Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Monday, 24 June 2019

Pergantian Alamat URL Infok3rs.me

infok3rs.me


Sebulan yang lalu saya membeli sebuah blog di suatu forum jual beli. Kebetulan penjual blog ini satu profesi dengan saya yaitu seorang K3RS. Nah blog yang saya beli adalah blognya yang beralamat infok3rs.me. Blog ini berisi tentang informasi seputar K3RS, akreditas RS dan MFK. Kebetulan sebelumnya saya pernah membuat tulisan di blog pribadi saya tentang K3RS ini. Hasilnya luar biasa menakjubkan. Ada banyak orang yang mengunjungi tulisan saya itu dan bertanya tentang K3RS via email ke saya. Nah waktu itu saya berniat untuk membuat tulisan tentang K3RS, namun hingga saat ini niat tersebut belum berhasil terealisasi.

Blog infok3rs.me sudah saya kenal sejak setahun yang lalu. Waktu itu saya lagi proses akreditasi dan cukup banyak referensi soal K3RS yang saya ambil dari blog infok3rs.me. Blog ini memang cukup membantu bagi para praktisi K3 yang ingin akreditasi. Dokumen-dokumen yang ada di blog ini cukup lengkap dan agak banyak. Sehingga akan memudahkan siapapun yang ingin akreditasi rumah sakit. Nah kebetulan saya bertemu dengan pemilik blog ini di forum jual beli secara tidak sengaja.

Waktu itu uang THR baru saja turun. Saya berencana untuk membeli akun youtube dan blog berniche kesehatan. Soalnya saya berencana untuk banyak berkarya di dua media tersebut sehabis lebaran. Akhirnya saya berselancar di forum-forum jual beli di internet. Nah di forum itulah saya bertemu penjual blog infok3rs.me ini. Berhubung saya sudah mengenal track record blog ini, maka tanpa pikir panjang saya langsung menawar blog infok3rs.me ini.

Dengan sedikit deal-dealan akhirnya kami menyepakati harga untuk blog ini. Hari itu juga saya tuntaskan untuk pembayaran dan pemindahan akun infok3rs.me ini.

Ketika saya membeli blog ini, domain infok3rs.me sudah mau expired dan bodohnya saya adalah saya tidak langsung menghapus domain tersebut. Rencananya, memang saya akan mengubah alamat url blog infok3rs.me ini menjadi infok3rs.id , namun rencana itu baru akan saya laksanakan di bulan Juli nanti. Nah kebetulan bulan Juni bertepatan dengan lebaran, makanya saya jarang buka-buka blog. Dan ternyata saat-saat lebaran domain .me nya infok3rs.me sudah expired. Begitu expired saya jadi tidak punya otoritas untuk menghapus nameserver/dns management di penyedia domain itu. Makanya sejak saat itu blog infok3rs.me di alamat www.infok3rs.me sudah tidak diakses lagi.

Bila menemukan blog infok3rs.me di penelusuran google, maka kamu tidak akan bisa mengaksesnya, karena memang alamatnya sudah expired. Harusnya sih alamatnya akan kembali ke alamat blog asalnya, Cuma saya masih tidak mengerti mengapa alamat di infok3rs.me tidak langsung kedirect ke alamat asalnya yang infok3rs.blogspot.com. Sepertinya ini disebabkan karena saya tidak menghapus domainnya sebelum expired itu.

Makanya melalui postingan ini saya ingin menginfokan bahwa blog infok3rs.me bukanlah terhapus/tidak bisa diakases lagi, tapi memang blog yang hasil penelusuran di google, alamat url nya sudah tidak valid lagi. Makanya bila kamu tertarik untuk berkunjung ke blog infok3rs.me, silakan berkunjung ke alamat asalnya, yaitu www.infok3rs.blogspot.com . Dan sesuai yang saya jelaskan diatas, per 1 Juli 2019, alamat blognya akan berubah kembali menjadi www.infok3rs.id . Jadi jangan sampai salah lagi ya.

Sekarang saya sedang memperbaiki halaman-halaman blog infok3rs.me yang ada di penelusuran google agar bisa diakses kembali. Memperbaikinya sepertinya akan cukup sulit, soalnya saya harus meng-SEO-kan lagi seluruh konten/postingan yang ada di blog infok3rs.me. Dan semua blogger pasti tahu, kalau meng-SEO kan tulisan/postingan itu susahnya bukan main. Tapi ya mau bagaimana lagi, mau tak mau harus mencobanya.

Read More

Thursday, 14 February 2019

Kamu, Jokowi ya?

#BeraniBerubah


Musim pemilu gini pasti deh banyak orang yang mengkampanyekan para capres yang diusungnya. Di kantor gue sendiri sampe ada yang berdebat hanya karena Jokowi dan Prabowo. Di tempat makan pula. Si pengusung Jokowi bilang, “ngapain pilih pilpres yang kagak punya bini. Ngurus keluarga aja kagak bisa gimana ngurus negara?” Buseeehhh, mendengar hal itu, tentu saja si pengusung Prabowo gak mau kalah. Dia bilang, “gak ada kaitannya soal itu dengan pilpres. Ngapain juga pilih presiden yang tukang bohong?” Mereka pun terus berdebat soal Jokowi dan Prabowo. Bahkan karyawan lain yang lagi makan saat itu juga sempat ada yang terpancing. Gue yang ada di tengah-tengah mereka cuma ketawa cekikikan aja melihat sekumpulan orang ini.

Hiruk pikuknya pemilu ternyata juga hinggap ke si bebeb. Waktu pulang dari mall kemarin, tiba-tiba si bebeb nanya ke gue, Kamu Jokowi ya?

Haa? Kata gue

“Iya kamu milih Jokowi kan pasti?” Jawab dia

“Hehe kenapa emang?” kata gue sambil ketawa ngeselin

“Ih bener kan pasti kamu Jokowi?” kata dia

“Rahasia dong. Inget LUBER dn Jurdil. Tapi, Siapapun pilihanku, pasti kamu bakal ngikutin deh nanti” Kata gue

“Hih ngeselin, pasti Jokowi ya? Kata dia dengan mimik penasaran

Gue ketawa aja.

….

Ngomongin soal Jokowi dan Prabowo memang gak ada habisnya. Maklum merekalah calon orang nomor satu di Indonesia. Mengkampanyekan atau membangga-banggakan mereka menurut gue lumrah-lumrah aja. Tapi selalu ingat etika nya. Jangan sampai hanya karena pilpres, pertemanan atau persaudaraan menjadi retak. Jangan sampai hanya karena senang dengan salah satu paslon, kamu jadi buta diri, buta hati dan buta beneran. Dan, jangan sampai hanya karena kamu pendukungnya, kamu jadi menjelek-jelekkan paslon lain atau pendukungnya. Ingat selalu etika dan adab ya.

Gue punya saran buat orang yang mendukung salah satu capres. Sebaiknya elu kalau mau mengkampanyekan capres elu, jangan lah ke pendukung capres lawan. Ya soalnya kagak bakal berubah pilihannya. Orang zaman sekarang tuh, ya kalau gak Jokowi ya Prabowo. Paling ya tengah-tengahnya adalah orang yang gak milih dua-duanya. Ini pun jumlahnya tinggal sedikit. Orang jenis ini tercipta bisa jadi karena emang dia cuek, bisa karena dia kagak ngerti apa itu pemilu dan bisa juga karena emang dia gak punya kebutuhan disana. Nah elu incer deh orang-orang ini. Pasti bakal menghasilkan deh. Soalnya kalau elu kampanyein ke orang yang udah punya pilihan ya pasti gak bakal ngefek. Wong dia udah jadi orang Jokowi dan orang Prabowo. Kecuali ya nanti di last minutes, pas pemilihan, elu nyoblos bareng dia, terus pas dia mau nyoblos, elu sela deh saat itu, dan langsung elu coblosin kertas suaranya dengan capres pilihan lo, dijamin deh dia bakal berubah haluan.

Hahaha

Entah kenapa sejak pilpres 2014 lalu, gue melihat kalau warga negara Indonesia ini udah terbelah menjadi dua bagian. Bagian Jokowi dan bagian Prabowo. Orang yang memuji Jokowi disebutnya pendukung Jokowi. Orang yang mengkritik Jokowi, disebutnya pendukung Prabowo. Lah, kalau gue memuji Jokowi dan mengkritik Jokowi dalam satu waktu berarti gue pendukung Jokowi dan Prabowo sekaligus dong ya? Hahaha. Tapi memang kondisinya kayak gini. Mau gak mau ya harus menerima. Buat kamu yang lagi baca tulisan ini pun pasti udah punya pilihan sendiri kan? Hayooo ngaku hayoooo.

Menurut gue, ada perbedaan yang terlihat cukup jelas antara pemilu sekarang dengan pemilu 2014 lalu. Di pemilu 2014 ada banyak black campaign yang dilakukan, nah di 2019 ini entah kenapa kok kayak lebih menekankan kepada ketakutan (fear campaign) ya? Ada yang sependapat sama gue? Tiap gue baca koran, entah kenapa banyak berita-berita yang menyebarkan ketakutan terkait capres-capres. Ada yang bilang bila si Anu terilih maka Indonesia bakal jadi kayak Suriah. Ada yang bilang lagi kalau si Anu terpilih maka Indonesia bakal jadi negara komunis. Ada juga berita-berita tentang anggaran negara bocor, diskriminalisasi ulama, utang negara, hingga negara bangkrut. Buseehhhh ini kok seram-seram amat ya ?

Ini kita lagi milih pemimpin atau lagi kontes serem-sereman sih?

Ya kalaupun hal-hal diatas emang bener, seenggaknya ya pakai cara elit dan positif gitu loh. Jangan kesannya hanya menakut-nakuti aja. Soalnya gak elegan banget buat sekelas pemilihan presiden. Kalau elu nakut-nakutin orang dengan maksud agar dia nurut, ya itu bocah banget. Inget gak waktu kecil? Kalo elu bandel, pasti emak bapak lu bakal nakuti-nakutin dengan frase seperti ini, “jangan nakal, kalau nakal nanti dibawa orang gila”  atau kayak gini, “Jangan keluar maghrib-maghrib, nanti bakal diculing kalong wewe” Pernah dibeginikan kan? Nah Maksud emak bapak lu nakutin gitu kan biar elu nurut, sekaligus sedikit membodoh-bodohi elu yang waktu kecil belum ngerti apa-apa.

Lah orang kampanye zaman sekarang bilang negara bakal bangkrut beberapa tahun lagi, atau Indonesia bakal dikuasai khilafah, lah itu kan kesannya nakut-nakutin dan membodoh-bodohi aja. Persis kayak kasus anak kecil diatas. Kenapa sih kampanye gak yang positif-positif aja? Seperti mensosialisasikan program-program yang akan diusung, mengenalkan prestasi-prestasi si capres atau menginformasikan kinerja-kinerja partai-partai pengusungnya. Masa kayak gitu doang kagak bisa? Kalau elu gak bisa menyebutkan 3 hal diatas, ya berarti memang capres elu belum menjual untuk diusung menjadi presiden.

Jujur. Gue sendiri belum menentukan pilihan. Sejak pilpres 2014 lalu entah kenapa gue sudah menjauhi dunia politik.  Black campaign di pilpres 2014 lalu memang sedikit bikin gue jenuh dan jengah sekaligus. Makanya sejak itu gue gak begitu konsen ke perpolitikan Indonesia. Cek aja blog gue, pasti gak ada deh tulisan tentang politik. Bagi kalian yang baca tulisan ini pun mungkin ada yang gak percaya perihal gue yang belum menentukan pilihan, apalagi setelah membaca tulisan ini. Tapi terserah kalian sih.

Mulai sekarang hingga hari pemilihan nanti gue bakal banyak nulis tentang pemilu di blog gue ini. Gue pengen pada pemilu kali ini, gue bisa berpartisipasi lebih dari sekedar menyoblos di TPS nanti. Ya gue bakal memberikan kalian berbagai informasi seputar pemilu. Seputar pemilu loh ya. Bukan seputar capres. Jadi bakal ada banyak hal yang akan gue kupas nantinya. Selain itu, tulisan-tulisan gue tentang pemilu ini harapannya bisa memberikan kamu sedikit pandangan terhadap caleg, partai atau capres yang bisa kamu pilih nantinya. Memberikan pandangan loh ya, bukan menentukan pandangan. Tentu kita semua pengen orang-orang terbaik lah yang bakal memimpin bangsa ini, maka mari bersaing dengan epic, woles dan beretika.

#BeraniBerubah


Read More

Tuesday, 5 February 2019

Tidak Ada Karyawan yang Lebih Besar dari Perusahaan



Seminggu belakangan ini ramai berita tentang mantan bos yang resign dari pekerjaannya. Ada banyak kabar beredar berkaitan dengan alasan ia resign, mulai dari masalah keluarga, terlibat kasus, atau sudah diterima di perusahaan lain. Gue sih gak terlalu peduli dengan alasan dia resign, hak-hak dia, hidup-hidup dia, tapi gue tertarik untuk membahas tentang akhirnya resignnya dia.

Mantan bos gue yang satu ini emang unik. Dia masih muda, sudah mengabdi cukup lama, dan memegang jabatan penting di perusahaan. Meskipun dia hanya memegang satu area di bagian operasional, tapi pekerjaannya juga mengurusi marketing, HRD, rekrutmen, legal, gaji, dan menjadi pemimpin “bayangan” di cabang lain. Ya bisa dibilang dialah otak perusahaan ini. Waktu kerja disana, gue sempat kepikiran kenapa perusahaan memberikan porsi yang lumayan banyak ke dalam satu orang itu. Padahal bila kita menganut pada prinsip manajemen organisasi, hal itu kurang lah bijak, karena bisa menyebabkan bom waktu yang dapat membumihanguskan perusahaan.

Muda, berpengaruh dan memegang banyak jabatan strategis membuat bos gue satu ini kadang suka berlebihan dalam bertindak. Porsi kerja yang diembannya memang cukup besar, namun kuasa-kuasa yang diberikan itu membuatnya suka bertindak diluar batas.  Ia tidak segan-segan menghakimi karyawan yang bersalah, mengucilkannya, dan membuang nya jauh-jauh. Padahal kalau dilihat dari uraian tugas, fungsi dan tanggung jawab di perusahaan, melakukan hal itu bukanlah wewenangnya, melainkan wewenang HRD. Tapi perusahaan diam-diam saja melihatnya. Diamnya perusahaan terhadap hal-hal inilah yang semakin membuatnya bertindak sesuka hati dengan kuasa besar di tangannya. Dia pun jadi merasa lebih besar dari perusahaan.


Adanya karyawan yang merasa lebih besar dari perusahaan bisa membuat suasana menjadi tidak kondusif. Contohnya ya kejadian yang pernah terjadi di perusahaan diatas. Si bos pernah mempersulit karyawannya resign hingga harus bayar berjuta-juta dulu. Jadi ceritanya gini, si karyawan izin untuk tidak masuk selama beberapa hari karena ia mau mengikuti pelatihan. Kebetulan karyawan ini baru saja dianugerahi karyawan terbaik tahunan sebulan sebelumnya. Tentu si bos mengizinkannya. Saat ia izin tersebut ternyata ada masalah pada klien yang mengakibatkan terpotongnya biaya pembayaran, sehingga perusahaan sedikit rugi. Mungkin si bos murka kali ya, ia pun menghukum si karyawan dengan memintanya mengundurkan diri sekaligus membayar kerugian perusahaan tersebut. Versi lain menyebutkan bahwa bonus tahunan yang didapat karyawan itu sebelumnya diminta dikembalikan juga dan ada kabar lain yang mengatakan bahwa si karyawan ternyata dipecat, bukan diminta mengundurkan diri. Untuk dua hal ini saya sendiri kurang begitu tau dengan kebenarannya.


Namun, bila dua hal diatas memanglah benar, maka hal itu sungguh sangat disayangkan. Saya sendiri kurang paham, apakah memang ada peraturan dalam perusahaan yang wajib mengganti rugi, dan mengembalikan bonus tahunan dalam kasus-kasus tertentu. Tapi bila kita melihatnya dari etika berorganisasi, maka sah-sah saja dalam beberapa artian. Kalau ganti rugi mungkin masih wajar karena terkait dengan kesalahan yang dilakukan, tapi untuk pengembalian bonus tahunan saya kira itu sudah melanggar hak pekerja. Bonus tahunan adalah bonus yang didapat dari kinerja tahun sebelumnya. Bukan di kinerja tahun berjalan. Makanya saat si bos ini menyuruh karyawan untuk mengembalikan bonus tahunannya, itu berarti sudah ada pelanggaran besar yang dilakukan oleh perusahaan ke tenaga kerja. Tapi ya, karena si bos adalah pejabat penting dan orang yang dipercaya, perusahaan pun diam saja melihat kasus ini dan terkesan setuju dengan tindakan yang dilakukan si bos. Tindak tanduk si bos dalam kasus ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ialah pemegang kuasa tertinggi diperusahaan ini, jadi buat karyawan lain janganlah sekali-kali membuat ia murka kalau tidak ingin bernasib sama seperti diatas.


Karyawan yang merasa dirinya lebih besar dari perusahaan sangatlah membahayakan. Baik untuk rekan kerja, lingkungan kerja dan produktivitas kerja. Karyawan model begini biasanya cenderung sombong dan sewenag-wenang. Apalagi bila ia berada di posisi penting. Maka penyelewengan jabatan bisa marak terjadi. Pernah juga saya melihat kasus yang terjadi pada teman saya. Ia ketahuan melamar pekerjaan di kompetitornya perusahaan. Kebetulan ia ketahuan langsung oleh bosnya. Besoknya ia langsung dikeluarkan saat itu juga. Padahal karyawan ini adalah karyawan terbaik, yang memiliki potensi bagus dan prospek di masa depan lho. Lucunya lagi, yang mengeluarkan si karyawan ini bukanlah HRD, tapi si bos nya yang mengeluarkannya secara ujug-ujug, tanpa melalu pertimbangan HRD ataupun manajemen perusahaan. Sebenernya Kasus diatas bukanlah kasus yang besar kok, bukan juga kasus merugikan. Bisa dibilang kasus diatas hanyalah kasus remeh temeh. Cuma orang yang melamar kerjaan doang kok. Ya wajar aja dong. Masa gitu doang langsung ngeluarin karyawan? Mana karyawan tetap pula. Kan semena-mena banget tuh. Dimana etika berorganisasinya? Dimana profesionalitasnya? Dimana kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaannya?

Oiya btw, si bos ini sama kok orangnya dengan bos diatas. haha

Dengan segala hal yang ia lakukan diatas, gue selalu penasaran dengan motivasi bekerjanya. Sebenernya apa sih yang dia incar disini? Gaji? Kayaknya gajinya gak besar-besar amat. Passion? Hemm sepertinya bukan sih, karena bidang pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang membutuhkan passion. Jabatan direktur? Gue sempat kepikiran hal ini. Posisi nya saat ini memang cukup berpeluang untuk menjadi direktur di kemudian hari, tapi perusahaan gue ini adalah perusahaan keluarga, jadi kayaknya bakal susah deh untuk mengangkat orang lain untuk berada di pucuk perusahaan. Motivasi ia bekerja hingga sedemikian rupanya masih membuat gue penasaran hingga hari ini.

Sewaktu bekerja bareng dia, dengan semua kondisi yang ada saat itu, gue bertanya-tanya dalam hati, akan sampai kapan ini orang akan kuat disini. Bekerja dengan system seadanya, dengan gaya memimpin yang seadanya dan tidak adanya evaluasi yang berkala terhadapnya, tentu hanya akan menggali lubang kuburan sendiri. Dengan semua kesewenang-wenangan yang ia lakukan, sepertinya ia lupa bahwa tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Ia mungkin lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar, kadang dibawah dan kadang diatas. Mungkin saat itu ia ada di atas, tapi jangan lupakan kalau suatu saat ia bisa saja ada di bawah. Bila kondisi memaksanya untuk berada di bawah apakah ia siap untuk itu? Makanya saat melihat semua tindak tanduknya, gue selalu memikirkan hari dimana ia resign.


Gue yakin kalau dia gak akan lama untuk tetap stay ditempat tersebut. Soalnya ya dengan cara kerjanya saat ini, dia Cuma lagi menggali kuburannya sendiri kok. Tinggal tunggu waktu aja. Sampai kapan sih orang akan kuat dan bertahan dengan segala carut marut diatas? Pasti gak akan lama. Bagaimana dia akan resign pun turut menjadi perhatian gue, apakah ia akan menyerah begitu saja, atau ia bakal resign karena kena kasus? atau akankah ia tergiur dengan bekerja di perusahaan lain.


Akhirnya sekarang dia udah resign. Cuma beda setahun setengah dari terakhir gue resign dari perusahaan tersebut. Terlepas dari alasan dia resign, tapi hati kecil gue entah kenapa ikut senang. Ya soalnya dengan dia resign berarti menandakan kalau waktu karyawan-karyawan yang resign sebelumnya, adalah bukan karena ketidakmampuannya untuk kerja disana, tapi memang si bos yang tidak bisa mengakomodir orang-orang dengan baik dan benar. Selain itu, memang ada yang gak beres sih disana. Makanya dia juga resign kan.

Beberapa waktu lalu salah satu manager disana menghubungi gue untuk balik bekerja disana lagi. Gak Cuma gue, tapi ternyata orang-orang dulu yang pernah jadi pesakitan si bos diajak balik lagi. Di pesan tersebut tertulis kalau si bos udah resign. Lucu ya. Dengan bunyi pesan tersebut, perusahaan seolah berkata bahwa salah satu benefit besar yang ditawarkannya kali ini, adalah kondisi perusahaan yang sudah tidak ada lagi si bos didalamnya. Wah ngece tenan ki. Tapi kalau boleh jujur, hal itu emang bener-bener benefit yang besar sih. Haha. Sepertinya perusahaan sudah tau ya dimana akar masalah perusahaan selama ini.


Pada akhirnya tidak ada karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Meskipun ia punya jabatan strategis, meskipun ia potensial dan meskipun ia adalah otak dari perusahaan sendiri. Karena perusahaan adalah sebuah organisasi yang didalamnya terdapat kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan visi yang sama. Kumpulan orang-orang inilah yang bila bersatu dan saling padu maka akan membuat perusahaan akan semakin maju lagi. Samapai kapanpun, gak akan pernah ada deh karyawan yang lebih besar dari perusahaan. Karena perusahaan tidak akan pernah mati hanya karena ditinggal oleh satu orang saja. Perusahaan hanya tinggal mencari penggantinya saja kok, yang kalau dicari, ternyata jumlahnya berlimpah di luar sana, yang bahkan kemampuannya bisa setingkat atau lebih keren dibandingkan pendahulunya. 

Read More

Thursday, 24 January 2019

5 Alasan Kenapa Harus Bangga Menjadi Narablog, Nomor Satu Sampai Lima Sungguh Bikin Baper


Kompetisi Blog Nodi


Menjadi narablog di zaman digital maupun zaman dulu bagi saya sama saja. Sama-sama membanggakan. Bedanya, dizaman dulu mungkin pembaca belum sebanyak sekarang. Selain itu aktivitas ngeblog zaman dulu pun berbeda dengan zaman sekarang. Bila zaman dulu ngeblog mesti harus diwarnet (bagi yang tidak punya komputer/internet), zaman sekarang ngeblog bisa langsung dilakukan di dalam genggaman tangan. Tapi baik zaman dulu maupun zaman sekarang, esensi dari ngeblog itu sendiri tidaklah berubah. Makanya seorang narablog mestinya bangga dengan aktivitas ngeblognya. Orang bijak pernah berkata bahwa, menulis adalah menaklukkan diri sendiri. Ya, berkaca dari quotes ini, maka seorang narablog bisa dikatakan sebagai seorang pejuang tangguh yang menginspirasi. Karena ia sudah berkali-kali menaklukkan gunung tinggi yang sangat sulit untuk ditaklukkan manusia, yaitu gunung bernama keegoisan.

Ada banyak hal mengapa menjadi narablog sangat membanggakan. Kali ini saya akan menuliskannya lima saja. Karena lima hal inilah yang betul-betul membuat saya bangga menjadi seorang narablog. Lima hal itu antara lain :


1. Sharing Pengalaman
Bagi saya, blog adalah media untuk berbagi pengalaman yang pernah dialami maupun pengalaman yang dibutuhkan orang lain. Sharing adalah value yang paling diprioritaskan oleh blog. Bisa dibilang, esensi ngeblog adalah apa yang kita sharingkan kepada orang lain. Saya mulai mendapatkan esensi ngeblog ini di tahun 2018 kemarin. Hampir delapan (8) tahun lamanya, blog saya kebanyakan berisi tentang curhatan pribadi, kegalauan pribadi dan cerita harian yang mungkin bagi sebagian besar orang hanya berguna untuk bacaan ringan saja. Sampai pada suatu hari saya mengupload sebuah tulisan tentang pengalaman bekerja di suatu perusahaan. Alasan utama saya membuat tulisan tersebut adalah karena kekesalan akibat tidak adanya referensi yang bisa dipercaya mengenai job di perusahaan itu. Saya sendiri merupakan korban dari blog/website yang tidak bertangung jawab karena informasi-informasi yang dituliskan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Bodohnya lagi, saya langsung percaya saja dengan tulisan-tulisan itu. Nah beranjak dari hal itu akhirnya saya membuat satu tulisan yang benar-benar sesuai dengan fakta di lapangan dan bisa dipercaya kebanarannya. Sebagai pelengkap informasi, saya tuliskan juga alamat ID line dan instagram saya, sebagai fasilitas untuk orang-orang yang masih ingin bertanya namun malu untuk menanyakannya di kolom komentar. Sehingga mereka bisa segera langsung menghubungi saya. Dan siapa sangka, hingga hari ini, artikel tersebut benar-benar sangat bermanfaat buat orang-orang, karena membuatnya menjadi postingan berkualitas, yang viewernya sangat banyak, masuk di page one google, dan banyak orang yang menghubungi saya untuk meminta pendapat, saran dan masukan.

Nah, sejak kejadian itu, akhirnya mulai tahun 2018 saya mulai banyak menuliskan tulisan tentang sharing-sharing pengalaman maupun review-review suatu produk atau jasa. Tentunya berdasarkan pengalaman langsung dari saya. Saya pun menuliskannya dengan berimbang. Berimbang dalam artian apa adanya. Tidak melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi. Sehingga baik narablog maupun pembacanya bisa sama-sama belajar.

2. Menambah penghasilan

Ada banyak hal di dunia blog yang bisa menjadi pundi-pundi uang buat kamu. Setiap bulan selalu ada lomba blog yang bisa kamu ikuti. Hadiahnya pun bermacam-macam. Bisa uang, produk, jasa ataupun pulsa. Selain itu, ada juga challenge-challenge seperti one day one post yang dicanangkan oleh beberapa narablog. Challenge-challenge seperti ini terkadang juga bisa mendapatkan hadiah. Selain penghasilan dari lomba-lomba, seorang narablog juga bisa memanfaatkan jasa-jasa pengiklan atau menjadi influencer. Salah satu jasa placement iklan yang paling prestisius di dunia blog adalah layanan google adsense. Kenapa saya sebut prestisius, ialah karena mendapatkan adsense sangatlah sulit. Ada banyak tahap-tahap sulit yang mesti dilewati. Tapi bila kamu serius untuk mendapatkannya, dan mau untuk terus belajar, maka lolos adsense bukanlah hal yang mustahil. Blog saya sendiri berhasil mendapatkan adsense di tahun 2018 lalu. Mau tahu berapa lama waktu saya untuk mendapatkannya? Ya, akhirnya saya mendapatkannya setelah berjuang hampir tujuh (7) tahun lamanya. Betul. 7 tahun kawan. Tapi, jangan khawatir dan langsung menyerah ya, karena ada banyak narablog diluar sana yang mampu mendapatkan adsense dalam kurun waktu yang sebentar saja. Itulah buah dari ketekunan yang dilakukan. Penghasilan dari adsense sendiri didapat dari jumlah klik pada iklan yang ditampilkan. Jadi bila blog kamu viewernya sudah banyak, atau kamu sudah konsisten dalam menulis di blog, maka silakan daftarkan adsense. Karena ada potensi besar buat kamu untuk mendapatkan penghasilan tambahan disana.

Salah satu hasil hobby ngeblog, yaitu artikel dimuat di koran

Selain adsense, seorang narablog bisa juga menjadi seorang influencer. Sesuai namanya, narablog tipe ini merupakan narablog yang khusus mengorbitkan konten atau tulisan orang lain (content placement). Memang ada syarat-syarat tertentu yang wajib dipenuhi dahulu sebelum narablog bisa menerima content placement ini, tapi hal itu gak susah kok. Bisa dipelajari.

3. Punya banyak teman

Menjadi narablog bisa menambah jejaring pertemananmu. Jaringan pertemanan ini bisa terbentuk secara langsung maupun tidak langsung. Seringkali jalinan terbentuk sendiri atas ketertarikan yang sama antara narablog dengan pembaca, antara narablog dengan narablog dan antara pembaca dengan pembaca. Contohnya pada blog yang berniche. Blog-blog yang sudah berniche, biasanya sudah punya sasaran pembacanya masing-masing. Misalnya blog parenting. Blog berniche parenting pasti disukai oleh kalangan ibu-ibu. Apalagi bila ibu-ibu itu mempunyai permasalahan parenting di kehidupannya dan membutuhkan pencerahan atau solusi untuk mengatasinya. Nah, begitu ia menemukan tulisan bertema parenting yang bisa menjawab permasalahannya atau sedikit mencerahkannya, maka ia bisa konsultasi disana. Dari kondisi inilah maka dapat tercipta jalinan persaudaraan yang baru.

4. Ladang Ibadah

Blog bisa menjadi ladang ibadah kamu juga lho. Tentu saja bila blog kamu berisi dengan tulisan-tulisan informatif, terpercaya dan faktual. Meskipun hanya berupa informasi, seringkali tulisan dengan tipe seperti ini sangat membantu orang-orang yang membutuhkan referensi akan informasi itu. Contohnya, ada seorang ibu yang suka menuliskan pengalamannya ketika mengurus anaknya. Di sisi lain ada juga seorang istri yang menuliskan tentang pengalaman persiapan menikahnya beserta review vendor-vendor yang digunakan ketika ia melangsungkan resepsi. Lalu ada juga seorang pria yang menuliskan pengalamannya dalam memelihara hewan ternak hingga sukses. Tulisan-tulisan model diatas pasti akan membantu orang-orang yang sedang berjibaku dengan hal yang sama. Buat seorang ibu muda, membaca pengalaman ibu diatas dalam mengurus anaknya tentu akan menjadi pengetahuan yang berharga.  Buat para calon pengantin, tulisan tentang persiapan pernikahan yang ditulis sang istri diatas tentu akan membantu sang calon pengantin dalam mempersiapkan pernikahan terbaiknya. Dan, buat peternak pemula, membaca tulisan pria yang sukses beternak tentu akan meningkatkan wawasannya, sehingga prosentase ia menjadi sukses akan semakin besar.

Nah, Bila tulisan-tulisan diatas akan terus ada dan jumlahnya banyak, maka akan ada banyak orang yang membacanya. Orang-orang bisa terinspirasi dan tertolong karena nya. Bila sudah seperti itu, maka kamu bisa mendapatkan ladang ibadah yang besar tanpa kamu sadari.

5. Buat Kamu Makin Kreatif, Inovatif dan Inspiratif

Menjadi narablog tentu tidak bisa hanya berada di zona zaman saja. Menjadi narablog pasti akan terus membuatmu untuk berkarya dan berkarya. Dalam berkarya, untuk menjaga eksistensinya, maka diperlukan adanya inovasi-inovasi dan kreasi yang dilakukan. Contohnya seorang narablog yang sedang mengikuti lomba. Ia pasti akan berusaha semaksimal mungkin dalam membuat konten yang menarik, mempercantik tampilan blognya atau meningkatkan kualitas tulisannya. Tujuannya jelas. Agar bisa memenangkan lomba. Nah proses-proses inilah yang akan semakin menaikkan level kehidupan narablog tanpa ia sadari.

Narablog sudah pasti adalah orang yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Tidak peduli meski ia narablog pemula ataupun narablog expert. Karena saat seorang narablog menerbitkan sebuah konten, pasti ia sudah berpikir keras dalam menciptakan konten yang dibuatnya itu. Hal inilah yang harusnya membuat seorang narablog bangga. Bangga karena ia bisa terus produktif dalam aktivitas yang kreatif, inovatif dan menginspirasi disepanjang waktu, selama ia ngeblog.


Nah gimana lima alasan diatas? Lima-limanya sungguh bikin baper kamu kan? Silakan tunggu artikel selanjutnya ya, karena saya akan bikin kamu lebih baper lagi. Di tahun 2019 ini saya punya beberapa resolusi untuk blog saya, salah satunya adalah membuat lomba blog. Betul. Saya akan membuat lomba blog berhadiah. Untuk konsepnya sendiri masih saya godok. Doakan saja agar konsep ini bisa segera selesai sehingga lomba blog bisa cepat-cepat diadakan. Selain itu saya juga punya resolusi lainnya, yaitu aktif dalam menyemarakkan pemilu 2019 nanti lewat ngeblog. Untuk resolusi ini akan saya mulai jalankan di bulan februari. Jadi saya akan buat rubrik khusus pemilu yang berisi tulisan tentang pemilu. Harapannya, rubrik pemilu saya nanti mampu mencerahkan publik mengenai persoalan seputar pemilu. Jadi, ditunggu saja ya.

Read More

Wednesday, 9 January 2019

Ibuku (Bukan) Pembohong





Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam

Itulah pesan ibuku ketika aku duduk di kelas enam SD. Kalimat ini hampir selalu ia ucapkan setiap harinya kepadaku.  Kalimat yang berarti suruhan untuk belajar ini tak lelah-lelahnya ibu ucapkan kepadaku. Meski aku sudah belajar didepan matanya, meski aku sedang malas-malasnya, bahkan meski aku sudah tidak kelas enam lagi. Bagi sebagian orang, atau mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini, kalimat tersebut pasti terlihat biasa-biasa saja. Tapi tidak denganku. Kalimat ini entah kenapa sangat membekas di hati dan ingatanku hingga saat ini. Karena, berawal dari kalimat inilah, aku jadi percaya bahwa kasih ibu tak terbantahkan waktu.

Ibuku bukanlah orang terpelajar. Bukan pula seorang saudagar. Setiap paginya, kami sekeluarga hampir selalu sarapan dengan menu yang sama, yakni satu telur dadar yang dipotong menjadi lima bagian, dengan kecap sebagai penyedapnya. Terkadang ibuku memasak menu yang berbeda, seperti indomie goreng atau rebus, tempe goreng atau udang goreng. Menunya itu tidak dilengkapi sayur dan buah. Tapi ya hanya nasi dan lauk tersebut saja. Plus kecap dan saus yang menemani. Biar gak kecut-kecut banget. Ya permasalahan ekonomilah yang membuat kami harus mau seperti itu. Tapi meski begitu, ibuku selalu mewajibkan kami untuk sarapan pagi. Prinsip ibuku, pokoknya setiap hari anak-anaknya harus sarapan. Ibuku selalu percaya bahwa dengan sarapan maka otak kami akan “encer”, sehingga akan dapat menerima pelajaran dengan baik. Ujungnya, maka kami pasti akan menjadi murid yang pintar.

Dulu aku selalu meragukan ibuku soal hal ini. Bagiku, sarapan pagi adalah cara ibuku agar kami tidak jajan yang banyak disekolah. Maklum, saat kelas enam SD uang jajanku hanya dua ribu perak. Bila dibelikan untuk makan berat pasti tidaklah cukup. Bila kubelikan jajanan favoritku seperti telur gulung, batogor ataupun permen gula, maka habislah uang itu langsung. Bisa-bisa aku tidak menabung di kelas. Seringkali aku protes kepada ibuku mengenai sarapan ini. Ku bilang, aku pasti akan tetap kuat meski tidak sarapan. Aku pun juga tetap akan bisa menerima pelajaran dengan baik meski tidak sarapan. Namun ibuku tidak terpengaruh. Tetap saja ia paksa aku untuk sarapan pagi setiap harinya.

Suatu hari dikala upacara bendera, aku melihat sang pemimpin upacara jatuh pingsan saat hendak memberikan penghormatan umum kepada pembina upacara. Bunyinya bum hingga bergetar. Saking kerasnya menghantam bumi. Setelah jatuh ia tidak sadarkan diri. Guru-guru pun membopongnya ke ruang kesehatan. Sesaat setelah kejadian tersebut, Kepala sekolah berkata bahwa anak tadi pingsan akibat tidak sarapan. Beliau pun menghimbau kami para murid, agar senantiasa sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Dan, semenjak saat itu aku berhenti protes pada ibuku mengenai sarapan.

Tapi aku masih meragukan ucapan ibuku soal sarapan. Bagiku sarapan hanya untuk menguatkan tubuh saja. Persoalan kalau sarapan bakal bikin otak “encer”, aku tidak percaya sama sekali. Ya, aku masih yakin kalau bagi ibuku, sarapan adalah cara dia untuk mengirit pengeluaran. Bila sudah sarapan, maka saat jam istirahat pertama maka aku tidak akan jajan apa-apa lagi, karena perutku masihlah kenyang. Mungkin pada jam istirahat kedua, baru aku jajan. Jajan jajanan ringan. Soalnya jam istirahat makan siang sudah dekat dengan jam pulang. Biasanya ibuku pasti sudah masak makanan untuk makan siangku. Dan aku wajib untuk memakannya. Nah biasanya ia selalu berpesan agar uang jajanku sebaiknya ditabung saja. Tak perlu dibelikan jajanan.



Tapi seringkali aku membangkang perintah ibuku. Memang uang jajannya tidak kubelikan makanan, tapi malah kubelikan mainan-mainan, seperti kelereng, keong, gambaran, layangan, tajoz bahkan menyewa gamebot. Sore hari, bila jajanku benar-benar habis dan aku tidak menabung di buku tabungan, aku pasti akan dimarahi ibu. Marahnya ibuku bermacam-macam. Kadang hanya berupa ucapan, kadang berupa cubitan, kadang berupa menakut-nakuti bahkan terkadang aku sampai dikunci di kamar mandi. Meskipun begitu, ibuku tidak pernah main fisik atau main pukul ketika marah. Marahnya paling seram ibu menurutku adalah ketika ia sampai mengunci aku di kamar mandi saat malam hari. Ah benar-benar menyeramkan. Semenjak aku dikunci di kamar mandi, aku akhirnya jera juga. Uang jajanku akhirnya seringkali kutabung dan kubelikan barang/makanan yang penting dan dibutuhkan saja.

Semenjak kelas enam SD, ibuku selalu menyuruhku belajar. Kalimat “Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam” seringkali diucapkannya kepadaku. Setiap hari mungkin. Aku heran.  Saat abang dan adikku kelas enam, mereka tidak pernah diingatkan sesering ini. Mengapa selalu aku yang dibeginikan? Sedang nonton tv disuruh belajar. Sedang bermain disuruh belajar. Bahkan saat sedang tidur pun disuruh belajar. Jujur aku sangat kesal. Ada rasa iri hati dan ketidak adilan di hati ku. Mengapa hanya aku yang terlalu diintervensi. Padahal bila dibandingkan dengan abang dan adikku, saat SD bisa dikatakan akulah yang paling pintar. Ya karena hanya akulah yang selalu mendapat peringkat satu sejak kelas dua hingga kelas lima SD. Aku pun berucap dalam hati, kalau aku akan tetap seperti aku biasanya. Pada akhirnya ucapan ibuku hanya masuk telinga kiri dan keluar di telinga kananku saja.

Saat pembagian rapot semester satu kelas enam, aku terkejut sekali begitu mendapatkan peringkat dua. Sungguh benar-benar tidak menyangka. Kata wali kelasku, nilaiku kalah jauh dengan Maria. Si peringkat pertama. Bahkan nilaiku hampir sama dengan sang peringkat ketiga. Mengapa aku diperingkat dua, itu adalah murni karena kebaikan hati guruku saja. Pulangnya aku dimarahi ibu habis-habisan. Di ujung kemarahannya itu, ibuku berpesan bahwa jika aku masih terus begini, bisa-bisa aku tidak lulus UN dan tidak bisa masuk SMP favorit. Ucapannya memang biasa, tapi kali ini Ibuku mengucapkannya sambil menangis…

Ah rasanya pilu sekali. Hatiku sungguh sangat berkecamuk dibuatnya. Ini pertama kalinya kulihat ibuku menangis. Ingin rasanya kuhapus ingatan ini soal itu. Rasanya benar-benar pedih, pilu, haru, sakit dan membuatku ingin menangis juga. Menurutku inilah marah ibuku yang paling hebat. Akupun hanya bisa mengangguk pelan untuk menjawab nasehat nya. Jujur sejak saat itu aku berjanji satu hal, kalau aku tidak akan pernah membuat ibuku menangis lagi.

Sepuluh tahun kemudian, saat aku duduk dibangku kuliah. Aku membaca berbagai penelitian tentang pentingnya sarapan. Salah satu manfaat sarapan adalah membuat tubuh berenergi dan membuat pikiran jauh lebih fokus sehingga menjadi produktif. Saat membacanya aku langsung tersenyum. Ah ternyata ibuku memang tidak mengada-ngada soal sarapan ini. Ungkapannya dahulu yang menyebutkan bahwa sarapan bikin otak “encer” memang benar adanya. Akupun langsung teringat saat diriku SD, SMP dan SMA, aku memang selalu sarapan pagi dan entah ada kaitannya atau tidak, tapi aku hampir selalu mendapat peringkat pertama atau kedua di kelas. Tapi semua berbalik saat kuliah. Aku justru malah tidak sepintar biasanya. Apa jangan-jangan karena aku tidak lagi rutin sarapan ya? Kuliahku yang diluar kota ini memang membuatku menjadi jarang sarapan pagi, karena seringkali aku “merapel” sarapan dan makan siangku sekaligus. Maklum anak kosan.

Ah ibuku memang selalu benar..

Semenjak kejadian ibu menangis, “Marsiajar ho Arip, ho madung kolas onam” selalu menjadi kalimat motivasi ku dalam menjalani hidup. Tidak peduli meski aku sudah tidak kelas enam lagi. Karena inti kalimat tersebut bukanlah di kelas enamnya, tapi di belajarnya. Akhirnya aku mengerti maksud ibuku. Ya intinya adalah selalu senantiasa belajar. Beliau berpesan bahwa selama kita hidup kita belajar. Meski diri ini sudah cerdas, sudah kaya, sudah berpendidikan tinggi atau sudah meraih juara sekalipun, kita harus tetap belajar. Karena ilmu tidak akan pernah ada habisnya. Belajar pun tidak hanya berupa belajar suatu ilmu pengetahuan, tapi juga belajar soal agama, belajar bermasyarakat dan belajar berbakti, khususnya kepada orang tua. Orang tua memang bukanlah orang yang tau segalanya, atau pintar dalam segala hal, tapi orang tua, khususnya ibu, beliau pasti adalah orang yang paling menyayangi kita dan paling berharap agar kita bisa menjadi orang yang akan membanggakannya kelak.



Terimakasih kepada Jasmine Elektrik atas lagu nya yang berjudul Ibu. Semenjak hari ibu lalu, Lagu ini selalu saya dengar hampir setiap malam karena liriknya yang dalam ini, semakin membuatku merindukan makhluk terbaik di bumi ini yang bernama, Ibu.




#JasmineElektrikCeritaIBU




Read More

Sunday, 23 September 2018

A Place to Remember : Pelajaran Hidup yang Tidak Didapat di Bangku Perkuliahan




Sekitar 6 tahun yang lalu, sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah mengikuti kuliah lapangan secara berkelompok selama satu bulan lamanya. Waktu itu kami ditempatkan di Desa Sitanggal, Brebes Jawa Tengah. Secara garis besar, kuliah lapangan ini berkisar tentang kesehatan masyarakat di pedesaan. Kami memiliki misi untuk mengidentifikasi masalah kesehatan di desa, kemudian memberikan solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.

Masalahnya, masalah kesehatan di pedesaan ternyata begitu kompleks. Ada banyak persoalan kesehatan yang mesti dibenahi disana. Kami masih menemukan warga yang melakukan aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus) di sungai, kami juga masih menemukan kasus ibu yang melahirkan di rumah tanpa didampingi petugas kesehatan, kami juga menerima masalah stunting pada anak-anak dan macam-macam persoalan lainnya. Tapi dari berbagai persoalan yang kami dapatkan, masalah tentang buta huruf adalah masalah yang menjadi prioritas utama kami.

Tidak bisa dipungkir lagi bahwa angka buta huruf di Indonesia masihlah ada dan berkisar di angka 2,07% pada tahun 2017 lalu. Kami masih menemukan kasus buta huruf di penduduk desa Sitanggal. Penduduk yang buta huruf kebanyakan di kalangan umur 45 tahun keatas. Waktu itu kami bertemu dengan Tokoh Masyarakat, Ibu Putri namanya, beliau mempunyai program berantas buta huruf dengan belajar membaca setiap seminggu dua kali. Selama ini beliau lah yang mengajak para warga yang buta huruf untuk belajar membaca bersama. Kami pun bergabung dengan beliau untuk menjadi pengajar di kelas mengajarnya.

Kelas Belajar Membaca

Hadirnya kami, para mahasiswa sebagai pengajar kelas membaca ini membuat warga menjadi antusias untuk datang. Bila biasanya dalam satu sesi warga yang hadir berkisar 15-20 orang, tapi semenjak kami bergabung, prosentase warga yang datang semakin banyak, bisa sampai dua kali lipatnya. Bahkan saking antusiasnya, kami juga sampai membuka sesi tambahan kelas membaca satu kali lagi, jadi dari yang seminggu dua kali menjadi seminggu tiga kali.

Jujur saja, melihat para orang tua dengan semangat belajar yang tinggi tersebut, saya sempat tertampar begitu melihatnya. Teringat diri saya sebelumnya yang masih sering malas-malasan dan membuang-buang waktu. Padahal disini ada banyak orang tua yang masih mau belajar, sedangkan ia sudah letih karena seharian bekerja di sawah. Ah benar benar menyentuh hati. Saya banyak memetik pelajaran hidup disana, pelajaran yang tidak pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan dalam kelas.

Hal yang paling berkesan disana adalah saat saya melihat warga yang buta huruf akhirnya berhasil membaca. Saya sampai menitikkan air mata ketika melihat peristiwa itu. Benar-benar pengalaman yang tidak ada duanya.

Hamparan Sawah di Desa

Meskipun disibukkan dengan kuliah lapangan, namun kami juga menyempatkan diri untuk mengeksplore tempat-tempat wisata yang ada di sekitar desa kami. Kami sempat mengunjungi alun alun Brebes, Pantai Randusanga, dan Guci Indah. Tempat wisata di desa-desa ini sangat indah dan alami sekali.

Sayangnya, waktu itu kami tidak bisa mengabadikan dengan baik hal-hal yang kami lakukan dan temukan disana. Dulu smartphone belumlah secanggih dan sebanyak sekarang. Mahasiswa yang memiliki smartphone pun masih bisa dihitung jari. Saya sendiri sudah memiliki smartphone namun masih berbasis android ICS (4.0) dengan kamera 2 MP dan memori penyimpanan hanya 2GB. Makanya selama saya kuliah lapangan, semua foto atau video yang saya abadikan, masihlah foto/video dengan resolusi rendah dan tidak begitu banyak, karena memori ponsel yang sedikit.

Andai saja waktu itu saya memiliki smartphone idaman dengan resolusi kamera yang apik dan memori penyimpanan yang besar, tentu saja akan banyak momen-momen dan pemandangan disana yang bisa saya abadikan, seperti wajah-wajah orang tua yang berhasil membaca, keasrian hidup di pedesaan, hamparan sawah yang  indah, keramahan orang-orang desa dan apiknya tempat-tempat wisata disana.

Guci Indah

Tahun depan, saya berencana untuk mengunjungi Desa Sitanggal lagi. Selain untuk bersilaturahmi, saya juga ingin mengunjungi tempat wisata Guci Indah, sebuah curug (air terjun) dengan air panas di bawahnya. Ah tempat wisata ini sungguh sangat indah dan menyenangkan. Ada tiga persiapan yang sedang saya lakukan, yaitu pertama menghubungi kepala desa Sitanggal. Untungnya setiap tahun saya masih kontak dengan beliau sehingga tali persaudaraan masih tetap terjaga. Kedua, menyiapkan uang saku dan kebutuhan logistik lainnya selama berada disana. Dan ketiga, mencari smartphone idaman 2018 yang bisa memenuhi semua kebutuhan fotografi dan videografi saya selama disana.

Tentu saja saya tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi. Saya pun sudah browsing di Internet untuk smartphone yang memenuhi kebutuhan saya tersebut, smartphone ini adalah Huawei Nova 3i.

Sumber : Huawei

Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu smartphone ini muncul dipasaran. Bisa dibilang smartphone ini adalah paket komplit, karena menyediakan semua fitur yang dibutuhkan orang-orang.  Mulai dari kamera yang mumpuni (Quad AI Camera), memori penyimpanan yang besar yakni 128GB, desainnya yang premium dan elegan serta kinerja ponselnya yang gesit dan cepat.

Lalu apa saja sih keunggulan dari Smartphone Idaman 2018 ini?

Desain
Smartphone Huawei Nova 3i memiliki desain body yang sangat ciamik. Huawei mengadopsi desain Huawei P20 ke dalam Smartphone Huawei Nova 3i ini. Dengan frame berbahan metal yang berlapiskan kaca membuat perangkat ini terlihat sangat premium. Ditunjang dengan warna perangkat yang memiliki gradasi warna tentu semakin membuat siapapun yang menggengam perangkat ini akan terlihat ekslusif. Apalagi ketebalan Smartphone Huawei Nova 3i hanya 7,6 mm. Pasti, siapapun akan terlihat kece bila memegang smartphone ini.

Smartphone Huawei Nova 3i memiliki build quality yang sangat solid. Terdapat beberapa varian warna yang bisa dipilih, yaitu iris purple dan hitam.

Sumber : www.nurulnoe.com


Display
Huawei Nova 3i memiliki layar lebar berukuran 6,3 insch dengan rasio 19:9 yang ditunjang sentuhan kekinian layar Fullview dan Notch di bagian atas.  Untuk ukuran dimensi nya adalah 157,6 mm x 75,2 m, dengan bobot sekitar 169 gram. Layar lebar ini sangat nyaman saat digunakan untuk ngegame, browsing dan nonton video karena Huawei Nova 3i memiliki resolusi full HD 1080p x 2340p dan layar berteknologi IPS (in-place switching) . Resolusi ini membuat gambar yang disajikan sangat jernih, tajam, cerah dan memiliki visitabilitas yang baik. Kepadatan pikselnya yaitu sekitar 409 ppi yang tentunya sudah lebih tinggi dibandingkan standar display.

Pada tampilan interfacenya, HuaweiNova 3i mengusung UI EMUI 8.1 yang berbasis android 8.1 oreo. Interface Smartphone Huawei Nova 3i ini memiliki banyak fitur pendukung dan memberikan berbagai fungsionalitas yang bisa dimanfaatkan pengguna.

Performa
Smartphone Huawei Nova 3i dibekali chipset Hisilicon Kirin 710, yang terdiri dari quad core Cortex A73 2,2Ghz dan Quad Core Cortex A53 1,7Ghz yang membuatnya berkinerja cepat dan gesit. Performa Smartphone Huawei Nova 3i menjadi semakin optimal karena ditunjang dengan RAM berkapasitas 4GB dan internal storagenya sebesar 128 GB. Besarnya ruang penyimpanan Smartphone Huawei Nova 3i ini tentu menjadi keunggulan tersendiri, karena pengguna tak perlu khawatir kehabisan media penyimpanan untuk data-data penting dan aplikasi.

Sumber : www.nurulnoe.com

Baterai Huawei Nova 3i berkapasitas cukup besar yakni 3340 mAh, dengan kapasitas tersebut, Smartphone Huawei Nova 3i bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama untuk aktivitas normal.

Kamera
Yang paling menarik dari Smartphone Huawei Nova 3i adalah fitur kameranya yang sungguh memanjakan penggunanya. Huawei Nova 3i  menyematkan 4 kamera dalam satu perangkat yaitu, dua di bagian belakang dan dua di bagian depan. Kamera utama Huawei Nova 3i dibekali dengan sensor 16MP + 2MP (Aperture 2.2) yang mampu menghasilkan gambar yang tajam dengan detail yang cukup baik. Untuk kamera depannya ditunjang dengan sensor 24MP + 2MP (Aperture 2.0) yang membuat smartphone ini masuk menjadi smartphone kategori selfie kamera.

Sumber : www.nurulnoe.com

Kerennya lagi, Smartphone Huawei Nova 3i juga mempunyai fitur Quad Artificial Intelegence (AI) Camera yang berfungsi memberikan opsi pada pengguna dalam aktivitas fotografi. Fitur AI Huawei Nova 3i  mampu membedakan lebih dari 500 skenario obyek foto kemudian memiliahnya ke dalam 22 tipe dan melakukan optimalisasi saat melakukan aktivitas fotografi.

Selain itu, ada juga fitur kamera lainnya seperti 3D Potrait Lighting, 3D Emoji, Light Painting dan Super Slow Mo.

Sumber : Huawei

Keamanan
Smartphone Huawei Nova 3i memiliki teknologi finger print yang terletak di belakang body ponsel. Fitur ini tentu sangat berguna untuk keamanan pengguna , apalgi bila di dalam smartphone terdapat data-data penting, sensitif dan data yang memerlukan perlindungan lebih.

Kesimpulan
Smartphone Huawei Nova 3i merupakan pilihan terbaik buat siapapun. Dengan segudang fitur diatas dan harga yang cocok dikantong, Huawei Nova 3i adalah juara di kategori smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB. Oleh karena itu saya merekomendasikan buat kamu yang ingin memiliki smartphone dengan tampilan elegan, sangar buat bermain game dan ciamik dalam aktivitas fotografi, maka memilih Smartphone Huawei Nova3i adalah pilihan terbaik.

Saya benar-benar tertarik dengan Smartphone Huawei Nova 3i ini, karena fitur fitur yang ditawarkan sangat cocok dengan kebutuhan perjalanan saya nanti ke Desa Sitanggal dan Guci Indah. Saya masih menunggu hingga tabungan saya cukup untuk menukar smartphone lama saya dengan Smartphone Huawei Nova 3i ini, tapi Kalau dikasih, waaah tentu saya pasti mau banget !

#HuaweiNova3i_ID #ChooseTheBest #aplacetoremembergiveaway

Read More

Friday, 13 July 2018

Persaingan Sempurna




Ngomongin hidup pasti gak bakal jauh dari yang namanya persaingan. Manusia mana sih yang gak bersaing dalam hidupnya? Sebelum manusia berbentuk manusia aja mereka udah bersaing. Bersaing menembus sebuah ovum. Naik krl tiap pagi buat berangkat kerja aja kita saingan. Saingan sama penumpang lain biar dapet duduk atau lapak berdiri. Bayar makanan di indomaret pun kita juga saingan sama customer lain. Saingan buru-buru sampai kasir biar kagak ngantri. Bahkan untuk dapet sekolah aja, yang sekarang sistemnya pake zonasi, kita pun perlu bersaing. Bersaing bikin SKTM alias surat keterangan tidak mampu biar dapet sekolah. Hadedeeeeehhhhh. Ada ada aja. Bersaing kok dalam kemiskinan? Tapi persaingan yang paling bikin gue bingung sekarang-sekarang ini adalah persaingan menjelek-jelekkan diri biar viral di sosmed. Aduh cobaan apalagi ini Ya Allah. Cobaan hidup udah berat, eh ngeliat konten disgusting gitu entah kenapa bikin hidup gue jadi makin berat aja.

Setiap orang pasti pernah bersaing. Minimal bersaing sekali dalam hidupnya. Bersaing pun ada banyak macamnya. Saingan dapetin gebetan. Saingan dapat rangking satu. Saingan banyak-banyakan THR. Saingan kekayaan. Saingan kepintaran anak. Saingan kesetiaan pasangan. Saingan di kerjaan. Saingan di game mobile legend. Ataupun saingan banyak-banyakan like dan komen di instagram. Manusia dari dia bayi sampe dia jadi manula pasti ada ada aja deh yang dipersaingkan. Mau dia nyatanya gak mampu bersaing atau jago banget bersaing pasti bakalan bersaing-saing juga. Selama hal itu memang pantas untuk dipersaingkan mungkin gak masalah, tapi bagaimana kalo yang dipersaingkan itu hanyalah sesuatu yang gak ada faedahnya? Mempertontonkan keviralan yang bodoh contohnya.

Gue gak paham sama acara tv zaman now. Asal ada yang viral dikit di undang ke tivi. Viral dikit diundang di tv. Padahal viralnya itu ya gak mendidik dan gak bermanfaat juga.  Malah secara gak langsung ngajak orang bikin konten serupa. Maksudnya apa coba ini? Maksudnya apa coba mengundang orang pamer muka jelek ke tivi? Buat mengajarkan penoton bahwa bikin video muka jelek bakal masuk tv gitu? Hina sekali kawan. Sungguh hina sekali kalo tujuannya ini. Memang tayangan semacam ini dari segi bisnis menguntungkan banyak, tapi dari sisi kebermanfaatan gue nilai Nol besar. Menguntungkan iya, merusak bangsa juga iya.

Melihat kasus diatas, persaingan dikategorikan jadi dua. Persaingan sehat dan persaingan tidak sehat. Ngomongin persaingan sehat pasti bakal membosankan dan kurang punya nilai jual yang tinggi. Karena bersaing secara sehat ya gitu gitu aja ceritanya. Plotnya mudah dibaca dan konfliknya minim. Lain halnya kalo yang dibahas persaingan tidak sehat. Beuh, seru banget deh kalo ngomongin hal ini. Gak ada habis-habisnya juga. Soalnya ya persaingan tidak sehat tuh ibarat orang terkenal meninggal. Ya meski dia udah meninggal, tapi masih tetep aja dibicarakan sampe kapanpun. Mau persaingan itu udah selesai ataupun belum, pasti orang bakal ngomongin itu terus.

Gue punya contoh persaingan tidak sehat yang pernah gue alamin ketika gue kerja. Jadi ada dua supervisor yang baru dipindah ke kantor gue. Nah entah kenapa dua orang ini jago ngomong dan jago cari muka. Ya namanya anak baru kan ya, pasti dong dia nyari nyari muka ke atasannya, biar dilirik gitu. Nah masalahnya cara mereka nyari muka tuh dengan membuka aib supervisor lainnya. Apesnya supervisor yang aib nya dibuka-buka itu gak begitu jago dalam hal diplomatik. Makanya pas di momen puncaknya, akhirnya sang atasan kemakan cari mukanya supervisornya tersebut dan ia pun mendemosi si supervisor malang.

Padahal ya kalo sang atasan melihatnya dengan jujur dan adil, si supervisor malang gak salah salah banget kok. Emang si supervisor baru aja yang lebay dan kampret. Lucunya, setelah kasus demosi tersebut, si dua supervisor baru tadi beberapa bulan kemudian naik jabatan. Lebih Lucunya lagi, setelah naik jabatan malah dua supervisor tadi kabur gara-gara kerjaannya gak beres. Banyak komplain sana-sini. Yap orang-orang kayak gini kalo di kerjaan mah emang gak bakal berumur panjang. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja. Boom. Selesai sudah. Tapi sob, bagi menurut gue bagian paling lucunya bukan disitu, justru bagian paling lucu adalah ya tentu aja si atasan. Kok mau mau aja dikadalain sama bawahannya.

Nah itulah salah satu persaingan gak sehat yang sering terjadi di muka bumi ini. Persaingan untuk mendapatkan sesuatu tapi dilakukan dengan cara-cara kotor. Mereka-mereka ini mungkin gak pernah merasakan bagaimana enaknya menikmati bersaing secara sehat. Atau mungkin mereka ini pengennya instan dan praktis aja, tanpa mau capek apalagi keringetan. Atau bahkan mereka ini emang pada dasarnya cetek alias rendah, terus gak punya skil, gak punya temen dan gak punya kemauan untuk belajar, makanya jadinya begitu. Padahal kalau mereka merasakan lingkungan persaingan sengit yang pernah gue alami ketika gue SMP, mungkin mereka gak bakal kayak gitu. Persaingan yang gue alamin ketika SMP ini bukan menyoal tentang bersaing agar jadi orang populer, bukan pula menyoal tentang bersaing agar dikenal guru, tapi melainkan bersaing bagaimana bisa survive di kelas yang di dalamnya berisi anak-anak genius yang mengerikan.

Siapa yang gak kenal Rangga, Desi, Syelfie? Merekalah juara kelas di kelas satu maupun dua. Siapa juga yang gak kenal Dea, Ica dan Esti? Mereka adalah juara dua di kelasnya masing masing saat kelas satu dan dua. Dan jangan lupakan Rizal, Ina, dan Laras. Mereka juga mendapat rangking tiga di kelasnya masing-masing. Lalu ada Nita, Wandi, Ridho yang pernah mencicipi juara dua dan tiga beberapa kali. Tentu hidup di kelas seperti itu bakal aman nyaman dan tentram, karena sekelilingnya orang pinter semua. Tapi bagaimana kalau kamu adalah salah satu orang genius juga? Yap itulah gue. Percaya atau enggak, gue pernah mencicipi rangking satu dan dua juga baik di kelas satu maupun di kelas dua. Dan berada di kelas dengan penuh orang jenius tersebut tentu menjadi tantangan dan masalah tersendiri, soalnya bisa jadi kamu bakal turun rangkingnya, bisa tetap rangkingnya atau bisa juga naik rangking. Gimana seru kaaannn?

Bagi anak anak akselerasi atau siswa siswa yang hidup di sekolah favorit mungkin kondisi seperti diatas udah biasa, bahkan udah jadi makanan sehari-hari. Tapi bagi siswa sekolah biasa kayak gue, hidup di kelas tersebut bener-bener penuh lika liku. Nengok kanan ada saingan. Nengok kiri ada saingan. Lurus dikit terus nyerong kanan ketemu saingan lagi. Jalan mundur terus berbalik, eh ketemu saingan-saingan juga.

Kondisi makin diperparah pas lagi ujian. Orang-orang di kelas ini pasti bakal suram deh kalo mau ujian. Soalnya ya dimana-mana orang pinter. Dan orang-orang pinter ini duduknya menyebar lagi ya. Setiap sudut dan tikungan ada. Makanya buat orang yang kurang pinter maupun orang pinter itu sendiri, mereka bakal sama-sama sibuk. Lirik dikit dikata mau nyontek. Kedip dikit dikira kerjasama. Melet dikit dikira ngasih kode jawaban. Bahkan megang hidung aja dikira lagi ngobrolin jawaban. Aduuhh. Apasih.

Lain halnya kalo pas lagi ada lomba cerdas cermat. Beuhh ini yang pusing justru si wali kelas. Pusing katanya dia nentuin siapa orang yang bakal maju. Bahkan buat nentuin aja katanya dia sampe sholat istiqoroh saban malem. Ebuset udah kayak nyari wangsit yak.

Tapi untungnya gue sendiri berteman baik dengan para saingan gue diatas. Sebagian besar dari mereka bahkan masih berteman baik sama gue hingga saat ini. Waktu SMP, mungkin diatara kami gak ada yang berpikir soal persaingan sama sekali. Termasuk gue. Kami satu sama lain ya gak benar-benar saingan. Yang mengkategorikan kondisi kami jadi bersaing itu ya paling para guru dan orang tua murid. Bagi para siswa yang menjalaninya mah sebenernya biasa-biasa aja. Makanya gak pernah ada yang berlaku “kotor” selama kami berada di kelas tersebut. Gak ada sama sekali. Apakah ada yang pake cara curang? Gak ada. Apakah ada yang pake cari muka? Gak ada sama sekali. Dan apakah ada yang saling menusuk satu sama lain? Tentu aja gak ada. Apa yang kami lakukan selama di kelas tersebut adalah murni pertemanan sehat. Ketika ada yang kesulitan, kita bantu. Ketika ada yang gak paham, kita bantu. Dan ketika ada yang minta diajarin, ya kita ajarin.

Persaingan yang kami alami akan terasa begitu sengit ketika pengambilan rapot. Tentu lagi-lagi yang bikin keadaan jadi sengit itu ya bikin kami, para siswa, tapi justru para orang tua murid. Pas pembagian rapot di semester satu, para orang tua murid yang anaknya turun rangking pada protes dan sedikit memarahi anak-anaknya. Para orang tua murid yang anaknya naik rangking justru mesem mesem aja. Yang paling pusing tentu aja si wali kelas, karena dia menerima berbagai protes dari para orang tua murid. Wkwk

Gue inget ketika di akhir semester satu dan dua di kelas tersebut. Gue termasuk pihak yang tersenyum di dua momen diatas, soalnya gue berhasil mendapatkan rangking tiga, baik di semester satu dan dua, di kelas mengerikan tersebut. Gue lah satu satunya siswa yang berhasil mempertahankan peringkat disana. Soalnya, siswa-siswa yang mendapat rangking satu sampai sepuluh (kecuali tiga) di semester satu, semuanya mendapatkan rangking berbeda begitu di semester dua. Di rapot semester dua, Ada yang rangkingnya naik, ada juga yang turun. Gila gila gilaaaaa.

Hingga saat ini, pengalaman gue hidup di kelas tersebut masih terus membekas di diri. Gue inget betapa leganya gue begitu melihat hasil rapot di semester dua. Padahal gue Cuma dapet peringkat tiga loh. Tapi entah kenapa hal itu gue anggap sebagai salah satu pencapaian hebat di hidup gue. Bersaing dengan orang-orang genius seperti mereka benar-benar menyenangkan. Pengalaman bagaimana survive di lingkungan seperti itu banyak membantu gue untuk berjuang ketika menghadapi situasi serupa. Terus persaingan yang gue alami ini, gue anggap selalu sebagai persaingan sempurna  yang mungkin gak semua orang bakal dapat kesempatan seperti ini.




Read More