Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

Monday, 29 January 2018

Wujud Cinta Pemuda dalam Melawan Ghoziwul Fikr




Peradaban islam sedang mengalami kemunduran. Beragam masalah umat kini gencar menerjang. Mulai dari gerakan radikal mengatasnamakan islam (ISIS), paham sekulerisme yang sudah menyebar luas, paham lesbian gay transgender dan biseksual (LGTB), pemerosotan moral bangsa hingga serangan ghoziwul fikr. Sungguh miris menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa bangsa dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia ini sedang mengalami permasalahan-permasalahan yang tak kunjung selesai.
Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita berita kekerasan yang cukup memprihatinkan, adanya pesta gay di sebuah tempat fitness, aksi brutal anak SD yang memukuli teman sekelasnya, seorang pemuda yang tega membunuh kakeknya hanya karena kesal akibat sering dimarahi, sekelompok remaja yang menari dengan gerakan sholat, hingga kasus yang cukup mencengangkan seperti seruan ISIS kepada muslim Indonesia untuk bergabung bersamanya. Hal Ini menunjukan bahwa pemuda sedang diambang pemerosotan aqidah dan akhlak. Fakta-fakta yang terjadi membuktikan bahwa banyak pemuda muslim yang hanya sekedar muslim. Ia tidak tau esensi dan makna dari muslim itu sendiri.
Umat muslim saat ini pun sudah mulai terdoktrin paham sekulerisme. Pengatasnamaan profesionalitas seringkali memisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan personal. Agama seolah punya “koridor” nya sendiri dalam kegiatan sehari-hari. Tidak bisa dan tidak boleh disatukan dengan kegiatan lain. Padahal sesungguhnya agama (islam) bagaikan sebuah pakaian pada manusia, yang berfungsi melindungi dari hal hal yang bathil. Selain itu,  sebagian besar umat masih beranggapan bahwa berdakwah hanyalah tugas seorang ustadz atau ulama. Padahal berdakwah adalah wajib bagi setiap muslim. Sama hal nya dengan menuntut ilmu. Lalu, jika menuntut ilmu saja kita mau, mengapa untuk berdakwah kita masih mengingkari?
Pembodahan-pembodahan yang dilakukan oleh media pun semakin memperparah kondisi umat. Ghoziwul fikr (perang pemikiran) yang dilakukan oleh bangsa asing demi memecah belah islam dan menanamkan paham yang berseberangan dengan islam kini sedang di puncak-puncaknya. Banyaknya tayangan televisi yang mempertontonkan pergaulan bebas dan budaya hedonisme adalah salah satu contoh perang pemikiran sedang berlangsung. Belum lagi kebebasan internet yang makin menjangkau segala umur tanpa ada batasan dalam penggunaanya. Konten hoax, anarkisme, liberalisme, pornografi dan fitnah-memfitnah serta ujaran kebencian dapat diakses dengan mudah dan bebas. Parahnya informasi tersebut tidak memuat fakta, akan tetapi opini pribadi atau golongan tertentu yang belum tentu valid kebenarannya. Ghoziwul fikr sungguh berbahaya, karena dapat mengacak-ngacak syariat islam dan menciptakan islamphobia di mata orang lain maupun di mata umat islam sendiri.
Dalam romantika sejarah islam, kita banyak mengenal pemuda-pemuda luar biasa yang terkenal dengan dedikasi dan perjuangannya dalam menegakkan syariat islam di muka bumi ini. Keberhasilan hijrahnya Rasulullah ke madinah tentunya sangat dipengaruhi oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Dengan gagahnya ia menggantikan Rasulullah untuk berada di dalam tempat tidur, hingga membuat kaum Quraisy tertipu akan keberadaan Rasulullah. Kita juga mengenal seorang Khalid bin Walid, pemuda yang terkenal dengan strategi perangnya, hingga membuat islam menjadi pemenang dalam beberapa peperangan. Ada pula Mushaib bin Umair, seorang duta atau utusan Rasulullah, dalam usianya yang masih muda, ia sudah ditugaskan menyebarkan islam pada kaum Anshar.
Pemuda-pemuda tersebut adalah patriot dalam perjuangan islam. Teladan yang baik bagi pemuda-pemuda masa kini, yang sering dikenal dengan “generasi penunduk”.
Di era globalisasi, umat manusia diberkahi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang super canggih. Banyak penemuan-penemuan penting yang berhasil ditemukan untuk melayani dan memudahkan kelangsungan hidup umat manusia, seperti dalam bidang transportasi, kedokteran, militer, system informasi dan komunikasi.
Penemuan-penemuan tersebut seringkali digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Masih sedikit umat muslim yang memanfaatkan penemuan tersebut untuk kepentingan dakwah. Kita mungkin mengenal program One Day One Juz (ODOJ). Salah satu program yang memanfaatkan gadget untuk kepentingan dakwah.
Inilah tugas pemuda di era globalisasi. Bagaimana mengembangkan jalan dakwah dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi. Bukan malah menjadi generasi penunduk yang hanya bisa menunduk mempelototi layar gadgetnya di setiap waktu.
Selain itu, pemuda islam juga harus menguasai dunia media. Siapa yang menguasai media, dialah yang menguasai dunia. Ungkapan tersebut memang benar adanya. Di era kebebasan pers ini, semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya, bebas mendirikan organisasi. Media adalah salah satu cara efektif dan efisien dalam memberikan informasi secara cepat dan tepat. Syiar lewat media adalah sebuah tuntutan sekaligus kebutuhan di era ini. Tentu saja banyak tantangannya. Salah satu tantangan terbesarnya ialah media-media lainnya. Oleh karena itu syiar lewat media harus kreatif, inovatif dan tidak membosankan. Media nya pun tidak boleh hanya sebatas media cetak saja, tapi juga mulai menjangkau media elektronik dan media online.
Namun, pada akhirnya strategi-strategi dakwah diatas takkan ada artinya kalo tidak ada persatuan dan kesatuan dalam muslim itu sendiri. Ibarat sebuah rumah, persatuan dan kesatuan adalah pondasi utama dalam berdakwah. Kecerdasan dan kepintaran adalah atap yang akan selalu memayungi,

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day8
Read More

Saturday, 27 January 2018

Bangsa yang (Belum) Merdeka




Meski sudah merdeka, banyak pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Indonesia masih terjajah oleh bangsa asing dan bangsanya sendiri. Banyak Bangsa asing yang berinvestasi di Indonesia dan berhasil meraup keuntungan yang besar serta  mengeruk kekayaan alam Indonesia dalam jumlah yang besar yang dibeli dengan harga relatif murah. Selain itu Indonesia juga tertindas oleh rakyatnya sendiri berkaca pada kasus kasus pidana yang marak terjadi. Korupsi misalnya, yang tak henti-hentinya menggerogoti bangsa ini. Namun, ada 4 permasalahan yang saat ini menjadi pekerjaan rumah (PR)  besar Indonesia untuk memerdekaan negerinya.

Yang pertama adalah output pendidikan. Kita tak bisa memungkiri bahwa pemimpin-pemimpin di bangsa ini merupakan kaum terdidik. Mereka adalah hasil dari pendidikan. Akan tetapi dewasa ini banyak kaum terdidik yang terjerembab kedalam dunia hitam karena terpedaya oleh uang dan jabatan. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan belum sepenuhnya optimal dalam menghasilkan putera-puteri terbaik bangsa, karena sejatinya esensi dari suatu pendidikan adalah menghasilkan seseorang yang tidak hanya terdidik dalam kecerdasan otak saja, tetapi dalam kecerdasan moralitas juga.

Permasalahan yang kedua ialah masih rendahnya nasionalisme dalam pribadi bangsa Indonesia. Nasionalisme sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena nasionalisme bisa diibaratkan seperti oase dalam padang pasir dan cahaya dalam kegelapan. Inilah yang akan membangkitkan dan mengembangkan kita. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sering terjadi membuktikan bahwa nasionalisme belum benar-benara dimiliki rakyat Indonesia.

Yang ketiga adalah Kebijakan yang belum representatif. Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh suatu kebijakan impor disaat mendekati waktu panen petani. Kebijakan ini diusulkan untuk mencegah melambungnya harga di pasaran. Akan tetapi kebijakan ini tidaklah logis, karena dilihat dari segi urgensi, mengimpor bukanlah solusi yang paling tepat. Apakah menjaga harga di pasaran hanya dapat dilakukan dengan cara mengimpor? Bagaimana dengan petani-petani yang sudah mulai menyiapkan hasil panennya. Bukannya justru malah membuat harga jual tani akan semakin rendah?  Selain itu masih banyak kebijakan-kebijakan lain yang belum representatif seperti, kurikulum pendidikan yang berubah ubah, pembagian hasil perusahaan asing dengan Indonesia yang seringkali justru merugikan Indonesia, kenaikan harga bahan pokok dan lain lain

Dan yang terakhir adalah lemahnya hukum di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Lemahnya hukum di Indonesia, semakin membuat banyak orang untuk melakukan tindak pidana. Mereka seakan tidak pernah jera dengan hukuman-hukuman yang telah diberikan. Korupsi, kolusi dan nepotisme pun kini menjadi “hobi” baru bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya. Mafia hukum, mafia politik maupun mafia ekonomi semakin banyak bermunculan, membuat semakin terlecehkannya hukum di Indonesia. Indonesia pun dijajah oleh bangsanya sendiri.

Sudah selayaknya Indonesia mulai  berbenah diri dari cengkraman penjajahan oleh negerinya sendiri maupun bangsa asing. Singapura yang “baru” berusia 50 tahun kemerdekaan saja sudah bisa memakmurkan bangsanya, bahkan kini sudah menjadi Negara yang diperhitungkan di kancah Internasional. Empat permasalahan diatas, bukanlah hal yang sulit diatasi, apabila Indonesia benar-benar ingin serius memerdekakan bangsanya. Karena yangdibutuhkan “hanyalah” sosok-sosok pemimpin yang cerdas, amanah, profesional dan berintegritasi dalam memimpin segala aspek dan posisi  yang ada di negeri ini.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day6

Read More

Wednesday, 24 January 2018

Kontemplasi Sektor Pertanian Indonesia



Indonesia merupakan negara yang dianugerahi dengan kekayaaan alam yang melimpah. Negara maritim, jambrud khatulistiwa, negara agraris, itulah beberapa sebutan yang merajuk kepada “megahnya” alam di Indonesia. Salah satu potensi alam yang menunjukkan kemilaunya yang paling terang adalah komoditas pertanian. Tak bisa dipungkiri lagi, sektor pertanian di Indonesia sering dinyatakan sebagai ibu dari perekonomian bangsa. Dikatakan demikian karena pertanian memiliki segudang potensi maha dahyat yang dapat mendorong laju pertumbuhan perekonomian bangsa secara pesat. Ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang apik, curah hujan yang baik dan matahari yang bersinar sepanjang waktu karena letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat banyak tanaman dapat tumbuh dengan subur. Jika “keunggulan”  itu dapat dimaksimalkan dengan baik, maka tidak ada lagi alasan untuk kalah bersaing maupun tertinggal dari negara lain.
Indonesia tidak seharusnya berbangga dengan status dirinya sebagai sebuah negara agraris terbesar di dunia. Jangan lupakan, bahwa Indonesia juga merupakan negara pengimpor pangan nomor dua di dunia. Ini merupakan sesuatu yang miris. Bagaimana mungkin negara agraris terbesar di dunia justru menjadi negara pengimpor pangan nomor dua di dunia? Belum lagi dengan persoalan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian yang masih kalah saing dengan negara lain. Indonesia masih menjadi pelanggan setia komoditas tani asing untuk sekedar menambal dan mencukupi kekurangan stok yang kerap terjadi. Acapkali pejabat-pejabat negara juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang lebih berorientasi kepada keuntungan dirinya maupun golongannya dibandingkan kebijakan yang pro-petani. Apakah hal-hal semacam ini pantas untuk didiamkan saja? Inilah ajang pembelajaran dan tantangan tersendiri bagi sektor pertanian Indonesia yang selalu diharapakan menjadi ibu dari perekonomian bangsa.
Kita tidak bisa menjudge begitu saja bahwa pertanian di Indonesia sedang berada dalam kondisi yang kritis. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa pertanian di Indonesia juga sedang dalam kondisi yang makmur. Posisi kita masih di tengah-tengah. Tentu saja posisi ini menimbulkan dilematis tersendiri. Di satu sisi kita harus mempertahankan kestabilitasan komoditas tani dari pemerosotan. Namun, di sisi lain pertanian di Indonesia juga harus meningkatkan eksistensinya demi persaingan dengan negara-negara lain. Artinya, sektor pertanian memiliki dua pekerjaan penting yang harus diemban secara bersama-sama. Berat memang. Tapi bukanlah hal yang mustahil. Jangan lupakan, sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah mencapai swasembada pangan di zaman orde baru.
Ada beberapa permasalahan serius sektor pertanian yang menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia. Yang pertama adalah masalah kesejahteraan petani. Banyak petani yang mengeluh akan rendahnya gaji yang ia dapat sebagai petani. Ditambah dengan derasnya terjangan arus globalisasi, yang membuat maraknya urbanisasi, semakin membuat pekerjaan tani ditinggalkan. Banyak yang lebih memilih untuk bekerja di kota (dengan penawaran gaji yang tinggi) daripada mengayuh peluh akibat teriknya panas ketika bertani. Kurangnya tenaga sumber daya manusia inilah yang kerap membuat hasil tani Indonesia stagnan begitu-begitu saja. Kalah dalam segi kuantitas dan kualitas sekaligus. Permasalahan yang kedua adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Di era modernisasi saat ini, penguasaan teknologi merupakan sebuah tuntutan sekaligus kebutuhan yang harus dipenuhi untuk suatu penunjangan. Akibatnya, mau tidak mau, hukum rimba akan kembali berlaku. Siapa yang menguasi teknologi, dialah yang akan berkuasa. Penguasaan IPTEK sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kesuksesan perekonomiannya. Sayangnya, pengimplementasian IPTEK di Indonesia terutama dalam sektor pertanian masih sangat rendah dan tertinggal dari negara adidaya lainnya. Di saat negara lain sudah bisa menemukan bibit unggul super yang efektif dan efisien, kita masih berupaya menciptakan sekedar bibit unggul.
Permasalahan yang ketiga adalah infrastruktur. Beberapa hari yang lalu, pernah ditemukan suatu kasus dimana harga buah lokal jauh lebih mahal dibanding buah impor. Kejadian mahalnya buah lokal ini disebabkan karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mendistribusikan buah tersebut dari perkebunan ke toko. Kesulitan dalam pendistribusian seringkali disebabkan oleh minimnya infrastruktur. Oleh karena itu, harga produk bisa naik jadi beberapa kali lipat. Inilah kondisi yang sering terjadi di Indonesia. Kita masih belum siap seratus persen dalam infrastruktur yang mana sangat penting untuk kelancaran perekonomian suatu bangsa.
Permasalahan diatas tentu saja dapat menghambat kesiapan sektor pertanian dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA). Berdasarkan data BPS 2014, sektor perdagangan Indonesia untuk ASEAN mengalami defisit sebesar 5,6 Milyar dolar AS sepanjang Januari-November 2013. Jika angka ini tidak bisa diatasi, maka Indonesia akan menjadi pasar produk bagi negara-negara ASEAN. Sebuah fakta juga menunjukkan bahwa hampir semua produk pertanian kita kalah bersaing di pasar global. Apakah ini bukti bahwa Indonesia belum siap dalam menghadapi AFTA?
Demi menghadapi persaingan AFTA, Indonesia harus berani memajukan sektor pertaniannya dengan menyelesaikan permasalahan diatas. Ada berbagai cara untuk mewujudkannya, namun menciptakan brand pertanian yang unggul adalah hal pertama yang wajib dilakukan. Brand pertanian yang unggul sendiri dapat diwujudkan dengan empat cara. Pertama, peningkatan daya saing kualitas dan kuantitas komoditas pertanian. Kedua, ekspansi pasar yang massive dan komprehensif. Ketiga, melindungi kesejahteraan petani dan yang terakhir, merumuskan kebijakan yang tepat untuk pertanian dan komoditasnya.
Keempat langkah tersebut merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia dalam kesiapannya menghadapi AFTA pada sektor pertanian. Dewasa ini, sektor pertanian sudah mulai merasakan dampak dari pasar bebas. Hal ini ditandai dengan menjamurnya produk-produk asing di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat yang lebih tertarik dengan produk asing dibandingkan dengan produk dalam negeri karena merajuk pada alasan kualitas impor lebih baik daripada kualitas lokal. Padahal pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Produk Indonesia kini sudah banyak yang mulai menyaingi kualitas asing, namun akibat  masih kurangnya promosi dan ekspansi, produk tersebut menjadi kalah populer dengan produk asing. Oleh karena itu, ekspansi pasar yang luas bisa menjadi solusi jitu untuk memenangkan persaingan penjualan dalam negeri. Selain itu, pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan petani. Kebijakan yang tepat akan berujung pada kesejahteraan petani. Petani akan merasa terlindungi sehingga berdampak pada produktivitas kerja dan kualitas maupun kuantitas komoditas pertanian mereka. Hal ini pun akan menjamin peningkatan ekonomi dalam sektor pertanian.
Pertanian sebagai potensi penting dalam pembangunan bangsa diharapkan mampu menunjukan kesiapannya sebagai ibu dari perekonomian bangsa dalam menyongsong AFTA. Tidak hanya sektor pertanian, tapi juga sektor-sektor lainnya yang harus berjalan bersama dengan harmonis demi mencapai impian bersama. Sudah semestinya kita terus mendukung dan berkontribusi aktif dalam mewujudkan perekonomian yang positif dan siap dalam menghadapi AFTA. Tidak ada lagi keraguan atau sifat pesimistik. Apakah hal ini akan menjadi fakta atau fatamorgana saja? Hanya kita yang mampu menjawabnya.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day3


Read More

Thursday, 28 February 2013

Kepemimpinan dalam Sebuah Konsepsi (Part 1)



Beberapa hari yang lalu, Jawa Barat merayakan pesta demokrasi untuk menentukan Pemimpin baru selama 5 tahun kedepan. Ada yang unik di pesta demokrasi edisi kali ini, yaitu dengan diwarnainya calon calon pemimpin dari kalangan selebriti. Siapa yang menyangka si oneng yang dulu terkenal dengan “keonengannya” maju mencalonkan menjadi pemimpin. Siapa juga yang akan menyangka si actor laga  ingin terus menjadi pemimpin, dan siapa pun tak akan menyangka, actor favorit saya, sang nagabonar pun ingin menjadi pemimpin. Sebenarnya apa sih pemimpin itu? Kenapa banyak orang yang berburu jabatan pemimpin? Dan kenapa harus menjadi pemimpin?

Melihat fenomena diatas (saat ini), model kepemimpinan di Indonesia seringkali hanya mengandalkan pencitraan, kesantunan dan popularitas. Jauh sebelum pemilihan dilakukan, oknum oknum yang berkepentingan hampir selalu mencitrakan “orang-orang” nya ke publik, mempertontonkan kesantunan organisasinya di muka umum dan mengandalkan orang-orang populer (artis) untuk meraup banyak suara. Apakah hal diatas salah? Tentu saja tidak. Hal-hal tersebut adalah bagian dari strategi politik. Fenomena model kepemimpinan ini pun jadi berkembang dan menjamur karena akibat dari dampak sistemik suatu strategi politik yang kerap dilakukan oleh actor actor perpolitikan. Fenomena tersebut bukanlah merupakan suatu degradasi kepemimpinan, tapi fenomena ini mungkin lebih baik dikatakan sebagai warna dari suatu kepemimpinan..

Setiap pemimpin pasti punya tujuannya masing-masing. Seseorang tidak akan mau jadi pemimpin jika dia tidak punya tujuan apa-apa. Kalaupun memang seseorang pemimpin tersebut tidak punya tujuan, biasanya oknum yang mencalonkan pemimpin tersebut lah yang mempunyai tujuan. Oknum tersebut bisa berupa keluarganya, sahabatnya, organisasinya, sukunya ataupun negaranya. Kenapa untuk mencapai tujuan tersebut kita harus jadi pemimpin? Bukannya dengan jadi “rakyat biasa” juga bisa mencapai tujuan tersebut? Tentu saja jawabannya bisa. Tapi kalo dilogika-kan akan begini hasilnya, “kalo rakyat biasa saja bisa memenuhi tujuannya, berarti seorang pemimpin akan jauh lebih bisa, jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat untuk memenuhinya, karena sederhananya Pemimpin adalah pemegang kekuasaan tertinggi di tempat yang dipimpinnya. Lalu saat konteks ini dikaitkan dengan pertanyaan, kenapa banyak orang berburu jabatan pemimpin, bisa kita simpulkan jawabannya adalah, agar tujuan orang atau oknum tersebut bisa tercapai dengan sukses. Intinya, kepemimpinan sangat berkaitan dengan suatu tujuan.

Kalau berbicara soal tujuan, sebagian besar pemimpin rata-rata mempunyai tujuan sebagai berikut. Pertama, revolusi atau perubahan, yang pasti (menurutnya) perubahan kearah yang lebih baik. Tujuan ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan sebelumnya. Tujuan inilah yang paling diminati calon calon pemimpin. Kedua, sustainability (keberlanjutan), Tujuan ini lebih mengedepankan kepada keberlanjutan, baik keberlanjutan dalam hal pemimpin, organisasi, system kepemimpinan ataupun program-program kepempimpinannya. Yang ketiga ada ekspedisi. Dalam tujuan ekspedisi, pemimpin lebih mengutamakan kepada bagaimana dia atau organisasinya menjadi “terpandang”.

Salah satu indicator dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat mimpi menjadi kenyataan. Dikatakan sebagai kemampuan adalah karena kepemimpinan merupakan pembelajaran berkelanjutan. Tahap pertama dalam kepemimpinan adalah bagaiman ia bisa memimpin dirinya sendiri (self leadership). Setelah lulus pada tahap ini, maka ia akan dihadapkan ke tahap kedua yaitu bagaimana ia bisa mengabdi kepada masyarakatnya (society leadership) dan setelah lulus pada tahap ini dia akan kembali melanjutkan ke tahap terkahir, tahap yang sangat sukar untuk dilalui, yaitu tahapan dimana ia mengabdi kepada Tuhan (Spritual Leadership). Setiap pemimpin pasti akan menjalani ketiga tahapan diatas dan seringkali pemimpin pemimpin tersebut gagal melewatinya. Hanya orang-orang yang terus belajarlah yang mampu melewati ketiga tahap tersebut. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa, Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau belajar. Jadi bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu pembelajaran.

To be continued..


Read More

Thursday, 1 November 2012

Akankah Kejayaan itu Bisa Kembali?




Mahasiswa takut sama dosen
Dosen takut sama dekan
Dekan takut sama rektor
Rektor takut sama menteri
Menteri takut sama presiden
Presiden takut sama mahasiswa

Cuplikan puisi diatas cukup menggambarkan bagaimana hebatnya kredibilitas suatu mahasiswa.  Jumlahnya bisa dikatakan sedikit, namun dinamika maupun sejarah sejarah bangsa ini tak lepas dari peran mahasiswa di dalamnya. Meski zaman terus berganti, generasi terus bermetamorfosis, roda pemerintahan terus berputar dan kepemimpinan berubah rubah sesuai pemimpinnya namun karakter mahasiswa tetap tidak berubah hingga sekarang, yakni semangat juang dan idealismenya. Semangat juang untuk melakukan perubahan perubahan atas kesemrawutan maupun ketidakadilan yang terjadi dan idealis serta kritis dalam hal pemikiran pemikirannya.

Mahasiswa juga mempunyai gelar sebagai agent of change, agent of social control maupun iron block. Mahasiswa merupakan bagian rakyat. Rakyat itu sendiri. Dan pihak yang menjadi tumpuan rakyat. Yang akan menjadi harapan rakyat pula untuk mengharumkan bangsa dan negeri kita tercinta ini. oleh karena itu gerakan dan perjuangan mahasiswa seringkali dikatakan sebagai pilar demokrasi yang kelima.

Namun seiring berputarnya waktu, peran mahasiswa kini mulai kalah dengan partai politik. Dengan pola kaderisasinya yang menyeluruh dan koalisinya dengan penguasa negeri ini , partai politik kini sudah hampir bisa menggeser peran mahasiswa dalam pergerakan menyangkut persoalan persoalan di negeri ini. ditambah kader kader dari parpol itu sendiri adalah mahasiswa atau alumni mahasiswa itu sendiri, maka semangat dan idealisme mahasiswa bisa luntur semakin hari, karena kader parpol itu akan terus “manggut” terhadap atasannya.

Hal ini lah yang membuat mahasiswa bagaikan kehilangan taji di dalam percaturan pemerintahan, ditambah dengan aksi aksi mahasiwa yang kini sering  diwarnai dengan anarkis dan “ke kiri-kirian”.  Bisa dilihat dari aksi menolak kenaikan BBM pada april lalu yang memakan korban dan berakhir dengan ricuh. Revolusi yang dilakukan mahasiswa tersebut seperti kaum yang tidak mempunyai intelektualitas dan nilai nilai akademis. Justru gerakan kemarin lebih seperti gerakan golongan “kiri” yang biasanya “rusuh”. Justru mahasiswa yang tergabung dalam parpol yang sebagaimana kita ketahui sebagai golongan “kanan” tak terdengar taringnya. Kemanakah mereka? Apa yang terjadi?

Harusnya problem kenaikan BBM tersebut bisa menjadi jurus jitu untuk mengembalikan kejayaan mahasiswa, namun kenyataannya, provokasi maupun perang perang pemikiran yang ada justru membuat mahasiswa menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induk. Tak tau harus kemana. bergerak tanpa pemikiran panjang. Dan beginilah hasilnya. Bahkan saya pernah mendengar tukang angkot berkata “ah mahasiswa kerjaannya Cuma bikin rusuh, gag ada artinya”. Cukup miris dan sakit hati saya mendengarnya. Saya yang berposisi sebagai mahasiswa ini.

Harapannya, mahasiswa kembali menemukan arah dan jalannya kembali. Kembali menjadi agen agen perubahan, agen pengontrol sosial dan kembali menemukan kejayaannya kembali. Aku percaya harapan itu bisa tercapai. Karena harapan itu masih ada !

Hidup mahasiswa !

Hidup rakyat indonesia !

Read More

Monday, 22 October 2012

Indonesia, Negeri Para Pelawak



Indonesia, Negeri Para Pelawak

Sejak dulu Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alam nya, keberagaman kebudayaannya, keramahan penduduknya, dll.  Mungkin nanti Indonesia akan dapat satu kepopuleran lagi, yaitu terkenal akan pelawak pelawak nya. Ah bukan mungkin lagi sepertinya, tapi sepertinya memang sudah mendapatkannya. Dan, Untuk beberapa waktu ke depan Indonesia tak perlu khawatir akan regenerasi pelawak pelawaknya, karena ternyata banyak orang orang yang berpotensi dan tinggal tunggu waktu aja sebelum “bakat” itu terungkap. Sudah ada beberapa pelawak pelawak baru yang terungkap jejaknya dan ini mungkin bisa membahayakan posisi sule cs sebagai pelawak terlucu dan terpopuler. Lucunya para pelawak ini tidak mengisi acara acara lawak yang sering ada di televise ataupun standup comedy yang sekarang lagi ngetren. Pelawak pelawak ini justru  lebih sering melawak di belakang panggung. Mau tau siapa pelawak pelawak baru ini? Silakan cek dibawah ini

1. Kasus korupsi bailout Bank Century
2. Suap cek pelawat pemilihan Deputi Senior BI
3. Kasus Nazaruddin sepeti wisma atlet dan hambalang
4. Kasus mafia pajak yang berkaitan dengan Gayus Tambunan dan jejaring mafia yang lain
5. Rekening gendut jenderal Polri
6. Suap program Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Kemenakertrans
7. Korupsi hibah kereta api di Kemenhub
8. Korupsi pengadan solar home system (SHS) di Kementerian ESDM
9. Korupsi sektor kehutanan khususnya di Pelalawan Riau
10. Kasus mafia anggaran berdasar laporan Wa Ode Nurhayati
11. Kasus korupsi sektor migas dan tambang yang melibatkan Freeport Newmont dan Innospec 12. Korupsi penyelenggran ibadah haji yang melibatkan Kemenag
13. Korupsi dana bansos di Banten

Memang ada yang sudah terungkap dan ada pula yang belum terungkap, tapi sepertinya tinggal tunggu tanggal mainnya saja sebelum mereka mereka itu menampakkan dirinya, seperti yang saat ini sedang heboh heboh nya yaitu pelawak wanita teranyar yaitu “malinda Dee”.

Di tulisan ini, saya tidak akan menyoroti hal itu lebih jauh atau jauh lebih dalam, karena saya yang masih mahasiswa semester 3 ini belum terlalu banyak tau tentang kasus kasus lawakan di luar batas itu. Jadi saya lebih akan menyoroti ke bagian analisisnya saja.
Apa yang membuat mereka seperti itu? Siapa yang membuat mereka melakukan itu? Kapan mereka melakukannya? Dimana mereka melakukannya? Kenapa mereka melakukan hal itu dan bagaimana caranya?

Itulah pertanyaan pertanyaan mendasar yang mungkin dipikrkan orang saat tau kasus mereka. Kalau ditelisik lebih jauh, penyebab lahirnya pelawak pelawak ini mungkin karena system yang salah. Sebelumnya ku paparkan beberapa definisi system dari beberapa ahli.

Menurut LUDWIG VON BARTALANFY 
Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.

Menurut ANATOL RAPOROT Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.

Menurut L. ACKOF
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

Kenapa system?

Karena system lah yang mengatur, mengaitkan, dan menghubungkan suatu kumpulan perangkat satu sama lain. Kalau ada satu perangkat yang lepas atau putus maka akan rusaklah system itu. Contohnya system pada computer. Seperti yang kita tau computer memiliki tiga system yaitu, hardware, software dan brainware. Kalau satu perangkat dari hardware ada yang rusak maka akan mempengaruhi kinerja brainware, karena software dalam hardware itu menjadi  tak berfungsi. Kalau software tersebut rusak maka hardware dan brainware tak akan bisa bekerja sebelum software itu benar kembali. Dan kalo brainware nya yang rusak, siapa yang akan mengoperasikan hardware dan software itu? Itulah salah satu alasan pentingnya system, tapi menghukum orang salah karena system yang salah bisa dibilang tidak adil. Kenapa? Karena system dikatakan salah saat siapapun yang masuk ke dalam lingkaran itu akan menjadi bertingkah atau berperilaku serupa. Orang yang semula baik, jujur, membenci korupsi, tapi saat menjabat posisi itu, ternyata juga melakukan hal yan sama dengan pendahulunya maka bisa disebut bahwa tindakan itu adalah akibat dari system. Maka solusi yang terbaik adalah dengan merubah sisitem itu agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.

Memang apapun sistem yang berjalan,  dan juga budaya apapun yang sedang berkembang, seorang pemimpin  harus menjaga amanah sebaik-baiknya. Amanah adalah kunci keselamatan dan akan menjadi tangga untuk mendapatkan tahta derjad taqwa. Hanya saja memang hidup di dunia ini yang paling berat adalah menjaga amanah. Banyak pemimpin, birokrat, tokoh politik, pengusaha, pendidik, dan apa saja lagi lainnya, merasa sanggup menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Akan tetapi tanggung jawab  itu  ternyata  tidak selalu berhasil dijalankan, karena kurang amanah.

Ngomong ngomong soal system, saya ingin sedikit bercerita tentang system pemilihan peminatan yang ada di kampusku. Proses pemilihan peminatan pada thun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu diambil dari nilai mata kuliah peminatan yang akan dipilih, tapi kalu sekarang dengan cara yang amat sangat lucu dan membuat tertawa, yaitu dengan cara “dulu duluan” mendaftar. Setiap peminatan sendiri masing masing berisi 35 kuota kecuali 2 peminatan yang memiliki kuota melebihi 35. Lucunya system “dulu duluan” menggantungkan nasibnya dengan koneksi internet. Sama halnya dengan zaman jahiliyah, tapi menjadi, siapa yang koneksi internetnya paling kuat dia akan berhasil memilih peminatan yang dia ingini dan siapa yang koneksi internetnya paling lambat, dia harus terima apapun pilihannya meskipun dia tidak menginginkan pilihan itu.

Praktis, system ini mengundang banyak protes dari mahasiswanya. Jelas saja, logikanya, buat apa belajar serius selama ini untuk peminatan itu kalau sistem untuk menggapainya ditentukan oleh suatu koneksi internet dan ''dulu duluan'', yg ada adalah justru membatasi mimpi2 mahasiswa, mengubur semua impian mereka, jika mereka tidak mendapat peminatan sesuai dgn keinginan dan bakat mereka. Sistem ini juga memungkinkan ah bukan, tapi memang pasti menciptakan suatu ketidakadilan, apalagi kalau ada mahasiswa berprestasi yang tidak mendapat peminatan yang ia pilih padahal nilai nilainya sungguh mengagumkan..

Dimana logika dan nurani kalian..

Memang, selalu ada yg salah dengan negeri ini.. Semoga Allah menghapus sistem sistem ''Penzaliman'' seperti ini kedepannya, dan mahasiswa yg ''salah masuk kamar'' diberi ketabahan dan kekuatan..

Ah tidak terasa, dari pelawak menjadi peminatan, ini membuktikan kalau tulisan saya ini sudah harus diakhiri..
Read More