Showing posts with label Review Film. Show all posts
Showing posts with label Review Film. Show all posts

Thursday, 4 July 2019

Review Film Spiderman Far From Home

review film spiderman far from homw



*Tulisan ini tidak mengandung spoiler*

Sebagai film penutup MCU fase 3, saya kira sah-sah saja menyebut Spiderman Far From Home adalah ending terbaik dari keseluruhan kisah di Marvel Cinematic Universe sebelumnya. Kita sebelumnya diberitahu bahwa Avengers Endgame adalah tirai penutup kisah MCU baik dari fase satu hingga tiga. Namun bila melihatnya dari sudut pandang storyline, endgame hanya terfokus untuk mengakhiri suatu siklus saja, tanpa memberi gambaran atas apa yang akan terjadi setelah siklus itu berakhir.

Mungkin bagi sebagian besar orang hal itu tidaklah penting, tapi bagi saya yang seorang pencerita, penulis dan penikmat film hal itu cukup bikin mengganggu. Rasanya seperti ada kerikil-kerikil kecil di jalan yang mulus. Makanya saat saya menonton endgame dulu, meskipun secara keseluruhan saya merasa puas, namun tetap saja rasanya seperti ada yang kurang. Dan benar, begitu saya menonton Spiderman Far From Home, kerikil-kerikil tersebut akhirnya menghilang.

Kisah Far From Home dimulai beberapa tahun setelah kejadian Endgame. Peter Parker merasa kesepian akibat ditinggal sang mentor (Tony Stark) dan ia pun merasa bukanlah pengganti yang pas bagi Iron Man. Selain itu, ada pula Nick Fury yang terus-terusan menghubunginya. Hal-hal tersebut sungguh membuat hidupnya bergejolak. Makanya ketika ada liburan sekolah keluar negeri, Peter berniat untuk melupakan tugasnya sejenak sebagai superhero, dan berencana menikmati liburan bersama wanita yang ditaksirnya, MJ. Masalahnya, rencana tersebut tidaklah berjalan mulus, karena musuh masih terus mengintai meski Peter Parker sudah jauh dari rumah.

Secara keseluruhan, Spiderman Far From Home bercerita tentang hal diatas. Bagi kamu yang sudah menonton trailer filmnya, percayalah cerita film ini berkisah tentang narasi yang diucapkan Peter Parker di trailer, namun disanalah unik dan kerennya Far From Home. Segala cuplikan yang ada di Far From Home ternyata mengandung banyak sekali twist di dalamnya.

Saya jadi ingat begitu trailer itu keluar, banyak teori-teori tentang MCU bermunculan seperti dunia multiverse atau superhero baru. Nah teori-teori itu terjawab tuntas di Far From Home ! Saran saya, bila kamu ingin menonton Far From Home , ada baiknya jangan kepo dengan spoilernya terlebih dahulu, karena sedikit saja kamu mengetahuinya, maka akan berdampak bagi keseruan film ini. Apalagi bila kamu mengetahui twistnya, keseruannya benar-benar menurun drastis.

Para cast di Far From Home saya kira sudah mengalami peningkatan yang lumayan. Di far From Home, teman-teman Peter Parker sudah mendapat porsi yang cukup banyak seperti MJ, Ned, Bibi May. Jake Gyllenhaal sebagai pemeran baru juga cukup menarik perhatian. Ia benar-benar cocok bermain di film superhero. Dan ia pun cocok berperan sebagai Mysterio. Untuk Villain dalam Far From Home benar-benar diluar ekspektasi saya. Biasanya villain di film solo Marvel kebanyakan kurang greget, tapi hal itu tidak berlaku di Far From Home. Menurut saya, villain di Far From Home sudah cukup merepotkan, cerdas, kuat dan pantas masuk kedalam deretan Villain terbaik Marvel.

Yang paling saya suka dari Far From Home adalah adegan aksi yang gak setengah-setengah yang ditunjang dengan efek CGI yang mumpuni. Adegan aksi di Far From Home jauh lebih banyak dan lebih brutal daripada di Homecoming. Peter Parker pun sudah terlihat lebih dewasa ketika bertindak sebagai superhero. Sepertinya pengalaman bertarung dan superheronya meningkat drastis semenjak kisah infinity wars dan endgame. Spiderman versi Tom Holland ini jadi mengingatkan saya dengan Spidermannya Toby. Dan dengan tambahan sentuhan Iron Man didalamnya.

Selayaknya film-film Marvel lainnya, Far From Home pun tetap dibumbui komedi dan humor yang menarik di dalamnya. Humor ini cukup membuat kamu terbahak-bahak. Namun, ada beberapa scene yang saya kira bisa membuat ngantuk akibat pendelivery-an cerita. Tapi tenang saja, hal itu gak berlangsung lama kok, karena banyaknya adegan aksi dan twist yang ditampilkan. Makanya sekali lagi saya tegaskan, hindari spoiler ya.

Far From Home memiliki dua adegan credit, yaitu mid credit dan post credit. Kedua credit ini bisa menjadi gerbang pembuka di cerita Spiderman dan MCU selanjutnya. Itulah sebabnya mengapa diawal saya bilang bahwa Far From Home adalah ending terbaik dari MCU Fase 3, karena di Far From Home inilah, fans akan ditunjukan sedikit gambaran MCU Fase 4 selanjutnya.

Jangan ragu untuk mengajak anak anda untuk menonton Far From Home. Terlepas dengan adanya adegan-adegan yang rumit didalamnya, namun aksi-aksi spiderman yang ada saya yakin cukup bisa membuat anak anda tertarik. Memang Far From Home masih berkisah tentang remaja, tapi tenang saja, karena kisah remaja yang ditampilkan masih bisa diterima oleh anak-anak.

Dibanding film pertamanya, Far From Home mengalami peningkatan disana-sini. Tapi tetap saja, jalan ceritanya masih mudah ketebak yang untungnya tertolong oleh twist yang ada. Menonton Far From Home bisa menjadi tontonan segar sekaligus penikmat waktu senggang anda. Buat para fans, apa yang terjadi di Far From Home pasti akan membuat penasaran dan tidak sabar dengan kelanjutan MCU selanjutnya.
Read More

Thursday, 5 July 2018

Review Film Ant Man & The Wasp




Jujur, saya benar-benar tidak sabar untuk cepat-cepat menulis review film ini.  Ada banyak hal yang ingin saya ulas dari film sekuel dari Ant Man tersebut. Secara keseluruhan film ini jauh dari bayangan saya. Apa yang saya rasakan sebelum dan sesudah menonton film ini begitu berbeda. Apa yang saya ekspektasikan dengan apa yang terjadi begitu saya menonton Ant Man & The Wasp sangatlah berbeda. Percayalah, Ant Man & The wasp ini benar-benar film yang setingkat lebih bak dari film pertamanya.

Ant Man & The Wasp bercerita tentang kejadian setelah film Captain America : Civil War. Scott (Paul Rudd) menjadi tahanan rumah setelah terlibat dalam kasus Captain America di Jerman tersebut. Saat menjadi tahanan rumah itulah ia bermimpi tentang Janet, istri Hank Pypm (Michael Douglas) yang pada film pertama Ant Man dijelaskan bahwa dia terjebak di Alam Kuantum dan diprediksi sudah tiada. Nah berdasarkan mimpi tersebut, Hank Pym dan Anaknya, Hope/The Wasp (Evangeline Lily), kemudian sadar bahwa ada kemungkinan ibu nya masih hidup. Mereka pun tergerak untuk menyelamatkan sang ibu di Alam Kuantum. Berbekal laboratorium canggih yang mereka buat dan alat yang mereka beli dari pasar gelap, mereka pun mencoba menjemput sang ibu. Masalahnya, semenjak kasus keterlibatan Ant Man di Civil War, Hank dan Hope telah menjadi buronan FBI juga, karena mereka dinilai terlibat akibat membuat kostum Ant Man. Terus, broker pasar gelap yang menjual alat kepada mereka, Sonny Burch, pun tertarik juga dengan alam kuantum yang sedang Hank teliti dan memaksa untuk bisa terlibat didalamnya. Tentu Hank menolak, karena tujuan utamanya adalah menyelamatkan sang ibu. Akhinya mereka pun berpacu dengan waktu untuk menghindari kejaran FBI dan Sonny Burch sekaligus menyelamatkan sang ibu. Selain itu ada Villain bernama Ghost yang berupaya untuk mencuri laboratorium Hank demi kepentingan pribadinya.

Secara plot, Ant Man & The Wasp tidaklah menawarkan plot cerita yang rumit. Film ini hanya sekedar berupa aksi penyelamatan sang ibu yang diganggu oleh beberapa ancaman. Sudah. Begitu saja. Cukup sederhana. Namun, entah kenapa di dalam kesederhanan ini saya melihat adanya kekompleksan yang berarti, karena film ini benar-benar sangat seru dan menghibur. Apa yang disajikan dalam Ant Man & The Wasp sangat bisa membuat penonton ikut terlibat di dalamnya. Termasuk untuk kalangan penonton yang baru menonton film Ant Man pertama kali. Tapi tentu saja, film ini akan jauh lebih dapet feelnya jika kamu menonton dahulu film Ant Man yang pertama, Captain America : Civil War dan Avengers : Infinity War yang bombastis itu. Yap buat kamu yang penasaran mengapa tidak ada Ant Man di Infinity War kemarin, jawabannya ada di film Ant Man & The Wasp.

Jika dibandingkan dengan film pertamanya, Ant Man & The Wasp sudah setingkat lebih baik dari segala hal. Hal inilah yang tidak saya prediksikan sebelumnya. Sebelumnya saya beranggapan Ant Man & The Wasp akan mirip-mirip dengan film pertamanya. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Konfliknya jauh lebih kuat. Penjelasan alam kuantum jauh lebih simpel. Castingnya jauh lebih mantap. Sinematografinya setingkat lebih tinggi dan humornya, sungguh sangat gilaaa. Pecah bener sob.

Di film Ant Man & The Wasp humor yang ditampilkan banyak sekali. Peyton Reed selaku pembuat film ini benar-benar cerdas dalam meramu humor yang ada. Segala humor yang tersaji benar-benar lucu, fresh dan tidak menganggu jalannya cerita, Malah menjadi satu kesatuan di dalamnya. Dan tenang saja, humor di film Ant Man & The Wasp bisa dinikmati semua kalangan umur. Sangat berbeda dengan humor-humor di Deadpool yang mengusung humor gelap. Jangan kaget jika sepanjang film ini kamu akan dipaparkan humor-humor yang mengundang tawa ngakak semua penonton termasuk anak kecil. Ya bahkan anak kecil pun tertawa ngakak dengan humor di film ini.

Meskipun dibalut dengan selera humor, Ant Man & The Wasp juga menyajikan adegan aksi yang banyak dan seru. Saya kira inilah keunggulan Marvel dalam membuat film. Mereka selalu bisa membuat film dengan “pas” di semua aspek. Villain di film ini, Ghost cukup bisa membangun plot yang memancing adegan aksi menegangkan dan tidak dibuat buat. Mungkin untuk tingkat kekuatan villainnya bisa lebih dieksplore lagi, karena dengan kekuatannya yang unik seperti itu, saya kira ia bisa berkembang lebih di dalam film ini. Tapi kalau untuk skalanya film Ant Man & The Wasp, saya kira segitu aja sudah cukup.

Untuk castingnya, penamplan Scott sebagai pemeran utama nya bisa dibilang luar biasa. Ada sedikit kedewasaan yang terjadi dalam diri Scott, tapi kedewasaan tersebut tetap tidak mengurangi kekocakan dalam diri dia dan teman-temannya kok. Nah untuk The Wasp, di film Ant Man & The Wasp ia cukup banyak diberikan porsi tampil, dimana hal tersebut membuat ia bisa dikatakan sebagai pemeran utama wanita  film ini. Karakter Hank pun mengalami peningkatan detail yang lebih jauh lagi. Ah ya, jika kamu masih ingat dengan trio teman-teman Scott di film Ant Man pertama, maka kamu akan melihatnya lagi di film ini. Lagi lagi ulah mereka banyak mengundang tawa.

Secara keseluruhan Ant Man & The Wasp menurut saya film yang bagus dan saya rekomendasikan kamu buat menontonnya. Jika kamu punya anak-anak, ajak saja mereka menonton film ini. Ya meskipun ratingnya R+13,tapi kalau saya hitung, adegan khusus dewasanya Cuma dua-tiga adegan saja. Selebihnya film ini bisa dinikmati berbagai kalangan umur. Menonton aksi Scott dan Hope di Ant Man & The Wasp benar-benar sangat menghibur. Pas banget buat kamu yang ingin menyegarkan pikiran atau butuh liburan, karena menonton film Ant Man & The Wasp bisa dibilang seperti liburan yang menyenangkan.

#AntMan&TheWasp

Skor : 8,8/10

Read More

Monday, 18 June 2018

Review Film Incredibles 2 : Drama Keluarga ala Superhero


Sumber : Disney Pixar


Setalah belasan tahun lamanya akhirnya Keluarga Incredibles kembali lagi beraksi dalam menumpas kejahatan melalui sekuel film keduanya yang berjudul Incredibles 2. Masih dengan pemeran utama yang sama dengan film pertamanya yakni, Mr. Incredible, Elastis Girl dan ketiga anaknya Violet, Dash dan Jack-Jack, mereka semua kembali dengan sejuta kenangan yang bakal membuatmu tersenyum-senyum begitu melihatnya.

Secara garis besar film ini berkisar tentang keluarga Incredibles. Plot cerita dalam film ini mirip-mirip sedikit dengan plot dalam film Captain America : Civil War. Pemerintah meng-ilegalkan status superhero di dunia, dikarenakan perbuatan superhero dalam menumpas kejahatan seringkali justru mengakibatkan kerugian dan kehancuran dalam skala besar. Nah, keluarga incredibles yang selama ini berprofesi sebagai superhero pun terancam akan kehilangan pekerjaannya. Bayang-bayang hidup sulit terlintas di kepala Mr. Incredibles dan Elastis Girl. Tidak hanya Keluarga Incredibles, Superhero lainnya pun terancam eksistensinya.

Akhirnya ada sebuah perusahaan yang ingin memaksimalkan potensi superhero. Ia beranggapan bahwa superhero memang diperlukan di dunia ini. Ia pun menawarkan keluarga incredibles untuk bergabung disana. Namun, dibanding Mr. Incredibles, perusahaan tersebut lebih memilih Elastis Girl sebagai superhero andalan mereka. Tentu aja Mr. Incredibles pada awalnya tidak terima karena tugas seorang ayah lah yang bekerja, sedangkan ibu mengurus keluarga. Tapi akhirnya dengan berbagai pertimbangan akhirnya Mr. Incredible setuju untuk mengurus anak di rumah, sedangkan istrinya bekerja sebagai superhero di luar sana. Nah dari sinilah kisah dimulai.

Meskipun kategori film ini adalah “semua umur”, tapi konflik yang ada disini justru tentang orang dewasa. Saya kira inilah yang sedikit mengurangi ke-epikan film ini, soalnya ya persoalan-persoalan orang dewasa seperti : Susahnya seorang ayah berperan dan bertugas sebagai seorang ibu, akan susah untuk dimengerti maksudnya oleh anak-anak. Ya meskipun pembawaan konfliknya agak ringan dan mudah dicerna, tetap saja, pesan yang diberikan akan susah masuk untuk kalangan anak-anak. Jikapun sasarannya diubah menjadi ke orang dewasa pun saya kira akan sia-sia juga, karena ya pembawaanya terlalu ringan dan tidak sekompleks aslinya.

Untungnya, konflik orang dewasa tersebut tertutupi oleh banyaknya adegan aksi yang dilakukan elastis girl dan aneka kelucuan yang dilakukan oleh Violet, Dash dan Jack-jack. Adegan-adegan ini dijamin bakal membuat kalangan anak-anak senang menontonnya. Saya kira inilah maksud yang ingin dibawa Brad Bird, selaku pembuat film Incredibles 2. Ia ingin berbagai kalangan umur yang menonton film ini dapat kebagian porsinya masing-masing. Porsi orang tua ada pada Mr. Incredibles dan Elastis Girl. Porsi remaja ada pada seorang Violet. Porsi kenakalan anak-anak ada pada diri Dash. Dan porsi kegemesan bayi ada pada diri seorang Jack-Jack. Semua hal tersebut, dibalut menjadi satu kesatuan yang membuatnya menjadi film yang seru dan syarat akan makna.

Sumber : The Verge


Jika disuruh memilih, semua cerita tentang Jack-Jack adalah bagian favorit saya. Setelah sempat diperlihatkan di Film pertamanya, bahwa Jack-Jack punya kekuatan superhero, Nah di film keduanya kekuatan superhero Jack-Jack lebih banyak diperlihatkan. Uniknya, kekuatan superhero Jack-Jack adalah kekuatan superhero yang lain dari biasanya. Kekuatannya sangat berpotensi dan juga sangat berbahaya. Kekuatan inilah yang sempat membuat Mr. Incredibles kewalahan.

Untuk villain dalam film ini saya kira cukup memuaskan. Meskipun dari segi kekuatan tidak begitu hebat, tapi dari segi kecerdasan villain ini benar-benar berbahaya. Villain ini pun baru diperlihatkan secara langsung di akhir film. Tentu saja hal ini membuat penonton penasaran di sepanjang film. Inilah salah satu hal yang positif pada film menurut saya, karena kerahasiaan yang dibawa ini sukses membangun cerita yang ada, membuatnya menjadi lebih “berbeda” dan setingkat lebih baik dari film pertamanya. Hal ini diperkuat lagi dengan berbagai jenis superhero lain yang diperlihatkan. Membuat film ini menjadi semakin “kaya” dan berpotensi menelurkan film lanjutannya lagi.

Jangan terlalu berharap lebih dari adegan aksi dalam film ini, apalagi berekspektasi setara dengan film superheronya marvel. Karena ya, meskipun film ini bercerita tentang superhero, tetap saja sasaran film ini adalah keluarga dan anak-anak. Makanya adegan aksi disini ya sesuai banget dengan kalangan umur anak-anak. Tidak terlalu menengangkan bagi orang dewasa tapi cukup untuk anak-anak. Terlalu “gampang” adegan bertarungnya bagi orang dewasa, tapi sesuai untuk kalangan anak-anak. Jadi ya memang pantas sebagai film keluarga aja. Apalagi untuk ditonton anak-anak. Yah sangat direkomendasikan deh.

Jarak belasan tahun dengan film pertamanya sempat membuat film Incredibles 2 digandrungi banyak pertanyaan, apakah film ini akan mampu menyaingi kesuksesan film pertamanya dulu. Apalagi berkaca pada film-film sekuel yang ada, yang seringkali kualitasnya menurun dibanding film terdahulunya. Tapi tidak dengan franchise Incredibles ini. Melihat animo masyarakat yang ada dan review positif dari berbagai macam situs review serta setelah saya menontonnya langsung, saya katakan bahwa Incredibles 2 ini sukses menyaingi film pertamanya dulu. Terlepas dari beberapa kekurangan yang saya sebutkan diatas, tapi saya kira film ini memang benar-benar bagus dan menyegarkan.

Saya kira Pixar tau banget cara mengatasi dua problem besar nya film-film sekuel, sehingga di film Incredibles 2 ini, Ia bisa sukses dan setingkat lebih baik. Cara brilian yang dilakukan Pixar tersebut adalah dengan memakai sutradara yang sama dengan film pertama The Incredibles 14 tahun yang lalu, yakni si Brad Bird. Saya yakin jika film Incredibles 2 memakai sutradara yang berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda pula.

Skor : 8/10

#Incredibles2 #TheIncredible 

Read More

Tuesday, 12 June 2018

[Review] Film Gifted : Bagaimana Memanusiakan Seorang Genius

Source : Pharaos



Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah postingan di fanpage komunitas movie facebook yang berisi tentang film-film underated di tahun 2017. Sederhananya, definisi Film underated adalah film yang dianggap remeh dan luput dari perhatian orang banyak. Banyak sih penyebabnya kenapa sebuah film bisa jadi underated gitu, tapi kalau memang pengen tau lebih banyak soal underated lebih baik googling aja ya. Nah dari beberapa film underated tahun 2017 yang saya lihat, sebagian besar filmnya benar-benar tidak pernah saya dengar, lihat atau baca sekalipun. Underated banget ya. Berhubung saat ini adalah bulan puasa, maka untuk mencari aman dan mencegah saya dari film-film yang tidak senonoh, saya memutuskan untuk menonton film Gifted, yang kalau kita googling sinopsis nya bercerita tentang keluarga.

Gifted sangat saya rekomendasikan untuk semua kalangan usia karena film ini berbicara tentang bagaimana mengurus anak. Spesifiknya, anak super genius matematika. Frank (Chris Evans) adalah seorang lelaki yang mendapat amanah dari kakaknya untuk membesarkan keponakannya, Mary (Mckenna Grace). Kakaknya sendiri tewas bunuh diri karena suatu hal. Secara karakter, Frank hanyalah pria sederhana. Ia adalah seorang freelancer tukang perbaikan kapal. Frank dan Mary tinggal di rumah yang sederhana, sempit dan sedikit kumuh. Namun, kelihatannya, baik Frank maupun Mary, baik-baik saja dengan kondisi tersebut.

Masalahnya, keluarga frank adalah keluarga yang sangat jago dalam dunia matematika. Kemampuan genius matematika sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Mulai dari Ibu Frank, Kakaknya, dan Mary. Persoalan menjadi makin semrawut ketika Ibu nya Frank tau dengan kemampuan matematika Mary, dan dia tertarik untuk mengambil hak asuh dan “menyekolahkan” Mary agar bisa melampaui dia dan ibunya serta bisa berhasil memecahkan sebuah rumus matematika. Dari sinilah konflik dimulai. Frank kurang setuju dengan cara “mengasuh” ibu nya yang seperti mengasuh robot. Tidak manusiawi. Makanya dengan lantang ia menolak permintaan hak asuh ibunya.

Film arahan Marc Webb ini cukup membuat saya bertanya-tanya dalam hati, “Sebenarnya bagaimana sih cara yang benar mengurus anak?” Aneh memang. Ya memang aneh. Aneh melihat bagaimana Frank menggunakan metode “kemanusiaan” ke seorang bocah jenius. Gimana gak aneh, dengan kepintaran yang menyerupai orang dewasa, Frank malah menyekolahkan Mary di sekolah umum. Jelas saja, Mary lah yang jadi terpintar di kelasnya, bahkan melebihi gurunya sendiri. Tapi lebih aneh lagi ketika melihat cara mengasuh ibunya Frank. Padahal ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara asuhnya menyebabkan anak perempuan nya meninggal, tapi mungkin karena obsesinya dengan matematika terlampau besar, ia jadi lupa mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anaknya, sehingga hal itu menjadi salah satu penyebab anaknya bunuh diri. Dan parahnya ia ingin melakukan hal yang sama kepada Mary. Duuh buuuk.

Source : Google


Jujur, saya suka film ini. Konflik yang terjadi sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang tua pasti kepengen kan anaknya menjadi paling pintar? Tapi apakah ada orang tua yang pengennya anaknya pintar dan manusiawi? Tentu saja tidak semua. Banyak orang tua yang hanya fokus pada pendidikan anak saja. Ia terlalu sibuk dengan menyuruh si anak agar menguasai semua mata pelajaran yang ada dan proses pembelajaran itu justru seringkali melupakan ajaran nilai-nilai kehidupan.

Film berdurasi 101 menit cukup bisa menjaga kestabilan “drama” nya dari awal hingga akhir. Ada beberapa twist yang mungkin bisa membuat kamu semakin cepat-cepat menonton habis film ini. Selain itu, untuk urusan casting, ah Mary dan Frank benar-benar juara banget deh. Interaksi dan chemistry antar keduanya terlihat alami. Mary sangat pantas berperan sebagai anak genius dengan segala idealisme dan keingintahuannya dan Frank dengan badan kekarnya ternyata bisa juga berperan sebagai “bapak-bapak” yang lovable dan sayarat akan falsafah kehidupan.

Untuk pengambilan adegannya juga sangat menarik di film ini. Ada beberapa scene yang cukup memorable untuk diingat. Baik karena saking artistiknya maupun karena “dalamnya” adegan tersebut. Saya tidak akan menceritakannya, karena sudah banyak spoiler yang saya umbar diatas sana.

Gifted adalah film tentang manusia. Tentang karakter. Dan tentang pembelajaran. Apa yang ada di dalam film ini mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak kamu begitu menontonnya, tapi percayalah, dengan menonton Gifted, kamu akan mendapat satu pencerahan mengenai cara memanusiakan seorang manusia dalam menjalani kerasnya hidup, terlebih lagi manusia itu adalah anak kita sendiri.

Skor : 7,5/10

#Gifted #underated

Read More

Thursday, 7 June 2018

[Review] Film Jurassic World : Fallin Kingdom – Petualangan Menyelamatkan Dinosaurus

Sumber : Dan of Geek


Setelah sukses dengan film pertamanya, Jurassic World kembali menampilkan sekuel dari kisah para dinosaurus. Berlatar waktu tiga tahun setelah kejadian mengerikan di Taman Jurasic World, film ini menceritakan tentang Taman Jurrasic yang akan dilanda kehancuran akibat letusan gunung merapi yang ada disana. Kejadian semakin diperkeruh dengan kebijakan AS yang  menolak untuk menyelamatkan para dinosaurus disana. Hal ini tentu saja membuat Claire (Bryce Dallas Howard) pusing tujuh keliling, karena sebagai orang yang dulu pernah “mengasuh” para dinosaurus tersebut ia sangat ingin menyelamatkan hewan-hewan yang ada disana. Untunglah ada seorang kenalan lama yang tertarik untuk menyelamatkan hewan punah tersebut. Nah dari sinilah petualangan dimulai.

Secara garis besar plot cerita di film ini mirip-mirip dengan film pertamanya, yaitu berpetualang di kandang dinosaurus. Tidak ada suguhan yang berbeda. Tidak ada hal-hal baru. dan malah terkesan menjiplak film pertama. Jika di film pertama kita ditunjukkan seekor dinosaurus yang dikembangkan secara khusus sehingga memiliki kecerdasan dan ke”liar”an, maka di film kedua kita akan diperlihatkan hal yang sama pula. Jika di film pertama kita diperlihatkan bagaimana petualangan Owen (Chriss Patt) dan Claire dalam berinteraksi dengan dinosaurus, nah di film kedua pun kita melihat hal yang sama juga. Kesamaan-kesamaan ini membuat kita dapat menebak arah jalan cerita yang ada, termasuk endingnya. Saya yakin, jika kalian sudah menonton film pertamanya, kalian pasti bisa menebak kejadian menegangkan di penghujung film ini. Saya gak habis pikir, kenapa ending di film ini begitu mirip dengan ending film pertamanya. Apakah memang Jurasic World ini adalah film dokumenternya Raptor dan T-rex ya?

Tapi tenang saja, Fallin Kindom tidak melulu mirip dengan film pertamanya, ada beberapa perbedaan yang bisa dibilang malah menyelamatkan film ini dan membuatnya tetap seru. Perbedaan itu adalah ketegangan-ketegangan yang diciptakan oleh para dinosaurus. Ya menurut saya, ketegangan disini setingkat lebih tinggi dibanding film pertamanya. Benar-benar mirip jumpscare di film horror. Selain itu perbedaan kedua yang menurut saya sangat mencolok adalah Jika di film pertama kita disuguhkan pemandangan indah Taman Jurassic, nah di film kedua justru kita diperlihatkan bagaimana kehancuran taman ini. Yap, kemegahan-kemegahan yang ada di film pertama benar-benar sirna di film kedua. Percaya atau tidak, kehancuran ini entah kenapa membuat saya iba dan tidak rela dengan apa yang terjadi dengan Taman Jurassic. Sungguh emosional.

Selain bermain ketegangan dan kehancuran, Fallin Kingdom juga adalah film yang menyentuh. Ada beberapa scene yang sangat drama sekali. Saking dramanya, scene-scene ini benar-benar bikin perasaan campur aduk.

Sumber : Google

Sayangnya interaksi dengan dinosaurus di film kedua ini tidak sebanyak film pertamanya. Mungkin untuk kepentingan cerita kali ya, makanya pembuat film ini sengaja mengurangi interaksi dengan dan antar dinosaurus dan menambahkan interaksi antar manusia dengan manusia di dalam cerita. Padahal menurut saya, Jurasic world adalah film tentang dinosaurus. Harusnya peran dinosaurus disini diberikan peran yang lebih banyak lagi. Agak lucu juga, padahal di film disinggung soal pernyataan “semua orang pasti tertarik dengan dinosaurus” tapi film ini malah tidak sepenuhnya menampilkan kengerian dinosaurus. Malahan, lebih ngeri manusia-manusia nya dibanding dinosaurusnya.

Untuk cast di film ini saya kira bisa dikatakan lumayan. Claire masih dengan keimutannya, Owen masih dengan keberaniannya. Selain itu ada beberapa karakter tambahan yang saya kira cukup membuat film ini lebih hidup dan menyenangkan. Tak ketinggalan, Musik dalam film ini semakin membuat kita mendalami adegan demi adegan yang dtampilkan. Membuat kita terbawa suasana. Dan membuat kita jatuh sepenuhnya ke dalam petualangan menghadapi dinosaurus.

Jurasic World : The Fallin Kingdom mengingatkan saya dengan film-film jurasic park yang lama. Ada kesan nostalgia di dalam film ini. Petualangan dan ketegangan yang ada di film ini sangat menyenangkan, ya meskipun ada adegan-adegan yang mirip dengan film pertamanya. Menonton film ini benar-benar bisa menjadi sajian pelengkap untuk berbuka puasa, atau untuk mengisi waktu libur. Jika kalian punya anak kecil, keponakan yang masih kecil atau anak-anak, bawalah mereka untuk menonton film ini, karena film ini mampu membuat anak kecil yang menangis menjadi terdiam dan membuatnya tercengang dengan dinosaurus yang ada, sehingga siap-siaplah setelah menonton film ini mereka akan menuntut untuk dibelikannya mainan dinosaurus.

Skor : 7,5/10

#JurassicWorld #FallinKingdom #JurassicWorldFallinKingdom

Read More

Thursday, 26 April 2018

Review Film Avengers : Infinity War



Jujur saja, agak sulit membuat review film ini tanpa adanya spoiler di dalamnya. Part-part didalam film ini saling sambung menyambung, dimana membuat satu kejadian dengan kejadian lainnya berkesinambungan. Tapi bagi saya jika menonton film ini dengan bantuan spoiler, bakal terasa banget nanti efeknya, yang membuat sedikit kehilangan “feel” di momen momen penting dalam film ini. Makanya berkaca dari hal itu, saya akan membuat review film ini dengan sangat-sangat sedikit spoiler di dalamnya.

Secara garis besar film ini bercerita tentang perjalanan seorang Thanos dalam mengmpulkan 6 Infinity stone yang tersebar di alam semesta. Nah dalam mengumpulkan batu abadi tersebut, Thanos berhadapan dengan para Avengers. Yap, film berdurasi nyaris 3 jam ini hanya berkisah tentang hal diatas. Sederhana ya? Yap Betul . Sederhana banget guys. Tapi tentu saja bukan Marvel namanya jika gak bisa mengemas kisah tersebut menjadi sebuah mahakarya epik yang sungguh amazing ini.

Bagi yang belum mengenal Thanos, mungkin bisa mengingat sedikit film-film Mavrel Cinematic Universe (MCU). Thanos pernah tampil di film Avengers yang pertama dan di adegan post kredit yang saya lupa di film apa. Bagi saya, Thanos adalah villain (musuh) yang diidam-idamkan banget dalam suatu film. Ia memiliki segalanya untuk menjadi seorang villain. Banyak kritikus fim yang mengatakan bahwa villain-villain di film MCU kurang greget. Saya pun sependapat dengannya. Tengok aja villain di Thor Ragnarok, villain disana saya kira hanya sebatas punya kekuatan aja, gak lebih gak kurang. Nah setelah melihat Thanos dengan segala aspek kejahatanya itu, saya langsung berucap dalam hati, “kenapa sih semua villain gak bisa kayak gini?”. Gila keren banget sumpah. Dapet banget jahatnya. Iya, Marvel benar-benar sukses bikin mimpi buruk seburuk-buruknya yang jadi kenyataan.

Lalu bagaimana dengan superhero nya?

Ah kebayang gak sih bagaimana jadinya semua superhero di film Iron man, Captain America, The Incredible Hulk, Thor, Black Panther, Guardian of Galaxy dan Spiderman gabung jadi satu? That’s so amazing sooobbbbb. Mantap jiwa deh. Gila gila gila. Buruan nonton daaaahhh.

Ajiiiiiiiibbbbb.

Sebelum nonton film ini, gue penasaran bagaimana Russo Brother mengemas film ini dengan banyaknya superhero di dalamnya. Apalagi superhero-superhero ini adalah pemeran utama di film solo nya masing-masing. Gimana ? Pasti pusing kan? Bikin cerita yang bagus dengan segudang tokoh-tokoh penting di dalamnya.  Saya kira bukan cuma saya aja yang penasaran dengan hal itu, tapi siapapun yang nonton film MCU pasti berpikiran hal yang sama. Bahkan sebelumnya ada yang memprediksi kalau banyaknya superhero ini akan mengurangi kualitas film, akibat tidak tereksplorenya semua superhero.

Tapi lagi-lagi, prediksi itu patah setelah menonton film ini. Bisa dibilang semua superhero memiliki porsi yang sama di dalamnya. Gak ada yang lebih menonjol dan gak ada yang kurang tergali. Semua punya porsi nya masing-masing. Semua punya perannya masing masing. Dan semua terkondisikan dengan baik, adil, epik dan fantastik. kesemua hal inilah yang membangun jalannya cerita di film ini.
Satu hal yang gak bakal terlupakan dari film ini (selain Thanos) adalah bagaimana interaksi antar superhero. Munculnya Thanos memang  memaksa mereka akhirnya bersatu, namun seperti apa pertmuan pertama antar superhero itu dijamin bakal menjadi hal terindah yang akan kamu lihat. Apalagi buat kamu yang fans superhero, melihat mereka bertarung bersama tentu aja bagaikan sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Bagi kamu yang sudah menonton Avengers sebelumnya mungkin bakal sedikit terkesan, tapi bagaimana dengan melihat adegan antara Tony dengan Strange, Thor dengan Quill, serta Steve dengan Panther. Kamu pasti bakal kesengem abis kan?

Dari menit pertama film ini sudah diliputi oleh ketegangan yang bikin ngeri. Ketegangan ini terus berlanjut sampai akhir film. Memang ada beberapa part-part dengan tempo yang menurun, yang sedikit membuat ngantuk, tapi, percayalah, part tersebut penting dalam keberjalanan cerita. Selain ketegangan dan adegan aksi yang banyaknya bukan main ini, film ini tetap menampilkan ciri khas marvel di dalamnya, yakni memberikan sentuhan-sentuhan komedi yang sukses bikin tertawa terpingkal-pingkal. Oiya satu lagi, film ini juga menampilkan sedikit drama sentimentil yang entah kenapa membuat kamu jadi sedikit bersimpati dengan tokoh tersebut. Ah keren banget deh. Campur aduk rasanya.

Musik dalam film ini semakin membuat kita mendalami adegan demi adegan yang dtampilkan. Membuat kita terbawa suasana. Dan membuat kita jatuh sepenuhnya ke dalam film.

Infinity War menurut saya adalah gabungan seluruh film-film MCU yang ada. Semua kekurangan yang ada di film-film MCU sebelumnya berhasil terpenuhi di dalam film ini. Kelebihan-kelebihan dalam fllm sebelumnya pun berhasil dilampaui di film ini. Saya kira Avengers : Infinity War bener bener cocok dijadikan penutup dari  bagian pertama MCU. Mesipun ada part yang terlalu slow dan bisa bikin orang ngantuk, tapi secara keseluruhan film ini bisa dibilang epik dan memuaskan. Endingnya yang seperti itu tentu aja semakin membuat kita gemas dan frustasi begitu selesai menontonnya, sekaligus membuat gak sabar untuk segera menonton lanjutan film ini, yakni Avengers 4.

Oya, sebagai tambahan, ada superhero yang mati dan hanya ada satu post kredit di akhir film. Jadi pastikan menonton filmnya sampai benar-benar habis ya.

Skor : 8,5/10



#Avengers #InfinityWar #Thanos #AvengersInfinityWar

Read More

Friday, 6 April 2018

Review Film A Quite Place




Film ini bercerita tentang sebuah kota yang dilanda kehancuran akibat adanya suara. Ya. Benar. Karena Suara. Jadi, jika ada seseorang (bisa juga hewan) mengeluarkan suara dengan volume normal apalagi keras, maka ia akan langsung diserang oleh suatu makhluk hingga terbunuh. Makhluk ini ada dimana-mana, jumlah nya banyak, gerakannya cepat, pendengarannya tajam  dan punya insting membunuh yang tinggi. Sehingga siapapun dan apapun yang bersuara maka bersiap-siaplah hancur dalam sekejap.

 Ada satu keluarga yang berhasil bertahan hidup dari invasi makhluk tersebut. Mereka adalah Lee (John Krasinki) seorang ayah yang heroik, Evelyn (Emily Blunt) ibu yang tidak kalah heroiknya yang saat ini sedang hamil tua, lalu ada Regan (Millicent Simmonds) anak pertama yang menderita bisu dan tuli dan Marcus (Noah Jupe) anak laki-laki penakut dan selalu ketakutan semenjak ia melihat adiknya, Beau (Cade Woodward) tewas ditangan Makhluk tersebut.

Film ini berfokus pada bagaimana Lee bertahan hidup dari teror dan serangan makhluk itu sedangkan ia punya istri yang sedang hamil tua, anak perempuan yang bisu dan tuli serta seorang anak penakut yang harus ia jaga.

Luar Biasa.

Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan.

Cerita yang original, casting yang hebat, skenario yang kuat, musik yang pas dan gerakan kamera yang tajam membuat film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Film ini unik dan lain daripada yang lain. Gaya komunikasi nya saja sebagian besar dilakukan dengan bahaya isyarat. Suasana horor sudah begitu terasa sesaat film ini dimulai. Kita dibuat penasaran dengan apa sih yang sebenarnya terjadi dan makhluk apa itu sebenarnya. Selain itu, yang paling membuat saya takjub adalah, betapa sunyi nya film ini. Benar-benar sunyi. Kesunyian tersebut membuat kita seolah dihadapkan dengan kondisi yang sama seperti yang dialami oleh Lee dan keluarganya. Sehingga, membuat saya ikut terbawa suasana untuk tidak mengeluarkan suara atau bunyi apapun saat menonton. Kesunyian ini pun membuat kita waspada dengan suara-suara yang muncul. Membuat kita mendengar suara-suara sekecil apa pun itu, termasuk suara orang di bioskop itu sendiri. Makanya ketika kamu menonton film ini, jangan heran jika kamu merasa agak kesal dengan bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh orang-orang disekelilingmu, karena saking sunyinya film ini, kamu jadi bisa mendengar bunyi-bunyi yang biasa tidak kamu dengar ketika nonton film lain di bioskop, seperti suara penonton yang berbisik, bunyi handphone yang bergetar, bahkan bunyi penonton yang sedang mengunyah pop corn.

Dan kesunyian dalam film ini semakin membuatnya semakin mencekam.

Mantap.

Apa jadinya jika film yang sangat minim suara seperti ini mempunyai banyak adegan jumpscare? OOOSSIIIITTTTMEEENNNN ! Gila. Bener-bener gila.

Paramount Picture

Gue kurang merekomendasiin film ini buat penonton yang punya masalah dengan jantungnya. Soalnya sumpah, banyak banget adegan yang ngagetin. Adegan jumpscare di film ini mirip-mirip adegan jumpscare di film horor lainnya, sedikit suara dan muncul tiba-tiba. Bedanya, dari awal, film ini udah sunyi, orang-orang di bioskop pun ikutan sunyi, makanya begitu adegan jumpscare datang, beeuuhhh dijamin deh suaranya menggelegar banget. Bikin Jantungan. Efeknya, ya udah lemes langsung. Soalnya kesunyian film ini bikin kita takut untuk teriak juga.

Terakhir, film ini juga memberikan adegan-adegan heroik yang keren banget. Beneran deh. Bikin membekas di hati. Jarang banget film-film sekarang bisa punya adegan heroik sekeren ini. Adegan heroik ini dijamin bakal membuat kamu bersimpati. Membuat kamu pengen Lee dan Keluarganya selamat. Dan membuat kamu pengen bersuara, agar makhluk itu berhenti menyerang mereka...

Pada akhirnya, Lee (John Krasinki) yang juga pembuat film ini, berhasil membuat film yang hebat. Sangat hebat bahkan. John, dengan ide cerita nya yang cerdas ini, berhasil membuatnya menjadi mahakarya yang originil. Genre Thriller yang diusung dalam film ini pun tidak percuma dan sebatas nama saja, tapi memang pantas untuk menyandangnya. Film ini cerdas, film ini mencekam, dan film ini mengajarkan kita untuk tidak “banyak bicara” dalam hidup. Menonton A Quite Place membuat kita merasakan suasana mencekam dan teror yang mengerikan, tapi di sisi lain, kita juga tergerak untuk membantu Lee dan keluarganya dalam bertahan hidup. Sungguh sangat menginspirasi.

Tahun Rilis                                           : April 2018
Rating Rotten Tomatoes                      : 97%
Rating IMDb                                       : 8,4/10

#Onedayonepost #ODOPbatch5
Read More

Friday, 16 February 2018

Review Series TV Black Mirror S03XE01 : Nosedive



Black Mirror adalah serial yang menceritakan sisi buruk dari kemajuan teknologi. Teknologi yang ditampilkan pun beragam, mulai dari teknologi yang sudah ada saat ini, maupun teknologi yang mungkin bakal ada di masa depan. Selain bahas teknologi yang seringkali bikin kagum dan kesel, film ini juga ngebahas manusianya. Iya manusia nya. Lucunya, kalo gue perhatiin orang-orang di sekitar gue sekarang, bukan gak mungkin kalo di masa depan nanti, mereka bakal kayak manusia-manusia di film black mirror.

Sarial ni sudah berjalan empat season yang uniknya di tiap episode, baik cerita maupun pemerannya berbeda-beda. Mirip-mirip cerita antalogi gitu. Entah kenapa gue ngerasa kalo semua episode di serial black mirror ini nyambung. Nyambung dalam arti, satu universe. Tapi gak tau juga sih bener apa engak. Gue baru nonton serial ini sampe season tiga. Ceritanya yang selalu “menampar” dan endingnya yang seringkali ngeselin bikin gue tertarik untuk ngereview serial tv ini. Kali ini gue pengen ngereview episode pertama di seson tiga yang judulnya Nosedive.

Nosedive bercerita tentang dunia yang dipengaruhi oleh rating. Segala bentuk kehidupan disana amat sangat dipengaruhi oleh rating. Mau beli rumah rating harus 4,5 keatas, mau nyewa mobil rating harus 3 keatas, bahkan mau kondangan ke temen sendiri pun harus dengan rating 4, keatas. Gilak !

Rating sendiri adalah indikator yang dimiliki oleh manusia. Yang bernilai dari angka 1 – 5. Di dunia nosedive, setiap manusia punya ratingnya masing-masing. Rating dinilai dari penilaian orang kepada kita. Penilaian itu sendiri dilihat berdasarkan tutur kata, sopan santun, ramah tamah, tingkah laku, postingan di media sosial dan lain lain. Semakin orang itu terlihat “baik”, maka dia akan dirating baik oleh orang yang melihatnya, tapi jika dia bertingkah buruk, bertutur kata kasar, atau bahkan bergaul dengan orang yang ber-rating kecil, maka dia bisa mendapat rating rendah dari orang sekitarnya.

Lucy adalah orang yang terobsesi dengan rating. Dia selalu pengen punya rating yang tinggi. Dia suka sedikit cemburu dengan orang-orang yang punya rating diatasnya. Padahal ratingnya sendiri sudah cukup baik, yaitu 4,2. Akan tetapi dia ingin ratingnya tinggi seperti teman masa kecilnya Naomi. Berawal dari hal ini lah bencana dimulai.



Obsesi besarnya yang ingin memiliki rating tinggi, membuat Lucy tidak menjadi dirinya sendiri. Dia selalu menampakkan dirinya dengan “baik”, elegan, sopan. Dia juga tidak mau berteman dengan orang  dengan rating kecil, yang salah satunya adalah adiknya sendiri. Dia seringkali memberi rating 5 kepada orang dengan maksud agar orang lain juga memberi rating 5 kepada dirinya. Dia pun sedikit memaksa untuk datang ke nikahan sahabatnya Naomi, agar ketika ia disana, dia bisa mendapatkan 5 bintang dari temen-temen Naomi yang semyuanya ber-rating tinggi, sehingga ratingnya bisa meningkat drastis.

Sungguh sangat aneh ya.

Menurut gue episode nosedive ini deket banget sama kehidupan kita sekarang. Kalo kalian lihat zaman now, derajat seseorang udah bukan lagi dilihat dari kekayaan, tapi juga dari jumlah like dan followernya. Orang yang follower dan likenya banyak entah kenapa selalu dianggep keren dan hebat. Makanya banyak orang zaman now yang bikin postingan-postingan aneh, nyeleneh sehingga bisa viral dan terkenal. Banyak juga orang yang sengaja like dan komen postingan orang, ya agar orang itu balik like dan komen postingannya. Postingan-postingan orang zaman now pun sekarang udah mulai banyak yang lebih ke pencitraan dibanding sharing. Niatnya pun lagi lagi, biar likenya banyak. Bahkan ada juga temen gue yang tiap posting di sosmed gila cantik banget, padahal mah aslinya bulukan sob.

Sinting.

Beberapa hari yang lalu gue ketemu keponakan gue yang masih 13 tahun. Dia udah punya instagram dan nge follow gue. Tau apa yag dia katakan, “Om followernya banyak banget. Keren ih. Gimana sih caranya?”

Gilaaaaaaa.

Nosedive detected nih.

Makanya jangan heran, kalo cerita di nosedive ini bakal jadi kenyataan kedepannya.

Pada akhirnya serial black mirror adalah serial yang wajib ditonton oleh semua orang. Baik cerita, casting, musik dan pesan filmnya selalu oke banget. Gue selalu tertampar tiap nonton episode episode nya. Dan gue merekomendasii banget agar film ini bisa diangkat ke layar kaca atau layar lebar. Biar bisa ditonton lebih banyak orang lagi.

Black mirror adalah masa depan. Black mirror adalah cambukan. Dan black mirror adalah hidangan mahal nan enak tapi menyebabkan rasa sakit tidak berdarah ketika selesai menontonnya.

#Onedayonepost #ODOPbatch5
#Day25


Read More

Sunday, 11 February 2018

Review Serial TV Lost Season 1



Film Series Lost bercerita tentang Pesawat Oceanic 815 tujuan Sydney – Los Angeles yang mengalami kecelakaan di udara dan jatuh di suatu pulau. Dari sekian banyak penumpang di pesawat tersebut, ada 48 orang yang selamat. Mereka semua mencoba bertahan hidup sambil menunggu tim resque datang. Namun ada banyak keganjilan di pulau yang mereka huni, seperti asap yang mampu membunuh manusia, beruang kutub yang hidup di hutan tropis, halusinasi yang benar-benar nyata dan fakta seorang lumpuh yang sembuh total dan dapat berdiri lagi di pulau tersebut.

Ada banyak sekali karakter yang memerankan series ini, mulai dari Jack (Matthew Fox) si dokter bedah muda terbaik, Sayid (Naveen Andrews) si investigator di perang irak, Charlie (Dominic Monagen) mantan personil band terkenal, Michael si ahli kontruksi tambang beserta anaknya Walt, Jin dan istrinya, Sun pasangan dari korea, Sawyer (Josh Holloway) si pemuda brengsek, John Locke (Terry o’Quinn) yang katanya mantan tentara, Hurley (Jorge Garcia) si pria gemuk pemenang lotre 156 juta dollar, Boone dan Shannon (Maggie Grace) kakak adik manja, Kate (Evangeline Lilly) si wanita cantik namun seorang criminal, Claire (Emilie de Ravin) si wanita yang sedang mengandung dan Rossesou wanita Perancis yang sudah terdampar lebih dahulu di Pulau tersebut 16 tahun yang lalu.

Series lost terdiri dari enam season yang berlangsung dari tahun 2004-2010. Ada 25 episode pada season pertama, dimana durasi tiap episode nya sekitar 45 menit.
Gue baru menonton series ini bulan januari lalu dan baru saja menyelesaikan season satu yang menurut gue sangat luar biasa. Padahal ini film lama, film yang diputar hampir 14 tahun yang lalu, sebagai pecinta film, gue merasa kesal karena baru menonton series ini beberapa waktu yang lalu.

Seperti halnya film series lainnya, fokus film di season satu adalah pengenalan karakter dan cerita. Seperti yang sudah saya singgung diatas, ada banyak sekali karakter di film ini. Namun, hebatnya, semua karakter itu benar-benar mendapatkan porsi yang sama. Dari 25 episode yang ada, bisa dibilang ada sekitar 20 epsiode yang khusus menceritakan tentang karakter-karakter disana.

Penyajiannya pun digambarkan tidak dengan asal-asalan, tapi diceritakan secara detail, rapi dan nyambung.  Sebagai contoh di episode 18. Saat seorang Hurley melihat teka-teki angka yang sedang diselidiki oleh sayid dan tertarik untuk menyelidikanya sendiri. Nah alur cerita dibuat dalam dua waktu. Waktu sekarang dan waktu di masa lalu. Waktu ketika hurley menyelidiki makna angka-angka, dan waktu di masa lalu hurley, yang uniknya dulu pernah berkaitan dengan angka-angka tersebut.



Formula pengenalan semua karakter diceritakan dengan format seperti itu. Masa lalu dan masa sekarang. Semua karakter yang diceritakan dengan formula yang sama itu, ditakutkan bisa menimbulkan efek bosan. Tapi di season satu ini gue jamin lo tidak akan bosan mengikuti alur ceritanya. Soalnya setelah lo melihat masa lalu satu karakter, pasti lo akan penasaran juga bagaimana masa lalu karakter lainnya. Akan tetapi jika di season dua nanti, diceritakan masih dalam formula seperti ini, gue yakin hal tersebut malah akan menurunkan kualitas film.

Selain itu, ada banyak sekali misteri yang menyelimuti sepanjang season satu berjalan. Ada kerangka manusia yang ditemukan di gua, bangkai pesawat berisi heroin, suara suara misterius di dalam hutan, misteri angka 4-8-15-16-23-42, misteri kenapa jalur pesawat melenceng dari semestinya, ada juga pintu tingkap yang tidak bisa dibuka dan misteri The Others yang nyaris membunuh salah satu karakter.

Ngeselinnya, semua misteri itu sama sekali gak terjawab di season satu. Jadi bener-bener bikin penasaran coy.

Nyambung. Entah bener apa salah, pas gue nonton season satu ini, gue ngerasa kalo semua karakter tuh nyambung. Maksudnya mereka kayaknya saling terkait satu sama lain. Di masa lalu ada beberapa dari mereka yang pernah gak sengaja ketemu. Dan di masa lalu juga ada beberapa kisah mereka yang saling nyambung. Dan kalo dikaitkan dengan kecelakaan pesawat ini, terus dibandingkan dengan masa lalu mereka yang rata-rata suram itu, entah kenapa gue mikir kalo apa yang terjadi sama mereka saat ini adalah akibat dari kelakuan mereka di masa lalu.

Entah deh.

Mungkin baru ada jawabannya di season dua kali ya.



Terus juga entah kenapa gue juga mikir kayak ada hubungan antara kematian Boone dan Kelahiran Anaknya Claire. Entah kenapa gue mikir kayaknya gak boleh ada yang lahir di pulau itu. Kalau mau lahir, harus ada yang meninggal dulu.
Tapi gak tau deh bener apa engga. Hahaha

Maaf ye, kalo dalam review ini, gue sedikit ngasih spoiler, soalnya emang film ini cocoknya di tonton tanpa melihat spoiler lebih dahulu. Lebih dapet feelnya.

Pada akhirnya secara keseluruhan series lost ini bener-bener rekomended banget. Apalagi bagi yang orang yang suka film misteri dan survival gitu. Ini series cocok banget. Jangan khawatir, film ini cocok buat semua orang kok, karena genre film ini bisa masuk dimana aja. Semua karakter di film ini pun bener bener bermain dengan total dan actingnya dapet banget. Malah saking okenya, bisa bisa bikin lo ngefans sama satu karakter dan benci banget dengan karakter lainnya. Ditambah lagi drama dalam ceritanya yang terkadang bikin kita ngomong, “I feel you”, bikin film ini keren banget. Dan jangan lupa, misteri-misteri dalam film ini adalah kekuatan utama film ini, karena kalo gak ada misteri, gue yakin film ini bakal jadi film kecelakaan pesawat biasa. Dari film ini juga gue makin gak ragu dengan kualitas film yang dibuat oleh JJ Abrams.

Tahun Rilis                               : 2004 - 2005
Rating Rotten Tomatoes          : 95%
Rating IMDb                           : 9/10


Read More