Showing posts with label Duniayip. Show all posts
Showing posts with label Duniayip. Show all posts

Resensi Buku Ubur-Ubur Lembur – Raditya Dika




Akhirnya setelah sekian tahun lamanya, bang Radit bikin buku lagi. Tema binatang masih dipakai Bang Radit untuk menamai buku kedelapannya ini. Dengan berjudul Ubur-Ubur Lembur, buku ini meluncur di pasaran per tanggal 1 Februari 2018. Tebalnya lumayan, yakni sekitar 232 halaman dengan 14 bab di dalamnya. Ada banyak genre tulisan di dalamnya seperti romance, keluarga, horor dan kehidupan. Tentu saja semua genre tersebut dibalut dengan sentuhan komedi ala Raditya Dika.

Setelah membaca buku ini entah kenapa gue terbagi menjadi dua hal, yakni Tim Antusias dan Tim Bosan. Memang benar, antusias dan bosan itulah yang gue rasakan ketika membaca buku ini. Jujur aja, setelah buku buku komedi booming (pas zaman poconggg kalau gak salah) tahun 2010an, gue udah jarang baca buku-buku bergenre komedi, soalnya entah kenapa kualitas buku/novel komedi agak menurun setelah zaman itu. Lucunya nanggung lah. Lucunya basi lah. Lucunya absurblah. Makanya ketika ada berita yang menginformasikan bahwa Bang Radit bakal merilis buku baru, gue langsung antusias mendengarnya. Ya percaya atau tidak, menurut gue, Bang Radit ini lah pelopor buku/novel komedi di Indonesia.

Dan benar, Ubur-Ubur Lembur berhasil memuaskan dahaga gue akan buku dengan komedi cerdas. Cerita-cerita di buku ini sukses bikin gue kesengsem, nyegir bahkan tertawa geli ketika membacanya. Gue yakin hal yang sama akan terjadi kepada kamu-kamu yang membacanya juga. Bang Radit benar-benar tau bagaimana mengeksplorasi sebuah kejadian/cerita, baik itu kejadian serius, kejadian seram, bahkan kejadian biasa sekalipun menjadi sebuah cerita seru yang bikin orang berkata dalam hati “ih gue banget” dan disertai senyuman maupun tertawa terpingkal-pingkal.
Kisah-kisah lucu di buku ini sukses bikin gue membayangkan jika ceritanya Bang Radit ini terjadi sama gue. Ada aja imajinasi yang terpintas di kepala gue ketika membaca bab demi bab di buku ini. Soal teman masa kecil lah, soal hantu lah, bahkan soal menjadi orang yang terkenal lah. Semua ekspektasi dan ke-antusiasan yang gue bayangkan sebelum membaca buku ini bisa dibilang terbayar dengan sempurna setelah selesai membacanya. Tidak kurang, tidak lebih. Semua yang kamu harapkan dari sebuah Buku karya Raditya Dika ada semua di buku ini.

Jika kamu membaca buku ini dan mengharapkan ekspektasi yang lebih, saya kira hal itu tidak akan terjadi. Dan jika kamu berpikir kalau buku ini kurang memenuhi ekspektasi, itu juga salah. Buku ini hampir sama dengan buku-buku Bang Radit lainnya. Gak ada sesuatu yang baru di dalamnya. Mungkin jika dibandingkan dengan 3-4 buku pertama Bang Radit, ada sedikit perbedaan di dalamnya, yaitu dibuku ke 5-8 ini Bang Radit terlihat lebih dewasa di dalamnya. Tulisan-tulisannya pun lebih berkembang dan terdapat “pesan” di cerita-ceritanya.

Hal ini lah yang membuat gue sedikit bosan ketika membaca buku ini. Apalagi ketika membaca part percintaan atau kegalauan akibat cewek. Gue benar-benar bosan. Part-part galau dan percintaan di buku ini entah kenapa bikin buku ini jadi sedikit membosankan. Bagi orang yang membaca buku Bagi Radit dari pertama sampai buku ini pasti deh  udah dipaparin banyak banget cerita-cerita kayak gini. Jujur, hal ini bikin gue bertanya-tanya, “Emang masih kurang ya Bang semua cerita-cerita galau di buku-buku sebelumnya?”
Padahal, ada banyak kisah Bang Radit yang bisa dieksplorasi lebih jauh, bukan cuma soal percintaan dan kegalauannya aja.

Jika kamu seorang fans Bang Radit, buku ini akan membuat kamu sedikit lebih mengenal seorang Bang Radit. Jika kamu seorang penggiat literasi, buku ini akan membuat kamu mendapatkan inspirasi berbagai tulisan. Jika kamu seorang yang terkenal, buku ini akan mewakili semua perasaan kamu akan satu hal, dan jika kamu hanyalah pembaca buku biasa, buku ini bisa dibilang sebagai salah satu list buku yang wajib kamu baca, karena, ya... memang gak ada ruginya sama sekali.


Share:

4 Film Tom Hanks yang Wajib Kamu Tonton




Ada yang tau Tom Hanks? Saya kira sebagian besar orang terutama para pecinta film Holliwood pasti mengenal aktor satu ini. Jelas, udah banyak banget film yang ia bintangi. Malah rata-rata kebanyakan film yang ia bintangi pasti sukses di pasaran. Sebagai aktor, Tom bisa dibilang sebagai aktor yang komplit, soalnya dia bisa memainkan berbagai peran. Mulai dari pria cupu, orang dengan disabilitas, detektif, nahkoda kapal dan lain lain. Dari berbagai film yang ia bintangi, saya punya rekomendasi film Tom Hanks yang wajib kamu tonton. Film-film ini punya daya tariknya sendiri sehingga membuat kamu akan terus dengan film-film Tom Hanks lainnya. Okay check this out

4. Forrest Gump


Film ini termasuk film jadul, karena ditayangkan pada medio 90an. Bercerita tentang seorang laki laki yang memiliki IQ 75 atau bisa dikatakan sebagai anak idiot dalam menjalani hidup. Jujur aja, film ini sungguh inspiratif dan menyentuh. Bagaimana mungkin seorang yang dibilang idiot, mampu masuk militer, kemudian menjadi pahlawan perang, lalu ia ikut kejuaraan pingpong kelas dunia, ia juga sukses besar dalam bisnis udang dan menjadi inspirasi orang-orang karena gerakan larinya mengelilingi amerika. Tom benar-benar total dalam bermain di film ini. Perannya sebagai Forrest Gump sukses menginspirasi orang-orang termasuk penonton film ini.

3. The Terminal


Bercerita tentang pria bernama Navroski yang berasal dari negara Krakozhia yang terjebak di bandara JFK (Amerika Serikat) akibat negaranya mengalami kudeta militer saat ia terbang ke USA, sedangan pemerintah AS belum mengakui pemerintahan baru negeri itu. Karena hal itu, Navroski tidak diperbolehkan pulang ke negaranya dan juga tidak boleh masuk ke wilayah amerika. Navroski pun tidak bisa berbahasa inggris dan uang yang ia miliki saat ini tidak bisa ditukar ke dollar karena mata uang negara tersebut sudah tidak berlaku lagi di dunia. Nah Loh? Ngejelimet kan? Makanya cepet nonton deh film ini. Nikmati petualangan Navroski dalam bertahan hidup dengan semua kondisi diatas.

2. Captain Philips



Bagaimana jika kamu adalah seorang kapten kapal yang kapalnya sedang dimasuki sekelompok perompak laut, padahal kamu sedang membawa barang bawaan (cargo) yang sangat penting dan banyak untuk keperluan yang penting juga. Perampok laut tersebut tentu saja berniat membajak kapal sekaligus membunuh awal kapal di dalamnya. Sebagai kapten kapal apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana kamu menghadapi kondisi itu semua? Semua jawabannya ada di film ini. Film yang berdasarkan kisah nyata ini benar-benar penuh ketegangan yang meingkat seiring dengan durasi film. Semakin mendekati akhir semakin tegang juga yang akan kamu rasakan.

1. Catch Me if You Can


Film ini memang tidak terfokus sepenuhnya pada Tom, tapi disini Tom memegang peran penting dalam suksesnya film ini. Berpasangan dengan seorang Leonardo di Caprio yang berperan sebagai penipu ulung (Pameran utama), Tom yang disini berperan sebagai agen FBI sungguh sangat keren dalam menjalani perannya tersebut. Karakternya yang kaku dan kepribadiannya yang pantang menyerah terlihat jelas di film ini, dimana membuat kamu jadi agak kurang suka dengannya dan justru memihak si penipu ulung, Leo (yang memang bermain luar biasa juga disini). Sebagian besar film ini berkisah tentang kejar-mengejar Leo dan Tom. Chemistri mereka berdua benar-benar dapet banget. Membuat orang yang menonton film ini akan terbawa suasana ke dalamnya. Setelah menonton film ini kamu pasti akan menyimpulkan bahwa tidak salah mengatakan kalau dua aktor diatas adalah aktor besar kelas dunia.

Gimana penasaran kan? Ayo segera nonton film-film diatas. Bagi yang udah nonton film diatas boleh nih di share review singkatnya di kolom komentar. Selain 4 film diatas, saya juga merekomendasikan 3 film Tom yang lain yaitu Cast Away, Davinci Code dan The Post. Buruan deh nonton gengs.

#Onedayonepost #ODOPbatch5

Share:

(Jurnal) Faktor-Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur




Faktor-Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur

Arief Satiawan*), Suhartono**), Tri Joko**)
*)Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro
 **)Dosen Bagian Kesehatan Lingkungan Kesehatan Masyarakat FKM UNDIP


ABSTRACT
Pneumonia remains a leading cause of child mortality diseases in the world. Incidence of pneumonia in children under five in 2012 in East Jakarta Administration found as many as 4016 cases, with the highest cases of health centers in the region of eastern Jakarta Jatinegara as 714 cases. One of the factors that influence the incidence of pneumonia is the physical condition of the home. The purpose of this study was to determine the physical environmental factors associated with the incidence of pneumonia in infants Jatinegara Health Centre, East Jakarta. This type of research is explanatory research with observational case-control approach. The sample was toddlers aged 0-59 months suffering from pneumonia and was treated at the health center in East Jakarta Jatinegara January to March 2014. Groups of respondents were 44 cases and 44 control group respondents. Data analysis using chi-square statistical test and the magnitude of risk with an odds ratio (OR). The results showed relationship between the area of ventilation (p = 0.031 OR = 4.194) residential density (p = 0.031 OR = 3.328), lighting (p = 0.01 OR = 3.444) and humidity (p = 0.008 OR = 4.385) and the incidence pneumonia in young children, whereas the type of wall, floor type, fuel type, the presence of a smoker, the temperature showed no association. The results of this study are extensive ventilation, levels of occupancy, lighting and humidity have a relationship with the incidence of pneumonia in infants.
Keywords: Home physical environment factors, pneumonia, children under five years, Jatinegara


PENDAHULUAN
Pneumonia adalah penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit dimana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alcohol. Penyebab paling sering ialah serangan bakteri Streptococcus pneumonia atau pneumokokus. (1)
Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai penyebab kematian anak balita tertinggi, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS. (2)
Pneumonia pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menyebabkan angka kematian tinggi di dunia. Di Amerika Serikat, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia per tahun. Di Indonesia pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Di dunia Pneumonia masih menjadi penyakit terbesar penyebab kematian anak dan juga penyebab kematian pada kaum lanjut usia. (3) Tahun 2007 1,2 juta orang di Amerika Serikat dirawat di rumah sakit dengan pneumonia dan lebih dari 52.000 orang meninggal akibat penyakit ini, di dunia setiap 20 detik seorang anak meninggal akibat pneumonia.(4)   Sedangkan di Eropa dan Amerika Utara insiden mencapai 34-40 kasus per 1000 anak per tahun. (5)  
Pneumonia merupakan pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun (Balita) di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti AIDS, Pneumonia dan Campak. Namun, belum banyak perhatian terhadap penyakit tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 Balita meninggal setiap menitnya. (6,7)        
Angka kematian kasar akibat pneumonia di Asia mencapai 30 – 70 % dan secara spesifik pneumonia yang diakibatkan karena penggunaan ventilasi mekanik berkisar 33-50 % dari data pneumonia di ICU. Sedangkan data kematian yang diperoleh dari Singapura, secara signifikan lebih tinggi yaitu 73% dari pneumonia secara keseluruhan. (8)
Di Indonesia populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi). Pada tahun 2009, cakupan penemuan pneumonia pada balita sebesar 22,18% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. (9)
Dari tahun ke tahun pneumonia selalu menduduki peringkat atas penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Menurut hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2007, pneumonia merupakan penyebab kematian balita kedua setelah diare (15.5 %) diantara semua balita) dan selalu berada dalam daftar 10 penyakit terbesar yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun ada 150.000 balita yang meninggal karena pneumonia. Jika dihitung rata-ratanya setiap 4 menit ada seorang balita yang meninggal akibat pneumonia atau 17 orang per jam atau 416 orang per hari. Sebagian besar kematian terjadi pada bali. Angka ini sangat besar, sehingga perlu mendapat perhatian khusus bagi pengelola program ISPA pusat, provinsi, kab/kota serta perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah. (9)
Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia tahun 2009, Pneumonia memiliki Case Fatality Rate (CFR) paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit yaitu sebesar 6,63%. (10)
Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi berturut-turut adalah provinsi Nusa Tenggar Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar 46,16% dan kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16% dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. (10)
Pada tahun 2012 Kota Jakarta memiliki jumlah penemuan kasus pneumonia sebesar 18.525 kasus dan  tidak banyak mengalami perubahan pada tahun 2013, karena angka penemuan kasus pneumonia mencapai 18.015 kasus, sedangkan jumlah kasus pneumonia yang menyebabkan kematian pada tahun 2013 ada sebesar 75 kasus. Kota Administrasi Jakarta Timur memiliki angka penemuan kasus pneumonia sebanyak 4016 dengan angka kematian yang paling tinggi dibandingkan kabupaten lain yaitu dengan 45 kasus. Kecamatan Jatinegara merupakan salah satu kecamatan dengan angka pneumonia yang cukup tinggi tiap tahunnya, pada tahun 2010 jumlah kasus pneumonia ada sebanyak 714 kasus dan mengalami peningkatan pada tahun 2011 dengan kasus sebanyak 852 kasus, kemudian mengalami penurunan menjadi 839 kasus pada tahun 2012. (11) (12) (13)
Kondisi lingkungan rumah yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara banyak yang kurang memenuhi syarat kesehatan, terutama rumah-rumah yang menempati daerah aliran sungai atau daerah bantaran sungai ciliwung. Rumah-rumah tersebut berada di kelurahan Bidaracina dan Kelurahan Kampung Melayu yang merupakan daerah langganan banjir dan hampir tiap tahunnya terkena banjir. Kondisi lingkungan yang padat dan seringkali terkena banjir dapat membuat rumah menjadi tidak sehat. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Menurut penelitian Pujiono yang menyatakan bahwa kepadatan hunian, kurangnya ventilasi rumah dapat mempengaruhi kejadian pneumonia pada balita.
Berdasarkan data-data tersebut diatas peneliti tertarik ingin mengetahui “Apakah faktor lingkungan fisik rumah (luas ventilasi rumah, kepadatan hunian, jenis lantai, jenis dinding, pencahayaan, jenis bahan bakar, keberadaan perokok, kelembaban dan suhu) berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur”

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan jenis penelitian analitik yang bersifat observational dan dengan pendekatan kasus kontrol (case control) yaitu dengan membandingkan antara sekelompok orang yang menderita penyakit (kasus) dengan sekelompok lainnya yang tidak menderita penyakit (control), kemudian dicari faktor penyebab timbulnya penyakit.
Sampel kasus dalam penelitian ini adalah seluruh balita rawat jalan di Puskesmas Jatinegara Kota Administrasi Jakarta Timur dan dinyatakan menderita pneumonia pada bulan Januari – Maret 2014. Sedangkan kontrol dalam penelitian ini adalah balita umur 1-5 tahun yang menjadi pasien rawat jalan di Puskesmas Jatinegara Kota Administrasi Jakarta Timur dan dinyatakan tidak menderita pneumonia oleh dokter Puskesmas. Pada bulan Januari – Maret 2014.
Cara pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan data primer yang dilakukan dengan cara wawancara kepada responden (anggota keluarga/orang tua) balita dengan menggunakan lembar kuisioner yang berisi data mengenai kejadian pneumonia pada balita. Selain itu juga dilakukan observasi langsung terhadap obyek yang diteliti untuk melihat kondisi kesehatan fisik rumah dan melakukan pengukuran untuk memperoleh hasil pengukuran sesuai kondisi yang sebenarnya.  Pengumpulan data sekunder didapat dari puskesmas, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, buku, Jurnal, Makalah dan referensi-referensi lain yang berkaitan dengan tema penelitian.
Analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan gambaran karakteristik responden. Analisa bivariat dilakukan untuk menguji hubungan setiap variable lingkungan fisik rumah seperti, luas ventilasi, kepadatan hunian, jenis lantai, jenis dinding, pencahayaan, jenis bahan bakar, keberadaan perokok, kelembaban dan suhu dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur. Puskesmas Jatinegara mempunyai wilayah kerja yang terdiri dari 8 kelurahan dengan penduduk berjumlah 323.578 jiwa. Yang terdiri dari 166.661 jiwa laki-laki dan 156.917 jiwa perempuan.
Penelitian ini menggunakan desain case control untuk mengetahui faktor-faktor yang mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur. Variabel yang menjadi pokok dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan fisik rumah yang meliputi luas ventilasi rumah, kepadatan hunian, jenis lantai, jenis dinding, pencahayaan, jenis bahan bakar, keberadaan perokok, kelembaban dan suhu.
Berdasarkan analisis bivariat diketahui bahwa ada empat variable yang menunjukkan adanya hubungan yaitu luas ventilasi rumah, kepadatan hunian, pencahayaan dan kelembaban dan lima variable yang menunjukkan tidak ada hubungan yaitu jenis lantai, jenis dinding, jenis bahan bakar, keberadaan perokok dan suhu. Hasil analisis bivariat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.        Hubungan Luas Ventilasi dengan Kejadian Pneumonia
Hasil Uji statistik diperoleh nilai p= 0,031 Dan OR= 4,1  CI 95% (1,244 – 14,131). Berdasarkan nilai p value < 0,05 maka dapat diinterpretasikan ada hubungan yang signifikan antara luas ventilasi rumah dengan kejadian pneumonia pada balita. Adanya hubungan yang bermakna antar luas ventilasi rumah dengan kejadian pneumonia  disebabkan terhalangnya sinar matahari dan pertukaran udara yang masuk ke dalam rumah, sehingga bakteri atau virus yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan terhirup udara pernapasan. Sinar ultraviolet dapat membunuh kuman, bakteri, virus sert jamur yang menyebabkan infeksi, alergi, asma dan penyakit lainnya. Sinar ultraviolet ini memiliki panjang gelombang 253,7 nm dan dapat merusak DNA mikroba (kuman, bakteri, jamur dan virus) sehingga DNA mikroba akan steril. Jika mikroba tersebut terkena sinar matahari maka tidak akan dapat bereproduksi dan kemudian mati. (14)
2.        Hubungan Kepadatan Hunian dengan Kejadian Pneumonia
Hasil Uji statistik diperoleh nilai p value= 0,031  Dan OR= 3,3 , CI 95% (1,212 – 9,141). Berdasarkan nilai p-value < 0,05 maka dapat diinterpretasikan ada hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian pneumonia pada balita. Kepadatan hunian merupakan faktor penting yang mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia. Hal ini disebabkan karena keberadaan banyak orang dalam satu rumah akan mempercepat transmisi mikroorganisme penyakit dari satu orang ke orang lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa bakteri penyebab pneumonia mudah menyebar di lingkungan yang padat. Kepadatan hunian memungkinkan bakteri dapat menular melalui pernapasan dari penghuni rumah ke penghuni rumah lainnya. Misalnya dalam satu rumah terdapat satu penghuni yang menderita penyakit infeksi, maka akan mudah penyakit infeksi tersebut menular ke penghuni rumah lainnya., termasuk kepada balita yang relatif lebih rentan terkena penyakit. Hal ini disebabkan karena balita, terutama yang berusia kurang dari 2 tahun memiliki imunitas yang belum baik sehingga lebih berisiko untuk tertular penyakit. (16)
3.        Hubungan Pencahayaan dengan Kejadian Pneumonia
Hasil Uji statistik diperoleh nilai p value= 0,01 Dan OR= 3,4 , CI 95% (1,424 – 8,333). Berdasarkan nilai p-value < 0,05 maka dapat diinterpretasikan ada hubungan yang signifikan antara pencahayaan rumah dengan kejadian pneumonia pada balita. Menurut Notoadmodjo, cahaya matahari memiliki peranan yang penting dalam kesehatan. Cahaya matahari dapat membunuh bakteri-bakteri pathogen yang ada di dalam rumah.  Umumnya cahaya dapat merusak mikroorganisme yang tidak berklorofil. Bakteri sangat sensitive terhadap pencahayaan sehingga tidak dapat tumbuh dan berkembang di dalam ruangan yang memiliki pencahayaan yang baik. (15)
Rumah yang sehat pasti memiliki pencahayaan yang sehat pula. Khususnya cahaya matahari. Cahaya matahari dapat membunuh bakteri , kuman, virus dan jamur karena memiliki panjang gelombang 253,7 nm yang terdapat pada sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet tersebut akan merusak DNA mikroba sehingga menjadi steril dan membuat mikroba tidak dapat bereproduksi. Cahaya yang terlihat oleh mata ialah gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 4000 sampai dengan 7000. Telah dapat dibuktikan bahwa banyak jenis parasit dapat dimatikan jika parasit tersebut mendapat sinar matahari secara langsung, seperti misalnya kuman TBC (15)
4.         Hubungan Kelembaban dengan Kejadian Pneumonia
Hasil Uji statistik diperoleh nilai p value= 0,008 Dan OR= 4,3 , CI 95% (1,534 – 12,530). Berdasarkan nilai p-value < 0,05 maka dapat diinterpretasikan ada hubungan yang signifikan antara kelembaban rumah dengan kejadian pneumonia pada balita. Kelembaban merupakan faktor penting yang mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia. Hal ini disebabkan karena kelembaban dalam suatu ruangan dapat mendukung daya hidup virus atau bakteri. Selain itu, kelembaban berkaitan dengan tempat hidup virus atau bakteri. (17)
Kelembaban dapat dipengaruhi oleh suhu, pencahayaan dan ventilasi. Rumah yang lembab meupakan media yang baik untum perkembangan kuman dan bakteri. Kuman dan bakteri pun akan tumbuh secara optimal di atas suhu 300C. (18)
  

Tabel 1.1 Analisis Faktor-Faktor Lingkungan Fisik Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur

No
Faktor Resiko
OR
95% CI
Nilai p
Keterangan
1
Luas Ventilasi
4,1
1,244 – 14,131
0,031
Ada hubungan
2
Kepadatan Hunian
3,3
1,212 – 9,141
0,031
Ada hubungan
3
Jenis Lantai
2,1
0,364 – 12,106
0,676
Tidak ada hubungan
4
Kondisi Dinding
5,5
0,617 – 49,275
0,202
Tidak ada hubungan
5
Pencahayaan
3,4
1,424 – 8,333
0,01
Ada hubungan
6
Jenis Bahan Bakar
3,1
0,314 – 31,484
0,616
Tidak ada hubungan
7
Keberadaan perokok
1,6
0,613 – 4,649
0,445
Tidak ada hubungan
8
Kelembaban
4,3
1,534 – 12,530
0,008
Ada hubungan
9
Suhu
1,3
0,555 – 3,428
0,644
Tidak ada hubungan


KESIMPULAN
1.      Ada hubungan yang bermakna antara luas ventilasi rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur (p= 0,031 dan OR= 4,194, 95% CI 1,244-14,131)
2.      Ada hubungan yang bermakna antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur (p= 0,031 dan OR= 3,328, 95% CI 1,212-9,141)
3.      Ada hubungan yang bermakna antara pencahayaan dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur (p= 0,01 dan OR= 3,444, 95% CI 1,424-8,333)
4.      Ada hubungan yang bermakna antara kelembaban dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur (p= 0,008 dan OR= 4,385, 95% CI 1,534-12,530)
5.      Variabel yang tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian pneumonia pada balita adalah jenis lantai, jenis dinding, jenis bahan bakar, keberadaan perokok dan suhu.

SARAN
1.      Untuk pihak puskesmas khususnya yang bergerak di bagian penanggulangan penyakit P2NM dapat bekerjasama dengan bagian kesehatan lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan lingkunganterutama tentang faktor faktor resiko penyakit pneumonia yang berkaitan dengan kondisi fisik rumah.
2.      Bagi masyarakat yang sudah tinggal di rumah yang sehat agar selalu merawat kondisi fisik lingkungan rumahnya.
3.      Bagi masyarakat yang kondisi rumahnya belum memenuhi syarat agar memperbaiki kondisi rumah yang belum memenuhi syarat seperti ventilasi, pencahayaan di dalam rumah dan dapat membuat genting kaca
4.      Bagi masyarakat agar membiasakan diri akan kesadaran pentingnya menjaga kondisi fisik lingkungan rumah untuk mencegah terjadinya penyakit atau masalah kesehatan lainnya
5.      Bagi peneliti lain perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kejadian pneumonia di wilayah Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur. Untuk peneliti lain dapat melakukan penelitian lanjutan seperti perilaku membuka jendela, polusi udara dalam rumah, adanya sekat dapur, status ASi ekslusif dan lain lain.

DAFTAR PUSTAKA
1.         Suryo J. Penyembuh Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta: Bentang Pustaka. 2010
2.         The United Nations Children’s Fund (UNICEF)/ World Health Organization (WHO). Pneumonia: The Forgotten Killer of Children. 2006
3.         Misnadiarly. Penyakit Infeksi Saluran Napas. Pustaka Populer Obor, Jakarta: 2008
4.         CDC. Pneumonia Can Be Prevented – Vaccines . Dari : www.cdc.gov Features/Pneumonia [16 Januari 2014].
5.         OSTAPCHUK Michael, Donna M. Roberts, Richard Haddy. Community- Acquired Pneumonia in Infants and Children ,2004 dari www.aafp.org/afp/2004/0901/p899.html [ 6 Januari 2014]
6.         Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta : Depkes RI; 2010.
7.         Depkes RI. Pneumonia penyebab kematian Depkes RI; 2011. Dari : www.depkes.go.id [10 Maret 2014].
8.         Sutiastuti. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada pasien dirawat di unit intensif Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Jakarta. UPNVJ. 2011
9.         Riset kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2007. Depkes RI. Jakarta Tahun 2009.
10.     Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta : Depkes RI; 2012.
11.     Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Profil Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. 2010. Jakarta. 2010
12.     Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Profil Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. 2010. Jakarta. 2011
13.     Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Profil Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. 2010. Jakarta. 2012
14.     Notoadmojo S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Prinsip-Prinsip Dasar. PT Rineka Cipta. Jakarta; 2003
15.     Azwar A. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber Widya. 1990
16.     Henny M. Faktor Lingkungan Rumah Dan Praktik Hidup Orang Tua Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Anak Balita Di Kabupaten Kubu Raya Tahun 2011. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP. 2012
17.     Yuwono. Thesis Faktor – Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kawunganten Kabupaten Cilacap. Semarang:Undip. 2008
18.     Padnomobo H. Hubungan Faktor-Faktor Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jatibarang Kabupaten Brebes. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP. 2012

Share:

Disable Adblock