini tengah malem lho.

Dan satu hal lagi, mengapa aku ingin segera terlelap tidur lagi saat itu.

Ya soalnya…

Uak sudah meninggal dunia seminggu yang lalu..

Share:

A Place to Remember : Pelajaran Hidup yang Tidak Didapat di Bangku Perkuliahan




Sekitar 6 tahun yang lalu, sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah mengikuti kuliah lapangan secara berkelompok selama satu bulan lamanya. Waktu itu kami ditempatkan di Desa Sitanggal, Brebes Jawa Tengah. Secara garis besar, kuliah lapangan ini berkisar tentang kesehatan masyarakat di pedesaan. Kami memiliki misi untuk mengidentifikasi masalah kesehatan di desa, kemudian memberikan solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.

Masalahnya, masalah kesehatan di pedesaan ternyata begitu kompleks. Ada banyak persoalan kesehatan yang mesti dibenahi disana. Kami masih menemukan warga yang melakukan aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus) di sungai, kami juga masih menemukan kasus ibu yang melahirkan di rumah tanpa didampingi petugas kesehatan, kami juga menerima masalah stunting pada anak-anak dan macam-macam persoalan lainnya. Tapi dari berbagai persoalan yang kami dapatkan, masalah tentang buta huruf adalah masalah yang menjadi prioritas utama kami.

Tidak bisa dipungkir lagi bahwa angka buta huruf di Indonesia masihlah ada dan berkisar di angka 2,07% pada tahun 2017 lalu. Kami masih menemukan kasus buta huruf di penduduk desa Sitanggal. Penduduk yang buta huruf kebanyakan di kalangan umur 45 tahun keatas. Waktu itu kami bertemu dengan Tokoh Masyarakat, Ibu Putri namanya, beliau mempunyai program berantas buta huruf dengan belajar membaca setiap seminggu dua kali. Selama ini beliau lah yang mengajak para warga yang buta huruf untuk belajar membaca bersama. Kami pun bergabung dengan beliau untuk menjadi pengajar di kelas mengajarnya.

Kelas Belajar Membaca

Hadirnya kami, para mahasiswa sebagai pengajar kelas membaca ini membuat warga menjadi antusias untuk datang. Bila biasanya dalam satu sesi warga yang hadir berkisar 15-20 orang, tapi semenjak kami bergabung, prosentase warga yang datang semakin banyak, bisa sampai dua kali lipatnya. Bahkan saking antusiasnya, kami juga sampai membuka sesi tambahan kelas membaca satu kali lagi, jadi dari yang seminggu dua kali menjadi seminggu tiga kali.

Jujur saja, melihat para orang tua dengan semangat belajar yang tinggi tersebut, saya sempat tertampar begitu melihatnya. Teringat diri saya sebelumnya yang masih sering malas-malasan dan membuang-buang waktu. Padahal disini ada banyak orang tua yang masih mau belajar, sedangkan ia sudah letih karena seharian bekerja di sawah. Ah benar benar menyentuh hati. Saya banyak memetik pelajaran hidup disana, pelajaran yang tidak pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan dalam kelas.

Hal yang paling berkesan disana adalah saat saya melihat warga yang buta huruf akhirnya berhasil membaca. Saya sampai menitikkan air mata ketika melihat peristiwa itu. Benar-benar pengalaman yang tidak ada duanya.

Hamparan Sawah di Desa

Meskipun disibukkan dengan kuliah lapangan, namun kami juga menyempatkan diri untuk mengeksplore tempat-tempat wisata yang ada di sekitar desa kami. Kami sempat mengunjungi alun alun Brebes, Pantai Randusanga, dan Guci Indah. Tempat wisata di desa-desa ini sangat indah dan alami sekali.

Sayangnya, waktu itu kami tidak bisa mengabadikan dengan baik hal-hal yang kami lakukan dan temukan disana. Dulu smartphone belumlah secanggih dan sebanyak sekarang. Mahasiswa yang memiliki smartphone pun masih bisa dihitung jari. Saya sendiri sudah memiliki smartphone namun masih berbasis android ICS (4.0) dengan kamera 2 MP dan memori penyimpanan hanya 2GB. Makanya selama saya kuliah lapangan, semua foto atau video yang saya abadikan, masihlah foto/video dengan resolusi rendah dan tidak begitu banyak, karena memori ponsel yang sedikit.

Andai saja waktu itu saya memiliki smartphone idaman dengan resolusi kamera yang apik dan memori penyimpanan yang besar, tentu saja akan banyak momen-momen dan pemandangan disana yang bisa saya abadikan, seperti wajah-wajah orang tua yang berhasil membaca, keasrian hidup di pedesaan, hamparan sawah yang  indah, keramahan orang-orang desa dan apiknya tempat-tempat wisata disana.

Guci Indah

Tahun depan, saya berencana untuk mengunjungi Desa Sitanggal lagi. Selain untuk bersilaturahmi, saya juga ingin mengunjungi tempat wisata Guci Indah, sebuah curug (air terjun) dengan air panas di bawahnya. Ah tempat wisata ini sungguh sangat indah dan menyenangkan. Ada tiga persiapan yang sedang saya lakukan, yaitu pertama menghubungi kepala desa Sitanggal. Untungnya setiap tahun saya masih kontak dengan beliau sehingga tali persaudaraan masih tetap terjaga. Kedua, menyiapkan uang saku dan kebutuhan logistik lainnya selama berada disana. Dan ketiga, mencari smartphone idaman 2018 yang bisa memenuhi semua kebutuhan fotografi dan videografi saya selama disana.

Tentu saja saya tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi. Saya pun sudah browsing di Internet untuk smartphone yang memenuhi kebutuhan saya tersebut, smartphone ini adalah Huawei Nova 3i.

Sumber : Huawei

Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu smartphone ini muncul dipasaran. Bisa dibilang smartphone ini adalah paket komplit, karena menyediakan semua fitur yang dibutuhkan orang-orang.  Mulai dari kamera yang mumpuni (Quad AI Camera), memori penyimpanan yang besar yakni 128GB, desainnya yang premium dan elegan serta kinerja ponselnya yang gesit dan cepat.

Lalu apa saja sih keunggulan dari Smartphone Idaman 2018 ini?

Desain
Smartphone Huawei Nova 3i memiliki desain body yang sangat ciamik. Huawei mengadopsi desain Huawei P20 ke dalam Smartphone Huawei Nova 3i ini. Dengan frame berbahan metal yang berlapiskan kaca membuat perangkat ini terlihat sangat premium. Ditunjang dengan warna perangkat yang memiliki gradasi warna tentu semakin membuat siapapun yang menggengam perangkat ini akan terlihat ekslusif. Apalagi ketebalan Smartphone Huawei Nova 3i hanya 7,6 mm. Pasti, siapapun akan terlihat kece bila memegang smartphone ini.

Smartphone Huawei Nova 3i memiliki build quality yang sangat solid. Terdapat beberapa varian warna yang bisa dipilih, yaitu iris purple dan hitam.

Sumber : www.nurulnoe.com


Display
Huawei Nova 3i memiliki layar lebar berukuran 6,3 insch dengan rasio 19:9 yang ditunjang sentuhan kekinian layar Fullview dan Notch di bagian atas.  Untuk ukuran dimensi nya adalah 157,6 mm x 75,2 m, dengan bobot sekitar 169 gram. Layar lebar ini sangat nyaman saat digunakan untuk ngegame, browsing dan nonton video karena Huawei Nova 3i memiliki resolusi full HD 1080p x 2340p dan layar berteknologi IPS (in-place switching) . Resolusi ini membuat gambar yang disajikan sangat jernih, tajam, cerah dan memiliki visitabilitas yang baik. Kepadatan pikselnya yaitu sekitar 409 ppi yang tentunya sudah lebih tinggi dibandingkan standar display.

Pada tampilan interfacenya, HuaweiNova 3i mengusung UI EMUI 8.1 yang berbasis android 8.1 oreo. Interface Smartphone Huawei Nova 3i ini memiliki banyak fitur pendukung dan memberikan berbagai fungsionalitas yang bisa dimanfaatkan pengguna.

Performa
Smartphone Huawei Nova 3i dibekali chipset Hisilicon Kirin 710, yang terdiri dari quad core Cortex A73 2,2Ghz dan Quad Core Cortex A53 1,7Ghz yang membuatnya berkinerja cepat dan gesit. Performa Smartphone Huawei Nova 3i menjadi semakin optimal karena ditunjang dengan RAM berkapasitas 4GB dan internal storagenya sebesar 128 GB. Besarnya ruang penyimpanan Smartphone Huawei Nova 3i ini tentu menjadi keunggulan tersendiri, karena pengguna tak perlu khawatir kehabisan media penyimpanan untuk data-data penting dan aplikasi.

Sumber : www.nurulnoe.com

Baterai Huawei Nova 3i berkapasitas cukup besar yakni 3340 mAh, dengan kapasitas tersebut, Smartphone Huawei Nova 3i bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama untuk aktivitas normal.

Kamera
Yang paling menarik dari Smartphone Huawei Nova 3i adalah fitur kameranya yang sungguh memanjakan penggunanya. Huawei Nova 3i  menyematkan 4 kamera dalam satu perangkat yaitu, dua di bagian belakang dan dua di bagian depan. Kamera utama Huawei Nova 3i dibekali dengan sensor 16MP + 2MP (Aperture 2.2) yang mampu menghasilkan gambar yang tajam dengan detail yang cukup baik. Untuk kamera depannya ditunjang dengan sensor 24MP + 2MP (Aperture 2.0) yang membuat smartphone ini masuk menjadi smartphone kategori selfie kamera.

Sumber : www.nurulnoe.com

Kerennya lagi, Smartphone Huawei Nova 3i juga mempunyai fitur Quad Artificial Intelegence (AI) Camera yang berfungsi memberikan opsi pada pengguna dalam aktivitas fotografi. Fitur AI Huawei Nova 3i  mampu membedakan lebih dari 500 skenario obyek foto kemudian memiliahnya ke dalam 22 tipe dan melakukan optimalisasi saat melakukan aktivitas fotografi.

Selain itu, ada juga fitur kamera lainnya seperti 3D Potrait Lighting, 3D Emoji, Light Painting dan Super Slow Mo.

Sumber : Huawei

Keamanan
Smartphone Huawei Nova 3i memiliki teknologi finger print yang terletak di belakang body ponsel. Fitur ini tentu sangat berguna untuk keamanan pengguna , apalgi bila di dalam smartphone terdapat data-data penting, sensitif dan data yang memerlukan perlindungan lebih.

Kesimpulan
Smartphone Huawei Nova 3i merupakan pilihan terbaik buat siapapun. Dengan segudang fitur diatas dan harga yang cocok dikantong, Huawei Nova 3i adalah juara di kategori smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB. Oleh karena itu saya merekomendasikan buat kamu yang ingin memiliki smartphone dengan tampilan elegan, sangar buat bermain game dan ciamik dalam aktivitas fotografi, maka memilih Smartphone Huawei Nova3i adalah pilihan terbaik.

Saya benar-benar tertarik dengan Smartphone Huawei Nova 3i ini, karena fitur fitur yang ditawarkan sangat cocok dengan kebutuhan perjalanan saya nanti ke Desa Sitanggal dan Guci Indah. Saya masih menunggu hingga tabungan saya cukup untuk menukar smartphone lama saya dengan Smartphone Huawei Nova 3i ini, tapi Kalau dikasih, waaah tentu saya pasti mau banget !

#HuaweiNova3i_ID #ChooseTheBest #aplacetoremembergiveaway


Share:

Persaingan Sempurna




Ngomongin hidup pasti gak bakal jauh dari yang namanya persaingan. Manusia mana sih yang gak bersaing dalam hidupnya? Sebelum manusia berbentuk manusia aja mereka udah bersaing. Bersaing menembus sebuah ovum. Naik krl tiap pagi buat berangkat kerja aja kita saingan. Saingan sama penumpang lain biar dapet duduk atau lapak berdiri. Bayar makanan di indomaret pun kita juga saingan sama customer lain. Saingan buru-buru sampai kasir biar kagak ngantri. Bahkan untuk dapet sekolah aja, yang sekarang sistemnya pake zonasi, kita pun perlu bersaing. Bersaing bikin SKTM alias surat keterangan tidak mampu biar dapet sekolah. Hadedeeeeehhhhh. Ada ada aja. Bersaing kok dalam kemiskinan? Tapi persaingan yang paling bikin gue bingung sekarang-sekarang ini adalah persaingan menjelek-jelekkan diri biar viral di sosmed. Aduh cobaan apalagi ini Ya Allah. Cobaan hidup udah berat, eh ngeliat konten disgusting gitu entah kenapa bikin hidup gue jadi makin berat aja.

Setiap orang pasti pernah bersaing. Minimal bersaing sekali dalam hidupnya. Bersaing pun ada banyak macamnya. Saingan dapetin gebetan. Saingan dapat rangking satu. Saingan banyak-banyakan THR. Saingan kekayaan. Saingan kepintaran anak. Saingan kesetiaan pasangan. Saingan di kerjaan. Saingan di game mobile legend. Ataupun saingan banyak-banyakan like dan komen di instagram. Manusia dari dia bayi sampe dia jadi manula pasti ada ada aja deh yang dipersaingkan. Mau dia nyatanya gak mampu bersaing atau jago banget bersaing pasti bakalan bersaing-saing juga. Selama hal itu memang pantas untuk dipersaingkan mungkin gak masalah, tapi bagaimana kalo yang dipersaingkan itu hanyalah sesuatu yang gak ada faedahnya? Mempertontonkan keviralan yang bodoh contohnya.

Gue gak paham sama acara tv zaman now. Asal ada yang viral dikit di undang ke tivi. Viral dikit diundang di tv. Padahal viralnya itu ya gak mendidik dan gak bermanfaat juga.  Malah secara gak langsung ngajak orang bikin konten serupa. Maksudnya apa coba ini? Maksudnya apa coba mengundang orang pamer muka jelek ke tivi? Buat mengajarkan penoton bahwa bikin video muka jelek bakal masuk tv gitu? Hina sekali kawan. Sungguh hina sekali kalo tujuannya ini. Memang tayangan semacam ini dari segi bisnis menguntungkan banyak, tapi dari sisi kebermanfaatan gue nilai Nol besar. Menguntungkan iya, merusak bangsa juga iya.

Melihat kasus diatas, persaingan dikategorikan jadi dua. Persaingan sehat dan persaingan tidak sehat. Ngomongin persaingan sehat pasti bakal membosankan dan kurang punya nilai jual yang tinggi. Karena bersaing secara sehat ya gitu gitu aja ceritanya. Plotnya mudah dibaca dan konfliknya minim. Lain halnya kalo yang dibahas persaingan tidak sehat. Beuh, seru banget deh kalo ngomongin hal ini. Gak ada habis-habisnya juga. Soalnya ya persaingan tidak sehat tuh ibarat orang terkenal meninggal. Ya meski dia udah meninggal, tapi masih tetep aja dibicarakan sampe kapanpun. Mau persaingan itu udah selesai ataupun belum, pasti orang bakal ngomongin itu terus.

Gue punya contoh persaingan tidak sehat yang pernah gue alamin ketika gue kerja. Jadi ada dua supervisor yang baru dipindah ke kantor gue. Nah entah kenapa dua orang ini jago ngomong dan jago cari muka. Ya namanya anak baru kan ya, pasti dong dia nyari nyari muka ke atasannya, biar dilirik gitu. Nah masalahnya cara mereka nyari muka tuh dengan membuka aib supervisor lainnya. Apesnya supervisor yang aib nya dibuka-buka itu gak begitu jago dalam hal diplomatik. Makanya pas di momen puncaknya, akhirnya sang atasan kemakan cari mukanya supervisornya tersebut dan ia pun mendemosi si supervisor malang.

Padahal ya kalo sang atasan melihatnya dengan jujur dan adil, si supervisor malang gak salah salah banget kok. Emang si supervisor baru aja yang lebay dan kampret. Lucunya, setelah kasus demosi tersebut, si dua supervisor baru tadi beberapa bulan kemudian naik jabatan. Lebih Lucunya lagi, setelah naik jabatan malah dua supervisor tadi kabur gara-gara kerjaannya gak beres. Banyak komplain sana-sini. Yap orang-orang kayak gini kalo di kerjaan mah emang gak bakal berumur panjang. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja. Boom. Selesai sudah. Tapi sob, bagi menurut gue bagian paling lucunya bukan disitu, justru bagian paling lucu adalah ya tentu aja si atasan. Kok mau mau aja dikadalain sama bawahannya.

Nah itulah salah satu persaingan gak sehat yang sering terjadi di muka bumi ini. Persaingan untuk mendapatkan sesuatu tapi dilakukan dengan cara-cara kotor. Mereka-mereka ini mungkin gak pernah merasakan bagaimana enaknya menikmati bersaing secara sehat. Atau mungkin mereka ini pengennya instan dan praktis aja, tanpa mau capek apalagi keringetan. Atau bahkan mereka ini emang pada dasarnya cetek alias rendah, terus gak punya skil, gak punya temen dan gak punya kemauan untuk belajar, makanya jadinya begitu. Padahal kalau mereka merasakan lingkungan persaingan sengit yang pernah gue alami ketika gue SMP, mungkin mereka gak bakal kayak gitu. Persaingan yang gue alamin ketika SMP ini bukan menyoal tentang bersaing agar jadi orang populer, bukan pula menyoal tentang bersaing agar dikenal guru, tapi melainkan bersaing bagaimana bisa survive di kelas yang di dalamnya berisi anak-anak genius yang mengerikan.

Siapa yang gak kenal Rangga, Desi, Syelfie? Merekalah juara kelas di kelas satu maupun dua. Siapa juga yang gak kenal Dea, Ica dan Esti? Mereka adalah juara dua di kelasnya masing masing saat kelas satu dan dua. Dan jangan lupakan Rizal, Ina, dan Laras. Mereka juga mendapat rangking tiga di kelasnya masing-masing. Lalu ada Nita, Wandi, Ridho yang pernah mencicipi juara dua dan tiga beberapa kali. Tentu hidup di kelas seperti itu bakal aman nyaman dan tentram, karena sekelilingnya orang pinter semua. Tapi bagaimana kalau kamu adalah salah satu orang genius juga? Yap itulah gue. Percaya atau enggak, gue pernah mencicipi rangking satu dan dua juga baik di kelas satu maupun di kelas dua. Dan berada di kelas dengan penuh orang jenius tersebut tentu menjadi tantangan dan masalah tersendiri, soalnya bisa jadi kamu bakal turun rangkingnya, bisa tetap rangkingnya atau bisa juga naik rangking. Gimana seru kaaannn?

Bagi anak anak akselerasi atau siswa siswa yang hidup di sekolah favorit mungkin kondisi seperti diatas udah biasa, bahkan udah jadi makanan sehari-hari. Tapi bagi siswa sekolah biasa kayak gue, hidup di kelas tersebut bener-bener penuh lika liku. Nengok kanan ada saingan. Nengok kiri ada saingan. Lurus dikit terus nyerong kanan ketemu saingan lagi. Jalan mundur terus berbalik, eh ketemu saingan-saingan juga.

Kondisi makin diperparah pas lagi ujian. Orang-orang di kelas ini pasti bakal suram deh kalo mau ujian. Soalnya ya dimana-mana orang pinter. Dan orang-orang pinter ini duduknya menyebar lagi ya. Setiap sudut dan tikungan ada. Makanya buat orang yang kurang pinter maupun orang pinter itu sendiri, mereka bakal sama-sama sibuk. Lirik dikit dikata mau nyontek. Kedip dikit dikira kerjasama. Melet dikit dikira ngasih kode jawaban. Bahkan megang hidung aja dikira lagi ngobrolin jawaban. Aduuhh. Apasih.

Lain halnya kalo pas lagi ada lomba cerdas cermat. Beuhh ini yang pusing justru si wali kelas. Pusing katanya dia nentuin siapa orang yang bakal maju. Bahkan buat nentuin aja katanya dia sampe sholat istiqoroh saban malem. Ebuset udah kayak nyari wangsit yak.

Tapi untungnya gue sendiri berteman baik dengan para saingan gue diatas. Sebagian besar dari mereka bahkan masih berteman baik sama gue hingga saat ini. Waktu SMP, mungkin diatara kami gak ada yang berpikir soal persaingan sama sekali. Termasuk gue. Kami satu sama lain ya gak benar-benar saingan. Yang mengkategorikan kondisi kami jadi bersaing itu ya paling para guru dan orang tua murid. Bagi para siswa yang menjalaninya mah sebenernya biasa-biasa aja. Makanya gak pernah ada yang berlaku “kotor” selama kami berada di kelas tersebut. Gak ada sama sekali. Apakah ada yang pake cara curang? Gak ada. Apakah ada yang pake cari muka? Gak ada sama sekali. Dan apakah ada yang saling menusuk satu sama lain? Tentu aja gak ada. Apa yang kami lakukan selama di kelas tersebut adalah murni pertemanan sehat. Ketika ada yang kesulitan, kita bantu. Ketika ada yang gak paham, kita bantu. Dan ketika ada yang minta diajarin, ya kita ajarin.

Persaingan yang kami alami akan terasa begitu sengit ketika pengambilan rapot. Tentu lagi-lagi yang bikin keadaan jadi sengit itu ya bikin kami, para siswa, tapi justru para orang tua murid. Pas pembagian rapot di semester satu, para orang tua murid yang anaknya turun rangking pada protes dan sedikit memarahi anak-anaknya. Para orang tua murid yang anaknya naik rangking justru mesem mesem aja. Yang paling pusing tentu aja si wali kelas, karena dia menerima berbagai protes dari para orang tua murid. Wkwk

Gue inget ketika di akhir semester satu dan dua di kelas tersebut. Gue termasuk pihak yang tersenyum di dua momen diatas, soalnya gue berhasil mendapatkan rangking tiga, baik di semester satu dan dua, di kelas mengerikan tersebut. Gue lah satu satunya siswa yang berhasil mempertahankan peringkat disana. Soalnya, siswa-siswa yang mendapat rangking satu sampai sepuluh (kecuali tiga) di semester satu, semuanya mendapatkan rangking berbeda begitu di semester dua. Di rapot semester dua, Ada yang rangkingnya naik, ada juga yang turun. Gila gila gilaaaaa.

Hingga saat ini, pengalaman gue hidup di kelas tersebut masih terus membekas di diri. Gue inget betapa leganya gue begitu melihat hasil rapot di semester dua. Padahal gue Cuma dapet peringkat tiga loh. Tapi entah kenapa hal itu gue anggap sebagai salah satu pencapaian hebat di hidup gue. Bersaing dengan orang-orang genius seperti mereka benar-benar menyenangkan. Pengalaman bagaimana survive di lingkungan seperti itu banyak membantu gue untuk berjuang ketika menghadapi situasi serupa. Terus persaingan yang gue alami ini, gue anggap selalu sebagai persaingan sempurna  yang mungkin gak semua orang bakal dapat kesempatan seperti ini.




Share:

Puasa Zaman Now




Kalo bulan puasa gini, entah kenapa gue selalu inget sama ibu Amining. Pahlawan tanpa tanda jasa gue. Jadi ibu Amining ini adalah ibu-ibu yang mempunyai peran besar di hidup gue ketika menghadapi bulan puasa di tahun 2013. Gue gak ngerti sih awalnya gimana. Gue juga gak paham kenapa Ibu Amining ini bisa berjasa besar gitu, padahal sebelumnya kenal aja kagak. Ketemu aja gak pernah. Ngobrol aja, gak pernah.

Jadi di bulan puasa di tahun 2013 adalah waktunya gue magang. Sekitar dua bulan sebelum puasa gue belum dapet tempat magang. Padahal udah puluhan lamaran magang yang gue ajukan ke perusahaan-perusahaan. Tapi semua gak ada jawaban. Nyesek sob,udah kayak digantungin aja. Serba salah. Melihat kemalangan yang mendatangi gue itu, akhirnya datanglah temen gue yang menawarkan untuk magang di tempat orang tua nya bekerja. Tempat kerjanya Ibu Amining. Awalnya sih gue gak terlalu berharap, soalnya mana mungkin 2 bulan sebelum magang bakal diterima. Lah proposal gue aja yang dari 6 bulan lalu belum ada jawaban sama sekali. Apalagi ini. Ngajuin magang, yang bakal dilakuin dua bulan setelahnya. Ebuset, ngajak ribut itu sih namanya.

Tapi, Tiba tiba seminggu setelahnya, gue dapet surat balasan dari perusahaan orang tua temen gue itu yang berisi bahwa gue diterima magang di tempat mereka.

Ebuset.

Apa apaaan ini?

Baru ngajuin seminggu yang lalu udah langsung diterima aja.

Konspirasi wahyudi apalagi kali ini?

Baca Juga : Anak Sosmed Banget

Malam nya Ibu Amining nelpon gue. Dia nanyain apa aja keperluan dan kebutuhan gue nanti selama disana, biar dia bantu buat nyiapain. Gue bilang tempat tinggal. Ibu amining langsung nyariin gue kosa-kosan yang dalam sekali bayar udah langsung dapet makan, transport dan londrian dengan harga terjangkau. Gue bilang gue butuh perlengkapan safety. Ibu Amining langsung ngasih gue sepatu dan helm yang sesuai banget sama ukuran kaki dan kepala gue. Gue bilang gue pengen ketemu sama ibu Amining, eh ibu amining langsung dateng sore itu juga. Malahan hari pertama gue magang gue malah kerja di kantornya Ibu Amining ! Gila gila gilaaa..

Terus padahal gue gak minta ya, eh Ibu Amining ngasih gue Pembimbing Magang yang terbaik dan terasik juga seantero jagat. Ajibbbb... Keren banget ini sumpah.

Gak ngerti lagi ini gue kenapa Ibu Amining baik banget gini.

Saat itu Ibu Amining udah kayak sodara gue. Ibu Amining bener bener panutan gue. Ibu Amining juga jadi Inspirasi gue. Pahlawan tanpa tanda jasa gue. Ibu Amining, Bagi THR-nya dong..

#loh

Mengingat kebaikan Ibu Amining waktu itu, gue jadi suka nyesek sekarang. Bukan. Bukan karena gue gak bisa membalas semua kebaikan dia, bukan pula karena gue gak bisa membahagiakan dia, tapi gue nyesek banget soalnya kok dulu gue gak minta mobil aja ya sekalian sama Ibu Amining. Pasti bakal dikasih deh tuh.. Adududuuhhhh

#Kampret

Puasa zaman now, udah jarang orang yang baiknya kayak Ibu Amining diatas. Kebaikan yang tulus dan jauh dari kata riya. Zaman sekarang banyak orang yang suka pamer di bulan puasa. Kalo pamer di bulan biasa, normal lah ya, lah ini kok di bulan puasa sampe dibawa-bawa juga. Bahan pamer disini mencakup berbagai hal. Mulai dari hal penting sampe gak penting. Mulai dari hal berfaedah sampe hal unfaedah. Gue suka ketawa sendiri kalo ngeliat hal-hal tersebut. Kesannya norak banget sob. Soalnya ya apasih maksudnya pamer-pamerin hal tersebut? Buat bikin orang terinspirasi gitu? Enggak juga. Buat bikin orang termotivasi gitu? Apalagi ini, engga sama sekali. Atau hanya sekedar pengen pamer aja sekaligus sebagai bahan aktualisasi diri? Duhhh kok kampungan banget yak.

Entah kenapa hal-hal pemer itu banyak berseliweran di hidup gue. Terutama di media sosial. Bukan maksud nyinyir ya, tapi asli sebagai manusia gue merasa terganggu aja. Pas lagi ngaji, posting. Lagi ikut kajian, posting, Pas lagi taraweh, posting. Pas lagi berinfaq, posting. Pas lagi kerja, posting. Bahkan pas lagi buka puasa pun ikutan posting juga. Lah ini orang lagi gantiin tugas malaikat Raqib apa yak? Mencatat semua amal kebaikan manusia. Aseemmm. Gue bukannya gak suka, tapi jujur gue terganggu. Ya karena kalau kalian semua memamerkan semua kebaikan kalian, gue jadi kasian sama malaikatnya, soalnya mereka jadi gak ada kerjaan dong.

Hufffttt

Ada ada aja.

Gak Cuma sampe disitu sob, puasa sekarang entah kenapa banyak orang yang terobsesi menjadi malaikat Atid. Mencatat semua keburukan manusia. Banyak orang yang bikin postingan-postingan yang menjelek-jelekkan satu orang atau satu golongan. Banyak juga yang bikin meme-meme yang menjelekkan juga. Bahkan banyak juga orang-orang yang melihat postingan-postingan diatas, malah menyebarluaskan lagi. Terus juga yang paling kampretnya lagi, kalau kalian buka comment comment di sosial media orang terkenal, baik entertainer, pejabat  ataupun seorang ustadz sekalipun, beuuhh pasti deh selalu ada orang-orang yang nyinyir, menjelek-jelekkan dan menyebarkan aib di dalamnya. Lah ini maksudnya apa coba? Lagi ikut kompetisi jadi malaikat Atid tong?

Zaman makin aneh aneh aja sekarang.

Puasa bukannya mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu malah berbuat kebalikannya..

Untuk kalian yang tidak berbuat demikian, you da real MPV kawan.

Oke balik lagi ke ibu Amining.

Waktu Ibu Amining berbuat baik ke gue waktu itu, gak ada tuh sama sekali gue liat dia pamer-pamerin perbuatannya. Abis dia pinjemin gue perlengkapan safety, Ibu Amining sama sekali gak posting hal tersebut di facebooknya. Abis dia nyariin kosan terbaik buat gue, dia juga gak posting hal itu di twitternya. Abis dia memastikan gue selamat, nyaman dan sejahtera dia juga gak posting tersebut di WA story nya, bahkan pas dia ketemu gue yang rada-rada terkenal di RT gue, dia pun gak posting hal tersebut di instagramnya. Mantap jiwa deh buuu.

Gue sampe nanya ke anaknya, kenapa ibu nya bisa baik gitu, tapi anaknya malah Cuma nyengir aja.
Apa yang ibu Amining lakukan diatas, adalah apa yang manusia sewajarnya lakukan. Ibu amining bukanlah seorang artis, yang postingannya dinantikan fans-fansnya. Ibu Amining bukanlah motivator, yang postingannya dibutuhkan orang banyak. Ibu Amining pun juga bukan seorang pejabat, yang postingannya untuk menunjukkan kinerjanya. Ibu Amining hanyalah seorang ibu biasa yang sedang berbuat kebaikan. Udah gitu doang.

Baca Juga : Nostalgia Ramadhan

Lah anak-anak zaman sekarang beda banget sama ibu ini. Hal biasa aja yang sebenernya gak diperlukan buat orang tau aja di posting. Macam kayak dia orang terkenal aja. Macam kehidupan dia disorot aja.

Kayak postingan gini “Puasa sekarang udah ada yang nemenin”, di posting dengan foto berdua bareng suami/istri. Lah ini fungsinya apa coba? kemaren pas kawinan kan ngundang-ngundang orang jon, jadi orang udah pasti tau kali kalo sekarang elu hidup berkeluarga. Lain halnya kalo elu baru nikah, terus pas puasa malah tetep gak ada yang nemenin. Baru deh yg kayak gitu diposting. Soalnya ya pasti banyak orang yang kepoin. wkwk

Terus ada lagi yang posting, “sekarang puasa disini, tahun kemaren disana, tahun kemarennya lagi disono”. Ebuset maksudanya apaaaaaaaaaa???? Gue harus bilang wow gitu. Kan gak ada manfaatnya juga informasi kayak gitu. Malah kesan pamernya keliatan banget. Beda halnya kalo elu posting gini,” Dua tahun lalu puasa di Bumi, Setahun lalu puasa di Luar angkasa, Sekarang puasa di alam Kubur”

Nah kalo kayak gitu kan pasti ada manfaatnya. Jadi kalo orang mau koment gampang, Tinggal komen, “Oh sekarang lo udah mati ya?”

Waseemmm wkwkwk

Tapi emang ya sosial media ini emang harus kudu hati-hati makainya. Zaman dulu, orang kalau mau tau kabar orang lain pasti lewat cerita. Lewat ngobrol. Baik ngobrol langsung maupun lewat telepon. Dulu, kalo gue pengen tau kabar sepupu gue di kampung, pasti gue bakal nelpon dia. Atau kalo gue pengen tau apa aja yang dilakuin dia, ya gue mesti ketemu dia atau maksa dia buat cerita. Gue tau sodara gue jadi juara kelas ya karena ibu nya cerita ke ibu gue. Gue tau sodara gue kuliah di luar negeri ya karena dia ngasih tau gue pas main di rumahnya. Kalo boleh menyimpulkan, dulu, hidup gue penuh dengan hal-hal yang penting aja. Kalo pun gue tau aib seseorang, ya paling karena itu diceritain secara diem diem.

Tapi sekarang, tanpa perlu gue nelpon, tanpa pelu gue tanyain, dan tanpa perlu gue paksa, gue tau kegiatan sodara-sodara  atau temen temen gue. Baik hal baik dan hal buruknya. Ya tinggal liat aja status dia di facebook, twit dia di twitter, postingan dia di IG, IG story dan WA story. Semua keliatan disana sob. Sosial media benar-benar menelanjangi manusia sekarang ini.

Makanya gue heran sama orang yang suka posting kegiatan pribadinya, atau kegiatan yang sebenernya lebih baik kita aja yang tau, di sosial media. Ini kan sama aja dia lagi telanjangin dirinya sendiri?

Kalau semua hal pada dirimu, kamu umbar-umbar disana, itu kan sama aja kamu gak punya rasa malu. Kalaupun karena kepengen eksis, kenapa harus membuka “pakaian” diri sendiri? Kalaupun kepengen pamer, kenapa harus dengan “telanjang”? dan kalaupun kepengen untuk bermanfaat, kenapa harus dengan hal-hal yang gak begitu penting?

Bener kan?

Kalo gue gak cerita tentang Ibu Amining, pasti kalian gak tau kan gimana-gimana kebaikan dia? Pasti iya.

Ya soalnya Ibu Amining melakukan kebaikan dengan prinsip ibadah puasa. Puasa kan ibadah yang paling susah dilihat. Orang kalo sholat dan gak sholat bisa dilihat. Orang kalo bayar zakat dan gak bayar bisa dilihat. Lah orang tau kalo puasa atau kagak gimana liatnya yak? Pasti Cuma orang yang bersangkutan dan Tuhannya aja yang tau kan. Ibu Amining pun begitu. Saat dia berbuat kebaikan kepada gue dulu, Cuma dia, orang yang bersinggungan dengannya (gue) dan Tuhannya yang benar-benar tau apa yang terjadi.

.......


Share:

Pengalaman Open Trip Pulau Harapan




Weekend kali ini saya mencoba mengeksplore wisata laut yang ada di Jakarta yaitu Pulau Seribu. Pulau seribu merupakan salah satu wilayah dari DKI Jakarta. Jika memakai kapal laut, jarak dari dermaga muara angke kesana bisa mencapai 1-3 jam. Mulai hits nya pariwisata belakangan ini, membuat pulau seribu menjadi destinasi wisata baru yang wajib di kunjungi. Dan ya, baik pantai, laut dan terumbu karang nya ternyata gak kalah cantiknya lho dengan yang ada di Bali, lombok atau di pantai-pantai selatan.

Untuk bisa ke pulau harapan, traveller bisa berangkat dari Pelabuhan Kali Adem, Pelabuhan Sunda Kelapa atau Dari Ancol.  Saya sendiri berangkat dari Kali Adem, Muara Angke. Untuk tiket masuk dermaganya sebesar 2000 rupiah, sedangkan harga tiket kapal nya untuk sekali berangkat ke pulau harapan yaitu sebesar 60ribu rupiah. Untungnya waktu itu saya mengikuti open trip, jadi segala kebutuhan untuk wisata, baik tiket, makan, tempat tinggal; dan destinasi wisatanya sudah diurus oleh pihak travel. Kita tinggal bawa kebutuhan pribadi aja.

Jujur aja, begitu sampai di Pulau Harapan, saya langsung terkagum-kagum dengan keindahan gugusan pulau disana. Saya sangat menyesal, 25 tahun tinggal di Jakarta, tapi baru sekarang pergi kesini. Ternyata Jakarta tidak hanya punya Mall loh. Tapi juga punya laut yang amazing sekali ini. Selama dua hari satu malam disana saya mengunjungi beberapa pulau yang memiliki keseruannya masing-masing. Apa saja hal seru itu, mari kita bedah satu-satu.

Snorkling di Pulau Macan
Agenda pertama dalam explore pulau harapan ini adalah snorkling. Pulau seribu selain dikenal dengan banyaknya gugusan pulau disana juga terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Lokasi snorkling kami ada di peraoran pulau macan. Lautnya cukup dangkal. 2-3 meter kira-kira dalamnya. Warna lautnya pun hijau tosca denga kejernihannya yang tiada tara. Saking jernihnya, kita bisa melihat ikan-ikan di laut dari atas kapal lho.

Terumbu karang disini masih sangat terjaga. Bentuknya warna-warni dan unik-unik. Selain itu, ikan laut pun berenang kesana kemari, tentu dengan warna yang begitu cantik. Jika traveller snorkling disini, jangan lupa membawa roti, soalnya dijamin ikan-ikan disana akan mengerubungi deh. Berenang bersama ikan-ikan bisa jadi pengalaman dahsyat yang tak tergantikan lho.

Uniknya Pulau Gosong
Pulau gosong memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pulau-pulau lainnya. Pulau ini tidak begitu luas dan hanya memiliki pasir di dalamnya. Tidak ada rumah, dermaga, ataupun pepohonan. Pulau ini bisa dikatakan padang pasirnya lautan. Karena sejauh mata memandang hanya ada pasir disana. Pasir putih dengan segala keindahannya. Pulau gosong sangatlah indah, karena pasirnya yang putih, lalu dikelilingi oleh beningnya air laut yang tosca  dan terumbu karang di dalamnya. Jika kita melihat laut di sekeliling Pulau Gosong dari atas kapal, maka teman-teman akan melihat betapa cantiknya terumbu karang disana dan ikan-ikan yang bermain kesana-kemari.

Menikmati Sunset di Pulau Bulat
Setelah capek berenang bersama ikan-ikan dan main air/pasir di pulau gosong, saya diajak untuk beristirahat sejenak di Pulau Bulat sembari menikmati Indomie rebus dan ditemani sunset yang begitu romantis. Pulau Bulat menawarkan spot pantai terbaik untuk melihat sunset. Di pantai nya pun sudah disediakan beberapa bangku taman yang langsung menghadap ke sunset begitu sore tiba. Duduk-duduk sambil bercengkrama dengan sahabat atau kekasih tentu menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan disana. Sayangnya pulau Bulat tidak termasuk pulau tidak berpenghuni. Padahal, ada beberapa bangunan disana, yang bisa dijadikan sarana meraup keuntungan, tapi pemilik bangunan tersebut sepertinya memiliki pemikiran lain dan berpikir lebih baik mengosongkan bangunan tersebut. Tapi, tenang aja, bagi yang lapar dan haus, disana ada satu warung kopi yang bakal menemani kamu kok.

Pulau Sepa yang Photogenik
Ah ini dia salah satu pulau favorit saya. Pulau ini terbagi menjadi dua wilayah, satu untuk ressort/cottage /restoran di pinggir laut dan sisanya adalah wilayah tak berpenghuni. Pulau ini cantiknya bukan main. Jika teman-teman ingin camping di laut, saya menyarankan untuk melakukan camping disini. Pantai nya sangat indah. Sangat sangat indah. Keindahan tersebut akan teman-teman rasakan begitu menginjak dermaga pulau. Hamparan hijau tosca lautan disertai terumbu karang dan banyaknya bulu babi di dalamnya akan menjadi hal pertama yang kamu lihat. Keindahan tersebut akan bertambah berkali lipat begitu melihat ke arah pantai yang dipenuhi oleh pasir putih. Saya yakin, banyak yang berpikir untuk membangun rumah disana, saking cantiknya tempat ini. Dermaga pulau sepa berupa jembatan yang agak menyerong ke laut. Mirip-mirip jembatan cinta-nya pulau Tidung. Dan ya, jembatan ini lah salah satu spot terbaik untuk berfoto-foto, karena memang instragrammable sekali.

Eksotisnya Pulau Perak
Setelah mabuk dengan cantiknya Pulau Sepa, saya makin dibuat mabuk kepayang lagi begitu sampai di pulau Perak. Aduhaaaaiiii. Subhanalllaaaaaaaaah. Sumpah, this is the most beautiful island i’ve ever seen.

Pulau perak termasuk pulau tak berpenghuni. Paling Cuma ada warung kopi aja disana. Cantiknya mirip dengan pulau Sepa. Bedanya, disini disediakan ayunan di pantai. Jadi traveller bisa berfoto di ayunan dengan background laut yang indah. Sesuai dengan namanya, pasir disini benar-benar putih bersih ke perak-perakan. Banyak nya pohon-pohon besar di pantai, membuat pesisir pantai menjadi teduh. Ada beberapa dahan pohon yang sengaja ditaro di pantai. Dahan tersebut bisa dijadikan tempat duduk. Duduk-duduk santai sambil melihat pemandangan laut disini benar-benar bikin menetramkan jiwa. Bikin sejuk. Dan menghilangkan stres yang ada.

Jika kamu punya waktu libur dua hari, saya merekomendasikan untuk berlibur ke pulau harapan, karena saya jamin, kamu pasti tidak akan menyesal. Malah kamu akan menyesal, kenapa hanya di pulau ini dua hari saja.

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #tantangan
Share:

Every Cloud has a Silver Lining




“Baik mas Arief, ini pertanyaan terakhir dalam sesi wawancara hari ini, jadi tolong di jawab dengan sejujur-jujurnya” kata si penanya dengan mimik wajah serius dan langsung natap ke mata gue !

“Baik om.. eh mas.. eh maksud saya pak” Jawab gue grogi. Gue udeh mikir pertanyaan terakhir ini pasti klimaksnya dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan paling susah. Pertanyaan yang paling menentukan.

“Jadi nanti mas arief, akan ditempatkan di pelosok desa , mungkin bisa beberapa jam dari kota, desa nya pun bisa dibilang punya infrastruktur yang minim..” Ujarnya dengan wajah mengintimidasi

“… iya om eh pak, maaf. lalu?” gue makin grogi

“Itu nanti jika mas Arief ditempatkan di tambang, kalau mas Arief ditempatkan di Kapal, mungkin mas bisa di dermaga terus atau juga bisa di kapal terus.” Lanjutnya dengan suara berat dan wajah yang menakutkan

Gue manggut manggut aja. Tangan gue makin dingin. Badan gue justru makin panas. Pandangan gue mulai kabur. Dan gue mulai merasakan alam bawah sadar gue.gue seolah tertidur. Jauh lebih dalam. Jauh lebih dalam. Dan tepuk tangan akan membangunkan gue dari tidur gue nanti.

Anjir. Kok malah jadi hipnotis -_-

“Jadi yang ingin saya tanyakan…….,” bapaknya diem sejenak. Sambil ngeliatin gue. Dan memainkan pulpennya.

Gue mulai mabok. Entah kenapa gue pengen minum antimo dioplos antangin saat itu juga. Jadi kalo gue nanti gak bisa jawab, gue bisa langsung pura pura pingsan. Terus pas bangun gue mendadak amnesia dan teriak- teriak, “LEPASKAN SAYA LEPASKAN SAYA !!!! SAYA TIDAK GILAA.. TIDAKK GILAAAAAA”

Oke fix. Ini sebenernya amnesia apa orang gila sih..

……

Si om pun melanjutkan…

Gue udah siap siap buat pura-pura pingsan..

…….

“…….. dengan kondisi seperti itu, bagaimana nanti mas Arief menjalani hubungan dengan pacarnya?“ Katanya sambil senyum. Udah kayak senyum om om yang ngeliat cabe-cabeean lagi bonceng tiga di motor

“HAAA??? Pacar, om?? eh hubungan tambang sama pacar om? Eh salah. maaf. Bisa diulangi om pertanyaannya?” jawab gue dengan muka cengo.

Aseemm. Gue kira bakal nanyain apa. udeh keringet dingin, hampir ke hipnotis , mabuk perjalanan dan udah bela-belain mau pura-purang pingsan pula. Ternyata ditanyain malah soal beginian. Ini sih bukan pertanyaan. Tapi kepo. IYA KEPO ! Si om om ini kepo ama gue ! Ositmen. Di kepoin dedek gemes sih gak masalah, lah ini dikepoin om-om. OM OM loh. Kenapa juga si om om ini pengen tau urusan gue. Kalo Om emang pengen tau nikahin aku sekalian !

*nangis di pojokan*

……..

Itulah sepenggal kisah sepenggal sesi wawancara kerja gue beberapa waktu yang lalu. Cukup absurb memang. Tapi dalam keabsurban tersebut gue banyak belajar hari itu. Dari keseluruhan step penerimaan kerja karyawan yang gue ikutin, gue dapet satu kesimpulan yang menampar keras diri gue. Kesimpulan yang terus menggelayuti pikiran gue sepanjang perjalanan pulang hari itu. Suatu kenyataan baru yang mau gak mau harus gue terima. Suatu kenyataan yang membuat semua kesulitan skripsi yang baru aja gue lewatin sebelumnya itu gak ada apa apanya dibandingin hal ini. Yaa. Sebuah kenyataan bahwa nyari kerja itu gak gampang.

Jujur aja , saat memikirkan hal itu, gue pengen kembali lagi ke masa kecil gue, dimana kesulitan terbesar saat itu hanyalah sebatas PR matematika..

………..

Pernah ada yang bilang kalo cowok itu cuma ada dua tipe. Kalo gak bajingan ya dia homo. Njir. Sebagai cowok gue merasa gagal ngedenger hal itu. Gimana perasaan lo dikategorikan dengan pilihan yang bukan lo sama sekali? Nyesek? Iya. Ngenes lebih tepatnya. Gara-gara hal itu gue juga bikin beberapa teori tentang tipe tipe. Ya. Bukan cuma cowok, tapi mantan itu juga ada dua tipe. Kalo gak PHP(pemberi harapan palsu), ya PDP (pemberi derita pilu). Nahloh ! Ngomongin mantan pasti gak bakal ada abisnya. Ada temen gue abis putus sama pacarnya. Setelah mereka putus mereka malah terjebak dalam situasi “putus-balikan-putus-balikan. Gitu aja. Berulang-ulang. Selalu. Pas gue tanya suatu hari, “kok kamu mau sih putus nyambung putus nyambung gini?”

“abisnya tiap kita putus, besok nya dia minta maaf dan janji gak bakal kayak gitu lagi. Yaudah deh kita balikan lagi”

Gue bingung sama orang-orang kayak gitu. Asli. Di PHP in kok mau? Gue aja pernah ngalamin, pas lagi di motor, motor di depan gue nyalain sein ke kanan, tapi dia malah belok ke kiri. Asli gue kesel banget. Pengen gue tabok bawaannya. PHP banget deh itu orang. Ya senyebelin itulah mantan yang PHP.

Lain halnya sama mantan yang PDP. Mantan jenis PDP adalah sekampret kampretnya mantan. Ada temen gue yang semenjak putus sama pacarnya dia jadi galau terus. PM BBM nya isinya galau galau. Status FB nya isinya marah marah aja. Di Path sering ngepost gambar-gambar atau quotes quotes cinta. Pas makan galau. Pas mandi galau. Pas tidur galau.. pokoknya dia galau galau terus kerjaannya. Bahkan pas dia kesambet pun dia juga masih sempet sempetnya galau..

Jadi ceritanya pas dia galau, dia nangis di bawah pohon mangga pas malem jumat. Eh dia pun kesambet. Dia diem aja disana, sambil matanya melotot. Tiap ada cowok yang lewat dia langsung nangis kejer sambil ngomong, “NIKAHI AKU MAS.. NIKAHI AKU !!!!!!!”

*mas mas nya dijambak jambak*

Asli.. kampret abis yee.

Nah dari observasi gue diatas, gue juga jadi menemukan tipe tipe orang berskripsi. Orang yang nyekripsi itu ada tiga tipe. Kalo gak kampret, kupret yaa kepret. Beneran deh.

Tipe kampret adalah sekampret-kampretnya orang berskripsi. Dari luar dia keliatan biasa biasa aja. Malah kadang gak keliatan. Kadang dia juga anaknya bandel, suka bikin onar, jarang ngampus. Tapi entah kenapa dia bisa nyelesain skripsinya dengan begitu mudahnya. Dapet dosbing baik, bimbingan gampang, padahal skripsinya masih banyak salah tapi udah di acc aja, judul sama isi skripsi gak begitu nyambung tapi gak kenapa kenapa. Asli kampret abis deh orang kayak gini.

Tipe yang kedua adalah tipe kupret. Kupret biasa dianalogikan sama orang untuk istilah orang/ucapan/kejadian/tindakan yang menyebalkan. Ya sesuai namanya, tipe kupret adalah tipe tipe mahasiswa nyekripsi yang isinya apes mulu. Ngajuin judul ditolak mulu, dapet dosbing yang susah, bimbingan susah banget, proposal gak di acc acc, revisi nya lebih banyak dari isi skripsinya, gak dibolehin penelitian/sidang.. kupret banget deh.. ngenes abis..

Tipe yang terakhir, tipe kepret. Tipe kepret ini pasti bakal lo temuin. Dalam artian nyekripsi, tipe kepret ini tipe yang  nyekripsinya tuh bentar banget. Kilat. Cepet abis. Padahal baru bikin judul, eh dua bulan kemudian udah selesai aja skripsinya. Asli minta di kepret nih orang. Biasanya orang yang pinternya kebangetan dan pengen lulus cepet ada di tipe ini. Dalam artian lain, tipe kepret ini juga diperuntukkan untuk orang yang kepret kepret aja dalam nyekripsi. Maksudnya wajar-wajar aja. Biasa biasa aja. Dia gak punya alasan buat cepet nyelesain skripsinya, gak ada target selesai, dan nyelesain skripsi dalam waktu yang lama bukan suatu masalah buat dia. woles. Pokoknya jalan pikirannya pendek pendek aja. Sekepret namanya.

Nah untuk para mantan pejuang skripsi silakan pikir sendiri kalian termasuk tipe yang mana. Untuk yang lagi nyekripsi dan udah tau kamu tipe yang mana, silakan berkumpul dengan tipe tipe sejenis kamu. Karena berkumpul dengan tipe diluar jenis kamu hanya akan membuat kamu makin stress. Orang kupret pasti selalu sebel sama orang kampret. Orang kampret pun selalu bahagia ngeliat orang kupret. Orang kepret itu yang paling aman. Tipe yang cocok untuk jadi tempat pengaduan sekaligus pelampiasan..

 Dan untuk para calon pejuang skripsi, atau yang baru mau mulai nyekripsi, mulai sekarang coba kamu observasi diri kamu dan temen-temen kamu. Kenali lingkungan kamu. Karena posisi menentukan prestasi. Ada di tipe manakah kalian. Apakah kampret? Kupret? Atau kepret?

……….

Tiga bulan pertama gue nyekripsi, gue selalu ganti ganti judul mulu. Tiap sebelum bimbingan gue udah siap banget ama judul yang gue akan gue ajukan. Tapi setelah abis bimbingan, entah kenapa gue langsung nyesel kenapa gue ngambil judul itu. Ternyata judul yang gue siapkan itu susah, kurang spesifik atau gak nyambung. Tiap abis bimbingan pun gue jadi suka teriak teriak, “JUDUL APA INI TUHAAANNNN????” *sambil nyekek nyekek orang lewat*

Dari pertama kali gue ajuin judul, baru 5 bulan kemudian, gue bisa fix dengan judul skripsi sendiri. Itupun setelah gue mendaki gunung, lewati lembah, semedi di kuburan, nyari wangsit di bawah laut. (ngarang abis). Setelah nyari nyari judul yang udah kayak nyari jodoh. Mikir bibit bebet dan bobotnya. Akhirnya gue nyerah. Gue ambil judul yang biasa aja. Yang sama kayak temen gue sedosbing. Yang sama kayak senior-senior gue dulu yang satu dosbing juga. Gue pun dapet pelajaran bahwa Kalo dalam nyekripsi, terlalu idealis itu kurang bagus..

Sebenernya waktu itu gue pernah dikasih judul sama dosbing gue. Malah sampe dikasih dosbing dua saat itu juga pas. Terus juga sampe diwacanain buat disupervisi sama dosbing gue. Cuma waktu itu gue gak jadi ngambil judul itu. Bukan karena sombong atau sok-sokan ya, tapi gue emang gak ngerti sama sekali sama judul yang di kasih dosbing gue. Gue gak paham realisasinya gimana, konkretnya ntar ngapain aja, dan bentuknya bakal kayak apa. Makanya daripada gue ntar kesusahan sendiri, ya mending gak gue ambil. Skripsi itu sama kayak hidup. Sama-sama udah sulit. Makanya jangan dipersulit lagi..

……..

Dalam nyekripsi, kita akan selalu berkaitan dengan yang namanya dosen pembimbing. Dari awal sampe akhir. Entah kenapa posisi dosbing itu udah kayak di bawah Tuhan aja deh saking penting dan berkuasanya. Kalo diibaratkan dalam sebuah prosentase, dosbing memegang 95% dan 5% nya adalah mahasiswanya. Bisa jadi dalam suatu interaksi dosbing dan mahasiswanya terjalin sebuah simbiosis. Ada simbiosis mutualisme (saling menguntungkan satu sama lain), bisa jadi juga terjalin simbiosis komensalisme (satu diuntungkan, yang satu tidak dirugikan sama sekali). Dan sangat bisa terjadi juga, terjalin simbiosis parasitisme! Yang satu meraih untung, dan yang satu meraih buntung !

Makanya hati-hati kalo berhubungan sama dosbing. Salah dikit aja, bisa selesai dunia mahasiswa kita. Untungnya, gue dapet dosbing yang terbilang demokratis dan romantis. Gue sering ngerasa beruntung, karena dapet dosbing kayak dosbing gue ini. Ajegile baik banget deh dosbing ini. Dosbing gue ini bakal jadi panutan gue kalo suatu saat nanti gue jadi dosen. Pak har, dosbing gue, udah kayak rising star. Pak har udah jadi idola gue sekarang ! Pak, bagi seratus ribu dong ! (nah loh)

Tapi, kalo gue perhatiin, tiap dosbing tuh punya kesamaannya masing-masing. Sama-sama sulit dimengerti. Atau mungkin lebih tepatnya, agak susah dibaca pikirannya. Kalo nyinggung soal sesuatu yang sulit dimengerti, gue jadi inget ama makhluk bernama cewek deh. Yap bener. Cewek juga susah di mengerti. Apalagi pas PMS (pre-menstruasi). Uuh nyebelin banget deh. Gue pernah punya pengalaman ama temen gue, sebut aja dia anggrek. Jadi dia temen sebangku gue. Entah kenapa gue mikir kalo si anggrek ini kayaknya seorang manusia serigala deh. Soalnya dia liar banget pada periode-periode tertentu. Bukan. Bukan pas bulan purnama. Tapi tiap dia mau menstruasi. Padahal gue Cuma salah dikit doang, semisal gak sengaja nyoret baju dia. eh dia langsung nyakar-nyakarin gue. Kadang ngebejek buku gue. Kadang nyoret-nyoretin balik. Asli liar abis. Besoknya, dia minta maaf dengan gampangnya tanpa ngerasa salah sama sekali..

“maaf yaa yip, kemarin gue nyakar tangan lo.. maklum lagi PMS.. lo gak pernah ngerasain sih rasanya PMS !!!”

“maaf yaa yip, kemarin gue ngebejek-bejekin buku lo.. biasa lagi PMS”

“Maaf yaa yip, kemarin gue nyoret-nyoretin buku lo.. lagi PMS sih”

Begitu kata dia. seolah hal hal brutal yang dia lakuin ke gue itu suatu tindakan yang wajar wajar aja. Gue jadi kepikiran gimana kalo gue dicekek-cekek, ditusuk-tusuk sama  ama dia..

“maaf yaa yip, kemarin gue nyekek lo ampe mau mati.. maklum lagi pms”

“maaf yaa yip kemarin gue nusuk-nusuk lo pake piso.. maklum gue lagi pms”

Njir…

“gue tabok lo” kata gue dalem hati.

Gue jadi berimajinasi lagi, gimana kisahnya kalo terjadi pada pasangan cowok cewek. Pasti bakal begini kalo kejadiannya si cewek nyesel karena abis mutusin cowoknya dan pengen minta balikan..

“sayang, maaf yaah kemarin aku putusin kamu.. abis kamu nyebelin sih.. terus aku juga lagi PMS..”

“iya sayang aku ngerti kamu kok.. kita balikan lagi yaa” kata si cowok

Kalo kayak gini sih keliatan kalo cowoknya seorang penyabar. Tapi bulan depannya pas si cewek lagi PMS lagi, terjadi kejadian gini

“sayang maafin aku yaa.. kemarin aku nabrak nenek kamu di lampu merah sampe mati.. abis aku lagi PMS sih”

*hening*

*ceweknya langsung ditusuk-tusuk*

………..

Ada yang bilang kalo jatuh cinta adalah patah hati yang tertunda. Ada yang bilang juga kalo masa-masa paling indah dalam suatu percintaan adalah saat PDKT. Gue setuju sama dua pendapat diatas. PDKT itu emang paling enak. Benih benih cinta lagi subur-suburnya, rasa rasa penasaran selalu bergentayangan udah kayak arwah penasaran.. bang satenya bang.. (kok jadi susanna) , terus juga semua hal jadi selalu terlihat indah dimata, bagaikan foto pake kamera 360, bening banget. Terus getaran getaran hati selalu tersimpul indah begitu bersentuhan satu sama lain..

Gue jadi inget waktu gue PDKT ama cewek. Sebut aja lily. Kita sering bercanda kalo lagi jalan. Suka kengen-kangenan kalo lagi jauh. Suka ngata-ngatain kalo lagi bersama. Gue suka ngelawak di depan dia. dia suka ketawa ngakak denger banyolan gue. Kadang dia sampe nyentil gue saking gemesnya. Gue sentil balik.. terus dia bales mukul gue pelen.. gue bales mukul dia pelen.. dia bales mukul gue lagi.. gue pukul sekali lagi.. eh dia mukulin gue lagi.. akhirnya gue pukulin kepalanya terus gue jedot-jedotin ke tembok.. ternyata dia gak bales lagi.. begitu gue liat, eh kepalanya udah bocor..

Njir -_- kok jadi berantem sih…

Oke kembali ke topik.. menurut gue PDKT itu hampir sama kayak kehidupan mahasiswa. Ada PDKT yang bentar ada juga yang lama. Ada mahasiswa yang lulusnya cepet, ada juga mahasiswa yang lulusnya lama. Dalam PDKT rasa yang kita alamin pasti nano-nano. Seneng, sedih, lucu, unik, kecewa, diPHPin, diduain, bahagia, dll. Dalam bermahasiswa pun kita bakal ngalamin kejadian macem macem, dapet temen deket baru, jalan bareng ke tempat baru, dapet nilai C atau D, mendadak ada kuis di kelas, disukain junior, dikerjain senior, kena jebakan MLM dll. Nano nano juga rasanya.

Gak bakal ada yang namanya PDKT selamanya. PDKT pasti ada batasnya. Entah itu cepet atau lambat. Batas dari suatu PDKT pun hanya ada dua. Apakah berlanjut ke dalam sebuah hubungan, atau stop sampai disitu aja. Begitupula dengan mahasiswa. Gak bakal kita jadi mahasiswa selamanya. Kita pasti akan lulus. Kalopun enggak yaa paling kita drop out (DO). Ada batasnya kan?

“Kehidupan” setelah PDKT atau “kehidupan” setelah mahasiswa pun sama. Ya bener sama. Sama-sama memulai kembali dari nol lagi. Orang yang jadian begitu selesai PDKT, pasti akan memulai lembaran baru dalam hidupnya. Lembaran baru bersama kekasihnya. Pun dengan orang yang gagal dalam PDKT. Dia juga memulai lembaran baru. Lembaran baru dalam mencari peraduan kasih sayang lainnya. Begitu juga dengan mahasiswa. Setelah lulus, mahasiswa pun akan dihadapkan dengan lembaran barunya. Lembaran bernama masa depan.

Mahasiswa tingkat akhir kalo diibaratkan dalam suatu PDKT, bisa dibilang kayak fase fasenya akhir PDKT. Fase yang mendekati fase pengungkapan rasa. Fase dimana keberanian kita bener-bener diuji, fase dimana mental kita bener-bener dites, fase dimana sebuah rasa sedang berkecamuk hebat di dalam hati sana.. Tentu saja hanya kesiapan dan kematangan yang mampu meredam amukan gejolak itu.. Seperti halnya mahasiswa tingkat akhir yang sedang nyekripsi.. inilah saat dimana seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan semua yang ia lakukan semasa kuliah. Inilah saat dimana ketangguhan, intelektualitas, kecerdasan, kesabaran dan keberuntungan mahasiswa diuji.. tentu saja, sama halnya dengan PDKT, nyekripsi butuh kesiapan dan kematangan untuk mengatasinya.. seperti..

Kaki yang akan berjalan ke ruang dosen lebih sering dari biasanya..
Mata yang akan menatap ke layar pc lebih dari biasanya..
Tangan yang akan lebih sering ngetik lebih dari biasanya..
Leher yang sering nunduk ke arah buku atau referensi..
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari pertanyaan “kapan sidang?”
Serta mulut yang akan senantiasa nanya tentang revisian..
Ingat ! 5cm sebelum wisuda !

……..

Skripsi adalah saat dimana yang lo butuhin itu dukungan bukan tekanan..
Skripsi adalah saat diamana bilang “semangat ya skripsinya” lebih baik daripada bilang “udah sampe mana skripsinya?”
Skripsi adalah saat dimana bilang “aku usahain dateng ke sempro/semhas/sidang kamu” lebih baik daripada bilang ”kapan sempro/semhas/sidang?”
Skripsi adalah saat dimana kepercayaan lebih dibutuhkan daripada pertanyaan..
Skripsi bisa membuat seseorang yang tadinya seperti kucing menggemaskan menjadi singa yang mematikan..

(BC dari BBM)

………

Pada akhirnya skripsi hanya akan membawa kita kepada kelulusan. Tidak menjamin apa yang terjadi setelah kita lulus. Skripsi hanyalah sebuah tiket menuju gerbang kehidupan selanjutnya. Kamu baru boleh memasuki gerbang tersebut, begitu membeli atau memiliki tiket itu. Sedangkan tiket tersebut baru bisa di dapat, dengan menyelesaikan skripsi kita..

Ibarat sebuah buku, skripsi adalah halaman terakhir dari buku tersebut. Namun orang tidak akan menyimpulkan bagus atau tidaknya sebuah buku hanya dengan beberapa halaman saja. Termasuk hanya halaman terkahir.  Akan tetapi, halaman terakhir adalah klimaks dalam sebuah buku. Ending dalam cerita buku itu. Tentu saja, pembaca selalu senang kan jika ending dalam cerita buku tersebut berakhir dengan bahagia? Sama sepertiku yang selalu berharap bisa bahagia sama kamu.. iya kamu.. I love you ! *modus everywhere* *jones* *bakar aja kalo eneq*

Akan tetapi, keseluruhan isi buku itulah yang akan membawa buku tersebut sampai di hati para pembacanya. Keseluruhan isi buku lah yang akan membuat buku itu menjadi best seller atau tidak. Keseluruhan isi buku itulah yang akan membuat buku itu akan dicetak ulang beberapa kali..

Keseluruhan isi buku itulah yang akan membuat buku tersebut sukses di pasaran..

Begitu halnya dengan mahasiswa..

Bagaimana jadinya nanti ia setelah lulus, apa yang kamu lakukan selama kehidupan mahasiswamu lah yang akan menjawabnya.

……….

Gue udah sempet nyinggung diatas bahwa gak bakal ada yang namanya mahasiswa selamanya. Itu juga berarti gak bakal ada seorang pejuang skriptis selamanya. Beberapa hari yang lalu gue udah di yudisium, dan itu bisa dibilang, secara hukum gue udah bukan mahasiswa lagi. Udah bukan Pejuang Skriptis lagi. Makanya menurut gue inilah saat yang tepat untuk mengakhiri serial catetan Pejuang Skriptis. Gue gak ada pikiran untuk ngelanjutin cerita ini kayak sinetron cinta fitri yang sampe season 9. Gak bakal ada deh lagi nanti, Pejuang Skriptis Season 2.. season 3.. season 4 atau season in the sun sekalian.. ya karena emang menurut gue cerita ini udah selesai. Cukup sampe disini aja. Gue udah gak punya alesan buat ngelanjutin hubungan ini. Kita ini beda.. terlalu beda.. Selain itu, kamu juga terlalu baik buat aku.. makanya, kita putus aja yaa…

Njir.. kok malah jadi adegan putus sih !

Gue seneng ada beberapa adek kelas yang berencana pengen bikin cerita Pejuang Skriptis versi mereka sendiri. You rock guys ! gue tunggu cerita lo meenn.  Cerita satu selesai, cerita lain bermunculan.. GGS belum selesai, Manusia Harimau pun bermunculan.. GGS dan Manusia Harimau belum selesai, Bastian Steel Bukan Cowok Biasa pun bermunculan.. GGS, Manusia Harimau dan Bastian Steel belum selesai.. Cakep Cakep Sakti pun gak ketinggalan bermunculan juga.. Kayaknya bentar lagi akan bermunculan lagi hewan hewan lainnya, seperti Tampan-Tampan kampret, Manusia badak dan Gitartian Steel Bukan Homo Biasa.. Tunggu kedatangannya di layar televisi anda.. Pokoknya hilang satu tumbuh seribu.. pacar minta putus, yang penting gebetan ada seribu.. OOOUUUUU YYEEAAHHHH…

HIHIHIHIHIHIHI *ketawa setan*

…………

The End


#Onedayonepost #ODOPbatch5
Share:

Disable Adblock