Showing posts with label K3RS. Show all posts
Showing posts with label K3RS. Show all posts

Cara Membuat PCRA Rumah Sakit




PCRA atau Pre Contructions Risk Assesment merupakan sebuah tools untuk mengidentifikasi dan menilai resiko dari kegiatan kontruksi, renovasi dan demolish di rumah sakit. Saat ini PCRA menjadi trending topic bagi setiap rumah sakit yang sedang melaksanakan proses akreditasi, khusus akreditasi versi SNARS 2018. Bagi yang bekerja di rumah sakit, khususnya yang terlibat dalam akreditasi, apalagi mereka adalah orang PPI atau MFK,  biasanya mereka lebih mengenal dan mengetahui tentang ICRA (infections control risk assesment), yaitu pengendalian infeksi dari kegiatan kontruksi/renovasi. Nah semenjak SNARS 2018 diberlakukan, untuk pengendalian bahaya di area kontruksi/renovasi rumah sakit, harus juga dibuat PCRA. Jadi tidak boleh hanya ICRA saja.

PCRA sendiri tidak jauh beda dengan ICRA atau HIRADC. Ketiganya sama sama untuk menilai resiko. Bedanya, PCRA adalah penilaian resiko khusus untuk di rumah sakit. Nah, berkaca dari hal tersebut, makanya untuk pengisian atau pembuatan PCRA sendiri tidaklah susah. Bila sebelumnya kamu pernah mengikuti pelatihan manajemen resiko, atau pernah membuat HIRADC, atau bahkan membuat ICRA, pasti kamu tidak akan kebingungan dalam membuat PCRA ini.

Contoh pembuatan PCRA yang akan saya paparkan berikut ini adalah berdasarkan form PCRA yang pernah saya share sebelumnya. Jadi bila kamu punya form PCRA yang berbeda dengan PCRA versi saya ini, jadi bisa dipastikan akan berbeda untuk pengisiannya. Jadi sebelumnya, harap disesuaikan terlebih dahulu ya.

Oiya, form PCRA yang saya buat ini, hampir sama dengan form PCRA yang dibuat oleh www.infok3rs.me. Jadi bila kalian punya form PCRA yang berdasarkan referensi dari infok3rs.me maka silakan baca baik-baik cara pengisian PCRA berikut ini, karena pengisiannya bisa dipastikan sama dan sesuai.

Baca : Form PCRA

Oke berikut ini adalah cara mengisi form PCRA

1.    Siapkan formulir PCRA nya. Buat kamu yang belum punya, silakan download terlebih dahulu disini. Form PCRA

2.    Nah, silakan tentukan kamu sedang ingin melakukan kegiatan renovasi/kontruksi apa. Anggap saat ini kita sedang melakukan renovasi sebuah ruangan. Sebelumnya akan saya paparkan contoh beberapa daftar pekerjaan kontruksi/renovasi
Pekerjaan Persiapan
1.         Pembersihan lokasi
2.         Pasang bouwplank/uiltzet
3.         Pasang safety net
4.         Pasang papan proyek
5.         Listrik kerja
6.         Air kerja
7.         Galian tanah
8.         Pekerjaan bongkaran (Dinding dan beton)
9.         Mobilisasi dan demobilisasi

Pekerjaan struktur
1.         Pekerjaan struktur bangunan (pekerjaan pondasi, pekerjaan lantai, pekerjaan tangga)
2.         Pekerjaan struktur ramp (pekerjaan pondasi, lantai ramp, kontruksi baja)
3.         Pekerjaan struktur menara air (pekerjaan pondasi dan kontruksi baja)
4.         Pekerjaan groundtank

Pekerjaan Arsitektur
1.         Pekerjaan pasang dinding, plesetrean dam aci
2.         Pekerjaan water proofing
3.         Pekerjaan pelapis lantai
4.         Pekerjaan pelapis dinding
5.         Pekerjaan plafond
6.         Pekerjaan kusen daun pintu dan jendela
7.         Pekerjaan rangka atap dan penutup atap
8.         Pekerjaan sanitair
9.         Pekerjaan pengecatan
10.      Dll

Pekerjaan Mekanikal Elektrikal Plambing dan Tata Udara
1.         Pekerjaan instalasi listrik
2.         Pekerjaan penangkal petir
3.         Pekerjaan penangkal telepon
4.         Pekerjaan tata suara
5.         Pekerjaan fire alarm
6.         Pekerjaan nurse call
7.         Pekerjaan plumbing
8.         Pekerjaan gas medik
9.         Pekerjaan instalasi tata udara

Finishing (pemasangan furniture, pemasangan simbo/rambu/sign)

3.    Untuk pekerjaan renovasi sendiri, biasanya aktivitas pekerjaannya tidak begitu banyak, paling hanya pembobokan, pengecoran, pemasangan, pemasangan instalasi listrik, instalasi utilitas lainnya, pengecatan dan penataan furniture.

4.    Form PCRA wajib mengidentifikasi bahaya-bahaya seperti : kualitas udara, pengendalian infeksi, utilitas, kebisingan, getaran, bahan berbahaya, layanan darurat dan bahaya lainnya. Jadi silakan masukkan kedelapan poin di atas ke dalam form PCRA mu di kolom item check.



5.    Bila sudah, silakan kamu identifikasi tiap poinnya di kolom kegiatan. Misal, di poin kualitas udara, aktivitas apa saja yang akan mempengaruhi kualitas udara di area proyek atau sekitar proyek. Sudah pasti aktivitas pembobokan, pengecoran, pemasangan utilitas dan listrik. Silakan kamu masukkan di poin kualitas udara. Nah sebaiknya, aktivitas yang dimasukkan sebisa mungkin sedetail-detailnya. Misal bila ada pembobokan, pembobokan apa? Apakah dinding kah? Apakah lantai kah? Atau bahkan plafon.



6.    Silakan isi ketujuh poin lainnya dengan aktivitas pekerjaan kontruksi yang berkaitan.

Baca Juga : Panduan PCRA RS

7.    Setelah itu silakan kamu isi kolom identifikasi bahaya/aspek lingkungan dengan jenis-jenis bahaya yang mungkin terjadi dari aktivitas pekerjannya. Misalnya dalam aktivitas pembobokan dinding, maka bahaya yang mungkin terjadi adalah bahaya debu. Nah saat isi kolom ini kamu harus benar-benar menganalisisnya. Isi semua identifikasi bahaya dari tiap aktivitas pekerjaan. Bisa jadi dalam satu aktivitas, bisa terdapat beberapa bahaya.



8.    Bila kolom identifikasi bahaya sudah terisi semua, silakan lanjut untuk mengisi kolom disampingnya, yaitu kolom konsekuensi. Nah kolom ini berisi tentang dampak yang diakibatkan oleh aktivitas pekerjaan di samping kirinya. Misal dalam pekerjaan pembobokan, maka dampak yang mungkin terjadi adalah gangguan pernafasan. Silakan kamu isi kolom ini sedetail mungkin.



9.    Bila pada kolom item check, kegiatan, identifikasi bahaya, konsequensi sudah terisi semua, silakan kamu isi grading resikonya. Disana kamu ada kolom yang berisi huruf, C, L dan R.
C adalah Consequences (Dampak), biasanya skornya 1-5. 1 paling rendah, dan 5 paling tinggi.
L adalah Likelyhood (Frekuensi), biasanya skornya 1-5. Untuk skor 1 paling jarang dan 5 adalah paling sering



R adalah Risk (Nilai Resikonya). Nah untuk Risk ini biasanya ada matriksnya. Nilai Risk diperoleh dari perkalian antara C dan L. Berikut saya kasih contoh matriks resikonya




Nah untuk mengisi kolom R, silakan kamu lihat kolom C dan L nya. Misalnya nilai C nya adalah 3 dan nilai L nya adalah 3, maka nilai resiko yang di dapat adalah high.

10. Bila sudah selesai dalam menggrading resiko, maka kamu akan mengisi kolom langkah perbaikan. Langkah perbaikan ini adalah langkah pengendalian bahaya yang wajib dilakukan terhadap bahaya-bahaya yang sudah kita identifikasi sebelumnya. Contohnya, pada proses pembobokan dinding. Agar pekerja terhindar dari gangguan pernapasan, maka langkah perbaikan yang dilakukan adalah dengan penggunaan masker pada pekerja. Silakan kamu isi dengan selengkap mungkin sesuai dengan bahaya yang ada di kolom sebelah kirinya.



11. Jika sudah diisi semua, silakan bergeser lagi ke kolom sebelah kanan, yaitu kolom jenis pengendalian resiko. Untuk kolom yang satu ini silakan kamu menggunakan 5 hierarki pengendalian bahaya (Eliminasi, substitusi, rekayasa, administrasi, APD). Untuk pengisiannya harap menyesuaikan dengan apa yang ditulis di kolom langkah perbaikan. Misalnya, bila di langkah perbaikan ditulis pengadaan masker, maka silakan tulis APD.



12.  Kolom sebelahnya maka kita akan kembali mengisi kolom penilaian resiko (C, L dan R). Nah di kolom ini adalah penilaian resiko sisa setelah dilakukan pengendalian. Biasanya nilainya akan lebih kecil dibandingkan resiko awal.



13. Untuk kolom setelahnya yaitu penanggung jawab, tanggal penyelesaian dan status sepertinya sudah jelas ya dan tak perlu diperjalas lagi.



14. Jika kamu sudah mengisi dengan benar dan lengkap maka hasilnya akan seperti dibawah ini.



15. Bila semua kolom sudah terisi silakan lakukan legalitas dokumen dengan tanda tangan pembuat. Di rumah sakit saya, PCRA dibuat bersama oleh bagian umum dan K3.



Sekian penjelasan dari saya, bila masih ada yang belum jelas, mari kita berdiskusi lebih lanjut di kolom komentar atau bisa email langsung ke saya ya.


Share:

Skenario Simulasi Evakuasi & Penanggulangan Gempa Bumi di Rumah Sakit




Pada pukul 10.00 tiba-tiba terjadi gempa bumi di RS X. Getarannya cukup terasa dan berlangsung beberapa detik.  Semua karyawan di Ruangan X pun panik. Perawat, CS, Security dan pengunjung pun berlindung di bawah meja atau merapat di dinding hingga getaran gempa selesai.

Di Ruangan X, ada 4 perawat, 1 CS, 1 security, 10 pasien dan 5 orang keluarga pasien.

Setelah gempa selesai Tim K3 mencari tahu bahwa gempa tersebut sebesar 6,7 SR. Tim K3 pun segera menghubungi operator dengan menekan  ext. 7000 untuk melaporkan adanya gempa bumi dan menggerakkan Regu lainnya untuk evakuasi.

Optel pun langsung membuat informasi lewat paging dan mengaktifkan Code Green.

Para pasien, keluarga pasien dan CS yang berada di Ruangan X pun melakukan evakuasi dengan dipandu oleh Perawat dan di bantu oleh tim evakuasi, melalui tangga darurat dan ramp menuju ke titik kumpul di parkiran mobil samping indomaret.

Teknik evakuasi pasiennya, untuk pasien yang berada di bed, di evakuasi oleh dua orang (1 perawat dan 1 non perawat), sedangkan untuk pasien yang di kursi roda, dievakuasi oleh 1 orang perawat. Untuk Evakuasi keluarga pasien, di pandu oleh satu orang (Perawat boleh, non perawat boleh) melalui tangga darurat hingga sampai di titik kumpul (Samping indomaret)

4 Perawat di ruangan berperan sebagai :
Pemandu Evakuasi keluarga pasien           : 1 orang
Evakuasi pasien                                          : 2 orang
Penyelamat dokumen                                 : 1 Orang

Ketua Tim Evakuasi bertugas mengkomandokan evakuasi dengan baik dan benar kepada ruangan X, lalu mengkomandokan kembali ke ruangan begitu evakuasi selesai
Kordinator Jalur Evakuasi bertugas memastikan jalur evakuasi aman untuk dilewati dan membantu mengarahkan tim untuk menunjukkan arah jalur evakuasi

Kordinator titik kumpul bertugas memastikan titik kumpul aman untuk ditempati dan mencatat semua orang yang evakuasi kesana khususnya ruangan X (Kordinasi dengan Perawat pengevakuasi dokumen)

Kordinator penghubung bertugas untuk mencari tau info seputar gempa, kemudian penyampai pesan ketua Tim evakuasi kepada kordinator lainnya.


Security bertugas membantu perawat mengevakuasi dokumen, pasien dan keluarga pasien lalu memastikan seluruh ruangan sudah terevakuasi.

Petugas Evakuasi bertugas untuk membantu perawat di ruangan X untuk mengevakuasi pasien dan keluarga pasien yang ada di dalamnya.

Petugas penyelamat dokumen bertugas untuk menyelamatkan dokumen penting di ruangan X
Sesampai di Titik kumpul, Kordinator Titik kumpul berkordinasi dengan Perawat penyelamat dokumen atau Kepala Ruangan untuk memastikan jumlah pasien dan keluarga pasien yang di evakuasi dari Ruangan X sesuai dengan jumlah pasien yang ada di ruangan. Catat identitas pasien dan keluarga pasien.

Perawat, pasien dan keluarga pasien berada di titik kumpul sampai Ketua Tim Evakuasi memastikan suasana sudah aman. (Kurang lebih 5 menit). Begitu keadaan sudah kondusif, pasien dan keluarga pasien diarahkan kembali ke ruangan X kembali dengan dipandu oleh Tim yang sama.

Sesampai di ruangan Kepala ruangan memastikan kembali jumlah pasien sudah sesuai dengan yang semestinya.

Baca : Sewa Mobil Murah dan Ada di Seluruh Kota Besar

Share:

Disable Adblock