Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Kesaksian Bocah di Depan Rumahnya




Waktu mengenyam pendidikan SD, aku punya tetangga yang penuh dengan misteri di dalamnya. Kebetulan, rumahnya tepat berada di depan rumahku. Disana tinggal seorang nenek-nenek yang sudah renta, mulai pikun dan agak sulit untuk berjalan. Sang nenek biasa dipanggil uak. Konon katanya, Uak sudah tinggal di lingkungan ini sejak kecil dulu. Makanya diantara warga sekitar, mungkin hanya segelintir orang saja yang tau nama asli uak. Di rumah tersebut, Uak tinggal bersama anak laki-lakinya yang sudah berkeluarga dan dua orang cucunya. Rumah uak tidak terlalu besar, namun memiliki dua pintu. Pintu utama dan pintu belakang. Pintu belakang uak berbatasan langsung dengan jalan. Namun antara jalan dengan pintu belakang terdapat sedikit teras berukuran 1 x 1 m.

Kesehariannya, uak menghabiskan waktu dengan duduk di teras tersebut mulai dari pagi hingga petang. Hanya ketika hujan turun, waktu sholat dan malam hari saja uak tidak berada di teras favoritnya itu. Aku sering memperhatikan uak selepas pulang sekolah. Letak teras uak yang berada tepat di depan rumahku itu tentu membuat aku mau tidak mau untuk memperhatikannya. Dari sebagian hal yang sering kuperhatikan, ada beberapa hal yang susah untuk ku mengerti.

Uak suka mencari sendiri kutu di rambutnya yang panjang dan bewarna putih itu. Entah kenapa ia sangat terampil dalam menemukan kutu-kutu di rambutnya. Hanya dengan modal mengusap-usap rambut, ia berhasil mendapatkan kutu atau telur kutu yang membuat gatal kepalanya. Anehnya, setiap kutu yang ia dapatkan selalu ia makan bulat-bulat.

Selain itu, uak juga suka ngobrol. Mau ada yang mengajak ia mengobrol atau tidak, uak pasti akan tetap ngobrol. Jika ada orang yang memulai pembicaraan dengan uak maka uak pasti akan menanggapi terus, perihal pembicaraan sudah selesai atau belum, uak tidak peduli, ia akan membahasnya terus menerus. Seringkali orang meninggalkan pembicaraan begitu saja, karena capek menanggapi uak yang berbicara tanpa henti itu. Makanya jarang ada orang yang mau berinteraksi dengan uak, termasuk anak dan cucunya sendiri.

Yang makin membuat aku bingung adalah, uak seringkali mengobrol sendiri. Bila kuperhatikan saat itu, uak layaknya seperti mengobrol dengan seseorang, padahal tidak ada seorang pun disana. Topik pembicaraannya pun tidak pernah jelas. Kadang membahas si deden, kadang membahas kampungnya, kadang pun marah-marah sendiri. Seringkali aku terheran-heran saat melihat uak sedang marah-marah sendiri, karena ia terlihat sedang memarahi orang tapi tidak ada seorang pun disana.

 “Uak lagi ngobrol sama siapa sih?” kataku dalam hati

Banyak anak kecil seumuranku yang gemar mengusili uak. Biasanya sih sekedar meledek uak. Terkadang ada juga yang iseng melempar sesuatu ke uak. Jika sudah begitu uak pasti bakal marah-marah dan mengusir anak-anak itu dengan gaya seolah ingin melempar sandalnya. Tapi, semarah-marahnya uak, uak tidak pernah sampai benar-benar melempar sendalnya.

Bila uak sudah seperti itu, ada anak-anak yang langsung melarikan diri, ada juga anak-anak yang lanjut mengusuli uak. Alasannya nya simpel, biar uak semakin tambah marah. Kalau uak semakin marah, anak-anak pasti langsung mentertawakannya, karena kemarahan uak ditandai dengan ia ngedumel sendiri sambil ngoceh dengan nada amarah yang keras. Ocehan inilah yang bikin anak-anak makin tertawa.

Pernah suatu hari, aku terbangun dari tidur gara-gara ocehannya uak ini. Biasanya, kalo uak sudah ngoceh-ngoceh begini, aku bakal langsung keluar rumah untuk melihat hal apa dan siapa kali ini yang bikin uak kesal. Cuma kali ini aku tidak bisa dan tidak mau. Aku malah ingin sekali melanjutkan tidurku. Tapi tetep aja ocehan uak yang keras itu benar-benar sangat mengganggu. Uak marah-marah terus. Ocehannya kali ini benar-benar seperti orang yang sedang marah besar. Aku sungguh kesal dengan orang yang mengganggu uak kali ini. Benar-benar kesal. Soalnya membuatku terjaga dan tak bisa terlelap lagi. Bahkan aku sampai keluar kamar, untuk mengecek apakah ada anggota keluarga ku yang terbangun juga. Tapi sayangnya tidak ada. Kulihat mereka masih terlelap dengan anggunnya, seperti tidak terganggu dengan ocehan uak yang memekikkan telinga ini. Aneh. Sepertinya hanya aku saja yang mendengar ocehan uak ini. 

Tapi, Memang ada yang aneh sih dengan ocehan uak kali ini.

Biasanya ocehan uak terdengar dari depan rumah ku. Tapi kali ini malah terdengar dari belakang rumah ku, yang mana belakang rumah ku adalah kebon kosong dan pinggir sungai.

Anehnya lagi, saat ini tengah malem lho.

Dan satu hal lagi, mengapa aku ingin segera terlelap tidur lagi saat itu.

Ya soalnya…

Uak sudah meninggal dunia seminggu yang lalu..

Share:

Disini Ada Setan (Bagian Dua)



Aku terbangun tiba-tiba. Ku rogoh sekeliling kasur untuk mencari kacamataku. Begitu kutemukan, segera kupakai kaca ajaib itu. Kenapa ku sebut ajaib, karena kaca ini mampu memperjelas penglihatanku dan memburamkan penglihatan orang lain ketika memakainya. Belum sempurna terpasang di wajah, Ku cek jam di handhone ku. Sial masih jam 01.33 ternyata. Lagi lagi penyakit lama ku kumat. Penyakit tidak bisa tidur nyenyak jika bermalam disuatu tempat untuk pertama kalinya. Ku coba mengingat-ingat apa yang membuatku terbangun barusan. Sepertinya karena mimpi. Ya mimpi. Aku bermimpi sedang berada di suatu tempat. Aku tidak ingat dimana persisnya. Tapi aku yakin belum pernah di tempat itu. Lokasinya berada di tempat tinggi. Di dalam mimpi itu aku seperti sedang dihinggapi bahaya. Lalu, Aku berlari untuk menghindarinya. Ketika berlari, aku terpeleset, kaget dan…. Bruk.

Terbangunlah aku.

Setelah diskusi dengan bu kades sore tadi, akhirnya aku menempati kamar mbah haryo. Kamar ini cukup besar. Berbentuk persegi dengan panjang tiap sisinya sekitar empat meter. Ada dua ranjang di kamar ini. Satu ranjang yang cukup besar untuk dua orang, dengan ukiran kayu khas di mukanya. Khas seperti ranjang jaman dahulu. Lalu ada satu ranjang untuk satu orang tepat di depan ranjang pertama. Sama halnya dengan ranjang pertama, ranjang kedua juga memiliki ukiran kayu dimukanya. Ukiran-ukiran di ranjang tersebut mengingatkanku akan pintu ruang kepala sekolah ku. Meskipun tidak sama persis, namun mereka memiliki guratan yang sama.

Kamar ini agak berbau apek dan lembab. Ada debu dibeberapa permukaan benda yang masih tersisa. Sepertinya, debu di area ini luput dari penglihatan yayuk dan bu kades ketika membersihkan kamar ini sore tadi. Terlihat jelas, bahwa kamar ini sudah lama tidak digunakan. Cahaya bohlam 5 watt bewarna kuning yang menerangi ruangan ini semakin membuatku merasa tidak nyaman.

Aku pandangi sekelilingku. Ada lemari besar berukiran kayu dengan dua pintu. Disampingnya berderet lemari kecil dua pintu juga, lalu ada meja rias jaman dahulu dengan cermin besar didalamnya yang berdempet dengan meja lainnya. Meja yang khusus dibuat untuk tempat guci dan pot bunga berbentuk guci. Baik meja rias maupun meja guci memiliki tiga loker didalamnya.

Aku penasaran dengan isi lemari dan meja-meja tersebut. Besok pagi harus kuperiksa. Siapa tau ada harta karun di dalamnya.

Di dinding kamar juga terpasang beberapa bingkai foto. Ada bingkai foto mbah haryo dan istrinya ketika muda. Foto tersebut sudah termakan usia. Ada bebeapa kerutan di sisi kertas foto dan warna yang pudar di sisi lainnya. Selain itu anehnya, tepat di wajah mbah haryo dan istri dalam foto, justru terlihat buram. Aku tidak mengerti, apakah ini akibat termakan usia atau memang ada sengaja yang memburamkannya. Melihat foto tanpa wajah tersebut membuat bulu kudukku meremang tiba-tiba.

Tapi mataku terfokus pada satu bingkai foto besar yang posisinya dipajang tepat di dihadapan muka ku ketika aku berbaring secara telentang. Foto besar itu adalah foto presiden pertama kita. Ir. Soekarno. Aku penasaran kenapa foto beliau dipajang disini dan dengan ukuran besar pula.

Malam semakin larut. Aku masih terjaga dalam tidurku. Aku menggerutu dalam hati, kenapa bisa-bisanya terbangun dalam kondisi seperti ini. Mana sendirian pula. Harusnya kuikuti saran dari rika sore tadi. Aku tidur di kamar satu saja bersama mereka, para wanita. Toh tidak tidur satu ranjang ini dan kami tidak akan melakukan hal tidak senonoh juga. Justru dengan tidur bersama akan lebih mudah dalam menjaga satu sama lain di daerah yang terpencil dan asing ini.

Tok tok tok..

Lamunanku terhenti ketika aku sadar ada yang mengetuk pintu kamarku. Sebenarnya aku kurang yakin yang barusan itu adalah bunyi ketukan pintu. Ku tengok ke pintu dan menunggu ketukan selanjutnya. Tapi semenit dua menit, tidak ada lagi ketukan. Ah mungkin hanya lamunanku saja pikirku.

Aku meraih handphone ku. Ku buka facebook. Mungkin dengan bersosmed bisa membunuh waktu dan melelahkan mataku, sehingga bisa membantuku untuk tertidur lagi. Aku tertegun sejenak melihat beranda facebook ku. Ku baca berita duka cita. Kakak angkatanku ada yang meninggal dunia karena sakit. Aku kenal dia. Namanya mbak Nila. Aku pernah satu organisasi dengannya ketika mahasiswa baru. Dia termasuk orang yang baik, ramah dan cerdas. Ku tatap lekat lekat fotonya. Ada penyesalah dalam hatiku kenapa belum sempat menjenguknya dulu.

Tok tok tok..

Ah bunyi ketukan pintu lagi. Kali ini bunyinya cukup keras. Aku benar-benar yakin pintuku ada yang mengetuk. Segera ku beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Tapi langkahku tertahan dengan pikiranku sendiri.

Siapa yang mengetuk pintu tengah malam begini?

Aku kembali ke ranjang dan duduk disisi. Kuperhatikan celah pintu bawah. Jika ada orang yang mengetuk, pasti akan terlihat bayangannya disana. Masalahnya aku tidak melihat apa-apa disana. Tiba-tiba bulu kudukku merinding.

Aku berteriak pelan. “Rika, itu kamu ya?”

Tidak ada jawaban.

“Bu lurah apa yayuk? Ada perlu apa ya malam malam?” tanyaku sekali lagi

Lagi lagi tidak ada jawaban

Aku mengecek handphoneku. Apakah ada pesan atau telepon masuk dari mereka. Hasilnya nihil. Daripada aku terjebak dalam pikiranku sendiri, aku mencoba menelepon Rika. Belum sempat kutekan tombol calling, tiba-tiba pintuku berbunyi kembali.

Tok tok tok…

Aku terkejut hebat. Jantungku berdegup kencang. Bulu kudukku kembali merinding. Lagi lagi kuperiksa celah dibawah pintu. Aku tak menemukan bayangan apa-apa disana. Aku berpikir macam-macam lagi. Jangan-jangan teman-temanku mengerjaiku. Mereka bercanda dengan mengetuk pintu malam-malam dengan maksud menakut-nakutiku. Tapi aku juga tidak percaya, ngapain juga mereka ngerjain orang tengah malam?

Akhirnya kumantapkan hatiku untuk membuka pintu. Aku berjalan perlahan-lahan. Punggungku terasa panas. Jantungku pun masih berdegup kencang. Ku buka pintu pelan pelan, dan ku intip keluar..

Aku tidak melihat apa-apa disana.

Ku buka sedikit lagi, lalu ku lujurkan kepalaku keluar dan menengok sekeliling, aku benar-benar tidak melihat siapa-siapa. Ku tajamkan pandangan ku arah kamar satu dan dua, aku tidak melihat adanya gerak-gerik orang disana. Lalu kupandangi tempat jemuran di depan kamarku, meskipun gelap, tapi aku yakin tidak ada siapa-siapa juga disana. Di tempat jemuran hanya ada layang-layang besar yang terletak disudut bawah jemuran. Layang-layang koang sebutannya.

Anehnya, aku masih merinding saat itu juga..

Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa, segera kututup pintu kamarku. Ku kunci sekalian. Aku segera menuju ranjangku. Dan berdoa agar segera diberi kantuk. Aku ingin cepat-cepat tertidur. Aku ingin cepat-cepat pagi hari tiba. Aku ingin segera keluar dari kondisi menyeramkan ini.

Ku balut tubuhku dengan selimut. Kututup seluruh tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku pejamkan mataku dengan paksa agar segera lekas tertidur. Belum juga jantunngku berdegup normal kembali, lagi-lagi aku mendengar suara ketukan pintu..

Tok tok tok…

Tok tok tok…

Ngiik ngiikk ngiiiik…

Badanku merinding hebat. Punggungku kembali panas. Jantungku berdegup kencang lagi. Tepat setelah ketukan pintu, aku mendengar suara anak ayam di depan pintu kamarku. Suara itu terus berbunyi  bersahut-sahutan. Aku tidak tau apakah pak kades memang memelihara ayam disini, aku juga tidak tau apakah benar ada anak ayam di depan kamarku..

Tapi aku selalu tau, kalo ada bunyi anak ayam tengah malam, itu menandakan bahwa ada kuntilanak disekitar bunyian itu..

Itu tandanya..





Ada kuntilanak didepan kamarku…


to be continued..

Catatan : Jangan bingung ya kalo ada perbedaan gaya penulisan antara cerita bagian satu dan dua. Memang disengaja kok. Kalau bagian satu ditulis dengan gaya penulisan diary, nah bagian dua ditulis dengan gaya penulisan cerpen. Lagi pengen nyari suasana baru aja hehehe

Baca Cerita sebelumnya : Disini Ada Setan (Bagian Satu) 

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #Tantangan2
#Day14


Share:

Disini Ada Setan (Bagian Satu)



Waktu gue Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 2 di Brebes, gue dapet pengalaman yang menyeramkan. Bener-bener serem deh. Keseraman tersebut selalu muncul ketika malam hari tiba. Sebulan gue disana, malam bener-bener menjadi mimpi buruk bagi kita semua. Kisah ini pernah gue ceritain ke temen-temen sekelompok gue waktu itu. Tapi gak semua, ada beberapa yang gue sembunyikan, demi alasan kenyamanan dan menjaga kondisi kelompok agar tetep kondusif selama kita tugas disana.

Sebut aja kami kelompok 7. Ada 10 anggota di kelompok kami termasuk gue. Rian, Ose, Dio, Keni, Anggra, Elva, Intan, Rika dan Rijek. Merekalah temen sekelompok gue selama sebulan lamanya di Brebes, tepatnya di Desa Suna (Nama Samaran)

Adzan maghrib berkumandang ketika kita sampai di Desa Suna. Kepala Desa menyambut kami dengan ramahnya. Selama disana, kami tinggal di rumah kepala desa. Seperti desa-desa di daerah pada umumnya, desa ini sangat sepi ketika malam hari tiba. Tidak ada warga yang beraktivitas di luar. Anak-anak pun tak kelihatan batang hidungnya. Hanya suara burung gagak dan kutilang yang bersahut-sahutan, menandai datangnya malam, sekaligus memberikan kesan dingin pada kami semua.

Rumah kepala desa terdiri dari dua bagian. Bagian Satu adalah rumah inti, rumah kepala desa, bagian dua adalah rumah singgah untuk siapapun tamu yang datang kesana. Kami bersepuluh tinggal di rumah singgah tersebut. Meskipun satu atap, rumah inti dan rumah singgah sebenarnya terpisah. Rumah singgah seperti kontrakan aja. Hanya terdiri dari 3 kamar dan 2 kamar mandi. Yang kesemuanya itu berderet sejajar garis lurus. Antara rumah inti dan rumah singgah terpisahkan oleh dinding rumah inti. Ada satu pintu di dinding tersebut yang menghubungkan jalan menuju rumah singgah. Pintu tersebut juga menghubungkan ke dapur dan tempat jemuran baju.

Waktu kami datang, pihak kepala desa sudah menyiapkan dua kamar di rumah singgah untuk kita bersepuluh lengkap dengan kasur dan bantalnya. Kamar 1 muat 6 orang, kamar 2 muat 4 orang. Ada satu kamar lagi, kamar 3, tapi sudah lama tidak digunakan. Kamar 3 dulunya adalah si mbah. Semenjak beliau berpulang kamar itu sudah tidak berpenghuni lagi.

Ketika datang, kami hanya bersembilan. Rian izin datang keesokkan hari karena ada urusan mendadak. Gue cowok sendiri disana. Delapan lainnya cewek. Makanya ketika pembagian kamar kita agak kesulitan juga dalam membaginya. Delapan cewek tidak mungkin ditempatkan semua di kamar 1. Karena emang gak muat. Akhirnya gue ngalah aja. Gue minta sama bu lurah agar kamar 3 disiapkan. Biar gue yang tidur disana. Ose, Dio, keni di kamar dua dan sisanya di kamar 1.

Bu kades mengernyitkan dahi ketika gue bilang pengen pakai kamar 3. Dia seakan menolak usulan gue ini. Tapi ngelihat kondisi kami yang emang gak memungkinkan akhirnya dia meminta yayuk, asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamar 3.

Selagi gue sama yayuk ngerapihin kamar 3, tiba tiba bu kades ngomong ke gue sambil berbisik,

“Mas arief dulu ini kamarnya mbah, jadi barang-barang disini jangan dipindah-pindah atau diberantakin ya, takut mbahnya marah nanti”

Seketika itu juga bulu kuduk gue merinding !

Punggung gue panas. Ada suara krasak krusuk di telinga gue. Entah suara apa itu. Gue ngelihat ke sekeliling, gak ada apa-apa selain yayuk dan bu kades yang lagi ngerapihin kasur. Tapi gue ngerasa ada mata yang lagi melihat gue. Memperhatikan gue. Di kamar ini. Mata dari yang tak kasat mata. Saat itu pula gue ngelihat yayuk diam diam ngelihat gue, kemudian nunduk, kemudian ngelirik lagi pas ia lagi ngerapihin kasur.  Ekspresinya dingin. Ada sedikit ketakutan yang gue lihat disana.

Dari pandangannya juga gue tau kalo dia bukan ngelihat gue. Tapi ngelihat sesuatu di belakang gue, dimana padahal gak ada siapa-siapa disana..


Bersambung..

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day2
Share:

Hilang



Akhirnya. Musim kawin lewat juga. Emang bener bener deh ya. Pas lebaran kemaren, gue sempet nyinggung di tulisan gue kalo abis lebaran tuh pasti banyak bener yang nikah. Dan kalo gue lihat sebulan ini, emang bener banget sob. Tiap minggu gue dapet undangan. tiap minggu gue kondangan. Sampe jalanan aja tiap sabtu ampe minggu full janur sob didepan gangnya. Ajegilee. Kalo dicek lebih dalem lagi, Gaji abis buat amplop kondangan doang ini mah. Tekor Bandar bos.

Tapi fenomenanya gak cukup sampe disitu. Keriuhan musim kawinnya ternyata sampe juga di dunia maya. Social media gue dipenuhi foto foto orang nikahan. ada yang lagi pose selfie pertama bareng pasangannya setelah sah. Ada yang posting sambil nunjukin buku nikahnya. Temen temen gue yang gak ikut nikah pun pada gak mau kalah. ada yang posting ketika mereka lagi kondangan.  Di postingan-postingan itu unik unik juga ngeliatnya. Kalo yang punya pacar, banyak yang sekalian pada ngode ngode halus pasangannya biar dikawinin juga. Kalo yang lagi pdkt, pada ngode ngode juga biar dipacarin. Yang lagi ldr, ngode ngode pacarnya yang nun jauh juga biar bisa kondangan bareng si kondangan selanjutnya. Bahkan Kaum jomblo pun gak mau kalah. mereka ngode ngode juga. meski gak tau dan gak ada yang dikodein.

Duilee. Nasib nasib.. hidup kok gitu banget sih jombs?

Share:

Misteri Rumah Ibu Sri



 “Hati hati ya mas, kalo tengah malem, dari kamar yang di pojok sana suka ada yang manggil-manggil !”

Itulah kalimat penutup yang gue dengar dari salah seorang warga desa ketika gue bersama kelompok tugas lapangan survey ke desa dimana kita nanti ditempatkan. Sebuah desa kecil bernama Desa Fusa yang berada di pelosok Pekalongan. Tentu saja, kalimat singkat tersebut langsung membuat kami semua bertanya-tanya sekaligus penasaran dengan apa yang ada di dalam homestay itu. Salah satu temen sekelompok gue, Nisa, menambahkan, “gue barusan liat liat ke dalem rumah, tau gak sih, rumahnya banyak hantunyaaaaa” kata Nisa dengan wajah polos.
Ya. Nisa memang spesial. Diantara 11 anggota kelompok kami, Dia lah satu-satunya orang yang memiliki indera keenam. Dia bisa melihat makhlus halus dan sejenisnya dengan mata telanjang.

“Nis, pokoknya selama sebulan ke depan, kamu gak boleh ceritain semua hal serem yang terjadi di rumah ini. Kamu baru boleh cerita setelah tugas kita selesai nanti. Oke?” kata gue.

Gue gak pengen sebulan hidup kami disini nanti dibayangi oleh rasa takut dan parno. Gue juga gak pengen anggota kelompok gue kepikiran hal yang macam-macam. Itulah alasan kenapa gue memilih untuk merahasiakan semua hal ini kepada anggota kelompok yang lain.

Akhirnya tugas lapangan pun dimulai..
Homestay yang kami tempati merupakan rumah yang sudah lama tidak ditempati. Rumah Ibu Sri namanya. Ibu Sri sendiri sekarang tinggal di Jakarta bersama anaknya. Rumah Ibu Sri bisa dibilang sebagai rumah terbesar, terluas dan termegah yang ada di Desa Fusa. Rumahnya adalah satu-satunya rumah bertingkat yang ada di desa. Di lantai dua rumah ibu sri, ada empat kamar tidur, satu kamar mandi dan satu beranda.  Diantara empat kamar tersebut hanya satu kamar yang bisa tempati, sedangkan tiga kamar lainnya sudah tidak layak untuk disebut kamar. Ada satu kamar yang lantainya sudah hancur, ada satu kamar yang tidak bisa dibuka sama sekali dan ada kamar yang cukup luas namun sudah berubah fungsi menjadi sarang wallet. Di kamar terakhir inilah semua kisah seram yang kami alami dimulai.

Share:

Disable Adblock